Plastik merupakan material yang sangat akrab dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi plastik membuat aktivitas produksi plastik terus meningkat. Hampir setiap produk menggunakan plastik sebagai kemasan atau bahan dasar. Material plastik banyak digunakan karena memiliki kelebihan dalam sifatnya yang ringan, transparan, tahan air, serta harganya relatif murah dan terjangkau oleh semua kalangan masyarakat.
Segala keunggulan ini membuat plastik digemari dan banyak digunakan dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia. Akibatnya jumlah produk plastik yang akan menjadi sampah pun terus bertambah. Limbah plastik yang umum ditemukan di tempat pembuangan sampah antara lain botol minuman dan deterjen yang termasuk jenis PET, dan kantong plastik. Jumlah kantong plastik di TPA terus menumpuk karena tidak terlalu diminati karena memiliki nilai jual yang rendah. Kantong-kantong plastik ini tidak mudah terurai sehingga hanya akan terus menumpuk dan bertambah di TPA sampai 1000 tahun ke depan.
Oleh karena itu diperlukannya suatu solusi tepat yang bukan hanya mengurangi penggunaan kantong plastik karena selama masih diijinkan untuk digunakan maka kantong plastik itu akan terus ada dan bertambah. Limbah kantong plastik yang menumpuk di TPA dapat menjadi peluang dan jika diolah dengan benar dapat menjadi sumber daya. Pengembangan proses pengolahan kantong plastik dilakukan melaui eksperimentasi untuk membuka peluang pemanfaatan kantong plastik dengan penerapan teknologi sederhana, murah, dan nyata. Eksperimen juga mencakup eksplorasi sifat dan karakteristik kantong plastik yang unik untuk diaplikasikan menjadi produk bernilai tinggi sehingga dapat menaikkan nilai dari limbah kantong plastik.
Jumat, 23 Januari 2009
EMPING MELINJO
1. PENDAHULUAN
Emping melinjo adalah sejenis keripik yang dibuat dari buah melinjo yang telah
tua. Pembuatan emping tidak sulit dan dapat dilakukan dengan menggunakan
alat-alat sederhana.
Emping melinjo merupakan salah satu komoditi pengolahan hasil pertanian
yang tinggi harganya. Komoditi ini dapat diekspor ke negara-negara tetangga
(Singapura, Malaysia dan Brunei).
Emping melinjo dapat dibagi digolongkan sebagai emping tipis dan emping
tebal. Emping tipis dibuat dengan memukul biji melinjo tanpa kulit keras
beberapa kali sampai cukup tipis (tebal 0,5-1,5 mm). Emping tebal dibuat
dengan memukul biji melinjo tanpa kulit keras hanya 1-2 kali sekedar
mengurangi ketebalan biji utuh.
Emping nyang bermutu tinggi adalah emping yang tipis sehingga kelihatan agak
benig dengan diameter seragam kering sehingga dapat digoreng langsung.
Emping dengan mutu yang lebih rendah mempunyai ciri: Lebih tebal, diameter
kurang seragam, dan kadang-kadang masih harus dijemur sebelum digoreng.
Sampai sekarang, pembuatan emping yang bermutu tinggi masih belum dapat
dilakukan dengan bantuan alat mekanis pemipih. Emping ini masih harus
dipipihkan secara manual oleh pengrajin emping yang telah berpengalaman.
2. BAHAN
Biji melinjo yang telah tua.
3. PERALATAN
1) Wajan dan pengaduk. Alat ini digunakan untuk menyanggrai buah melinjo.
2) Landasan pemipih dan pemukul. Alat ini digunakan untuk memipihkan biji
melinjo pada pengolahan tradisional. Landasan pemipih dapat berupa batu
keras yang licin dan datar. Pemukul juga dapat terbuat dari batu, besi dan
kayu.
3) Alat mekanis pemipih. Alat ini digunakan untuk memipih biji melinjo secara
semi mekanis. Dengan alat ini, pemipihan berlangsung lebih cepat. Saat ini,
sangar sedikit produsen emping melinjo yang menggunkan alat ini.
4) Seng atau lembar alumunium. Alat ini digunakan untuk mengambil lapisan
tipis emping melinjo yang masih basah yang menempel pada landasan
pemipih.
5) Tempat penjemur. Alat ini digunakan untuk menjemur emping basah sampai
kering. Alat terdiri dari balai-balai dan tampah dari anyaman bambu.
4. CARA PEMBUATAN
1) Pengupasan kulit buah. Kulit buahdisayat dengan pisau, atau dikelupaskan
dengan tangan, kemudian dilepaskan sehingga diperoleh binji melinjo tanpa
kulit. Pengupasan juga dapat dilakukan dengan alat pengupas. Biji yang
telah dikupas dapat dikeringkan, kemudian disimpan beberapa hari sebelum
diolah lebih lanjut.
2) Penyangraian. Biji disangrai di dalam wajan bersama pasir sambil diadukaduk
sampai matang (selama 10~15 menit). Penyaringan dapat dilakukan di
dalam wajan. Alat mekanis untuk menyangrai kacang tanah dapat juga untuk
menyangrai biji melinjo. Biji melinjo yang telah matang tetap dipertahankan
dalam keadaan panas sampai saat akan dipipihkan.
3) Pemisahan kulit keras biji. Ketika masih sangat panas, biji dikeluarkan dari
wajan, kemudian dipukul untuk memecahkan kulit keras dri biji. Pemukulan
harus hati-hati agar isi biji tidak rusak
A. Emping Tipis
1) Pemipihan. Biji yang telah dilepaskan kulit kerasnya dan masih panas
secepat mungkin dipipihkan menjadi emping melinjo. Pemipihan dapat
dilakukan secara manual tanpa bantuan alat mekanis memerlukan
keteampilan yang khusus yang hanya diperoleh melalai latihan dan
pengalaman yang cukup lama. Pemipihan dengan menggunakan alat
mekanis, meskipun lebih cepat, mutu emping yang dihasilakan tidak
sebaik yang emping yang dipipihkan tanpa bantuan. Kadang-kadang,
lapisan emping juga menempel pada ujung pemukul. Untuk
menghindarinya, ujung pemukul dapat dibungkus dengan kantong palstik.
2) Penjemuran. Lapisan tipis emping melinjo dilepaskan dari landasan
pemipih dengan menggunakan serokan seng atau alumunium. Setelah itu,
emping basah ini dijemur sampai kering (kadar air kurang dari 90%)
sehingga diperioleh emping melinjo kering.
3) Penggorengan. Emping melinjo tipis yang telah kering digoreng terlebih
dahulu sebelum dikonsumsi. Penggorengan dilakukan didalam minyak
goreng panas (170oC)
4) Pengemasan. Emping tipis yang belum atau telah digoreng dikemas di
dalam wadah yang tertutup rapat. Agar produk juga terhindar dari
kerusakan mekanis, pecah, retak, atau hancur, dianjurkan menggunakn
wadah dari kotak kaleng atau karton.
B. Emping Tebal
1) Pemipihan. Biji yang telah dilepaskan kulit kerasnya dan masih panas,
secepat mungkin dipipihkan menjadi emping melinjo. Pemipihan
dilakukan seara manual tanpa bantuan alat mekanis. Biji dipipihkan
dengan memukul biji di atas landasan pemipih 1~2 kali sehingga
ketebalannya menjadi setengah dari semula.
2) Penggorengan. Emping tebal yang baru selesai dipipihkan segera
digoreng di dalam minyak panas (suhu 1700C) sampai matang dan garing
(5~10 menit).
3) Pengemasan. Emping tebal yan telah digoreng ini dikemas didalam
wadah tertutup rapat. Untuk itu dapat digunakan kantong plastik polietilen.
Emping melinjo adalah sejenis keripik yang dibuat dari buah melinjo yang telah
tua. Pembuatan emping tidak sulit dan dapat dilakukan dengan menggunakan
alat-alat sederhana.
Emping melinjo merupakan salah satu komoditi pengolahan hasil pertanian
yang tinggi harganya. Komoditi ini dapat diekspor ke negara-negara tetangga
(Singapura, Malaysia dan Brunei).
Emping melinjo dapat dibagi digolongkan sebagai emping tipis dan emping
tebal. Emping tipis dibuat dengan memukul biji melinjo tanpa kulit keras
beberapa kali sampai cukup tipis (tebal 0,5-1,5 mm). Emping tebal dibuat
dengan memukul biji melinjo tanpa kulit keras hanya 1-2 kali sekedar
mengurangi ketebalan biji utuh.
Emping nyang bermutu tinggi adalah emping yang tipis sehingga kelihatan agak
benig dengan diameter seragam kering sehingga dapat digoreng langsung.
Emping dengan mutu yang lebih rendah mempunyai ciri: Lebih tebal, diameter
kurang seragam, dan kadang-kadang masih harus dijemur sebelum digoreng.
Sampai sekarang, pembuatan emping yang bermutu tinggi masih belum dapat
dilakukan dengan bantuan alat mekanis pemipih. Emping ini masih harus
dipipihkan secara manual oleh pengrajin emping yang telah berpengalaman.
2. BAHAN
Biji melinjo yang telah tua.
3. PERALATAN
1) Wajan dan pengaduk. Alat ini digunakan untuk menyanggrai buah melinjo.
2) Landasan pemipih dan pemukul. Alat ini digunakan untuk memipihkan biji
melinjo pada pengolahan tradisional. Landasan pemipih dapat berupa batu
keras yang licin dan datar. Pemukul juga dapat terbuat dari batu, besi dan
kayu.
3) Alat mekanis pemipih. Alat ini digunakan untuk memipih biji melinjo secara
semi mekanis. Dengan alat ini, pemipihan berlangsung lebih cepat. Saat ini,
sangar sedikit produsen emping melinjo yang menggunkan alat ini.
4) Seng atau lembar alumunium. Alat ini digunakan untuk mengambil lapisan
tipis emping melinjo yang masih basah yang menempel pada landasan
pemipih.
5) Tempat penjemur. Alat ini digunakan untuk menjemur emping basah sampai
kering. Alat terdiri dari balai-balai dan tampah dari anyaman bambu.
4. CARA PEMBUATAN
1) Pengupasan kulit buah. Kulit buahdisayat dengan pisau, atau dikelupaskan
dengan tangan, kemudian dilepaskan sehingga diperoleh binji melinjo tanpa
kulit. Pengupasan juga dapat dilakukan dengan alat pengupas. Biji yang
telah dikupas dapat dikeringkan, kemudian disimpan beberapa hari sebelum
diolah lebih lanjut.
2) Penyangraian. Biji disangrai di dalam wajan bersama pasir sambil diadukaduk
sampai matang (selama 10~15 menit). Penyaringan dapat dilakukan di
dalam wajan. Alat mekanis untuk menyangrai kacang tanah dapat juga untuk
menyangrai biji melinjo. Biji melinjo yang telah matang tetap dipertahankan
dalam keadaan panas sampai saat akan dipipihkan.
3) Pemisahan kulit keras biji. Ketika masih sangat panas, biji dikeluarkan dari
wajan, kemudian dipukul untuk memecahkan kulit keras dri biji. Pemukulan
harus hati-hati agar isi biji tidak rusak
A. Emping Tipis
1) Pemipihan. Biji yang telah dilepaskan kulit kerasnya dan masih panas
secepat mungkin dipipihkan menjadi emping melinjo. Pemipihan dapat
dilakukan secara manual tanpa bantuan alat mekanis memerlukan
keteampilan yang khusus yang hanya diperoleh melalai latihan dan
pengalaman yang cukup lama. Pemipihan dengan menggunakan alat
mekanis, meskipun lebih cepat, mutu emping yang dihasilakan tidak
sebaik yang emping yang dipipihkan tanpa bantuan. Kadang-kadang,
lapisan emping juga menempel pada ujung pemukul. Untuk
menghindarinya, ujung pemukul dapat dibungkus dengan kantong palstik.
2) Penjemuran. Lapisan tipis emping melinjo dilepaskan dari landasan
pemipih dengan menggunakan serokan seng atau alumunium. Setelah itu,
emping basah ini dijemur sampai kering (kadar air kurang dari 90%)
sehingga diperioleh emping melinjo kering.
3) Penggorengan. Emping melinjo tipis yang telah kering digoreng terlebih
dahulu sebelum dikonsumsi. Penggorengan dilakukan didalam minyak
goreng panas (170oC)
4) Pengemasan. Emping tipis yang belum atau telah digoreng dikemas di
dalam wadah yang tertutup rapat. Agar produk juga terhindar dari
kerusakan mekanis, pecah, retak, atau hancur, dianjurkan menggunakn
wadah dari kotak kaleng atau karton.
B. Emping Tebal
1) Pemipihan. Biji yang telah dilepaskan kulit kerasnya dan masih panas,
secepat mungkin dipipihkan menjadi emping melinjo. Pemipihan
dilakukan seara manual tanpa bantuan alat mekanis. Biji dipipihkan
dengan memukul biji di atas landasan pemipih 1~2 kali sehingga
ketebalannya menjadi setengah dari semula.
2) Penggorengan. Emping tebal yang baru selesai dipipihkan segera
digoreng di dalam minyak panas (suhu 1700C) sampai matang dan garing
(5~10 menit).
3) Pengemasan. Emping tebal yan telah digoreng ini dikemas didalam
wadah tertutup rapat. Untuk itu dapat digunakan kantong plastik polietilen.
Puisi

sAaT aiR mAtA mMbAsAhi bUmi..yG tAk'kN bS mNgHapUs saNg pEdih..biArLah..biArLaH sMua b'LaLu spRti wkTu..dAn kNi hAdApi sMua..wLaUpUn iTu pEriH..diRiMu dHatiqUw tAk LekaNg o/ waktU..mSki kAu bkN miLikqUw..jgnLah kAu tNyAkaN tTg jAnjiqUw yG pNaH t'UcAp..krN sMua tLaH nyAta..kiNi diRiqUw mNgiNgkAri..qUw tLaH mNyErAh n mNgAkhiRi kiSaH qTa..mSki Air maTa mMbUnuHqUw..qUw mMg PECUNDANG SEJATI yG tAk sNgGup p'JuaNgkN ciNtA..mAafkN sMuA ciNtAqUw,qUw mNiNgGaLkN mU..sAaT ciNtA mMg hRuS diAkhiRi..sAaT ciNtA tAk'kN bSa dMeNgeRti..Aq bkN'Lah maLaikaT..jg bkN mAhLuk dR sUrgA..mAaFkAnLaH aQ yG tAk sMpUrNa diHadApaNmU..apAkAh yG eNgkAu cAri..tAk kAu tEmUkAn dHaTiqUw..aPakAh yG eNgkAu iNgiNkn..tAk dPat Lg qUw peNuhi..bgiTuLaH aQ..pHaMiLah aQ..bRaT bEbAnqUw mNiNgGaLknMu..sPrUh nAfaS jiwAqUw siRnAh..bkN sLaHmU..aPa dAyAqUw..mgkN bNaR CINTA SEJATI..tAk b'piHak pdA qTa..kAsiHqUw sMpAi dSni..kiSaH qTa jgN taNgiSi kEadAaNny..bkN kRn qTa b'bEdA..kiSaH qTa b'AkhiR d JANUARI..dAn qUw bEruNtUng sEmpAt
Kamis, 22 Januari 2009
BAGAIMANA MEMPERTAHANKAN KREDIBILITAS SEORANG MANAJER
¶ Memperlakukan bawahan sebagai individu yang bermanfaat
¶ Senantiasa menjaga hubungan personal dengan bawahan
¶ Senantiasa menjaga hubungan dengan kolega/teman
¶ Selalu memegang janji yang pernah diucapkan
¶ Memiliki komitmen dan konsistensi yang tinggi
¶ Berupaya berpikir rasional dan proporsional
¶ Menyikapi setiap masalah secara jernih
¶ Mengikuti perkembangan teknologi dan ekonomi dunia
¶ Mampu membaca situasi secara jernih
¶ Tidak pernah berhenti untuk belajar
¶ Berusaha untuk berjalan di atas rel aturan
¶ Senantiasa meningkatkan komunikasi dengan bawahan, atasan maupun teman
¶ Senantiasa berperilaku menyenangkan
¶ Berusaha menjauhi perbuatan maksiat
¶ Bersikap adil dan tidak pilih kasih
¶ Mempertahankan prinsip hidup yang benar
¶ Bisa fleksibel dengan hal-hal yang masih bisa ditolerir
¶ Mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dari berbagai aspek
¶ Mengutamakan kepentingan orang banyak
¶ Senantiasa meningkatkan ibadah
KUNCI SUKSES
MEMBANGUN
SEMANGAT BAWAHAN
¶ Tunjukkan tujuan dan sasaran organisasi kepada bawahan
¶ Sosialisasikan strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran
¶ Bangun rasa bangga sebagai anggota organisasi
¶ Berikan imbalan gaji dan imbalan yang wajar
¶ Tanamkan bahwa bekerja adalah ibadah
¶ Berikan pemahaman bahwa hak dan kewajiban harus seimbang
¶ Berikan perintah seolah-olah kita minta tolong
¶ Kembangkan suasana kerja yang kondusif
¶ Tanggapi secara positif setiap masukan dari Bawahan
¶ Akuilah ide bawahan sebagai bentuk kontribusi mereka
¶ Dengarkan keluhan bawahan secara seksama
¶ Tebarkan senyum persahabatan kepada Bawahan
¶ Hindari kesan kekuasaan
¶ Berikan tugas dan perintah secara jelas
¶ Berikan kepercayaan yang memadai
¶ Hindari pengawasan yang terlalu ketat
¶ Hargailah hasil kerja bawahan secara wajar
¶ Berikan pujian yang tulus
¶ Berikan kritik dan saran secara bijak
¶ Jika melakukan perubahan, berikan sosialisasi yang cukup
BAGAIMANA
MEMBANGUN KOMUNIKASI DENGAN BAWAHAN
∞ Menghargai keberadaan bawahan
∞ Tidak menganggap dirinya paling pintar dan Benar
∞ Berbicara dengan santun walau dengan bawahan
∞ Berusaha berbicara jelas dan runtut
∞ Memberikan pengayoman kepada bawahan
∞ Berusaha menjadi pendengar yang baik
∞ Tidak segan menanggapi keluhan bawahan
∞ Sering turun langsung menemui bawahan
∞ Memberi kesempatan bawahan untuk
∞ menyampaikan pendapat
∞ Tidak terlalu membuat jarak dengan bawahan
∞ Memberikan perintah dengan jelas
∞ Memberikan kritik dan saran secara konstruktif
∞ Tidak memaksakan kehendak pada bawahan
∞ Tidak sulit untuk ditemui
∞ Menyediakan waktu untuk konsultasi
∞ Menciptakan suasana kerja yang kondusif`
∞ Sering mengadakan acara non formal
∞ Memahami kelemahan dan kekurangan Bawahan
∞ Tidak mudah marah kepada bawahan
∞ Tidak suka mengandalkan kekuasaannya
SIKAP POSITIF
SEORANG MANAJER
¶ Memiliki prinsip hidup yang kuat
¶ Hati-hati dan perhitungan dalam setiap Langkah
¶ Pandai memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk
¶ Berusaha tidak larut dalam perkembangan negatif
¶ Menyikapi setiap perubahan secara positif
¶ Mampu mengambil hikmah dari setiap Perubahan
¶ Tidak mudah menyerah dan putus asa
¶ Bersikap antisipatif dan proatif
¶ Kreatif dan inovatif
¶ Berusaha untuk bersikap preventif
¶ Cenderung menggalang kerja sama
¶ Konsisten dan konsekuen
¶ Memiliki sikap disiplin yang tinggi
¶ Mengikuti perkembangan dunia global
¶ Berusaha untuk tidak gagap teknologi
¶ Senantiasa menciptakan peluang-peluang
¶ Selalu berpikir jauh ke depan
¶ Tanggap terhadap ancaman yang akan Datang
¶ Setiap kegiatan selalu memasang target
¶ Mampu merumuskan tujuan dan sasaran
secara rasional
CARA MEMBANGUN
HUBUNGAN HARMONIS
DENGAN BAWAHAN
¶ Memberikan perintah secara bijak kepada
Bawahan
¶ Memberikan teguran secara bijak kepada
Bawahan
¶ Tidak pilih kasih
¶ Tidak membenci bawahan
¶ Menilai prestasi bawahan secara adil
¶ Tidak mengancam bawahan
¶ Melihat bawahan dari sisi positif
¶ Tidak menjatuhkan bawahan di depan orang Lain
¶ Senang menerima ide dan usulan bawahan
¶ Mau mengalah kepada bawahan
¶ Memberikan kepercayaan kepada bawahan
¶ Menyimpan rahasia bawahan
¶ Bersikap fleksibel kepada bawahan
¶ Senantiasa memberikan bimbingan
¶ Memberikan kesempatan maju kepada
bawahan
¶ Senantiasa menepati janji
¶ Tidak pernah meminta upeti kepada Bawahan
¶ Menghargai karya bawahan
¶ Tidak suka membuat repot bawahan
¶ Bertanggungjawab dengan apa yang dilakukan Bawahan
CARA EFEKTIF
MENJADI
TELADAN BAWAHAN
¶ Datang ke kantor tepat waktu
¶ Tidak menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan pribadi
¶ Tidak memanfaatkan bawahan untuk kepentingan pribadi
¶ Menunjukkan etos kerja yang tinggi
¶ Tidak menggunakan jam kerja untuk kepentingan pribadi
¶ Tidak melakukan perbuatan yang tidak Pantas
¶ Tidak menerima yang bukan haknya
¶ Tidak menyuruh bawahan pada hal-hal Negatif
¶ Tidak mengeluh di depan bawahan
¶ Tidak memanfaatkan kegiatan untuk kepentingan pribadi
¶ Bersikap wajar di depan anak buah
¶ Jika dinas keluar kota memberitahu bawahan
¶ Memiliki rasa tanggungjawab yang besar
¶ Satunya ucapan dan perbuatan
¶ Menyikapi perubahan secara positif
¶ Tidak mudah menyalahkan bawahan
¶ Mudah memberi maaf dan minta maaf
¶ Tidak pelit dan kikir
¶ Tidak terlalu kaku pada bawahan
¶ Melaksanakan kewajiban sebagai umat beragama
KEAHLIAN APA
YANG HARUS DIMILIKI
SEORANG MANAJER
¶ Ahli pidato dan berbicara
¶ Ahli mempengaruhi dan merayu orang lain
¶ Ahli diplomasi dan berdebat
¶ Ahli membuat proposal
¶ Ahli mengatur waktu
¶ Ahli membuat skala prioritas
¶ Ahli mengatur dan mengendalikan anggaran
¶ Ahli membuat tulisan
¶ Ahli mencari alasan dan pembenaran
¶ Ahli menciptakan visi dan misi
¶ Ahli melihat dan menemukan peluang
¶ Ahli mencari solusi permasalahan
¶ Ahli melihat kelemahan dan kekuatan organisasi
¶ Ahli menyusun strategi
¶ Ahli menata organisasi
¶ Ahli membuat jaringan kerja (net working)
¶ Ahli mengamati dan membaca situasi
¶ Ahli menutupi kelemahan organisasi
¶ Ahli menangkis balik serangan lawan atau Pesaing
¶ Ahli mempertahankan prinsip
KEBERANIAN
SEORANG MANAJER
¶ Berani membuat mimpi (visi)
¶ Berani menentukan sasaran
¶ Berani mengambil resiko
¶ Berani mengambil keputusan
¶ Berani bertanggungjawab
¶ Berani mengatakan apa adanya
¶ Berani mengungkap ketidakberesan
¶ Berani mempertahankan prinsip
¶ Berani mengingatkan bawahan
¶ Berani mengatakan tidak
¶ Berani memberi contoh dan teladan
¶ Berani melakukan perubahan
¶ Berani berkorban
¶ Berani menolak yang bukan haknya
¶ Berani menghadapi ancaman
¶ Berani menangkap peluang
¶ Berani melakukan amar ma'ruf nahi mungkar
¶ Berani mengoreksi diri sendiri
¶ Berani menerima kritik
¶ Berani menghadapi protes bawahannya
KEBIASAAN MANAJER
YANG INFORMATIF
¶ Menjelaskan hasil apa yang diharapkan dari anak buah
¶ Memberitahu kedudukan bawahan dalam organisasi
¶ Memberitahu bagaimana pekerjaan harus dilakukan
¶ Memberitahu bawahan bagaimana cara mengembangkan dirinya
¶ Menanyakan sarana apa yang diperlukan bawahan untuk kelancaran tugas
¶ Memberi contoh bagaimana membina hubungan pribadi
¶ Memberitahu akibat yang terjadi jika target tidak tercapai
¶ Mensosialisasikan kondisi perusahaan secara periodik
¶ Memberi pengertian pentingnya keseimbangan hak dan kewajiban
¶ Memberi kesempatan bawahan untuk menyampaikan ide dan usulan
¶ Memberi dukungan terhadap apa yang dikerjakan oleh bawahan
¶ Memberi informasi lebih dulu jika akan melakukan perubahan
¶ Selalu menginformasikan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan secara periodik
¶ Menunjukkan kekurangan bawahan sekaligus memberikan saran yang konstruktif
¶ Melakukan evaluasi terhadap kinerja bawahan secara periodik
¶ Siap memberikan penjelasan terkait dengan kebijaksanaan yang diambil oleh manajemen
¶ Senantiasa berkonsultasi dengan bawahan terkait dengan kesulitan yang dihadapi perusahaan
¶ Pintu kantornya terbuka untuk bawahan yang ingin menyampaikan masalah dan keluhan
¶ Mampu menyederhanakan informasi sehingga mudah ditangkap oleh bawahan
¶ Tidak pernah bosan dalam memberikan arahan demi lancarnya tugas operasional organisasi
PENYAKIT HATI
SEORANG MANAJER
¶ Gila hormat
¶ Merasa paling benar
¶ Suka marah
¶ Terlalu mencintai dunia
¶ Menganggap orang lain kecil
¶ Suka pamer
¶ Suka pergi ke dukun
¶ Bersikap angkuh dan sombong
¶ Serakah
¶ Suka selingkuh
¶ Gila kekuasaan
¶ Bermuka dua alias plin-plan
¶ Dendam pada bawahannya
¶ Kurang percaya diri
¶ Suka membual dan berdusta
¶ Suka ingkar janji
¶ Lupa akan nikmat Allah
¶ Terlalu optimis
¶ Suka menghasut
¶ Suka pada kemaksiatan
PERAN YANG HARUS
DIMAINKAN SEORANG MANAJER
¶ Sebagai motivator
¶ Sebagai dinamisator
¶ Sebagai moderator
¶ Sebagai fasilitator
¶ Sebagai negosiator
¶ Sebagai informator
¶ Sebagai transformator
¶ Sebagai shock absorber (peredam)
¶ Sebagai entrepreneur
¶ Sebagai braker (rem)
¶ Sebagai stater
¶ Sebagai charger
¶ Sebagai alarm
¶ Sebagai refrigerator (pendingin)
¶ Sebagai komunikator
¶ Sebagai monitor (pemantau)
¶ Sebagai controller (pengendali)
¶ Sebagai teacher (pengajar)
¶ Sebagai resource alocator (pembagi sumberdaya)
¶ Sebagai inspirator
TUGAS PENTING
SEORANG MANAJER
¶ Mengambil keputusan
¶ Menggerakkan roda organisasi
¶ Menentukan tujuan dan sasaran
¶ Membangun kerjasama
¶ Menyamakan persepsi
¶ Menggali dan meningkatkan potensi bawahan
¶ Membangun motivasi bawahan
¶ Meredam konflik di antara bawahan
¶ Membangun kreativitas bawahan
¶ Membuat perencanaan strategik
¶ Menilai prestasi bawahan
¶ Melaksanakan sistem reward & punishment
secara bijak
¶ Mensosialisasikan program-program organisasi
¶ Memecahkan masalah-masalah yang muncul
¶ Memimpin rapat
¶ Meningkatkan produktivitas SDM
¶ Mendengarkan keluhan bawahan
¶ Memberikan umpan balik kepada bawahan
¶ Membangun suasana kerja yang kondusif
¶ Menciptakan perubahan yang positif
BAGAIMANA
MEMAKSIMALKAN
POTENSI BAWAHAN
¶ Kenali bakat dan kecenderungan bawahan anda.
¶ Amati sampai dimana kemampuan dan ketrampilannya saat ini.
¶ Ajaklah diskusi dan tanyakan pelatihan apa yang mereka butuhkan.
¶ Tambah ketrampilan lain untuk memperluas wawasannya.
¶ Perlakukan bawahan anda sebagai orang dewasa.
¶ Berikan kesempatan bawahan untuk mengetahui informasi penting tentang organisasi.
¶ Jangan memberikan kritik secara terus menerus.
¶ Mintalah umpan balik terkait dengan kebijakan yang anda buat.
¶ Lihat dan berikan pujian yang tulus saat bawahan mengerjakan tugas dengan baik.
¶ Berikan umpan balik sesegera mungkin jangan sampai terlambat.
¶ Sekali-kali biarkan bawahan membuat kesalahan yang tidak prinsip, untuk meningkatkan kedewasaannya.
¶ Berikan target yang menantang tetapi realistis.
¶ Tawarkan sarana apa yang diperlukan untuk mencapai target.
¶ Berikan kesempatan mereka membuat keputusan di tempat kerjanya sendiri.
¶ Temui mereka secara periodik untuk membangun komunikasi.
¶ Usahakan mereka tahu bahwa mereka adalah bagian penting dari organisasi.
¶ Usahakan kesalahan yang mereka lakukan tidak merusak rasa percaya dirinya.
¶ Berikan perintah secara jelas agar mereka tidak salah tafsir.
¶ Usahakan mereka tahu tujuan dan alasan mengapa suatu tugas harus dilakukan.
¶ Beritahu apa yang menjadi prioritas sehingga mereka tahu mana yang harus dikerjakan lebih dulu.
¶ Sosialisasikan strategi global yang akan dilaksanakan oleh organisasi.
¶ Sampaikan secara jelas apa yang menjadi kesulitan organisasi.
¶ Berikan gambaran ancaman dan peluang dimasa yang akan datang.
¶ Jika harus menegur dan mengkritik, lakukan secara bijaksana dan konstruktif.
¶ Hindari perilaku yang menyebabkan bawahan kecewa.
¶ Usahakan menilai bawahan secara obyektif.
¶ Ajaklah mereka untuk selalu belajar dan belajar.
¶ Usahakan bawahan menyadari atas kelemahan dan kekurangannya demi untuk kemajuan.
¶ Ajaklah bawahan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan YME.
PENAMPILAN
MANAJER YANG SIMPATIK
¶ Senantiasa menghargai orang lain.
¶ Wajahnya selalu menunjukkan keceriaan
¶ Tutur katanya halus dan santun.
¶ Cara berpakaiannya rapi dan serasi.
¶ Berusaha memberikan salam lebih dulu.
¶ Cara berjalan tegap dan seimbang.
¶ Senantiasa murah senyum.
¶ Senantiasa berpikir positif terhadap orang lain.
¶ Bersikap wajar.
¶ Berendah hati tapi memiliki kepercayaan diri.
¶ Tidak menggunakan ‘aji mumpung’.
¶ Tidak sulit untuk meminta maaf.
¶ Tidak sulit untuk memberi maaf.
¶ Mampu memahami pendapat orang lain.
¶ Berusaha untuk menyenangkan orang lain.
¶ Mudah menyesuaikan diri namun memiliki prisip.
¶ Tidak sulit memberikan pujian kepada orang lain.
¶ Mudah diajak berdiskusi dan musyawarah.
¶ Tidak suka membuat konflik.
¶ Mau menghargai pendapat orang lain.
MENINGKATKAN
PRESTASI DIRI
¶ Tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru.
¶ Tidak enggan untuk memulai.
¶ Tidak malas untuk belajar dan membaca.
¶ Tidak hanya sibuk dengan hal-hal yang kecil.
¶ Tidak asyik dengan tangan di dalam saku.
¶ Tidak malas untuk selalu memutar otak.
¶ Tidak takut terhadap resiko.
¶ Tidak enggan untuk belajar dari pengalaman.
¶ Tidak merasa yang paling hebat.
¶ Tidak merasa yang paling benar.
¶ Tidak selalu apriori.
¶ Tidak merendahkan orang lain.
¶ Tidak suka menunda pekerjaan.
¶ Tidak takut terhadap tantangan dan kesulitan.
¶ Tidak enggan untuk selalu mencari informasi.
¶ Tidak enggan mengikuti perkembangan tehnologi.
¶ Tidak mau bekerja setengah-setengah.
¶ Tidak malas untuk beribadah.
SIKAP DAN PERILAKU
YANG HARUS DIHINDARI
OLEH SEORANG MANAJER
¶ Suka marah pada bawahan dengan alasan yang tidak jelas.
¶ Suka memarahi bawahan di muka orang banyak.
¶ Selalu mencela hasil kerja bawahan.
¶ Memberikan perintah dengan cara yang kasar.
¶ Memberikan teguran yang menyakitkan.
¶ Sulit menerima masukan dari bawahan.
¶ Menolak ide bawahan secara menyakitkan.
¶ Menilai bawahan secara pilih kasih.
¶ Menjatuhkan sangsi tidak sesuai dengan kesalahannya.
¶ Suka memasang mata-mata untuk mengawasi bawahan.
¶ Lebih percaya pada orang lain daripada bawahannya sendiri.
¶ Membenci bawahan secara berlebihan.
¶ Tidak senang melihat bawahannya maju.
¶ Suka memaksakan kehendak.
¶ Suka mengancam dengan menggunakan kekuasaannya,
¶ Selalu mengelihatkan wajah yang angker.
¶ Suka minta dihormati dan disanjung.
¶ Tidak pernah peduli dengan kesulitan bawahan.
¶ Sering berpura-pura sibuk di muka bawahannya.
¶ Sering mengingkari janji.
¶ Sok berlagak alim di muka bawahannya.
¶ Senang menakut-nakuti bawahannya.
¶ Pelit memberikan pujian kepada bawahan.
¶ Senang memberikan perintah secara mendadak.
¶ Perintahnya sering berubah-ubah.
¶ Suka mendiamkan bawahannya.
¶ Memberikan target secara tidak rasional.
¶ Suka berkeluh kesah di muka bawahannya.
¶ Pelit menularkan ilmu kepada bawahannya.
¶ Tidak konsekuen dan konsisten dengan keputusan yang dibuat.
¶ Melakukan pengawasan terlalu berlebihan.
¶ Melihat bawahan cenderung dari sisi negatifnya.
¶ Menganggap bawahannya semuanya bodoh.
¶ Suka mengganggu dan iseng pada anak buahnya.
¶ Suka minta upeti pada bawahannya.
UPAYA MANAJER
UNTUK MENCAPAI
PUNCAK PRESTASI
¶ Senantiasa mencari dan mencoba cara terbaik.
¶ Melakukan hal-hal yang besar dan strategis.
¶ Tidak enggan untuk memulai.
¶ Berani terhadap tantangan dan resiko.
¶ Terus menerus menggali ide dan gagasan.
¶ Membuat harapan yang realistis.
¶ Mengutamakan kejujuran.
¶ Menolak yang baik untuk mendapatkan yang terbaik.
¶ Senantiasa memperkaya informasi.
¶ Memiliki tanggung jawab yang besar.
¶ Teguh dalam menghadapi berbagai rintangan.
¶ Tidak kenal putus asa.
¶ Gagal dan bangun lagi untuk tetap mencoba sampai berhasil.
¶ Menyadari bahwa kesempatan tidak akan mengetuk dua kali.
¶ Senantiasa membangun motivasi dari dalam diri.
¶ Malu berbuat yang tidak pantas.
¶ Berusaha menjadi contoh bagi orang lain.
¶ Senantiasa berpikir jauh ke depan dan mengerjakan apa yang ada saat ini.
¶ Pantang untuk menunda pekerjaan.
¶ Bersikap tabah dan tawakal.
¶ Bukan kerja keras tapi kerja cerdas.
¶ Senantiasa berdoa untuk memohon petunjuk Allah.
BAGAIMANA MEMBUAT
PROGRAM PELATIHAN
¶ Membuat analisa kebutuhan pelatihan.
¶ Alasan mengapa dibutuhkan pelatihan.
¶ Mengumpulkan informasi terkait dengan analisa kebutuhan.
¶ Menyusun sasaran pelatihan.
¶ Membuat alternatif metode pelatihan.
¶ Memilih metode yang cocok.
¶ Memilih exhouse atau inhouse training.
¶ Menyusun faktor-faktor yang mendukung jalannya pelatihan.
¶ Memilih pengajar yang cocok.
¶ Menyiapkan sarana tehnis.
¶ Mengerjakan pelaksanaan pelatihan.
¶ Mengevaluasi hasil pelatihan.
¶ Memperbaiki pelatihan yang sudah dilaksanakan untuk perbaikan ke depan.
MENILAI
PRESTASI BAWAHAN.
¶ Membuat tujuan dan sasaran menilai prestasi serta apa yang diharapkan dari penilaian tersebut.
¶ Membuat sistem penilaian yang dapat menggambarkan keadilan.
¶ Menyusun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menilai prestasi bawahan.
¶ Meminimalisir subyektivitas.
¶ Berusaha tidak mengikutkan konflik pribadi dalam menilai bawahan.
¶ Mengkondisikan penilaian prestasi sebagai alat untuk memotivasi bawahan, bukan sebaliknya.
¶ Memberikan penjelasan dan sosialisasi atas hasil penilaian prestasi.
¶ Menghindari sekecil mungkin dampak negatif akibat penilaian prestasi tersebut.
¶ Menyadari bahwa tidak semua orang puas dengan hasil penilaian prestasi.
¶ Siap dalam menghadapi protes yang mungkin terjadi.
MENINGKATKAN
SIKAP DISIPLIN BAWAHAN.
¶ Fahami indikasi terjadinya ketidakdisiplinan.
¶ Menjelaskan apa makna disiplin itu.
¶ Unsur apa yang membentuk sikap disiplin.
¶ Mengapa ada karyawan cenderung tidak disiplin.
¶ Pemahaman bahwa disiplin adalah kiat menuju sukses.
¶ Penjabaran ruang lingkup disiplin.
¶ Bagaimana cara meningkatkan disiplin.
¶ Diberikan contoh dan teladan.
¶ Disosialisasikan secara bertahap.
¶ Diberikan aturan-aturan.
¶ Dilaksanakan.
¶ Dievaluasi
¶ Dilakukan perbaikan.
MENGELOLA WAKTU
SECARA EFEKTIF
¶ Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
¶ Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga.
¶ Semua orang diberi waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari.
¶ Hanya orang yang dapat mengatur waktu yang beruntung.
¶ Kita cermati apa akibatnya jika kita tidak mengelola waktu secara baik.
¶ Kita coba mencari cara bagaimana kita bisa mengatur waktu secara efektif dan efisien.
¶ Kita tunjukkan kepada bawahan bagaimana menggunakan waktu secara baik.
¶ Mengelola waktu berarti harus disiplin dengan waktu.
¶ Kita bantu bawahan bagaimana menghemat dan menggunakan waktu secara baik.
¶ Perencanaan kerja yang baik adalah salah satu cara untuk mengelola waktu.
¶ Kegiatan-kegiatan yang memboroskan waktu harus kita hindari.
¶ Kita berikan contoh-contoh kegiatan apa saja yang cenderung hanya menghabiskan waktu tanpa memberikan manfaat yang berarti.
¶ Kita tunjukkan apa keuntungan dari mengelola waktu secara baik.
MENINGKATKAN
PRODUKTIVITAS
KERJA BAWAHAN.
¶ Bangkitkan semangat kerjanya berdasar kesadaran.
¶ Berikan pemahaman tentang maksud dan tujuan mengapa tugas harus dikerjakan.
¶ Usahakan tugas dan pekerjaan menjadi sederhana.
¶ Berikan target-terget yang menantang tetapi kemungkinan besar dapat dicapai.
¶ Galang kerja sama yang harmonis.
¶ Hindarkan persaingan yang tidak sehat.
¶ Tanamkan rasa bangga terhadap pekerjaan.
¶ Beri arahan bagaimana mengerjakan pekerjaan secara efektif dan efisien.
¶ Biasakan untuk menghargai waktu.
¶ Latih untuk berani mengambil sikap.
¶ Berikan penghargaan yang memadai.
MENYADARKAN
KESEIMBANGAN
HAK DAN KEWAJIBAN
¶ Memberikan pemahaman secara detil apa yang menjadi kewajiban sebagai karyawan,
¶ Jelaskan seluruh hak yang akan diperoleh baik semasa aktif maupun saat pensiun.
¶ Fahamkan bahwa hak dan kewajiban harus seimbang.
¶ Berikan hitungan secara matematik apakah nilai kerja yang sekarang dilakukan sudah sesuai dengan hak yang diterima.
¶ Sadarkan bahwa hak yang diterima saat pensiun nanti, kewajibannya harus dilakukan saat masih aktif sekarang ini.
¶ Berikan kesadaran bahwa gaji atau rejeki yang didapatkan, ’kebarokahannya’ tergantung bagaimana kita menjalankan kewajiban.
¶ Seharusnya yang benar kewajiban dilaksanakan dengan baik maka hak akan mengikutinya.
¶ Hidarkan fokus pikiran hanya tertuju pada hak.
¶ Bekerja akan mendapatkan kepuasan yang sejati jika kewajiban dilaksanakan dengan baik.
MEMPENGARUHI
BAWAHAN MELALUI
KETELADANAN.
¶ Sadarkan diri kita bahwa apa yang akan kita perbuat sangat mungkin ditiru bawahan kita.
¶ Kita usahakan setiap yang akan kita kerjakan memang patut dicontoh oleh anak buah.
¶ Bersikaplah seperti bapak sekaligus teman.
¶ Hindari sikap kaku dan arogan.
¶ Pedulilah terhadap setiap keluhan bawahan.
¶ Upayakan situasi kerja yang kondusif.
¶ Senantiasa menghargai bawahan.
¶ Tunjukkan sikap positif.
¶ Hindarkan melakukan penyimpangan.
¶ Tetaplah mengikuti aturan dan prosedur.
¶ Tetaplah melakukan introspeksi diri.
MENGAPA GAGAL
MENCAPAI PUNCAK PRESTASI
¶ Tidak memiliki prinsip hidup yang kuat.
¶ Tidak tahu ke mana mengarahkan tujuan hidup.
¶ Sulit mengenali keunggulan dirinya.
¶ Minder, terlalu rendah menghargai dirinya.
¶ Tidak mengenali kelemahan diri.
¶ Terlalu bersahabat dengan masa lalu.
¶ Anti perubahan.
¶ Tidak mampu melihat masa depan.
¶ Memaksakan memuaskan diri.
¶ Tidak memiliki gairah hidup.
¶ Berpikir negatif atau selalu buruk sangka.
¶ Tidak memiliki kepedulian dengan masalah sosial.
¶ Tidak konsisten, mata melihat hijau tetapi mulut mengatakan merah.
¶ Lamban dalam mengantisipasi perubahan.
¶ Tidak mampu mengelola waktu.
¶ Selalu melihat dengan kaca mata hitam.
¶ Merasa direpotkan dengan disiplin.
¶ Tahunya beres, hidup serumah dengan kemalasan.
¶ Egois, tidak mau tahu urusan orang lain.
¶ Pengagum dunia, hidup hanya untuk makan.
¶ Usil, selalu peduli kelemahan orang lain.
¶ Iri, pingsan jika melihat orang lain sukses.
¶ Hidup boros, besar pasak dari pada tiang.
¶ Puas dengan predikat nomor kambing.
¶ Ingin jabatan tinggi tetapi tidak mau usaha.
¶ Sulit untuk berpikir jernih.
¶ Melihat pengalaman masa lalu sebagai musuh.
¶ Bersandar pada nasib tanpa mau berusaha.
¶ Suka bermuka dua.
¶ Takut menghadapi resiko.
¶ Tidak suka berinteraksi dengan dunia luar.
¶ Sulit untuk bersyukur.
CIRI KHAS KARYAWAN
BERETOS KERJA PLUS
¶ Pandai mengatur dan menghargai waktu.
¶ Memiliki disiplin yang tinggi.
¶ Memanfaatkan jam kerja secara efektif.
¶ Bekerja dengan perencanaan yang matang.
¶ Selalu memasang target yang menantang.
¶ Tidak mau kerja setengah-setengah.
¶ Bekerja tanpa menunggu perintah.
¶ Disiplin tanpa diawasi.
¶ Mampu memaksimalkan potensi diri.
¶ Semangat kerja tidak pernah kendur.
¶ Tidak mudah putus asa.
¶ Tidak takut terhadap resiko.
¶ Suka mencoba hal-hal baru.
¶ Tidak takut gagal..
¶ Memiliki tanggung jawab yang besar.
¶ Memiliki prinsip dan pendirian yang kuat
¶ Bekerja dengan sumber daya yang efektif dan efisien.
¶ Senang melakukan evaluasi diri.
¶ Senantiasa berdoa dan mohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.
TEHNIS SUKSES
MENYIASATI PERUBAHAN
¶ Berfikir positif.
¶ Inovatif – piawai mencari terobosan.
¶ Partisipatif – ikut mendukung perubahan.
¶ Komunikatif – mau berhubungan dengan orang lain.
¶ Informatif – mampu menyampaikan pesan secara efektif.
¶ Produktif – memacu menjadi lebih baik.
¶ Kompetitif – memenangkan persaingan secara sehat.
¶ Negosiatif – menyelesaikan masalah tanpa timbul masalah.
¶ Adaptif – larut tapi tidak tenggelam.
¶ Asertif – berkepribadian kuat dan percaya diri.
¶ Antisipatif – cermat membaca tanda – tanda zaman.
¶ Responsif – tanggap terhadap dinamika perubahan.
¶ Proaktif – tidak tinggal diam menunggu.
¶ Toleransif – menghargai prularisme dalam kehidupan.
¶ Persuasif – mudah melakukan pendekatan.
¶ Kolaboratif – mudah diajak kerja sama dalam hal positif.
¶ Obyektif – melihat masalah secara jernih.
¶ Argumentatif – menggunakan nalar untuk meyakinkan.
¶ Atraktif – mampu menarik perhatian.
¶ Selektif – bertindak berdasar skala prioritas.
¶ Sportif – mengakui kelebihan orang lain.
¶ Imajinatif – berfikir untuk masa depan.
¶ Intuitif – menggunakan otak kanan dengan baik.
¶ Arif – bertindak bijaksana dan mengedepankan humanisme.
¶ Afirmatif – memberi semangat untuk berprestasi.
¶ Efektif – berfikir sebelum bertindak.
¶ Konstruktif – memiliki jiwa membangun.
¶ Perfektif – berusaha untuk berbuat yang sempurna.
¶ Transformatif – kampiun sebagai penggerak perubahan sejati.
¶ Profesional dan perseptif – menuntaskan pekerjaan berdasar standar.
¶ Reorientatif – menyelaraskan dengan tuntutan perubahan.
¶ Kaya alternatif – pandai mencari pilihan.
¶ Interpretatif – menindaklanjuti strategi ke dalam aksi.
¶ Impulsif – bertindak atas dorongan nurani.
¶ Progresif – keinginan dan dorongan ingin maju.
¶ Apresiatif – menghargai prestasi fihak lain.
¶ Distinctif – tidak sekedar tampil beda.
¶ Edukatif – senantiasa menjadi guru.
¶ Tidak agitatif – menggerakkan perubahan tanpa guncangan.
BEKAL MENUJU
PUNCAK PRESTASI
¶ Orientasi berpikir selalu kedepan.
¶ Menggunakan masa lalu sebagai pijakan untuk melompat.
¶ Mundur untuk maju ke depan 3 langkah.
¶ Mengalah untuk menang.
¶ Mampu mengawasi diri sendiri.
¶ Mampu memerintah dirinya sendiri.
¶ Sibuk mencari tantangan.
¶ Pantang untuk berdiam diri.
¶ Resiko dianggap makanan pokok.
¶ Lebih memilih tanggung jawab yang lebih besar.
¶ Menganggap keluh kesah sebagai musuh dalam selimut.
¶ Menyiapkan diri terlibat dalam pengambilan keputusan yang lebih penting.
¶ Antara kata dan perbuatan tidak pernah bersimpang jalan.
¶ Setiap hari berusaha untuk memecahkan masalah.
¶ Menjadikan kesibukan sebagai teman dekatnya.
¶ Membaca buku adalah menu tetapnya.
¶ Otaknya selalu diputar untuk mendapatkan ide dan inovasi baru.
¶ Memprioritaskan kewajiban dari pada hak.
¶ Menganggap kewajiban sebagai kebutuhan.
¶ Menyadari bahwa hak datang dengan sendirinya jika hak dilaksanakan dengan ikhlas.
¶ Senantiasa berperan sebagai inisiator perubahan.
¶ Tidak suka mencari kambing hitam.
¶ Jika muncul masalah, menganggap dirinya yang menjadi kambing hitam.
¶ Tidak mudah menyerah pada keadaan sebelum mengeluarkan seluruh potensinya.
¶ Setiap bertindak selalu penuh perhitungan.
¶ Tidak pernah ketinggalan untuk mengikuti perkembangan.
¶ Mampu melihat dan menciptakan peluang.
¶ Berani mencoba sesuatu yang beresiko.
¶ Sering berpikir yang orang lain tidak pernah memikirkan.
¶ Tidak pernah berpikir negatif tentang perubahan.
¶ Sering mengancam dirinya sendiri untuk berbuat yang lebih baik.
¶ Tidak suka dengan hasil yang biasa-biasa saja.
¶ Berusaha untuk membuat orang lain menjadi puas.
¶ Bersikap tegas, lugas, tetapi luwes.
¶ Sadar bahwa apa yang dilakukan harus mendapat ridho dari Allah Yang Maha Mengatur.
MANAJER
SEBAGAI GURU
¶ Memiliki ilmu untuk mengajar.
¶ Mampu menjabarkan sesuatu secara gamblang.
¶ Senantiasa berkeinginan bawahannya bertambah pintar.
¶ Tidak pelit terhadap ilmu dan pengalaman.
¶ Sadar bahwa menularkan ilmu adalah termasuk amal jariah yang pahalanya terus menerus tidak pernah putus.
¶ Tidak pernah takut disaingi oleh bawahannya.
¶ Senang jika memiliki anak buah yang berprestasi.
¶ Di manapun berada ingin selalu menularkan ilmunya.
¶ Menjadi guru tapi berusaha orang lain merasa tidak digurui.
¶ Sikap dan perilakunya siap untuk menjadi contoh.
¶ Tidak suka melihat kemungkaran.
¶ Tidak suka melihat kemunduran.
¶ Dalam benaknya selalu terisi keinginan bagaimana orang lain bisa tambah maju.
MANAJER
SEBAGAI MURID.
¶ Menganggap orang lain sebagai guru.
¶ Senantiasa melihat orang lain dari sisi kelebihan.
¶ Tidak pernah malu untuk belajar.
¶ Tidak pernah enggan untuk bertanya.
¶ Selalu belajar dari apa yang dikerjakan orang lain.
¶ Tidak pernah bosan untuk membaca.
¶ Tidak pernah kehabisan sesuatu untuk dipelajari.
¶ Menyadari bahwa ilmu adalah suatu kekayaan yang tidak ada bandingnya.
¶ Pengalaman orang lain menjadi guru gratis yang harus dimanfaatkan.
¶ Dan sadar bahwa Allah adalah sumber dari segala sumber ilmu.
¶ Sadar bahwa ilmu yang bisa dikuasai manusia hanya sebagian kecil dari ilmu Allah, sehingga tidak pernah merasa sombong.
KEMAMPUAN
YANG HARUS DIMILIKI
SEORANG MANAJER
¶ Mampu merumuskan visi dan misi.
¶ Mampu melihat kelebihan dan kelemahan organisasi.
¶ Mampu melihat adanya peluang dan ancaman.
¶ Mampu menentukan sasaran dan tujuan.
¶ Mampu membuat strategi untuk mencapai sasaran.
¶ Mampu membuat kebijakan untuk mendukung strategi.
¶ Mampu menyusun program kerja.
¶ Mampu mendistribusikan pekerjaan.
¶ Mampu memilih orang yang tepat.
¶ Mampu mengkoordinasikan kegiatan.
¶ Mampu melakukan pengawasan secara efektif.
¶ Mampu membuat skala prioritas.
¶ Mampu melakukan analisa secara tepat.
¶ Mampu mengidentifikasikan masalah.
¶ Mampu membuat beberapa alternatif.
¶ Mampu memilih alternatif yang paling menguntungkan.
¶ Mampu membuat keputusan dengan tepat.
¶ Mampu menilai kinerja secara obyektif.
MANAJER SEBAGAI
PELAYAN ANAK BUAHNYA
¶ Memiliki kiat bagaimana memberikan pelayanan secara prima.
¶ Sadar bahwa sebagai manajer pada hakekatnya adalah juga sebagai pelayan.
¶ Salah satu tugas utama adalah melayani sehingga kegiatan dapat berjalan.
¶ Menampung aspirasi dari anak buahnya.
¶ Sabar dan telaten dalam melayani keinginan bawahannya.
¶ Mampu bertindak adil dan proporsional.
¶ Tidak mengambil keuntungan pribadi dalam memberikan pelayanan.
¶ Kepuasan bawahannya menjadi prioritasnya.
¶ Memiliki kepedulian dan kepekaan yang tinggi.
¶ Menjadi contoh dan teladan dalam melayani pelanggan.
MAMPU MENJALANKAN
FUNGSI KEPEMIMPINAN
¶ Memiliki kharisma.
¶ Mampu mempengaruhi orang lain.
¶ Mampu menjadi contoh dan teladan.
¶ Memiliki kemampuan berbicara.
¶ Mampu berkomunikasi dengan baik.
¶ Mampu berdiplomasi.
¶ Mampu menggerakkan massa.
¶ Mampu menggerakkan semangat.
¶ Mampu memberikan pengoyoman kepada anak buah.
¶ Mampu mendengar keluh-kesah bawahan.
¶ Mampu bersikap adil dan tidak pilih kasih.
¶ Mampu memberikan pujian yang tulus.
¶ Mampu memberikan jalan keluar setiap ada masalah.
¶ Mampu memberikan pembelajaran pada bawahan.
¶ Mampu mengajak bawahan kepada perilaku positif.
¶ Mampu melihat permasalahan dengan hati yang jernih.
¶ Mampu menahan hawa nafsu.
¶ Mampu mengendalikan dari perbuatan yang tidak pantas.
¶ Mampu meminta maaf dan memberi maaf.
MANAJER
BERWAWASAN LUAS
¶ Senantiasa mengikuti perkembangan jaman.
¶ Senantiasa mengikuti perubahan.
¶ Senantiasa belajar dan membaca.
¶ Menguasai secara detil pada bidangnya.
¶ Menguasai tentang sosial politik.
¶ Senantiasa mengikuti perkembangan tehnologi.
¶ Tahu banyak tentang tehnologi informasi.
¶ Tahu banyak tentang ekonomi mikro dan makro.
¶ Tahu banyak tentang psikologi industri.
¶ Menguasai beberapa bahasa.
¶ Tahu banyak tentang ilmu komunikasi.
¶ Tahu banyak tentang ilmu pemasaran.
¶ Menguasai ilmu-ilmu yang terkait dengan bidang kegiatannya.
MEMILIKI
KESTABILAN JIWA
¶ Tidak mudah tergoda hal-hal negatif.
¶ Tidak mudah marah dan emosi.
¶ Tidak mudah putus asa.
¶ Tidak mudah mempercayai fitnah.
¶ Tidak mudah kecewa.
¶ Tidak mudah ‘nglokro’.
¶ Tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas.
¶ Memiliki prinsip yang kuat.
¶ Senantiasa berpikir sebelum bertindak.
¶ Senantiasa menggunakan hati nurani.
¶ Memiliki konsistensi tinggi.
¶ Menjunjung tinggi komitmen.
MEMBERIKAN PERINTAH
SECARA BIJAK
¶ Memahami makna dan arti perintah.
¶ Perintah sebagai penggerak kegiatan organisasi.
¶ Perintah sebagai saran komunikasi dengan bawahan.
¶ Memberikan perintah merupakan kewajiban sebagai seorang manajer.
¶ Perintah sebagai bentuk kepercayaan kepada bawahan.
¶ Perintah merupakan konsekuensi logis dari adanya hirarki organisasi.
¶ Perintah merupakan bentuk amanah.
¶ Perintah sebagai tugas dan tanggung jawab seorang manajer.
¶ Perintah hakekatnya merupakan hal yang strategis.
¶ Memberikan perintah diartikan sebagai bentuk ibadah.
¶ Perintah jangan dilakukan sebagai bentuk kekuasaan.
¶ Perintah jangan dilakukan untuk pelampiasan ambisi.
¶ Perintah jangan dilakukan sebagai hukuman.
¶ Perintah jangan diberikan secara kasar dan menyakitkan.
¶ Perintah hendaknya diberikan secara santun.
¶ Perintah hendaknya mempertimbangkan kemampuan bawahan.
¶ Perintah sebaiknya diberikan seolah-olah minta tolong.
¶ Perintah diberikan dengan mempertimbangkan kondisi mental dan emosi bawahan.
¶ Perrintah sebaiknya diberikan secara persuasif.
¶ Perintah hendaknya diberikan dengan tetap menghargai martabat bawahan.
¶ Perintah sebaiknya tidak diberikan dalam keadaan marah.
¶ Perintah sebaiknya diberikan secara bertahap.
¶ Perintah diberikan secara hirarki.
¶ Perintah dapat diberikan secara lisan.
¶ Perintah bisa diberikan secara tertulis.
¶ Perintah bisa bersifat saran.
¶ Perintah bisa bersifat tegas.
¶ Perintah harus diberikan sehingga bawahan merasa rela dan ikhlas untuk melaksanakan perintah tersebut.
MEMBERIKAN
TEGURAN SECARA BIJAK
¶ Memahami hakekat memberi teguran.
¶ Teguran untuk meluruskan adanya penyimpangan.
¶ Teguran sebagai bentuk kontrol dan pengawasan.
¶ Teguran harus bersifat konstruktif.
¶ Teguran sebaiknya dilakukan secara hati-hati.
¶ Teguran sebaiknya dilakukan dengan kata-kata santun.
¶ Teguran sebaiknya diberikan empat mata.
¶ Teguran sebaiknya diberikan dengan menunjukkan kesalahannya.
¶ Teguran bukan merupakan pelampiasan kekesalan.
¶ Teguran bukan bentuk pelampiasan dendam.
¶ Teguran bukan karena menuruti hawa nafsu.
¶ Teguran merupakan proses peningkatan kemampuan bawahan.
¶ Teguran merupakan perhatian atasan terhadap bawahan. Teguran merupakan rasa cinta atasan kepada bawahan.
¶ Teguran seharusnya bukan merupakan yang ditakuti.
¶ Teguran harus diberikan secara menyenangkan.
¶ Teguran diberikan dengan keyakinan bahwa bawahan melakukan kesalahan.
¶ Teguran diberikan dengan mempertibangkan karakter bawahan
¶ Teguran diberikan dengan melihat kondisi kesehatan bawahan.
¶ Teguran sebaiknya diberikan secara jelas dan tepat sasaran.
¶ Teguran diberikan secara persuasif.
¶ Teguran diberikan dengan mempertimbangkan waktu dan tempat.
¶ Teguran diberikan hanya dengan maksud untuk memperbaiki.
¶ Teguran sebaiknya diberikan dengan didahului memberikan pujian.
¶ Teguran diberikan dengan mempertimbangkan prestasi bawahan.
¶ Teguran sebaiknya diberikan dengan mempertimbangkan pangkat dan jabatan.
¶ Teguran juga harus mempertimbangkan besar kecilnya akibat kesalahan.
¶ Teguran sebaiknya bukan karena sentimen pribadi.
¶ Teguran diberikan dengan tidak menyebut kelemahan bawahan.
¶ Teguran diberikan dengan tidak ada niatan untuk menusuk perasaan.
¶ Teguran sebaiknya tidak diberikan secara terus menerus.
¶ Teguran jangan sampai menyebabkan bawahan menjadi antipati.
¶ Teguran seharusnya membuat hubungan atasan dan bawahan semakin harmonis.
MANAJER TAMPIL
DENGAN PERCAYA DIRI
¶ Yakinlah dengan kemampuan diri sendiri.
¶ Usahakan mampu berkomunikasi dengan diri sendiri.
¶ Yakinlah bahwa setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan.
¶ Jauhkan rasa minder dan rendah diri.
¶ Bersikaplah biasa, tidak over dan tidak under.
¶ Usahakan mampu mengevaluasi diri.
¶ Konsistenlah untuk tetap meningkatkan kualitas diri.
¶ Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.
¶ Hargai diri sendiri seperti menghargai orang lain.
¶ Yakinlah bahwa setiap orang memiliki keahlian yang tidak dimiliki orang lain.
¶ Yakinlah bahwa setiap orang akan bisa memaklumi kelemahan orang lain.
¶ Yakinlah bahwa setiap orang mau memaafkan kesalahan orang lain.
¶ Percaya diri bukan bersikap sombong.
¶ Percaya diri berarti seimbang dalam menghargai diri sendiri dan orang lain.
MANAJER DENGAN
DISIPLIN TINGGI
¶ Datang ke kantor tepat waktu.
¶ Tidak pernah meninggalkan atau pulang sebelum jam pulang.
¶ Memanfaatkan jam kerja secara efektif.
¶ Menggunakan waktu istirahat sebaik mungkin.
¶ Tidak menggunakan jam kerja untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan.
¶ Bekerja dengan perencanaan yang matang.
¶ Dalam membuat rencana hanya berpikir untuk kemajuan organisasi.
¶ Tertib terhadap aturan dan prosedur.
¶ Tertib terhadap administrasi.
¶ Menghadiri rapat dan undangan tepat waktu.
¶ Disiplin terhadap anggaran.
¶ Tidak main-main dengan anggaran.
¶ Tidak mau menerima yang bukan haknya.
¶ Tidak melakukan KKN.
ETIKA
MASUK KANTOR
¶ Mengucapkan salam lebih dulu kepada bawahannya.
¶ Selalu menampakkan wajah ceria.
¶ Selalu menampakkan senyum.
¶ Memandang semua orang yang ada dalam ruangan.
¶ Tanya kabar baik.
¶ Berjalanlah secara tegap tetapi tidak terkesan sombong.
¶ Pakai pakaian yang sopan.
¶ Jangan bertanya sesuatu sambil jalan.
¶ Upayakan anda bersikap sopan dihadapan bawahan.
ETIKA
BERBICARA
¶ Usahakan dalam berbicara menatap lawan bicara.
¶ Suara harus jelas terdengar.
¶ Menggunakan tata bahasa yang baik.
¶ Jangan menggunakan nada suara yang tinggi.
¶ Pembicaraan mudah dimengerti.
¶ Bisa mengimbangi lawan bicara.
¶ Berkeinginan menyenangkan lawan bicara.
¶ Mampu menciptakan rasa humor.
¶ Mau memuji lawan bicara.
¶ Mampu menjadi pendengar yang baik.
¶ Jangan membicarakan kejelekan orang lain.
¶ Jangan membicarakan hal-hal yang sensitif.
¶ Jangan memotong pembicaraan orang lain.
¶ Jangan mendominasi pembicaraan.
¶ Jangan terlalu banyak membicarakan diri sendiri.
HUBUNGAN
DENGAN ATASAN
¶ Hormatilah siapapun atasan anda.
¶ Mintalah saran dan petunjuk untuk dapat berkomunikasi derngan atasan.
¶ Jangan spontan menolak perintah atasan.
¶ Dengarkan dengan baik apa yang dikatakan atasan.
¶ Mintalah penjelasan lebih lanjut jika masih ragu-ragu.
¶ Usahakan tidak membuat kecewa atasan.
¶ Jika harus menolak perintah berikan alasan yang tepat dengan cara yang sopan.
¶ Jangan permalukan atasan didepan orang lain.
¶ Berikan masukan dan saran secara santun dan bijak.
¶ Hindari perilaku menjilat atasan.
¶ Jangan membuat repot atasan.
¶ Mintalah ijin jika harus meninggalkan pekerjaan.
¶ Jangan segan-segan minta maaf jika berbuat salah.
¶ Fahami bahwa semua atasan tidak mau dilangkahi kewenangannya.
HUBUNGAN DENGAN
TEMAN SELEVEL
¶ Jangan menganggap teman sebagai pesaing.
¶ Anggap teman selevel sebagai mitra kerja.
¶ Kembangkan kebiasaan saling membantu.
¶ Kembangkan kebiasaan saling mengingatkan.
¶ Kembangkan kebiasaan saling tukar menukar informasi.
¶ Kembangkan kebiasaan diskusi sehat.
¶ Hindarkan terjadi konflik.
¶ Jauhkan usaha untuk saling menjatuhkan.
¶ Jauhkan rasa iri dan dengki.
¶ Jangan mempermalukan teman dihadapan atasan.
¶ Usahakan menyamakan persepsi.
¶ Ikutlah senang jika teman mendapatkan kebahagiaan.
¶ Ucapkan selamat secepatnya jika teman mendapatkan promosi.
¶ Upayakan saling menghargai pendapat.
¶ Jangan segan-segan meminta maaf dan memberi maaf.
HUBUNGAN PERSONAL
DENGAN BAWAHAN
¶ Hargai bawahan sebagai manusia yang bermartabat.
¶ Jangan terlalu menunjukkan kekuasaan.
¶ Jangan gengsi untuk memberi salam lebih dulu.
¶ Tunjukkan senyuman bersahabat.
¶ Bicaralah dengan sopan terhadap mereka.
¶ Hindari kesan bahwa anda orang yang menakutkan.
¶ Jangan gila hormat.
¶ Bangun hubungan personal yang mesra.
¶ Sering-seringlah menanyakan tentang keadaannya.
¶ Bersikap baiklah terhadap keluarganya.
¶ Berikan ucapan selamat pada hari-hari bahagia mereka.
¶ Berilah bimbingan demi kemajuan mereka.
¶ Berikan perintah dan teguran secara bijak.
¶ Jangan gengsi meminta maaf jika anda jelas bersalah.
¶ Hindari rasa dendam terhadap anak buah.
¶ Ajaklah ke arah yang benar.
¶ Jangan sekali-kali mengajak mereka untuk menyimpang dari aturan.
¶ Ajaklah mereka untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan YME.
MENGANGGAP KANTOR
SEBAGAI RUMAH KEDUA
¶ Upayakan bisa krasan di kantor.
¶ Buat suasana kantor yang menyenangkan.
¶ Usahakan kantor bersih dan rapi.
¶ Buat sirkulasi udara yang sejuk atau lengkapi dengan AC.
¶ Lengkapi dengan penyegar ruangan.
¶ Hindari kesan sumpek dengan menata ruang kantor sebaik mungkin.
¶ Lengkapi kantor dengan foto-foto keluarga.
¶ Ubah posisi mebel dan tatanan ruang secara periodik.
¶ Pasang audio yang memadai.
¶ Buat ruang khusus untuk menjalankan ibadah.
¶ Telponlah keluarga secara periodik 3 atau 4 jam sekali untuk menghadirkan kesan seperti di rumah.
MENGENALI BAWAHAN
YANG ’MBELING’
¶ Mereka yang memiliki hobi terlambat.
¶ Mereka yang malas bekerja.
¶ Mereka yang suka pulang sebelum waktunya.
¶ Mereka yang hanya berfikir tentang hak.
¶ Mereka yang suka membantah perintah.
¶ Mereka yang suka protes.
¶ Mereka yang selalu curiga pada atasan.
¶ Mereka yang memiliki hobi memfitnah.
¶ Mereka yang suka menghilang dalam jam kerja.
¶ Mereka yang sok ‘ngathok’ pada atasan.
¶ Mereka yang suka ’nyantai’ dalam jam kerja.
¶ Mereka yang hobinya memprovokasi temannya.
¶ Mereka yang suka membawa pulang barang kantor.
¶ Mereka yang suka minta uang semir.
¶ Mereka yang hobinya menunda pekerjaan.
¶ Mereka yang memiliki hobi ’ngutang’.
¶ Mereka yang memalsu jam lembur.
¶ Mereka yang bekerja asal-asalan.
¶ Mereka suka lari dari tanggung jawab.
¶ Mereka yang bilang ’nggih-nggih ora kepanggih’.
¶ Mereka yang hobi menggunjing orang lain.
¶ Mereka yang suka berpura-pura sibuk.
¶ Mereka yang suka absen tidak masuk kerja.
¶ Mereka yang senang jika Bos pergi.
¶ Mereka yang mahir cari alasan.
¶ Mereka yang suka bikin pusing atasan.
¶ Mereka yang selalu iri hati pada orang lain.
¶ Mereka yang suka bohong.
¶ Mereka yang suka setor dan cari muka.
¶ Mereka yang hobi mencari kesalahan orang lain.
¶ Mereka yang sering melaporkan teman pada atasan.
¶ Mereka yang suka ambil keuntungan dari kegiatan.
¶ Mereka yang pintar mencari kambing hitam.
¶ Mereka yang suka konflik dengan teman.
¶ Mereka yang mau menangnya sendiri.
¶ Mereka yang senang melihat temannya menderita.
¶ Mereka yang suka menjegal temannya.
¶ Mereka yang suka ijin meninggalkan pekerjaan.
¶ Mereka yang suka menjelek-jelekkan atasan.
¶ Mereka yang suka main judi.
¶ Mereka yang suka main selingkuh.
¶ Mereka yang panjang tangan.
¶ Mereka yang tidak pernah bersyukur.
¶ Mereka yang tidak pernah ibadah.
MEMBANGUN DISIPLIN
MELALUI KECERDASAN
SPIRITUAL DAN EMOSIONAL
Memahami hakekat disiplin:
¶ Disiplin merupakan nilai ketaatan dan kepatuhan.
¶ Disiplin mencerminkan sikap malu berbuat yang menyimpang.
¶ Disiplin berarti loyal terhadap norma dan aturan.
¶ Disiplin artinya cinta terhadap keteraturan dan ketertiban.
¶ Disiplin berarti mampu membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
¶ Disiplin berarti mampu mengendalikan diri.
¶ Disiplin berarti tahu standar perilaku yang baik.
¶ Disiplin akan tumbuh dengan latihan dan kebiasaan.
Niat untuk bersikap disiplin:
¶ Meyakini bahwa disiplin adalah sesuatu yang bersifat positif.
¶ Meyakini bahwa bersikap disiplin merupakan bagian dari amal soleh.
¶ Niat merupakan pemicu untuk berbuat disiplin.
¶ Yakin bahwa disiplin akan membuahkan keberhasilan dan kesuksesan.
¶ Menjadikan disiplin sebagai suatu kebutuhan.
¶ Merasakan disiplin sebagai sesuatu yang membahagiakan.
¶ Bersikap disiplin dengan hati yang ikhlas.
Tahu siapa pengawas yang sesungguhnya:
¶ Berbuat disiplin bukan karena pamrih.
¶ Menyadari bahwa Tuhan adalah pengawas yang sesungguhnya.
¶ Malu pada diri sendiri jika tidak disiplin.
¶ Manusia bisa dibohongi, tetapi Tuhan akan tahu apa yang kita lakukan.
¶ Manusia tidak pernah lepas dari pengawasan Tuhan.
¶ Kesadaran bahwa kita selalu diawasi oleh Yang Maha Tahu, maka akan membuat kita bersikap disiplin.
¶ Jadi Pengawas yang sesungguhnya adalah Tuhan Yang Maha Tahu.
Apa yang menjadi hambatan untuk berbuat disiplin:
¶ Menganggap disiplin sebagai suatu siksaan.
¶ Merasa tidak ada yang mengawasi.
¶ Menuruti hawa nafsu.
¶ Sikap egois dan mencari enaknya sendiri.
¶ Tergoda contoh yang tidak baik.
¶ Adanya kesempatan untuk berbuat menyimpang.
¶ Tidak merasa berdosa.
Ruang lingkup disiplin:
¶ Disiplin terhadap kewajiban beragama.
¶ Disiplin terhadap aturan dan undang-undang.
¶ Disiplin terhadap waktu.
¶ Disiplin terhadap perencanaan.
¶ Disiplin terhadap anggaran dan biaya.
¶ Disiplin terhadap hierarki organisasi.
¶ Disiplin terhadap hasil kesepakatan.
¶ Disiplin terhadap kaidah hubungan antar manusia.
Memahami manfaat bersikap Disiplin:
¶ Hidup menjadi lebih teratur.
¶ Tingkat kesuksesan dalam hidup relatif tinggi.
¶ Kerja bisa lebih efektif dan efisien.
¶ Dapat mengiliminir.
¶ Kepuasan kerja relatif lebih tinggi.
¶ Hubungan vertikal dan horizontal menjadi lebih menjadi lebih baik.
Membangun Motivasi Diri
MELALUI KECERDASAN
SPIRITUAL DAN EMOSIONAL
Niat kerja untuk ibadah:
¶ Menyadari untuk apa manusia diciptakan.
¶ Menelusuri siapa sebetulnya yang memberi gaji atau rejeki.
¶ Merenungi sebetulnya kontrak kerja kita ini dengan siapa? Dengan perusahaan atau dengan Tuhan.
¶ Kita sadari bahwa apa yang kita kerjakan tidak pernah lepas dari pengawasan Tuhan.
¶ Niat kerja yang benar akan meringankan beban kerja.
¶ Niat kerja untuk ibadah berarti selalu mengharap ridho Allah.
¶ Niat kerja yang lurus akan mendorong hati menjadi ikhlas.
¶ Hati yang ikhlas dalam melaksanakan kerja membuat semangat lebih tinggi.
¶ Niat kerja untuk ibadah membuat rejeki yang diperoleh menjadi lebih barokah.
¶ Niat kerja untuk ibadah menghilangkan rasa malas.
¶ Niat kerja untuk ibadah memberikan dua keuntungan, keuntungan di dunia dan di akherat.
¶ Niat kerja untuk ibadah dapat menjauhkan dari perbuatan yang melanggar hukum.
Pandai mensyukuri nikmat:
¶ Jika kita pandai bersyukur nikmat akan ditambah.
¶ Jika kita ingkar terhadap nikmat pasti Allah akan menyiksa.
¶ Orang yang pandai bersyukur hidupnya selalu berkecukupan.
¶ Orang yang bersyukur hatinya selalu senang.
¶ Orang yang bersyukur, motivasinya lebih tinggi.
¶ Untuk bisa bersyukur kita sering melihat orang yang dibawah kita.
¶ Untuk bisa bersyukur kita sering menghitung-hitung apa yang diberikan oleh Allah.
¶ Bersyukur bisa melalui lisan.
¶ Bersyukur bisa melalui hati.
¶ Bersyukur bisa melalui perbuatan.
¶ Bersyukur yang sempurna adalah melalui ketiga-tiganya.
¶ Manajer yang pandai bersyukur akan senantiasa hidup damai penuh barokah.
¶ Manajer yang pandai bersyukur akan dimudahkan urusannya.
¶ Manajer yang pandai bersyukur memiliki motivasi kerja yang tinggi.
Mengerjakan tugas dengan ikhlas:
¶ Mengerjakan tugas sebagai suatu kepercayaan.
¶ Meyakini bahwa apa yang dikerjakan akan bermanfaat bagi orang lain.
¶ Mengerjakan tugas bukan kerena atasan tetapi karena semata-mata karena Allah.
¶ Bekerja untuk mencari rejeki yang halal.
¶ Meyakini bahwa apa yang dikerjakan tidak akan sia-sia jika dikerjakan secara ikhlas.
¶ Menyadari akan kewajiban dan tanggung jawab.
¶ Rasa ikhlas akan mampu merubah yang berat menjadi ringan.
¶ Tidak merangsang sifat iri dan dengki pada orang lain.
¶ Karena ikhlas berapapun rejeki yang diterima dapat diterima dengan senang.
¶ Tidak pernah mengeluh.
¶ Tidak merasa berat dalam melaksanakan tugas.
¶ Tugas seperti apapun akan dikerjakan dengan senang.
¶ Pekerjaan yang dikerjakan dengan senang akan memberikan hasil yang lebih baik.
¶ Lebih serius di dalam menangani pekerjaan.
¶ Hati yang ikhlas akan mendorong semangat kerja.
¶ Manajer yang ikhlas akan terlihat lebih tenang dalam menjalankan tugas.
Mampu mengelola rasa kecewa:
¶ Rasa kecewa akan langsung berpengaruh terhadap turunnya motivasi kerja.
¶ Kecerdasan emosional akan membantu mengendalikan rasa kecewa.
¶ Kecewa adalah manusiawi, tetapi yang harus dilakukan bagaimana mengelolanya.
¶ Atau bagaimana tidak muncul rasa kecewa.
¶ Angan-angan terlalu tinggi termasuk penyebab kekecewaan.
¶ Terlalu berharap namun tidak tercapai akan membuat kita kecewa.
¶ Seharusnya kita sadar bahwa orang yang kecewa akan menyiksa diri.
¶ Seharusnya apa yang terjadi itulah yang terbaik.
¶ Manusia berencana tetapi Tuhan yang menentukan.
¶ Meyakini bahwa kita tidak lepas dari takdir Allah.
¶ Namun manusia wajib berusaha.
¶ Rasa kecewa bisa dikendalikan jika kita pandai bersyukur.
¶ Berserah diri kepada Tuhan adalah cara ampuh untuk mengendalikan rasa kecewa.
Memuaskan diri dengan hasil kerja:
¶ Manajer bijak akan memuaskan diri dari hasil kerja yang telah dilakukan.
¶ Prestasi kerja yang baik akan memberikan kepuasan yang lestari.
¶ Gaji dan pangkat tidak selalu memberikan kepuasan yang kekal.
¶ Bagaimana membawa hati untuk berpuas dengan hasil kerja atau prestasi.
¶ Orang yang tidak bekerja dengan baik akan sulit untuk mendapat kepuasan.
¶ Orang yang ingin mendapat kepuasan dari hasil kerja akan senantiasa meningkatkan prestasinya.
¶ Orang merasa puas akan memiliki motivasi yang tinggi.
¶ Setiap hari kita bisa puas jika setiap hari kita juga bekerja dengan baik.
¶ Orang akan puas dengan apa yang didapat jika dia juga bisa menerima dengan rasa syukur.
Senang dicontoh orang lain:
¶ Senang dicontoh orang lain merupakan cara untuk memotivasi diri untuk berbuat yang lebih baik.
¶ Senantiasa berusaha untuk berbuat sesuatu dengan benar.
¶ Berusaha berbuat yang terbaik.
¶ Berusaha tidak berbuat yang tidak pantas.
¶ Menyadari bahwa setiap apa yang dilakukan sangat mungkin ditiru oleh orang lain, terutama bawahannya.
¶ Berusaha untuk konsisten dan konsekuen.
¶ Merasa bahwa dicontoh orang lain merupakan ibadah.
¶ Karena selalu dicontoh orang lain akan memotivasi diri untuk bekerja dengan baik.
REWARD AND PUNISHMENT
BUKAN SATU-SATUNYA
MOTIVATOR
¶ Dengan kondisi dan sistem remunerasi yang berlaku di negeri kita masih belum baik, maka reward and punishment justru sering memproduksi kekecewaan.
¶ Sebaiknya untuk memotivasi diri tidak terfokus dengan adanya reward and punisment.
¶ Penghargaan belum tentu tepat sasaran, sering yang prestasinya jelek malah mendapat penghargaan.
¶ Orang yang jelas salah sering kali tidak diberi sangsi.
¶ Hal-hal demikian akan membuat kecewa.
¶ Seharusnya motivasi dimunculkan baik ada reward atau tidak.
¶ Kita sadar bahwa motivasi harus selalu ada karena motivasi sangat terkait dengan kewajiban yang harus kita kerjakan.
¶ Kita menerima hak maka kewajiban harus dilaksanakan.
¶ Kewajiban bisa dikerjakan dengan baik jika ada motivasi.
¶ Seorang manajer seharusnya menjadi contoh untuk tetap menjaga motivasinya apakah ada reward atau tidak.
MEMBUAT BOSS
PUAS DAN TERSENYUM
¶ Tunjukkan sikap disiplin yang tinggi.
¶ Tunjukkan etos kerja yang kuat.
¶ Bantulah secara total tugas-tugas Boss.
¶ Jangan repotkan Boss dengan perilaku kita.
¶ Dukung program-program Boss yang saat ini menjadi prioritas.
¶ Jangan suka bikin masalah.
¶ Jangan menunggu perintah Boss.
¶ Ambil peran yang berarti untuk membantu masalah yang sedang dihadapi Boss.
¶ Jangan sekali-kali menggurui Boss.
¶ Jangan mengritik Boss tanpa memberi alternatif.
¶ Jangan membuat Boss jadi kecewa.
¶ Perhatikan hal-hal yang disukai Boss.
¶ Beri informasi Boss lengkap dengan data.
¶ Jangan sok jadi tukang fitnah.
¶ Pastikan bahwa anda tidak hanya pandai bicara.
¶ Senantiasa menjaga hubungan personal dengan bawahan
¶ Senantiasa menjaga hubungan dengan kolega/teman
¶ Selalu memegang janji yang pernah diucapkan
¶ Memiliki komitmen dan konsistensi yang tinggi
¶ Berupaya berpikir rasional dan proporsional
¶ Menyikapi setiap masalah secara jernih
¶ Mengikuti perkembangan teknologi dan ekonomi dunia
¶ Mampu membaca situasi secara jernih
¶ Tidak pernah berhenti untuk belajar
¶ Berusaha untuk berjalan di atas rel aturan
¶ Senantiasa meningkatkan komunikasi dengan bawahan, atasan maupun teman
¶ Senantiasa berperilaku menyenangkan
¶ Berusaha menjauhi perbuatan maksiat
¶ Bersikap adil dan tidak pilih kasih
¶ Mempertahankan prinsip hidup yang benar
¶ Bisa fleksibel dengan hal-hal yang masih bisa ditolerir
¶ Mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dari berbagai aspek
¶ Mengutamakan kepentingan orang banyak
¶ Senantiasa meningkatkan ibadah
KUNCI SUKSES
MEMBANGUN
SEMANGAT BAWAHAN
¶ Tunjukkan tujuan dan sasaran organisasi kepada bawahan
¶ Sosialisasikan strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran
¶ Bangun rasa bangga sebagai anggota organisasi
¶ Berikan imbalan gaji dan imbalan yang wajar
¶ Tanamkan bahwa bekerja adalah ibadah
¶ Berikan pemahaman bahwa hak dan kewajiban harus seimbang
¶ Berikan perintah seolah-olah kita minta tolong
¶ Kembangkan suasana kerja yang kondusif
¶ Tanggapi secara positif setiap masukan dari Bawahan
¶ Akuilah ide bawahan sebagai bentuk kontribusi mereka
¶ Dengarkan keluhan bawahan secara seksama
¶ Tebarkan senyum persahabatan kepada Bawahan
¶ Hindari kesan kekuasaan
¶ Berikan tugas dan perintah secara jelas
¶ Berikan kepercayaan yang memadai
¶ Hindari pengawasan yang terlalu ketat
¶ Hargailah hasil kerja bawahan secara wajar
¶ Berikan pujian yang tulus
¶ Berikan kritik dan saran secara bijak
¶ Jika melakukan perubahan, berikan sosialisasi yang cukup
BAGAIMANA
MEMBANGUN KOMUNIKASI DENGAN BAWAHAN
∞ Menghargai keberadaan bawahan
∞ Tidak menganggap dirinya paling pintar dan Benar
∞ Berbicara dengan santun walau dengan bawahan
∞ Berusaha berbicara jelas dan runtut
∞ Memberikan pengayoman kepada bawahan
∞ Berusaha menjadi pendengar yang baik
∞ Tidak segan menanggapi keluhan bawahan
∞ Sering turun langsung menemui bawahan
∞ Memberi kesempatan bawahan untuk
∞ menyampaikan pendapat
∞ Tidak terlalu membuat jarak dengan bawahan
∞ Memberikan perintah dengan jelas
∞ Memberikan kritik dan saran secara konstruktif
∞ Tidak memaksakan kehendak pada bawahan
∞ Tidak sulit untuk ditemui
∞ Menyediakan waktu untuk konsultasi
∞ Menciptakan suasana kerja yang kondusif`
∞ Sering mengadakan acara non formal
∞ Memahami kelemahan dan kekurangan Bawahan
∞ Tidak mudah marah kepada bawahan
∞ Tidak suka mengandalkan kekuasaannya
SIKAP POSITIF
SEORANG MANAJER
¶ Memiliki prinsip hidup yang kuat
¶ Hati-hati dan perhitungan dalam setiap Langkah
¶ Pandai memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk
¶ Berusaha tidak larut dalam perkembangan negatif
¶ Menyikapi setiap perubahan secara positif
¶ Mampu mengambil hikmah dari setiap Perubahan
¶ Tidak mudah menyerah dan putus asa
¶ Bersikap antisipatif dan proatif
¶ Kreatif dan inovatif
¶ Berusaha untuk bersikap preventif
¶ Cenderung menggalang kerja sama
¶ Konsisten dan konsekuen
¶ Memiliki sikap disiplin yang tinggi
¶ Mengikuti perkembangan dunia global
¶ Berusaha untuk tidak gagap teknologi
¶ Senantiasa menciptakan peluang-peluang
¶ Selalu berpikir jauh ke depan
¶ Tanggap terhadap ancaman yang akan Datang
¶ Setiap kegiatan selalu memasang target
¶ Mampu merumuskan tujuan dan sasaran
secara rasional
CARA MEMBANGUN
HUBUNGAN HARMONIS
DENGAN BAWAHAN
¶ Memberikan perintah secara bijak kepada
Bawahan
¶ Memberikan teguran secara bijak kepada
Bawahan
¶ Tidak pilih kasih
¶ Tidak membenci bawahan
¶ Menilai prestasi bawahan secara adil
¶ Tidak mengancam bawahan
¶ Melihat bawahan dari sisi positif
¶ Tidak menjatuhkan bawahan di depan orang Lain
¶ Senang menerima ide dan usulan bawahan
¶ Mau mengalah kepada bawahan
¶ Memberikan kepercayaan kepada bawahan
¶ Menyimpan rahasia bawahan
¶ Bersikap fleksibel kepada bawahan
¶ Senantiasa memberikan bimbingan
¶ Memberikan kesempatan maju kepada
bawahan
¶ Senantiasa menepati janji
¶ Tidak pernah meminta upeti kepada Bawahan
¶ Menghargai karya bawahan
¶ Tidak suka membuat repot bawahan
¶ Bertanggungjawab dengan apa yang dilakukan Bawahan
CARA EFEKTIF
MENJADI
TELADAN BAWAHAN
¶ Datang ke kantor tepat waktu
¶ Tidak menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan pribadi
¶ Tidak memanfaatkan bawahan untuk kepentingan pribadi
¶ Menunjukkan etos kerja yang tinggi
¶ Tidak menggunakan jam kerja untuk kepentingan pribadi
¶ Tidak melakukan perbuatan yang tidak Pantas
¶ Tidak menerima yang bukan haknya
¶ Tidak menyuruh bawahan pada hal-hal Negatif
¶ Tidak mengeluh di depan bawahan
¶ Tidak memanfaatkan kegiatan untuk kepentingan pribadi
¶ Bersikap wajar di depan anak buah
¶ Jika dinas keluar kota memberitahu bawahan
¶ Memiliki rasa tanggungjawab yang besar
¶ Satunya ucapan dan perbuatan
¶ Menyikapi perubahan secara positif
¶ Tidak mudah menyalahkan bawahan
¶ Mudah memberi maaf dan minta maaf
¶ Tidak pelit dan kikir
¶ Tidak terlalu kaku pada bawahan
¶ Melaksanakan kewajiban sebagai umat beragama
KEAHLIAN APA
YANG HARUS DIMILIKI
SEORANG MANAJER
¶ Ahli pidato dan berbicara
¶ Ahli mempengaruhi dan merayu orang lain
¶ Ahli diplomasi dan berdebat
¶ Ahli membuat proposal
¶ Ahli mengatur waktu
¶ Ahli membuat skala prioritas
¶ Ahli mengatur dan mengendalikan anggaran
¶ Ahli membuat tulisan
¶ Ahli mencari alasan dan pembenaran
¶ Ahli menciptakan visi dan misi
¶ Ahli melihat dan menemukan peluang
¶ Ahli mencari solusi permasalahan
¶ Ahli melihat kelemahan dan kekuatan organisasi
¶ Ahli menyusun strategi
¶ Ahli menata organisasi
¶ Ahli membuat jaringan kerja (net working)
¶ Ahli mengamati dan membaca situasi
¶ Ahli menutupi kelemahan organisasi
¶ Ahli menangkis balik serangan lawan atau Pesaing
¶ Ahli mempertahankan prinsip
KEBERANIAN
SEORANG MANAJER
¶ Berani membuat mimpi (visi)
¶ Berani menentukan sasaran
¶ Berani mengambil resiko
¶ Berani mengambil keputusan
¶ Berani bertanggungjawab
¶ Berani mengatakan apa adanya
¶ Berani mengungkap ketidakberesan
¶ Berani mempertahankan prinsip
¶ Berani mengingatkan bawahan
¶ Berani mengatakan tidak
¶ Berani memberi contoh dan teladan
¶ Berani melakukan perubahan
¶ Berani berkorban
¶ Berani menolak yang bukan haknya
¶ Berani menghadapi ancaman
¶ Berani menangkap peluang
¶ Berani melakukan amar ma'ruf nahi mungkar
¶ Berani mengoreksi diri sendiri
¶ Berani menerima kritik
¶ Berani menghadapi protes bawahannya
KEBIASAAN MANAJER
YANG INFORMATIF
¶ Menjelaskan hasil apa yang diharapkan dari anak buah
¶ Memberitahu kedudukan bawahan dalam organisasi
¶ Memberitahu bagaimana pekerjaan harus dilakukan
¶ Memberitahu bawahan bagaimana cara mengembangkan dirinya
¶ Menanyakan sarana apa yang diperlukan bawahan untuk kelancaran tugas
¶ Memberi contoh bagaimana membina hubungan pribadi
¶ Memberitahu akibat yang terjadi jika target tidak tercapai
¶ Mensosialisasikan kondisi perusahaan secara periodik
¶ Memberi pengertian pentingnya keseimbangan hak dan kewajiban
¶ Memberi kesempatan bawahan untuk menyampaikan ide dan usulan
¶ Memberi dukungan terhadap apa yang dikerjakan oleh bawahan
¶ Memberi informasi lebih dulu jika akan melakukan perubahan
¶ Selalu menginformasikan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan secara periodik
¶ Menunjukkan kekurangan bawahan sekaligus memberikan saran yang konstruktif
¶ Melakukan evaluasi terhadap kinerja bawahan secara periodik
¶ Siap memberikan penjelasan terkait dengan kebijaksanaan yang diambil oleh manajemen
¶ Senantiasa berkonsultasi dengan bawahan terkait dengan kesulitan yang dihadapi perusahaan
¶ Pintu kantornya terbuka untuk bawahan yang ingin menyampaikan masalah dan keluhan
¶ Mampu menyederhanakan informasi sehingga mudah ditangkap oleh bawahan
¶ Tidak pernah bosan dalam memberikan arahan demi lancarnya tugas operasional organisasi
PENYAKIT HATI
SEORANG MANAJER
¶ Gila hormat
¶ Merasa paling benar
¶ Suka marah
¶ Terlalu mencintai dunia
¶ Menganggap orang lain kecil
¶ Suka pamer
¶ Suka pergi ke dukun
¶ Bersikap angkuh dan sombong
¶ Serakah
¶ Suka selingkuh
¶ Gila kekuasaan
¶ Bermuka dua alias plin-plan
¶ Dendam pada bawahannya
¶ Kurang percaya diri
¶ Suka membual dan berdusta
¶ Suka ingkar janji
¶ Lupa akan nikmat Allah
¶ Terlalu optimis
¶ Suka menghasut
¶ Suka pada kemaksiatan
PERAN YANG HARUS
DIMAINKAN SEORANG MANAJER
¶ Sebagai motivator
¶ Sebagai dinamisator
¶ Sebagai moderator
¶ Sebagai fasilitator
¶ Sebagai negosiator
¶ Sebagai informator
¶ Sebagai transformator
¶ Sebagai shock absorber (peredam)
¶ Sebagai entrepreneur
¶ Sebagai braker (rem)
¶ Sebagai stater
¶ Sebagai charger
¶ Sebagai alarm
¶ Sebagai refrigerator (pendingin)
¶ Sebagai komunikator
¶ Sebagai monitor (pemantau)
¶ Sebagai controller (pengendali)
¶ Sebagai teacher (pengajar)
¶ Sebagai resource alocator (pembagi sumberdaya)
¶ Sebagai inspirator
TUGAS PENTING
SEORANG MANAJER
¶ Mengambil keputusan
¶ Menggerakkan roda organisasi
¶ Menentukan tujuan dan sasaran
¶ Membangun kerjasama
¶ Menyamakan persepsi
¶ Menggali dan meningkatkan potensi bawahan
¶ Membangun motivasi bawahan
¶ Meredam konflik di antara bawahan
¶ Membangun kreativitas bawahan
¶ Membuat perencanaan strategik
¶ Menilai prestasi bawahan
¶ Melaksanakan sistem reward & punishment
secara bijak
¶ Mensosialisasikan program-program organisasi
¶ Memecahkan masalah-masalah yang muncul
¶ Memimpin rapat
¶ Meningkatkan produktivitas SDM
¶ Mendengarkan keluhan bawahan
¶ Memberikan umpan balik kepada bawahan
¶ Membangun suasana kerja yang kondusif
¶ Menciptakan perubahan yang positif
BAGAIMANA
MEMAKSIMALKAN
POTENSI BAWAHAN
¶ Kenali bakat dan kecenderungan bawahan anda.
¶ Amati sampai dimana kemampuan dan ketrampilannya saat ini.
¶ Ajaklah diskusi dan tanyakan pelatihan apa yang mereka butuhkan.
¶ Tambah ketrampilan lain untuk memperluas wawasannya.
¶ Perlakukan bawahan anda sebagai orang dewasa.
¶ Berikan kesempatan bawahan untuk mengetahui informasi penting tentang organisasi.
¶ Jangan memberikan kritik secara terus menerus.
¶ Mintalah umpan balik terkait dengan kebijakan yang anda buat.
¶ Lihat dan berikan pujian yang tulus saat bawahan mengerjakan tugas dengan baik.
¶ Berikan umpan balik sesegera mungkin jangan sampai terlambat.
¶ Sekali-kali biarkan bawahan membuat kesalahan yang tidak prinsip, untuk meningkatkan kedewasaannya.
¶ Berikan target yang menantang tetapi realistis.
¶ Tawarkan sarana apa yang diperlukan untuk mencapai target.
¶ Berikan kesempatan mereka membuat keputusan di tempat kerjanya sendiri.
¶ Temui mereka secara periodik untuk membangun komunikasi.
¶ Usahakan mereka tahu bahwa mereka adalah bagian penting dari organisasi.
¶ Usahakan kesalahan yang mereka lakukan tidak merusak rasa percaya dirinya.
¶ Berikan perintah secara jelas agar mereka tidak salah tafsir.
¶ Usahakan mereka tahu tujuan dan alasan mengapa suatu tugas harus dilakukan.
¶ Beritahu apa yang menjadi prioritas sehingga mereka tahu mana yang harus dikerjakan lebih dulu.
¶ Sosialisasikan strategi global yang akan dilaksanakan oleh organisasi.
¶ Sampaikan secara jelas apa yang menjadi kesulitan organisasi.
¶ Berikan gambaran ancaman dan peluang dimasa yang akan datang.
¶ Jika harus menegur dan mengkritik, lakukan secara bijaksana dan konstruktif.
¶ Hindari perilaku yang menyebabkan bawahan kecewa.
¶ Usahakan menilai bawahan secara obyektif.
¶ Ajaklah mereka untuk selalu belajar dan belajar.
¶ Usahakan bawahan menyadari atas kelemahan dan kekurangannya demi untuk kemajuan.
¶ Ajaklah bawahan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan YME.
PENAMPILAN
MANAJER YANG SIMPATIK
¶ Senantiasa menghargai orang lain.
¶ Wajahnya selalu menunjukkan keceriaan
¶ Tutur katanya halus dan santun.
¶ Cara berpakaiannya rapi dan serasi.
¶ Berusaha memberikan salam lebih dulu.
¶ Cara berjalan tegap dan seimbang.
¶ Senantiasa murah senyum.
¶ Senantiasa berpikir positif terhadap orang lain.
¶ Bersikap wajar.
¶ Berendah hati tapi memiliki kepercayaan diri.
¶ Tidak menggunakan ‘aji mumpung’.
¶ Tidak sulit untuk meminta maaf.
¶ Tidak sulit untuk memberi maaf.
¶ Mampu memahami pendapat orang lain.
¶ Berusaha untuk menyenangkan orang lain.
¶ Mudah menyesuaikan diri namun memiliki prisip.
¶ Tidak sulit memberikan pujian kepada orang lain.
¶ Mudah diajak berdiskusi dan musyawarah.
¶ Tidak suka membuat konflik.
¶ Mau menghargai pendapat orang lain.
MENINGKATKAN
PRESTASI DIRI
¶ Tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru.
¶ Tidak enggan untuk memulai.
¶ Tidak malas untuk belajar dan membaca.
¶ Tidak hanya sibuk dengan hal-hal yang kecil.
¶ Tidak asyik dengan tangan di dalam saku.
¶ Tidak malas untuk selalu memutar otak.
¶ Tidak takut terhadap resiko.
¶ Tidak enggan untuk belajar dari pengalaman.
¶ Tidak merasa yang paling hebat.
¶ Tidak merasa yang paling benar.
¶ Tidak selalu apriori.
¶ Tidak merendahkan orang lain.
¶ Tidak suka menunda pekerjaan.
¶ Tidak takut terhadap tantangan dan kesulitan.
¶ Tidak enggan untuk selalu mencari informasi.
¶ Tidak enggan mengikuti perkembangan tehnologi.
¶ Tidak mau bekerja setengah-setengah.
¶ Tidak malas untuk beribadah.
SIKAP DAN PERILAKU
YANG HARUS DIHINDARI
OLEH SEORANG MANAJER
¶ Suka marah pada bawahan dengan alasan yang tidak jelas.
¶ Suka memarahi bawahan di muka orang banyak.
¶ Selalu mencela hasil kerja bawahan.
¶ Memberikan perintah dengan cara yang kasar.
¶ Memberikan teguran yang menyakitkan.
¶ Sulit menerima masukan dari bawahan.
¶ Menolak ide bawahan secara menyakitkan.
¶ Menilai bawahan secara pilih kasih.
¶ Menjatuhkan sangsi tidak sesuai dengan kesalahannya.
¶ Suka memasang mata-mata untuk mengawasi bawahan.
¶ Lebih percaya pada orang lain daripada bawahannya sendiri.
¶ Membenci bawahan secara berlebihan.
¶ Tidak senang melihat bawahannya maju.
¶ Suka memaksakan kehendak.
¶ Suka mengancam dengan menggunakan kekuasaannya,
¶ Selalu mengelihatkan wajah yang angker.
¶ Suka minta dihormati dan disanjung.
¶ Tidak pernah peduli dengan kesulitan bawahan.
¶ Sering berpura-pura sibuk di muka bawahannya.
¶ Sering mengingkari janji.
¶ Sok berlagak alim di muka bawahannya.
¶ Senang menakut-nakuti bawahannya.
¶ Pelit memberikan pujian kepada bawahan.
¶ Senang memberikan perintah secara mendadak.
¶ Perintahnya sering berubah-ubah.
¶ Suka mendiamkan bawahannya.
¶ Memberikan target secara tidak rasional.
¶ Suka berkeluh kesah di muka bawahannya.
¶ Pelit menularkan ilmu kepada bawahannya.
¶ Tidak konsekuen dan konsisten dengan keputusan yang dibuat.
¶ Melakukan pengawasan terlalu berlebihan.
¶ Melihat bawahan cenderung dari sisi negatifnya.
¶ Menganggap bawahannya semuanya bodoh.
¶ Suka mengganggu dan iseng pada anak buahnya.
¶ Suka minta upeti pada bawahannya.
UPAYA MANAJER
UNTUK MENCAPAI
PUNCAK PRESTASI
¶ Senantiasa mencari dan mencoba cara terbaik.
¶ Melakukan hal-hal yang besar dan strategis.
¶ Tidak enggan untuk memulai.
¶ Berani terhadap tantangan dan resiko.
¶ Terus menerus menggali ide dan gagasan.
¶ Membuat harapan yang realistis.
¶ Mengutamakan kejujuran.
¶ Menolak yang baik untuk mendapatkan yang terbaik.
¶ Senantiasa memperkaya informasi.
¶ Memiliki tanggung jawab yang besar.
¶ Teguh dalam menghadapi berbagai rintangan.
¶ Tidak kenal putus asa.
¶ Gagal dan bangun lagi untuk tetap mencoba sampai berhasil.
¶ Menyadari bahwa kesempatan tidak akan mengetuk dua kali.
¶ Senantiasa membangun motivasi dari dalam diri.
¶ Malu berbuat yang tidak pantas.
¶ Berusaha menjadi contoh bagi orang lain.
¶ Senantiasa berpikir jauh ke depan dan mengerjakan apa yang ada saat ini.
¶ Pantang untuk menunda pekerjaan.
¶ Bersikap tabah dan tawakal.
¶ Bukan kerja keras tapi kerja cerdas.
¶ Senantiasa berdoa untuk memohon petunjuk Allah.
BAGAIMANA MEMBUAT
PROGRAM PELATIHAN
¶ Membuat analisa kebutuhan pelatihan.
¶ Alasan mengapa dibutuhkan pelatihan.
¶ Mengumpulkan informasi terkait dengan analisa kebutuhan.
¶ Menyusun sasaran pelatihan.
¶ Membuat alternatif metode pelatihan.
¶ Memilih metode yang cocok.
¶ Memilih exhouse atau inhouse training.
¶ Menyusun faktor-faktor yang mendukung jalannya pelatihan.
¶ Memilih pengajar yang cocok.
¶ Menyiapkan sarana tehnis.
¶ Mengerjakan pelaksanaan pelatihan.
¶ Mengevaluasi hasil pelatihan.
¶ Memperbaiki pelatihan yang sudah dilaksanakan untuk perbaikan ke depan.
MENILAI
PRESTASI BAWAHAN.
¶ Membuat tujuan dan sasaran menilai prestasi serta apa yang diharapkan dari penilaian tersebut.
¶ Membuat sistem penilaian yang dapat menggambarkan keadilan.
¶ Menyusun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menilai prestasi bawahan.
¶ Meminimalisir subyektivitas.
¶ Berusaha tidak mengikutkan konflik pribadi dalam menilai bawahan.
¶ Mengkondisikan penilaian prestasi sebagai alat untuk memotivasi bawahan, bukan sebaliknya.
¶ Memberikan penjelasan dan sosialisasi atas hasil penilaian prestasi.
¶ Menghindari sekecil mungkin dampak negatif akibat penilaian prestasi tersebut.
¶ Menyadari bahwa tidak semua orang puas dengan hasil penilaian prestasi.
¶ Siap dalam menghadapi protes yang mungkin terjadi.
MENINGKATKAN
SIKAP DISIPLIN BAWAHAN.
¶ Fahami indikasi terjadinya ketidakdisiplinan.
¶ Menjelaskan apa makna disiplin itu.
¶ Unsur apa yang membentuk sikap disiplin.
¶ Mengapa ada karyawan cenderung tidak disiplin.
¶ Pemahaman bahwa disiplin adalah kiat menuju sukses.
¶ Penjabaran ruang lingkup disiplin.
¶ Bagaimana cara meningkatkan disiplin.
¶ Diberikan contoh dan teladan.
¶ Disosialisasikan secara bertahap.
¶ Diberikan aturan-aturan.
¶ Dilaksanakan.
¶ Dievaluasi
¶ Dilakukan perbaikan.
MENGELOLA WAKTU
SECARA EFEKTIF
¶ Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
¶ Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga.
¶ Semua orang diberi waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari.
¶ Hanya orang yang dapat mengatur waktu yang beruntung.
¶ Kita cermati apa akibatnya jika kita tidak mengelola waktu secara baik.
¶ Kita coba mencari cara bagaimana kita bisa mengatur waktu secara efektif dan efisien.
¶ Kita tunjukkan kepada bawahan bagaimana menggunakan waktu secara baik.
¶ Mengelola waktu berarti harus disiplin dengan waktu.
¶ Kita bantu bawahan bagaimana menghemat dan menggunakan waktu secara baik.
¶ Perencanaan kerja yang baik adalah salah satu cara untuk mengelola waktu.
¶ Kegiatan-kegiatan yang memboroskan waktu harus kita hindari.
¶ Kita berikan contoh-contoh kegiatan apa saja yang cenderung hanya menghabiskan waktu tanpa memberikan manfaat yang berarti.
¶ Kita tunjukkan apa keuntungan dari mengelola waktu secara baik.
MENINGKATKAN
PRODUKTIVITAS
KERJA BAWAHAN.
¶ Bangkitkan semangat kerjanya berdasar kesadaran.
¶ Berikan pemahaman tentang maksud dan tujuan mengapa tugas harus dikerjakan.
¶ Usahakan tugas dan pekerjaan menjadi sederhana.
¶ Berikan target-terget yang menantang tetapi kemungkinan besar dapat dicapai.
¶ Galang kerja sama yang harmonis.
¶ Hindarkan persaingan yang tidak sehat.
¶ Tanamkan rasa bangga terhadap pekerjaan.
¶ Beri arahan bagaimana mengerjakan pekerjaan secara efektif dan efisien.
¶ Biasakan untuk menghargai waktu.
¶ Latih untuk berani mengambil sikap.
¶ Berikan penghargaan yang memadai.
MENYADARKAN
KESEIMBANGAN
HAK DAN KEWAJIBAN
¶ Memberikan pemahaman secara detil apa yang menjadi kewajiban sebagai karyawan,
¶ Jelaskan seluruh hak yang akan diperoleh baik semasa aktif maupun saat pensiun.
¶ Fahamkan bahwa hak dan kewajiban harus seimbang.
¶ Berikan hitungan secara matematik apakah nilai kerja yang sekarang dilakukan sudah sesuai dengan hak yang diterima.
¶ Sadarkan bahwa hak yang diterima saat pensiun nanti, kewajibannya harus dilakukan saat masih aktif sekarang ini.
¶ Berikan kesadaran bahwa gaji atau rejeki yang didapatkan, ’kebarokahannya’ tergantung bagaimana kita menjalankan kewajiban.
¶ Seharusnya yang benar kewajiban dilaksanakan dengan baik maka hak akan mengikutinya.
¶ Hidarkan fokus pikiran hanya tertuju pada hak.
¶ Bekerja akan mendapatkan kepuasan yang sejati jika kewajiban dilaksanakan dengan baik.
MEMPENGARUHI
BAWAHAN MELALUI
KETELADANAN.
¶ Sadarkan diri kita bahwa apa yang akan kita perbuat sangat mungkin ditiru bawahan kita.
¶ Kita usahakan setiap yang akan kita kerjakan memang patut dicontoh oleh anak buah.
¶ Bersikaplah seperti bapak sekaligus teman.
¶ Hindari sikap kaku dan arogan.
¶ Pedulilah terhadap setiap keluhan bawahan.
¶ Upayakan situasi kerja yang kondusif.
¶ Senantiasa menghargai bawahan.
¶ Tunjukkan sikap positif.
¶ Hindarkan melakukan penyimpangan.
¶ Tetaplah mengikuti aturan dan prosedur.
¶ Tetaplah melakukan introspeksi diri.
MENGAPA GAGAL
MENCAPAI PUNCAK PRESTASI
¶ Tidak memiliki prinsip hidup yang kuat.
¶ Tidak tahu ke mana mengarahkan tujuan hidup.
¶ Sulit mengenali keunggulan dirinya.
¶ Minder, terlalu rendah menghargai dirinya.
¶ Tidak mengenali kelemahan diri.
¶ Terlalu bersahabat dengan masa lalu.
¶ Anti perubahan.
¶ Tidak mampu melihat masa depan.
¶ Memaksakan memuaskan diri.
¶ Tidak memiliki gairah hidup.
¶ Berpikir negatif atau selalu buruk sangka.
¶ Tidak memiliki kepedulian dengan masalah sosial.
¶ Tidak konsisten, mata melihat hijau tetapi mulut mengatakan merah.
¶ Lamban dalam mengantisipasi perubahan.
¶ Tidak mampu mengelola waktu.
¶ Selalu melihat dengan kaca mata hitam.
¶ Merasa direpotkan dengan disiplin.
¶ Tahunya beres, hidup serumah dengan kemalasan.
¶ Egois, tidak mau tahu urusan orang lain.
¶ Pengagum dunia, hidup hanya untuk makan.
¶ Usil, selalu peduli kelemahan orang lain.
¶ Iri, pingsan jika melihat orang lain sukses.
¶ Hidup boros, besar pasak dari pada tiang.
¶ Puas dengan predikat nomor kambing.
¶ Ingin jabatan tinggi tetapi tidak mau usaha.
¶ Sulit untuk berpikir jernih.
¶ Melihat pengalaman masa lalu sebagai musuh.
¶ Bersandar pada nasib tanpa mau berusaha.
¶ Suka bermuka dua.
¶ Takut menghadapi resiko.
¶ Tidak suka berinteraksi dengan dunia luar.
¶ Sulit untuk bersyukur.
CIRI KHAS KARYAWAN
BERETOS KERJA PLUS
¶ Pandai mengatur dan menghargai waktu.
¶ Memiliki disiplin yang tinggi.
¶ Memanfaatkan jam kerja secara efektif.
¶ Bekerja dengan perencanaan yang matang.
¶ Selalu memasang target yang menantang.
¶ Tidak mau kerja setengah-setengah.
¶ Bekerja tanpa menunggu perintah.
¶ Disiplin tanpa diawasi.
¶ Mampu memaksimalkan potensi diri.
¶ Semangat kerja tidak pernah kendur.
¶ Tidak mudah putus asa.
¶ Tidak takut terhadap resiko.
¶ Suka mencoba hal-hal baru.
¶ Tidak takut gagal..
¶ Memiliki tanggung jawab yang besar.
¶ Memiliki prinsip dan pendirian yang kuat
¶ Bekerja dengan sumber daya yang efektif dan efisien.
¶ Senang melakukan evaluasi diri.
¶ Senantiasa berdoa dan mohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.
TEHNIS SUKSES
MENYIASATI PERUBAHAN
¶ Berfikir positif.
¶ Inovatif – piawai mencari terobosan.
¶ Partisipatif – ikut mendukung perubahan.
¶ Komunikatif – mau berhubungan dengan orang lain.
¶ Informatif – mampu menyampaikan pesan secara efektif.
¶ Produktif – memacu menjadi lebih baik.
¶ Kompetitif – memenangkan persaingan secara sehat.
¶ Negosiatif – menyelesaikan masalah tanpa timbul masalah.
¶ Adaptif – larut tapi tidak tenggelam.
¶ Asertif – berkepribadian kuat dan percaya diri.
¶ Antisipatif – cermat membaca tanda – tanda zaman.
¶ Responsif – tanggap terhadap dinamika perubahan.
¶ Proaktif – tidak tinggal diam menunggu.
¶ Toleransif – menghargai prularisme dalam kehidupan.
¶ Persuasif – mudah melakukan pendekatan.
¶ Kolaboratif – mudah diajak kerja sama dalam hal positif.
¶ Obyektif – melihat masalah secara jernih.
¶ Argumentatif – menggunakan nalar untuk meyakinkan.
¶ Atraktif – mampu menarik perhatian.
¶ Selektif – bertindak berdasar skala prioritas.
¶ Sportif – mengakui kelebihan orang lain.
¶ Imajinatif – berfikir untuk masa depan.
¶ Intuitif – menggunakan otak kanan dengan baik.
¶ Arif – bertindak bijaksana dan mengedepankan humanisme.
¶ Afirmatif – memberi semangat untuk berprestasi.
¶ Efektif – berfikir sebelum bertindak.
¶ Konstruktif – memiliki jiwa membangun.
¶ Perfektif – berusaha untuk berbuat yang sempurna.
¶ Transformatif – kampiun sebagai penggerak perubahan sejati.
¶ Profesional dan perseptif – menuntaskan pekerjaan berdasar standar.
¶ Reorientatif – menyelaraskan dengan tuntutan perubahan.
¶ Kaya alternatif – pandai mencari pilihan.
¶ Interpretatif – menindaklanjuti strategi ke dalam aksi.
¶ Impulsif – bertindak atas dorongan nurani.
¶ Progresif – keinginan dan dorongan ingin maju.
¶ Apresiatif – menghargai prestasi fihak lain.
¶ Distinctif – tidak sekedar tampil beda.
¶ Edukatif – senantiasa menjadi guru.
¶ Tidak agitatif – menggerakkan perubahan tanpa guncangan.
BEKAL MENUJU
PUNCAK PRESTASI
¶ Orientasi berpikir selalu kedepan.
¶ Menggunakan masa lalu sebagai pijakan untuk melompat.
¶ Mundur untuk maju ke depan 3 langkah.
¶ Mengalah untuk menang.
¶ Mampu mengawasi diri sendiri.
¶ Mampu memerintah dirinya sendiri.
¶ Sibuk mencari tantangan.
¶ Pantang untuk berdiam diri.
¶ Resiko dianggap makanan pokok.
¶ Lebih memilih tanggung jawab yang lebih besar.
¶ Menganggap keluh kesah sebagai musuh dalam selimut.
¶ Menyiapkan diri terlibat dalam pengambilan keputusan yang lebih penting.
¶ Antara kata dan perbuatan tidak pernah bersimpang jalan.
¶ Setiap hari berusaha untuk memecahkan masalah.
¶ Menjadikan kesibukan sebagai teman dekatnya.
¶ Membaca buku adalah menu tetapnya.
¶ Otaknya selalu diputar untuk mendapatkan ide dan inovasi baru.
¶ Memprioritaskan kewajiban dari pada hak.
¶ Menganggap kewajiban sebagai kebutuhan.
¶ Menyadari bahwa hak datang dengan sendirinya jika hak dilaksanakan dengan ikhlas.
¶ Senantiasa berperan sebagai inisiator perubahan.
¶ Tidak suka mencari kambing hitam.
¶ Jika muncul masalah, menganggap dirinya yang menjadi kambing hitam.
¶ Tidak mudah menyerah pada keadaan sebelum mengeluarkan seluruh potensinya.
¶ Setiap bertindak selalu penuh perhitungan.
¶ Tidak pernah ketinggalan untuk mengikuti perkembangan.
¶ Mampu melihat dan menciptakan peluang.
¶ Berani mencoba sesuatu yang beresiko.
¶ Sering berpikir yang orang lain tidak pernah memikirkan.
¶ Tidak pernah berpikir negatif tentang perubahan.
¶ Sering mengancam dirinya sendiri untuk berbuat yang lebih baik.
¶ Tidak suka dengan hasil yang biasa-biasa saja.
¶ Berusaha untuk membuat orang lain menjadi puas.
¶ Bersikap tegas, lugas, tetapi luwes.
¶ Sadar bahwa apa yang dilakukan harus mendapat ridho dari Allah Yang Maha Mengatur.
MANAJER
SEBAGAI GURU
¶ Memiliki ilmu untuk mengajar.
¶ Mampu menjabarkan sesuatu secara gamblang.
¶ Senantiasa berkeinginan bawahannya bertambah pintar.
¶ Tidak pelit terhadap ilmu dan pengalaman.
¶ Sadar bahwa menularkan ilmu adalah termasuk amal jariah yang pahalanya terus menerus tidak pernah putus.
¶ Tidak pernah takut disaingi oleh bawahannya.
¶ Senang jika memiliki anak buah yang berprestasi.
¶ Di manapun berada ingin selalu menularkan ilmunya.
¶ Menjadi guru tapi berusaha orang lain merasa tidak digurui.
¶ Sikap dan perilakunya siap untuk menjadi contoh.
¶ Tidak suka melihat kemungkaran.
¶ Tidak suka melihat kemunduran.
¶ Dalam benaknya selalu terisi keinginan bagaimana orang lain bisa tambah maju.
MANAJER
SEBAGAI MURID.
¶ Menganggap orang lain sebagai guru.
¶ Senantiasa melihat orang lain dari sisi kelebihan.
¶ Tidak pernah malu untuk belajar.
¶ Tidak pernah enggan untuk bertanya.
¶ Selalu belajar dari apa yang dikerjakan orang lain.
¶ Tidak pernah bosan untuk membaca.
¶ Tidak pernah kehabisan sesuatu untuk dipelajari.
¶ Menyadari bahwa ilmu adalah suatu kekayaan yang tidak ada bandingnya.
¶ Pengalaman orang lain menjadi guru gratis yang harus dimanfaatkan.
¶ Dan sadar bahwa Allah adalah sumber dari segala sumber ilmu.
¶ Sadar bahwa ilmu yang bisa dikuasai manusia hanya sebagian kecil dari ilmu Allah, sehingga tidak pernah merasa sombong.
KEMAMPUAN
YANG HARUS DIMILIKI
SEORANG MANAJER
¶ Mampu merumuskan visi dan misi.
¶ Mampu melihat kelebihan dan kelemahan organisasi.
¶ Mampu melihat adanya peluang dan ancaman.
¶ Mampu menentukan sasaran dan tujuan.
¶ Mampu membuat strategi untuk mencapai sasaran.
¶ Mampu membuat kebijakan untuk mendukung strategi.
¶ Mampu menyusun program kerja.
¶ Mampu mendistribusikan pekerjaan.
¶ Mampu memilih orang yang tepat.
¶ Mampu mengkoordinasikan kegiatan.
¶ Mampu melakukan pengawasan secara efektif.
¶ Mampu membuat skala prioritas.
¶ Mampu melakukan analisa secara tepat.
¶ Mampu mengidentifikasikan masalah.
¶ Mampu membuat beberapa alternatif.
¶ Mampu memilih alternatif yang paling menguntungkan.
¶ Mampu membuat keputusan dengan tepat.
¶ Mampu menilai kinerja secara obyektif.
MANAJER SEBAGAI
PELAYAN ANAK BUAHNYA
¶ Memiliki kiat bagaimana memberikan pelayanan secara prima.
¶ Sadar bahwa sebagai manajer pada hakekatnya adalah juga sebagai pelayan.
¶ Salah satu tugas utama adalah melayani sehingga kegiatan dapat berjalan.
¶ Menampung aspirasi dari anak buahnya.
¶ Sabar dan telaten dalam melayani keinginan bawahannya.
¶ Mampu bertindak adil dan proporsional.
¶ Tidak mengambil keuntungan pribadi dalam memberikan pelayanan.
¶ Kepuasan bawahannya menjadi prioritasnya.
¶ Memiliki kepedulian dan kepekaan yang tinggi.
¶ Menjadi contoh dan teladan dalam melayani pelanggan.
MAMPU MENJALANKAN
FUNGSI KEPEMIMPINAN
¶ Memiliki kharisma.
¶ Mampu mempengaruhi orang lain.
¶ Mampu menjadi contoh dan teladan.
¶ Memiliki kemampuan berbicara.
¶ Mampu berkomunikasi dengan baik.
¶ Mampu berdiplomasi.
¶ Mampu menggerakkan massa.
¶ Mampu menggerakkan semangat.
¶ Mampu memberikan pengoyoman kepada anak buah.
¶ Mampu mendengar keluh-kesah bawahan.
¶ Mampu bersikap adil dan tidak pilih kasih.
¶ Mampu memberikan pujian yang tulus.
¶ Mampu memberikan jalan keluar setiap ada masalah.
¶ Mampu memberikan pembelajaran pada bawahan.
¶ Mampu mengajak bawahan kepada perilaku positif.
¶ Mampu melihat permasalahan dengan hati yang jernih.
¶ Mampu menahan hawa nafsu.
¶ Mampu mengendalikan dari perbuatan yang tidak pantas.
¶ Mampu meminta maaf dan memberi maaf.
MANAJER
BERWAWASAN LUAS
¶ Senantiasa mengikuti perkembangan jaman.
¶ Senantiasa mengikuti perubahan.
¶ Senantiasa belajar dan membaca.
¶ Menguasai secara detil pada bidangnya.
¶ Menguasai tentang sosial politik.
¶ Senantiasa mengikuti perkembangan tehnologi.
¶ Tahu banyak tentang tehnologi informasi.
¶ Tahu banyak tentang ekonomi mikro dan makro.
¶ Tahu banyak tentang psikologi industri.
¶ Menguasai beberapa bahasa.
¶ Tahu banyak tentang ilmu komunikasi.
¶ Tahu banyak tentang ilmu pemasaran.
¶ Menguasai ilmu-ilmu yang terkait dengan bidang kegiatannya.
MEMILIKI
KESTABILAN JIWA
¶ Tidak mudah tergoda hal-hal negatif.
¶ Tidak mudah marah dan emosi.
¶ Tidak mudah putus asa.
¶ Tidak mudah mempercayai fitnah.
¶ Tidak mudah kecewa.
¶ Tidak mudah ‘nglokro’.
¶ Tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas.
¶ Memiliki prinsip yang kuat.
¶ Senantiasa berpikir sebelum bertindak.
¶ Senantiasa menggunakan hati nurani.
¶ Memiliki konsistensi tinggi.
¶ Menjunjung tinggi komitmen.
MEMBERIKAN PERINTAH
SECARA BIJAK
¶ Memahami makna dan arti perintah.
¶ Perintah sebagai penggerak kegiatan organisasi.
¶ Perintah sebagai saran komunikasi dengan bawahan.
¶ Memberikan perintah merupakan kewajiban sebagai seorang manajer.
¶ Perintah sebagai bentuk kepercayaan kepada bawahan.
¶ Perintah merupakan konsekuensi logis dari adanya hirarki organisasi.
¶ Perintah merupakan bentuk amanah.
¶ Perintah sebagai tugas dan tanggung jawab seorang manajer.
¶ Perintah hakekatnya merupakan hal yang strategis.
¶ Memberikan perintah diartikan sebagai bentuk ibadah.
¶ Perintah jangan dilakukan sebagai bentuk kekuasaan.
¶ Perintah jangan dilakukan untuk pelampiasan ambisi.
¶ Perintah jangan dilakukan sebagai hukuman.
¶ Perintah jangan diberikan secara kasar dan menyakitkan.
¶ Perintah hendaknya diberikan secara santun.
¶ Perintah hendaknya mempertimbangkan kemampuan bawahan.
¶ Perintah sebaiknya diberikan seolah-olah minta tolong.
¶ Perintah diberikan dengan mempertimbangkan kondisi mental dan emosi bawahan.
¶ Perrintah sebaiknya diberikan secara persuasif.
¶ Perintah hendaknya diberikan dengan tetap menghargai martabat bawahan.
¶ Perintah sebaiknya tidak diberikan dalam keadaan marah.
¶ Perintah sebaiknya diberikan secara bertahap.
¶ Perintah diberikan secara hirarki.
¶ Perintah dapat diberikan secara lisan.
¶ Perintah bisa diberikan secara tertulis.
¶ Perintah bisa bersifat saran.
¶ Perintah bisa bersifat tegas.
¶ Perintah harus diberikan sehingga bawahan merasa rela dan ikhlas untuk melaksanakan perintah tersebut.
MEMBERIKAN
TEGURAN SECARA BIJAK
¶ Memahami hakekat memberi teguran.
¶ Teguran untuk meluruskan adanya penyimpangan.
¶ Teguran sebagai bentuk kontrol dan pengawasan.
¶ Teguran harus bersifat konstruktif.
¶ Teguran sebaiknya dilakukan secara hati-hati.
¶ Teguran sebaiknya dilakukan dengan kata-kata santun.
¶ Teguran sebaiknya diberikan empat mata.
¶ Teguran sebaiknya diberikan dengan menunjukkan kesalahannya.
¶ Teguran bukan merupakan pelampiasan kekesalan.
¶ Teguran bukan bentuk pelampiasan dendam.
¶ Teguran bukan karena menuruti hawa nafsu.
¶ Teguran merupakan proses peningkatan kemampuan bawahan.
¶ Teguran merupakan perhatian atasan terhadap bawahan. Teguran merupakan rasa cinta atasan kepada bawahan.
¶ Teguran seharusnya bukan merupakan yang ditakuti.
¶ Teguran harus diberikan secara menyenangkan.
¶ Teguran diberikan dengan keyakinan bahwa bawahan melakukan kesalahan.
¶ Teguran diberikan dengan mempertibangkan karakter bawahan
¶ Teguran diberikan dengan melihat kondisi kesehatan bawahan.
¶ Teguran sebaiknya diberikan secara jelas dan tepat sasaran.
¶ Teguran diberikan secara persuasif.
¶ Teguran diberikan dengan mempertimbangkan waktu dan tempat.
¶ Teguran diberikan hanya dengan maksud untuk memperbaiki.
¶ Teguran sebaiknya diberikan dengan didahului memberikan pujian.
¶ Teguran diberikan dengan mempertimbangkan prestasi bawahan.
¶ Teguran sebaiknya diberikan dengan mempertimbangkan pangkat dan jabatan.
¶ Teguran juga harus mempertimbangkan besar kecilnya akibat kesalahan.
¶ Teguran sebaiknya bukan karena sentimen pribadi.
¶ Teguran diberikan dengan tidak menyebut kelemahan bawahan.
¶ Teguran diberikan dengan tidak ada niatan untuk menusuk perasaan.
¶ Teguran sebaiknya tidak diberikan secara terus menerus.
¶ Teguran jangan sampai menyebabkan bawahan menjadi antipati.
¶ Teguran seharusnya membuat hubungan atasan dan bawahan semakin harmonis.
MANAJER TAMPIL
DENGAN PERCAYA DIRI
¶ Yakinlah dengan kemampuan diri sendiri.
¶ Usahakan mampu berkomunikasi dengan diri sendiri.
¶ Yakinlah bahwa setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan.
¶ Jauhkan rasa minder dan rendah diri.
¶ Bersikaplah biasa, tidak over dan tidak under.
¶ Usahakan mampu mengevaluasi diri.
¶ Konsistenlah untuk tetap meningkatkan kualitas diri.
¶ Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.
¶ Hargai diri sendiri seperti menghargai orang lain.
¶ Yakinlah bahwa setiap orang memiliki keahlian yang tidak dimiliki orang lain.
¶ Yakinlah bahwa setiap orang akan bisa memaklumi kelemahan orang lain.
¶ Yakinlah bahwa setiap orang mau memaafkan kesalahan orang lain.
¶ Percaya diri bukan bersikap sombong.
¶ Percaya diri berarti seimbang dalam menghargai diri sendiri dan orang lain.
MANAJER DENGAN
DISIPLIN TINGGI
¶ Datang ke kantor tepat waktu.
¶ Tidak pernah meninggalkan atau pulang sebelum jam pulang.
¶ Memanfaatkan jam kerja secara efektif.
¶ Menggunakan waktu istirahat sebaik mungkin.
¶ Tidak menggunakan jam kerja untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan.
¶ Bekerja dengan perencanaan yang matang.
¶ Dalam membuat rencana hanya berpikir untuk kemajuan organisasi.
¶ Tertib terhadap aturan dan prosedur.
¶ Tertib terhadap administrasi.
¶ Menghadiri rapat dan undangan tepat waktu.
¶ Disiplin terhadap anggaran.
¶ Tidak main-main dengan anggaran.
¶ Tidak mau menerima yang bukan haknya.
¶ Tidak melakukan KKN.
ETIKA
MASUK KANTOR
¶ Mengucapkan salam lebih dulu kepada bawahannya.
¶ Selalu menampakkan wajah ceria.
¶ Selalu menampakkan senyum.
¶ Memandang semua orang yang ada dalam ruangan.
¶ Tanya kabar baik.
¶ Berjalanlah secara tegap tetapi tidak terkesan sombong.
¶ Pakai pakaian yang sopan.
¶ Jangan bertanya sesuatu sambil jalan.
¶ Upayakan anda bersikap sopan dihadapan bawahan.
ETIKA
BERBICARA
¶ Usahakan dalam berbicara menatap lawan bicara.
¶ Suara harus jelas terdengar.
¶ Menggunakan tata bahasa yang baik.
¶ Jangan menggunakan nada suara yang tinggi.
¶ Pembicaraan mudah dimengerti.
¶ Bisa mengimbangi lawan bicara.
¶ Berkeinginan menyenangkan lawan bicara.
¶ Mampu menciptakan rasa humor.
¶ Mau memuji lawan bicara.
¶ Mampu menjadi pendengar yang baik.
¶ Jangan membicarakan kejelekan orang lain.
¶ Jangan membicarakan hal-hal yang sensitif.
¶ Jangan memotong pembicaraan orang lain.
¶ Jangan mendominasi pembicaraan.
¶ Jangan terlalu banyak membicarakan diri sendiri.
HUBUNGAN
DENGAN ATASAN
¶ Hormatilah siapapun atasan anda.
¶ Mintalah saran dan petunjuk untuk dapat berkomunikasi derngan atasan.
¶ Jangan spontan menolak perintah atasan.
¶ Dengarkan dengan baik apa yang dikatakan atasan.
¶ Mintalah penjelasan lebih lanjut jika masih ragu-ragu.
¶ Usahakan tidak membuat kecewa atasan.
¶ Jika harus menolak perintah berikan alasan yang tepat dengan cara yang sopan.
¶ Jangan permalukan atasan didepan orang lain.
¶ Berikan masukan dan saran secara santun dan bijak.
¶ Hindari perilaku menjilat atasan.
¶ Jangan membuat repot atasan.
¶ Mintalah ijin jika harus meninggalkan pekerjaan.
¶ Jangan segan-segan minta maaf jika berbuat salah.
¶ Fahami bahwa semua atasan tidak mau dilangkahi kewenangannya.
HUBUNGAN DENGAN
TEMAN SELEVEL
¶ Jangan menganggap teman sebagai pesaing.
¶ Anggap teman selevel sebagai mitra kerja.
¶ Kembangkan kebiasaan saling membantu.
¶ Kembangkan kebiasaan saling mengingatkan.
¶ Kembangkan kebiasaan saling tukar menukar informasi.
¶ Kembangkan kebiasaan diskusi sehat.
¶ Hindarkan terjadi konflik.
¶ Jauhkan usaha untuk saling menjatuhkan.
¶ Jauhkan rasa iri dan dengki.
¶ Jangan mempermalukan teman dihadapan atasan.
¶ Usahakan menyamakan persepsi.
¶ Ikutlah senang jika teman mendapatkan kebahagiaan.
¶ Ucapkan selamat secepatnya jika teman mendapatkan promosi.
¶ Upayakan saling menghargai pendapat.
¶ Jangan segan-segan meminta maaf dan memberi maaf.
HUBUNGAN PERSONAL
DENGAN BAWAHAN
¶ Hargai bawahan sebagai manusia yang bermartabat.
¶ Jangan terlalu menunjukkan kekuasaan.
¶ Jangan gengsi untuk memberi salam lebih dulu.
¶ Tunjukkan senyuman bersahabat.
¶ Bicaralah dengan sopan terhadap mereka.
¶ Hindari kesan bahwa anda orang yang menakutkan.
¶ Jangan gila hormat.
¶ Bangun hubungan personal yang mesra.
¶ Sering-seringlah menanyakan tentang keadaannya.
¶ Bersikap baiklah terhadap keluarganya.
¶ Berikan ucapan selamat pada hari-hari bahagia mereka.
¶ Berilah bimbingan demi kemajuan mereka.
¶ Berikan perintah dan teguran secara bijak.
¶ Jangan gengsi meminta maaf jika anda jelas bersalah.
¶ Hindari rasa dendam terhadap anak buah.
¶ Ajaklah ke arah yang benar.
¶ Jangan sekali-kali mengajak mereka untuk menyimpang dari aturan.
¶ Ajaklah mereka untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan YME.
MENGANGGAP KANTOR
SEBAGAI RUMAH KEDUA
¶ Upayakan bisa krasan di kantor.
¶ Buat suasana kantor yang menyenangkan.
¶ Usahakan kantor bersih dan rapi.
¶ Buat sirkulasi udara yang sejuk atau lengkapi dengan AC.
¶ Lengkapi dengan penyegar ruangan.
¶ Hindari kesan sumpek dengan menata ruang kantor sebaik mungkin.
¶ Lengkapi kantor dengan foto-foto keluarga.
¶ Ubah posisi mebel dan tatanan ruang secara periodik.
¶ Pasang audio yang memadai.
¶ Buat ruang khusus untuk menjalankan ibadah.
¶ Telponlah keluarga secara periodik 3 atau 4 jam sekali untuk menghadirkan kesan seperti di rumah.
MENGENALI BAWAHAN
YANG ’MBELING’
¶ Mereka yang memiliki hobi terlambat.
¶ Mereka yang malas bekerja.
¶ Mereka yang suka pulang sebelum waktunya.
¶ Mereka yang hanya berfikir tentang hak.
¶ Mereka yang suka membantah perintah.
¶ Mereka yang suka protes.
¶ Mereka yang selalu curiga pada atasan.
¶ Mereka yang memiliki hobi memfitnah.
¶ Mereka yang suka menghilang dalam jam kerja.
¶ Mereka yang sok ‘ngathok’ pada atasan.
¶ Mereka yang suka ’nyantai’ dalam jam kerja.
¶ Mereka yang hobinya memprovokasi temannya.
¶ Mereka yang suka membawa pulang barang kantor.
¶ Mereka yang suka minta uang semir.
¶ Mereka yang hobinya menunda pekerjaan.
¶ Mereka yang memiliki hobi ’ngutang’.
¶ Mereka yang memalsu jam lembur.
¶ Mereka yang bekerja asal-asalan.
¶ Mereka suka lari dari tanggung jawab.
¶ Mereka yang bilang ’nggih-nggih ora kepanggih’.
¶ Mereka yang hobi menggunjing orang lain.
¶ Mereka yang suka berpura-pura sibuk.
¶ Mereka yang suka absen tidak masuk kerja.
¶ Mereka yang senang jika Bos pergi.
¶ Mereka yang mahir cari alasan.
¶ Mereka yang suka bikin pusing atasan.
¶ Mereka yang selalu iri hati pada orang lain.
¶ Mereka yang suka bohong.
¶ Mereka yang suka setor dan cari muka.
¶ Mereka yang hobi mencari kesalahan orang lain.
¶ Mereka yang sering melaporkan teman pada atasan.
¶ Mereka yang suka ambil keuntungan dari kegiatan.
¶ Mereka yang pintar mencari kambing hitam.
¶ Mereka yang suka konflik dengan teman.
¶ Mereka yang mau menangnya sendiri.
¶ Mereka yang senang melihat temannya menderita.
¶ Mereka yang suka menjegal temannya.
¶ Mereka yang suka ijin meninggalkan pekerjaan.
¶ Mereka yang suka menjelek-jelekkan atasan.
¶ Mereka yang suka main judi.
¶ Mereka yang suka main selingkuh.
¶ Mereka yang panjang tangan.
¶ Mereka yang tidak pernah bersyukur.
¶ Mereka yang tidak pernah ibadah.
MEMBANGUN DISIPLIN
MELALUI KECERDASAN
SPIRITUAL DAN EMOSIONAL
Memahami hakekat disiplin:
¶ Disiplin merupakan nilai ketaatan dan kepatuhan.
¶ Disiplin mencerminkan sikap malu berbuat yang menyimpang.
¶ Disiplin berarti loyal terhadap norma dan aturan.
¶ Disiplin artinya cinta terhadap keteraturan dan ketertiban.
¶ Disiplin berarti mampu membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
¶ Disiplin berarti mampu mengendalikan diri.
¶ Disiplin berarti tahu standar perilaku yang baik.
¶ Disiplin akan tumbuh dengan latihan dan kebiasaan.
Niat untuk bersikap disiplin:
¶ Meyakini bahwa disiplin adalah sesuatu yang bersifat positif.
¶ Meyakini bahwa bersikap disiplin merupakan bagian dari amal soleh.
¶ Niat merupakan pemicu untuk berbuat disiplin.
¶ Yakin bahwa disiplin akan membuahkan keberhasilan dan kesuksesan.
¶ Menjadikan disiplin sebagai suatu kebutuhan.
¶ Merasakan disiplin sebagai sesuatu yang membahagiakan.
¶ Bersikap disiplin dengan hati yang ikhlas.
Tahu siapa pengawas yang sesungguhnya:
¶ Berbuat disiplin bukan karena pamrih.
¶ Menyadari bahwa Tuhan adalah pengawas yang sesungguhnya.
¶ Malu pada diri sendiri jika tidak disiplin.
¶ Manusia bisa dibohongi, tetapi Tuhan akan tahu apa yang kita lakukan.
¶ Manusia tidak pernah lepas dari pengawasan Tuhan.
¶ Kesadaran bahwa kita selalu diawasi oleh Yang Maha Tahu, maka akan membuat kita bersikap disiplin.
¶ Jadi Pengawas yang sesungguhnya adalah Tuhan Yang Maha Tahu.
Apa yang menjadi hambatan untuk berbuat disiplin:
¶ Menganggap disiplin sebagai suatu siksaan.
¶ Merasa tidak ada yang mengawasi.
¶ Menuruti hawa nafsu.
¶ Sikap egois dan mencari enaknya sendiri.
¶ Tergoda contoh yang tidak baik.
¶ Adanya kesempatan untuk berbuat menyimpang.
¶ Tidak merasa berdosa.
Ruang lingkup disiplin:
¶ Disiplin terhadap kewajiban beragama.
¶ Disiplin terhadap aturan dan undang-undang.
¶ Disiplin terhadap waktu.
¶ Disiplin terhadap perencanaan.
¶ Disiplin terhadap anggaran dan biaya.
¶ Disiplin terhadap hierarki organisasi.
¶ Disiplin terhadap hasil kesepakatan.
¶ Disiplin terhadap kaidah hubungan antar manusia.
Memahami manfaat bersikap Disiplin:
¶ Hidup menjadi lebih teratur.
¶ Tingkat kesuksesan dalam hidup relatif tinggi.
¶ Kerja bisa lebih efektif dan efisien.
¶ Dapat mengiliminir.
¶ Kepuasan kerja relatif lebih tinggi.
¶ Hubungan vertikal dan horizontal menjadi lebih menjadi lebih baik.
Membangun Motivasi Diri
MELALUI KECERDASAN
SPIRITUAL DAN EMOSIONAL
Niat kerja untuk ibadah:
¶ Menyadari untuk apa manusia diciptakan.
¶ Menelusuri siapa sebetulnya yang memberi gaji atau rejeki.
¶ Merenungi sebetulnya kontrak kerja kita ini dengan siapa? Dengan perusahaan atau dengan Tuhan.
¶ Kita sadari bahwa apa yang kita kerjakan tidak pernah lepas dari pengawasan Tuhan.
¶ Niat kerja yang benar akan meringankan beban kerja.
¶ Niat kerja untuk ibadah berarti selalu mengharap ridho Allah.
¶ Niat kerja yang lurus akan mendorong hati menjadi ikhlas.
¶ Hati yang ikhlas dalam melaksanakan kerja membuat semangat lebih tinggi.
¶ Niat kerja untuk ibadah membuat rejeki yang diperoleh menjadi lebih barokah.
¶ Niat kerja untuk ibadah menghilangkan rasa malas.
¶ Niat kerja untuk ibadah memberikan dua keuntungan, keuntungan di dunia dan di akherat.
¶ Niat kerja untuk ibadah dapat menjauhkan dari perbuatan yang melanggar hukum.
Pandai mensyukuri nikmat:
¶ Jika kita pandai bersyukur nikmat akan ditambah.
¶ Jika kita ingkar terhadap nikmat pasti Allah akan menyiksa.
¶ Orang yang pandai bersyukur hidupnya selalu berkecukupan.
¶ Orang yang bersyukur hatinya selalu senang.
¶ Orang yang bersyukur, motivasinya lebih tinggi.
¶ Untuk bisa bersyukur kita sering melihat orang yang dibawah kita.
¶ Untuk bisa bersyukur kita sering menghitung-hitung apa yang diberikan oleh Allah.
¶ Bersyukur bisa melalui lisan.
¶ Bersyukur bisa melalui hati.
¶ Bersyukur bisa melalui perbuatan.
¶ Bersyukur yang sempurna adalah melalui ketiga-tiganya.
¶ Manajer yang pandai bersyukur akan senantiasa hidup damai penuh barokah.
¶ Manajer yang pandai bersyukur akan dimudahkan urusannya.
¶ Manajer yang pandai bersyukur memiliki motivasi kerja yang tinggi.
Mengerjakan tugas dengan ikhlas:
¶ Mengerjakan tugas sebagai suatu kepercayaan.
¶ Meyakini bahwa apa yang dikerjakan akan bermanfaat bagi orang lain.
¶ Mengerjakan tugas bukan kerena atasan tetapi karena semata-mata karena Allah.
¶ Bekerja untuk mencari rejeki yang halal.
¶ Meyakini bahwa apa yang dikerjakan tidak akan sia-sia jika dikerjakan secara ikhlas.
¶ Menyadari akan kewajiban dan tanggung jawab.
¶ Rasa ikhlas akan mampu merubah yang berat menjadi ringan.
¶ Tidak merangsang sifat iri dan dengki pada orang lain.
¶ Karena ikhlas berapapun rejeki yang diterima dapat diterima dengan senang.
¶ Tidak pernah mengeluh.
¶ Tidak merasa berat dalam melaksanakan tugas.
¶ Tugas seperti apapun akan dikerjakan dengan senang.
¶ Pekerjaan yang dikerjakan dengan senang akan memberikan hasil yang lebih baik.
¶ Lebih serius di dalam menangani pekerjaan.
¶ Hati yang ikhlas akan mendorong semangat kerja.
¶ Manajer yang ikhlas akan terlihat lebih tenang dalam menjalankan tugas.
Mampu mengelola rasa kecewa:
¶ Rasa kecewa akan langsung berpengaruh terhadap turunnya motivasi kerja.
¶ Kecerdasan emosional akan membantu mengendalikan rasa kecewa.
¶ Kecewa adalah manusiawi, tetapi yang harus dilakukan bagaimana mengelolanya.
¶ Atau bagaimana tidak muncul rasa kecewa.
¶ Angan-angan terlalu tinggi termasuk penyebab kekecewaan.
¶ Terlalu berharap namun tidak tercapai akan membuat kita kecewa.
¶ Seharusnya kita sadar bahwa orang yang kecewa akan menyiksa diri.
¶ Seharusnya apa yang terjadi itulah yang terbaik.
¶ Manusia berencana tetapi Tuhan yang menentukan.
¶ Meyakini bahwa kita tidak lepas dari takdir Allah.
¶ Namun manusia wajib berusaha.
¶ Rasa kecewa bisa dikendalikan jika kita pandai bersyukur.
¶ Berserah diri kepada Tuhan adalah cara ampuh untuk mengendalikan rasa kecewa.
Memuaskan diri dengan hasil kerja:
¶ Manajer bijak akan memuaskan diri dari hasil kerja yang telah dilakukan.
¶ Prestasi kerja yang baik akan memberikan kepuasan yang lestari.
¶ Gaji dan pangkat tidak selalu memberikan kepuasan yang kekal.
¶ Bagaimana membawa hati untuk berpuas dengan hasil kerja atau prestasi.
¶ Orang yang tidak bekerja dengan baik akan sulit untuk mendapat kepuasan.
¶ Orang yang ingin mendapat kepuasan dari hasil kerja akan senantiasa meningkatkan prestasinya.
¶ Orang merasa puas akan memiliki motivasi yang tinggi.
¶ Setiap hari kita bisa puas jika setiap hari kita juga bekerja dengan baik.
¶ Orang akan puas dengan apa yang didapat jika dia juga bisa menerima dengan rasa syukur.
Senang dicontoh orang lain:
¶ Senang dicontoh orang lain merupakan cara untuk memotivasi diri untuk berbuat yang lebih baik.
¶ Senantiasa berusaha untuk berbuat sesuatu dengan benar.
¶ Berusaha berbuat yang terbaik.
¶ Berusaha tidak berbuat yang tidak pantas.
¶ Menyadari bahwa setiap apa yang dilakukan sangat mungkin ditiru oleh orang lain, terutama bawahannya.
¶ Berusaha untuk konsisten dan konsekuen.
¶ Merasa bahwa dicontoh orang lain merupakan ibadah.
¶ Karena selalu dicontoh orang lain akan memotivasi diri untuk bekerja dengan baik.
REWARD AND PUNISHMENT
BUKAN SATU-SATUNYA
MOTIVATOR
¶ Dengan kondisi dan sistem remunerasi yang berlaku di negeri kita masih belum baik, maka reward and punishment justru sering memproduksi kekecewaan.
¶ Sebaiknya untuk memotivasi diri tidak terfokus dengan adanya reward and punisment.
¶ Penghargaan belum tentu tepat sasaran, sering yang prestasinya jelek malah mendapat penghargaan.
¶ Orang yang jelas salah sering kali tidak diberi sangsi.
¶ Hal-hal demikian akan membuat kecewa.
¶ Seharusnya motivasi dimunculkan baik ada reward atau tidak.
¶ Kita sadar bahwa motivasi harus selalu ada karena motivasi sangat terkait dengan kewajiban yang harus kita kerjakan.
¶ Kita menerima hak maka kewajiban harus dilaksanakan.
¶ Kewajiban bisa dikerjakan dengan baik jika ada motivasi.
¶ Seorang manajer seharusnya menjadi contoh untuk tetap menjaga motivasinya apakah ada reward atau tidak.
MEMBUAT BOSS
PUAS DAN TERSENYUM
¶ Tunjukkan sikap disiplin yang tinggi.
¶ Tunjukkan etos kerja yang kuat.
¶ Bantulah secara total tugas-tugas Boss.
¶ Jangan repotkan Boss dengan perilaku kita.
¶ Dukung program-program Boss yang saat ini menjadi prioritas.
¶ Jangan suka bikin masalah.
¶ Jangan menunggu perintah Boss.
¶ Ambil peran yang berarti untuk membantu masalah yang sedang dihadapi Boss.
¶ Jangan sekali-kali menggurui Boss.
¶ Jangan mengritik Boss tanpa memberi alternatif.
¶ Jangan membuat Boss jadi kecewa.
¶ Perhatikan hal-hal yang disukai Boss.
¶ Beri informasi Boss lengkap dengan data.
¶ Jangan sok jadi tukang fitnah.
¶ Pastikan bahwa anda tidak hanya pandai bicara.
MODAL DASAR SEORANG PEMIMPINAN
MEMILIKI KARISMA
· Seorang pemimpin idealnya adalah sosok yang memiliki karisma. Nasehat seperti ini sering kita dengar dan kita baca.
· Pemimpin yang karismatik akan dijunjung tinggi oleh orang-orang di sekitarnya.
· Karisma yang dimiliki akan dapat mempengaruhi orang lain, sehingga memudahkan tugas-tugas yang diembannya.
· Siapapun pasti akan menaruh hormat pada pemimpin yang memancarkan karisma dalam kepemimpinannya.
· Tetapi tak semua pemimpin memiliki karisma, karena karisma bukan sesuatu yang mudah didapat.
· Ada memang orang-orang tertentu yang memiliki karisma sejak lahir, tetapi jumlahnya teramat sedikit.
· Orang yang memiliki karisma berarti ia adalah orang pilihan.
· Berbahagialah mereka yang memiliki karisma sejak lahir, karena ia tidak perlu bersusah payah membangunnya dari nol. Asal saja bisa menjaganya, karena godaannya juga tidak kecil.
· Karisma dapat dibangun dengan mengembangkan sifat-sifat mulia pada diri kita.
· Faktor-faktor pembentuk karisma antara lain; kejujuran, keadilan, tanggungjawab, kedisiplinan, amanah, toleransi dan sebagainya.
· Tidak semua orang memiliki semua faktor tersebut, itu artinya karismanya belum sempurna. Sedikit sekali yang akhirnya berhasil membangun karismanya dengan susah payah. Tetapi pengorbanannya tersebut diganti dengan kemuliaan hidupnya.
· Tetapi karisma seseorang bisa luntur karena yang bersangkutan tidak dapat menjaganya dengan baik. Misalnya, ketika masih orang kebanyakan, karismanya tinggi. Tetapi begitu sudah dapat pangkat, tiba-tiba sifat mulia yang dimilikinya tanggal satu demi satu. Dulunya alimnya bukan main, ketika menjadi pejabat sukanya mabuk-mabukan. Dulu menjauhi godaan perempuan sekarang malah senang kalau digoda.
· Pemimpin yang berdimensi dunia akherat pasti akan menjaga sekuat tenaga karismanya. Sebab, niatnya untuk membangun karisma bukan untuk mengejar jabatan, melainkan semata-mata karena mencari ridho-Nya.
· Karisma itu derajatnya jauh lebih tinggi dari jabatan. Kalau dipaksa memilih, lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan karismanya.
· Karena itu jangan sekali-sekali menukar karisma dengan jabatan, karena nilainya sangat tidak sepadan. Lebih baik menjadi Ketua RT yang karismatik daripada menjadi lurah yang tidak memiliki karisma sama sekali. kehilangan karisma sama artinya dengan kehilangan harga diri.
· Seorang pemimpin harus mampu tampil sebagai pemimpin yang karismatik dengan berprinsip bahwa tiada kepemimpinan tanpa karisma.
· Menyadari betapa vitalnya karisma, seorang pemimpin harus mampu membangun karismanya dengan selalu menjaga citra dirinya sebagai pemimpin yang berkualitas.
· Selalu berpikir positif dan tidak mudah berprasangka buruk pada bawahan dan rekan sejawat.
· Ada orang yang tidak punya jabatan tetapi memiliki karisma, sebaliknya ada orang yang punya jabatan tetapi tidak memiliki karisma sama sekali.
· Hal-hal seperti ini banyak dijumpai di mana-mana, tetapi kebangeten jika ada pejabat yang tidak mempunyai karisma sama sekali. Dengan apa ia memimpin?
MAMPU MEMPENGARUHI ORANG LAIN
· Minimal seorang pemimpin itu memiliki pengaruh dan mampu mempengaruhi orang lain.
· Dengan pengaruhnya ia dapat mempengaruhi orang lain, minimal orang yang setia kepadanya.
· Pengaruh itu bisa berupa harta kekayaan atau ketinggian ilmunya. Seyogyanya memang demikian, seorang pemimpin kurang afdol jika seorang fakir atau tak punya ilmu sama sekali.
· Kita mampu mempengaruhi orang lain jika kita mampu menjadikan orang lain menjadi penting.
· Manusia pada dasarnya butuh eksistensi diri dan pengakuan dari orang lain. Agar diakui ia memformat dirinya sedemikian rupa sehingga menjadi orang penting. Menjadi penting itu penting untuk sebuah identitas diri.
· Kita juga bisa mempengaruhi orang lain jika kita mampu menampilkan diri sebagai pemecah masalah. Tanamkan jargon dalam diri kita – kita datang semua beres.
· Menjadi pemimpin itu memang dituntut sempurna, baik dalam sikap maupun perbuatan.
· Bekal minimal agar mampu mempengaruhi orang lain adalah memiliki cara pandang yang positif.
· Pola pikir positif senantiasa mengarahkan pikiran kita pada harapan-harapan, selalu optimis sehingga orang lain akan bangkit semangatnya.
· Kita bisa mempengaruhi orang lain jika kita mampu mengambil hatinya. Berpikir seperti mereka, menempatkan diri sejajar dengan mereka sehingga seolah-olah tiada jarak antara kita dengan mereka.
· Kita adalah mereka dan mereka adalah kita. jangan sekali-sekali mengesankan kita lebih tinggi atau mereka lebih rendah dari kita. Kita dan mereka adalah sama. Pahamilah bahwa manusia itu sama, yang membedakan adalah kadar taqwanya.
· Seorang pemimpin adalah pelayan bagi masyarakat, sedangkan seorang penguasa adalah raja bagi masyarakatnya. Bekali diri kita dengan kesiapan untuk berkorban.
· Berkorban baik waktu, tenaga, pikiran, harta maupun nyawa sekalipun. Berikan segala apa yang kita miliki dan jangan sekali-sekali berharap memiliki hak orang lain.
· Menjadi seorang pemimpin, artinya kita merelakan sebagian diri kita menjadi milik orang lain. Sebagian dari milik kita, apapun namanya kita waqafkan untuk kepentingan umum.
· Orang lain akan menurut kepada kita apabila kita memiliki keahlian atau kelebihan. Kita lebih gampang mempengaruhi orang lain kalau kita memiliki keahlian atau kelebihan.
· Keahlian apa saja, tetapi diakui oleh orang lain. Mereka mengakui keahlian dan kelebihan kita, sehingga mereka menjadi lebih percaya kepada kita.
· Orang lebih percaya pada ahlinya daripada kepada orang lain yang ilmunya pas-pasan. Orang lebih patuh pada orang yang memiliki kelebihan daripada kepada orang biasa-biasa saja.
· Kita tidak boleh menjadi pemimpin hanya dengan modal yang pas-pasan. Resikonya sungguh besar.
MEMILIKI KEMAMPUAN MENGKOORDINIR
· Disamping memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mengorganisir kegiatan.
· Mengkoordinir artinya memilih orang-orang dan membagi tugas sesuai keahlian atau bidangnya serta mengkoordinir sehingga kegiatan berjalan seperti harapan.
· Seorang pemimpin tidak mungkin sendirian dalam melaksanakan tugasnya. Aktivitas kesehariannya membutuhkan peran serta para bawahannya.
· Kendati demikian, tak semua bawahan mudah menjabarkan apa keinginan atasan. Karena itu dalam membagi tugas betul-betul mempertimbangkan faktor keahlian disamping bakat dan karakteristik para bawahan. Seorang pemimpin harus pandai mendelegasikan tugas-tugasnya kepada para bawahan.
· Seorang pemimpin harus berprinsip : The man behind the gun. Orang yang tepat akan berdaya guna di belakang mesin yang tepat.
· Mesinnya bagus, tetapi SDM-nya rendah hasilnya pasti acak-acakan. Begitu pula SDM-nya bagus tetapi salah posisi sudah pasti tidak akan maksimal.
· Seorang pemimpin dituntut memiliki keahlian untuk menentukan posisi tugas bawahannya sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.
· Orang yang ahli dan dipekerjakan pada bidang yang menjadi keahliannya akan membuahkan hasil sesuai harapan.
· Job diescription sangat membantu mempermudah tugas-tugas kepemimpinannya.
· Seorang pemimpin bukan orang yang harus mampu mengerjakan semua tugas, tetapi mampu membagi tugasnya sampai habis kepada semua bawahannya. Seringkali ada atasan yang mengeluh karena beban tugasnya yang menumpuk, padahal seharusnya ia membagi tugas tersebut kepada para bawahannya.
· Sebenarnya tugasnya hanya mengawasi dan mengoreksi kembali tugas-tugas bawahannya, sehingga ia masih punya waktu untuk mengerjakan tugas-tugas lain yang hanya menjadi wewenangnya.
· Pemimpin yang demikian mempunyai dua kemungkinan. Pertama, ia tergolong pemimpin yang menganut pola kepemimpinan tertutup. Kedua, ia tidak mempunyai keahlian dalam membagi tugas-tugasnya.
· Keduanya berimplikasi buruk dalam membangun kinerja para bawahannya. Keduanya bukan pilihan yang tepat untuk jabatan seorang pemimpin. Keduanya menjadi bahan pertimbangan untuk segera diganti.
· Nampaknya sepele, tetapi keahlian mendelegasikan tugas bukan hal yang mudah dilaksanakan.
· Pendelegasian harusnya dilakukan dengan profesional dan obyektif.
· Profesional artinya dilandasi dengan pertimbangan-pertimbangan yang menguntungkan manajemen, sedangkan obyektif artinya tidak mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan kepentingan organisasi.
· Bila job diescription dilaksanakan dengan baik, tugas selanjutnya adalah mengorganisir sehingga masing-masing bagian menjadi kekuatan yang utuh dan terpadu.
· Kata kunci untuk berhasil membangun koordinasi adalah memiliki kemampuan mengorganisasi dan berkomunikasi dengan orang lain.
PANTAS MENJADI TELADAN
· Seorang pemimpin adalah seorang teladan. Teladan bagi orang lain dan lebih-lebih teladan bagi dirinya sendiri.
· Paradigma kepemimpinan haruslah mencakup semua dimensi kemanusiaan. Pemimpin bukan hanya dalam arti memiliki kecerdasan intelektual, emosional tetapi juga spritual.
· Pemimpin tidak identik dengan penguasa, pemerintah atau seorang Bos perusahaan besar. Nilai kepemimpinan mengatasi semua itu.
· Perubahan jaman membuat nilai-nilai kepemimpinan semakin longgar.
· Orang semakin sukar membedakan antara penguasa yang juga seorang pemimpin atau hanya seorang penguasa saja tanpa kepemimpinan.
· Di mana-mana banyak kita jumpai pemimpin dalam arti penguasa yang gagal menunjukkan jiwa kepemimpinannya. Sikap dan perilakunya lebih buruk dari orang kebanyakan. Suka mabuk-mabukan, main perempuan dan melakukan korupsi besar-besaran.
· Pemimpin yang berdimensi fisik dan spiritual, dunia dan akherat adalah figur yang selalu berada di depan.
· Kemampuan otaknya di atas kemampuan karyawannya, lebih-lebih etika dan moralitasnya selalu terjaga.
· Ia memimpin anak buahnya dengan pola-pola kepemimpinan yang Islami, artinya mencakup seluruh dimensi kepemimpinan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.
· Memimpin dengan perilaku, dengan perangai, dengan tindak tanduk dan perbuatan yang mencerminkan manusia yang berkualitas. Inilah kriteria ideal seorang pemimpin yang benar-benar terhormat.
· Dihormati bukan lantaran dirinya seorang pejabat, seorang penguasa, tetapi karena ia berhasil membangun dirinya menjadi pribadi yang unggul.
· Tidak pernah membiarkan dirinya ditempeli oleh aib yang membuat citra kepemimpinannya merosot.
· Pendeknya, ia menjadi pemimpin luar dalam. Ke manapun ia pergi, orang lain akan menghormati karena memang ia menghormati harkat kemanusiannya.
· Saat ini nampaknya susah untuk mencari pemimpin yang benar-benar bermakna pemimpin. Pemimpin yang mampu menjadi teladan bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri.
· Pergulatan hidup yang kian tak ramah membuat nilai-nilai keteladanan semakin ditinggalkan orang.
· Walau hati nurani manusia mendambakan pemimpin seperti itu, tapi ketika gilirannya sendiri ditunjuk menjadi pemimpin, ia merasa tidak sanggup.
· Kepemimpinan dan keteladanan itu sepertinya hanya bisa bersatupadu di dunia khayalan. Sungguh ironis rasanya.
· Semua itu nampaknya hanya ilusi seorang pemimpi. Benarkah demikian?
· Sadarkah kita bahwa dua kata itulah yang menuangkan harapan akan datangnya era yang lebih baik yang penuh dengan keteladanan dan kepemimpinan.
MEMILIKI KEMAMPUAN BERBICARA
· Kemampuan berbicara di depan publik penting sekali dimiliki oleh seorang pemimpin.
· Sebagai pimpinan atau manajer kemampuan berbicara nampaknya mutlak perlu. Sebab, tugas utama seorang pemimpin adalah menyampaikan program, rencana dan langkah strategi yang harus dilaksanakan kepada seluruh anggota organisasi.
· Menyampaikan presentasi di depan para investor untuk menjelaskan proposal, presentasi dalam seminar dan lokakarya juga merupakan tugas dan juga kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
· Kemampuan berbicara di depan publik akan mengandung daya pengaruh yang luar biasa bagi para pendengarnya.
· Jika berbicara di depan karyawan, ucapannya akan menyentuh hati nurani sehingga mereka akan melakukan apapun yang diperintahkan pemimpinnya.
· Bawahan akan segan dan menaruh hormat setinggi-tinggi kepada pemimpin yang pandai berbicara.
· Pintar saja tidak cukup jika kepintarannya tersebut tidak membekas di hati karyawan.
· Ada pemimpin yang luar biasa cerdasnya, tetapi ia gagal mempengaruhi anak buahnya lantaran bicaranya gagap. Diminta menjabarkan apa saja programnya ia tidak mampu, walaupun secara tertulis jelasnya bukan main.
· Tetapi karena kemampuannya berbicara nol, maka anak buahnya masih meragukan kemampuannya.
· Ada pula pemimpin yang kecerdasannya tidak terlalu tinggi, tetapi kecakapan bicaranya luar biasa. Pemimpin seperti ini biasanya lebih berhasil dalam mengelola anak buahnya.
· Idealnya, seorang pemimpin itu disamping memiliki kecerdasan yang tinggi juga dibarengi dengan kepandaian berpidato.
· Kata-kata yang diucapkan dengan gaya memukau dan memikat akan lebih berpengaruh daripada dalam bentuk tulisan.
· Kepintaran mengolah kata-kata dan mengucapkannya dalam kalimat-kalimat yang penuh wibawa merupakan nilai plus bagi seorang pemimpin.
· Pemimpin seperti ini akan lebih mudah mencapai puncak sukses, bahkan keahliannya tersebut akan mampu mengatasi ruang dan waktu. Pada saatnya, ia akan dikenal bukan hanya di internal organisasi, tetapi di eksternal organisasi namanya akan diperhitungkan.
· Kepandaiannya berbicara tersebut harus diikuti dengan sikap yang konsisten.
· Hanya pandai bicara doang, namun cenderung mengingkari ucapannnya sendiri, justru akan menimbulkan antipati. Sekali dua kali mungkin orang masih percaya, selanjutnya mereka akan menolak mentah-mentah.
· Sebagai pemimpin alangkah baiknya kalau mau belajar kepada mendiang Bapak Proklamator kita, Bung Karno dan ulama besar Buya Hamka, dua tokoh yang terkenal karena kepiawaiannya dalam berpidato.
MAMPU BERKOMUNIKASI DENGAN BAIK
· Komunikasi merupakan naluri alam manusia yang melekat sejak lahir.
· Komunikasi adalah kebutuhan pokok manusia, disamping kebutuhan untuk makan, berpakaian dan bertempat tinggal yang layak.
· Komunikasi secara sederhana diartikan sebagai kemampuan berhubungan dengan orang lain baik secara langsung (mulut ke mulut) atau melalui alat(telepon, internet, media massa) dan sebagainya.
· Komunikasi telah memegang peranan penting dalam peradaban manusia, tidak ada kemajuan yang menghenyakkan manusia kecuali komunikasi.
· Perkembangan komunikasi mengalami kemajuan pesat. Seolah baru kemarin kita saling berkomunikasi melalui media kertas (telegram, surat pos) tiba-tiba eranya sudah diganti dengan surat elektrik melalui telepon dan internet.
· Kemajuan tehnologi berdampak positif bagi komunikasi, jarak semakin pendek dan informasi dapat kita dapatkan dalam sekejap mata.
· Daniel Goleman dalam buku :”Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi” mengatakan bahwa mendengarkan dengan baik, merupakan syarat utama untuk empati dan juga penting bagi kecakapan komunikasi.
· Mampu mengendalikan suasana hati kita sendiri juga penting demi komunikasi yang baik.
· Sebuah studi terhadap 130 orang eksekutif dan manajer menemukan bahwa kecerdasan orang menangani emosinya sendiri menentukan seberapa besar orang mau berhubungan dengan mereka.
· Berusaha membangun suasana hati netral adalah strategi terbaik dalam mengantisipasi hubungan dengan orang lain.
· Suasana hati netral membuat kita siap untuk terlibat lebih dalam, untuk hadir lebih nyata ketimbang bila dengan emosi.
· Menjadi komunikator yang ulung adalah batu penjuru di antara semua ketrampilan sosial.
· Di kalangan para manajer, kecakapan dalam komunikasi menjadi pembeda yang nyata antara mereka yang berprestasi tinggi dan mereka yang berprestasi sedang atau buruk.
· Kurangnya ketrampilan ini dapat berakibat pada runtuhnya moral.
· Lebih baik kita tidak terjebak dalam suasana hati yang sangat menguras energi yang akan mengakibatkan hambatan terjalinnya interaksi yang lancar. Jika kita bergabung ke dalam suatu percakapan ketika kita sedang dikuasai suasana hati yang tidak netral, orang lain bisa jadi akan menganggap kita tidak siap.
· Sosiolog Irving Goffman disebut ‘jauh’, yakni kelihatan terlibat dalam percakapan padahal pikirannya ke tempat lain.
· Kemampuan untuk tetap ‘berkepala dingin’ membantu kita menyisihkan pikiran yang membebani untuk beberapa saat, dan tetap luwes terhadap reaksi emosi kita sendiri.
· Orang yang dapat tetap menguasai diri dalam keadaan darurat atau ketika menghadapi kepanikan atau kecemasan orang lain berarti mempunyai kendali diri yang meyakinkan, karena itu dapat dengan mulus memasuki suatu percakapan dan tetap terlibat secara efektif.
MAMPU BERDIPLOMASI
· Diplomasi memegang peranan yang cukup penting bagi manajer dalam menjalankan fungsi manajerialnya.
· Sebagai manajer yang tangguh dituntut untuk mengasah kemampuan berdiplomasi agar seluruh transaksi yang dilaksanakan berjalan lancar.
· Kemampuan berdiplomasi bukan sesuatu yang ‘taken for granted’, namun melalui proses pembelajaran yang terus menerus.
· Kemampuan diplomasi ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah komunikatif dan menguasai persoalan.
· Tak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri.
· Tujuan diplomasi bukan untuk mengelabui konsumen, melainkan untuk menjelaskan kelebihan-kelebihan yang dimiliki yang belum diketahui oleh lawan bicara.
· Diplomasi dilakukan untuk meyakinkan orang lain dan menghilangkan keragu-raguan hatinya.
· Diplomasi yang berkualitas segera ditindaklanjuti dengan sikap yang konsisten serta konsekuen.
· Diplomasi tidak hanya menuntut kemampuan berbicara, melainkan juga kemampuan untuk merealisasikan isi pembicaraan.
· Kemampuan diplomasi juga diperlukan untuk mematahkan argumen-argumen lawan yang cenderung merugikan perusahaan.
· Ingatlah bahwa di dunia bisnis berlaku hukum rimba. Siapa yang kuat itulah yang menang.
· Menghindari persaingan yang tidak sehat dan saling sikut, dapat dikanter dengan kemampuan berdiplomasi.
· Pengalaman membuktikan banyak perusahaan yang gulung tikar karena kalah bersaing dengan perusahaan lain yang didukung oleh kemampuan diplomasi yang unggul.
· Kemampuan diplomasi tidak boleh dilakukan untuk menjelek-jelekkan perusahaan lain. Karena ini menyimpang jauh dari tujuan diplomasi itu sendiri.
· Berdiplomasi secara bijak sehingga dapat meningkatkan citra perusahaan tanpa harus merusak citra perusahaan lain.
· Diplomasi bisa dikatakan sebagai kiat berkelit di masa sulit. Dengan diplomasi yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin.
MAMPU MENGGERAKKAN KEGIATAN
· Kegiatan rutin seorang yang sekaligus manajer adalah menggerakkan dan mengendalikan roda manajemen, mulai dari planning, organizing, actuating, dan controlling.
· Agar roda manajemen dapat berputar secara normal, seorang pemimpin dituntut memiliki strategi dan kunci-kunci sukses dalam mengendalikannya.
· Oleh karena itu seorang pemimpin harus mempunyai bekal ilmu manajemen yang cukup.
· Dalam manajemen, tugas ini menjadi salah satu tugas yang sulit.
· Menggerakan seluruh komponen organisasi akan berjalan sesuai fungsinya masing-masing membutuhkan ketrampilan khusus.
· Manusia bukan mesin yang tidak punya pikiran, problem yang dihadapi dalam menggerakkan manusia jauh lebih sulit daripada menggerakkan mesin. Manusia ada kalanya mogok, atau bahkan memberontak.
· Tidak mudah untuk menanamkan pengaruh kepada para bawahan yang memiliki beragam karakter. Berbeda dengan mesin yang sekali setel bisa langsung hidup, menyetel manusia membutuhkan keahlian tersendiri.
· Mesin kalau rusak problemnya pasti macet. Tetapi manusia kalau error malah akan menjadi ancaman bagi manajemen. Karena itu tidak boleh sembarangan melakukan penetrasi pengaruh kepada para bawahan.
· Berkaitan dengan tugasnya tersebut, seorang pemimpin semestinya menjadi motivator bagi para bawahannya.
· Motivasi yang tidak tepat, anak buah akan cenderung sukar dikendalikan.
· Seyogyanya seorang pemimpin menyadari posisinya sebagai poros, tempat semua persoalan bertumpu kepadanya.
· Kemampuan menggerakkan masing-masing bagian akan menghasilkan produk yang diinginkan manajemen.
· Bawahan biasanya menunggu apa katanya atasan, biarpun job diescription sudah diberikan dengan jelas. Ini memang budaya yang sulit dihilangkan dari mental bangsa ini. Tetapi dengan motivasi yang pas budaya tersebut dapat diminimalkan.
· Sebagai seorang pemimpin dituntut untuk memahami karakter masing-masing bawahannya. Yang dibutuhkan terutama adalah sentuhan kejiwaan, karena dengan inilah hati mereka akan terbuka.
· Kalau ingin menjadi motor penggerak yang cespleng, seorang pemimpin harus mendasari pola-pola kepemimpinannya dengan hati nurani
· Manusia adalah makhluk yang berperasaan, sehingga harus diladeni dengan perasaan pula.
· Pemimpin yang cenderung memerintah dengan gaya yang formalistis susah untuk mengambil hati mereka.
· Seyogyanya tehnik-tehnik motivasi dikuasai betul oleh seorang pemimpin yang menghendaki anak buahnya tunduk dan patuh padanya. Dalam arti mau mendengarkan apa kata-katanya, tetapi tetap mengedepankan rasionalitas. Sebab, tunduk dan patuh secara membabi buta justru akan merugikan dirinya sendiri.
MAMPU MEMBANGUNKAN SEMANGAT BAWAHAN
· Idealnya seorang pemimpin adalah sekaligus seorang motivator. Tidak boleh tidak, demikianlah seharusnya.
· Tugas ini merupakan keniscayaan sebagai pucuk pimpinan yang bertugas membangun motivasi kerja bagi para anak buahnya.
· Pemimpin adalah titik sentral dan titik awal sebuah langkah akan dimulai.
· Motivasi akan lahir bila pucuk pimpinan menyadari fungsinya sebagai motivator. Tugas ini tak boleh diabaikan karena kita tahu motivasi merupakan sarana vital dalam membangun semangat kerja di kalangan karyawan.
· Motivasi bisa diwujudkan dalam bentuk kepedulian kepada orang lain.
· Bagi seorang pemimpin, kepedulian ini akan mampu membangkitkan motivasi anak buahnya.
· Kepedulian akan menimbulkan empati. Empati membuat orang lain sungkan dan segan pada kita, secara tidak langsung empati membuat orang lain merasa berhutang budi kepada kita.
· Motivasi akan tumbuh jika seorang pemimpin mampu menjadi pendengar yang baik. Pemimpin yang baik adalah sosok yang mampu bertindak sebagai bapak bagi bawahannya.
· Pemimpin yang motivator bertujuan untuk meyakinkan orang lain.Agar orang lain yakin atau termotivasi, terlebih dulu kita harus membenahi diri kita sendiri.
· Motivasi itu tidak harus selalu melalui ucapan yang hebat dan membakar semangat. Bahkan dalam kediaman itu tersimpan motivasi.
· Motivasi akan lahir dengan keteladanan, atau perilaku kita sehari-hari walaupun kita tak pernah meminta mereka untuk mencontoh diri kita.
· Kuncinya adalah seberapa jauh kita mampu meyakinkan orang lain.
· Selain memiliki kepedulian terhadap orang lain, seorang pemimpin harus pula berusaha mengerti keinginan orang lain.
· Menempatkan diri sendiri seperti orang lain, atau dalam bahasa Jawanya disebut ‘tepa selira’. Bukan sebaliknya, memaksa orang lain mengerti kemauan kita.
· Seorang pemimpin adalah orang yang bersedia mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya.
· Dengan kata lain, kita harus bersikap demokratis. Kita ini berasal dari mereka, dipilih oleh mereka dan untuk mereka.
· Tidak pantas bagi kita untuk bersikap otoriter, terlalu memaksakan kehendak sendiri dan mengesampingkan aspirasi dari arus bawah.
· Kita ini pelayan, seorang pemimpin adalah seorang pelayan. Keliru jika ditafsirkan sebagai seorang penguasa.
· Seorang pemimpin akan berhasil menjadi motivator jika bisa bersikap : Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat dan di belakang memberikan dorongan.
MEMBERIKAN PENGAYOMAN KEPADA BAWAHAN
· Manajer yang bijak adalah manajer yang mampu memberikan perlindungan kepada bawahannya.
· Mampu berperan layaknya seorang bapak kepada anak-anaknya.
· Mampu memberikan rasa aman baik secara fisik maupun psikis.
· Menganggap segala sesuatu yang mengancam anak buahnya seperti ancaman untuk dirinya sendiri.
· Bertanggungjawab penuh atas tugas-tugas yang dibebankan kepada anak buahnya.
· Kesalahan anak buah adalah kesalahannya juga. Tidak ada alasan untuk mengelak atau lari dari tanggungjawabnya sebagai seorang pimpinan.
· Mengerti setiap kesulitan yang menimpa anak buahnya dan berusaha sedapat mungkin untuk membantu.
· Berperan sebagai ‘payung’ yang bisa memberikan rasa teduh dan damai, sehingga bawahan merasa aman dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.
· Jaminan rasa aman dan terlindungi merupakan salah satu bentuk prasyarat meningkatnya motivasi dalam bekerja.
· Utamanya jaminan keamanan tentang masa depan. Bawahan akan merasa tenang bekerja jika ada jaminan bahwa perusahaan tempatnya bekerja tidak gampang mem-PHK-kan karyawannya.
· Memberikan bantuan hukum jika bawahan mengalami masalah dengan pihak lain terkait dengan tugas-tugasnya.
· Memahami betul bahwa bawahan mendambakan rasa aman psikologis. Rasa aman ini memiliki pengaruh positif yang nilainya tak dapat ditukar dengan uang.
· Bawahan lebih memilih bekerja di perusahaan yang memberikan rasa aman psikologis dengan gaji yang tak seberapa besar daripada bekerja di perusahaan yang memberikan gaji besar tetapi tidak ada jaminan rasa aman psikologis.
· Sebagai manajer hendaknya memahami bahwa kebutuhan rasa aman merupakan kebutuhan pokok manusia yang seringkali terabaikan.
· Perusahaan akan berjalan lancar apabila bawahan merasa segala kebutuhannya tercukupi dengan baik.
· Dan kebutuhan pokok bawahan bukan hanya gaji, tetapi juga rasa aman baik secara psikologis maupun secara hukum.
BERSIKAP ADIL
· Manajer yang tangguh hendaknya menuntut dirinya mampu bersikap adil.
· Adil adalah aspek terpenting dalam wacana kepemimpinan. Tiada kepemimpinan tanpa keadilan.
· Pemimpin yang benar-benar pemimpin adalah pemimpin yang memimpin dengan penuh keadilan.
· Keadilan merupakan syarat mutlak tegaknya kepemimpinan. Banyak manajer yang gagal memimpin bawahan karena sikap dan perilakunya yang tidak adil.
· Adil dalam segalanya, adil dalam menilai prestasi dan sanksi bagi bawahan, adil dalam memberikan perintah dan teguran dan utamanya adalah berlaku adil terhadap diri sendiri.
· Adil artinya menempatkan diri di tengah-tengah dan bersikap netral. Adil harus diberlakukan secara universal tanpa kenal saudara, kerabat, teman dekat, anak atau istri.
· Adil tidak mengenal ewuh pakewuh dan rasa sungkan. Keadilan hanya mengenal benar atau salah. Yang benar dilindungi dan yang salah dihukum.
· Tapi adil itu tak semanis di bibir. Adil sangat terasa getirnya di dalam praktik. Manis dibibir tapi pahit di tangan.
· Adil hanya nampak indah di awang-awang namun menjadi suram ketika turun ke bumi. Antara teori dan praktik sejauh jarak antara langit dan bumi.
· Adil adalah barang yang langka. Pemimpin yang adil bisa dihitung dengan jari, sebaliknya yang tidak adil tak terhitung lagi banyaknya.
· Pemimpin yang adil paham benar pepatah :”Raja Adil raja disembah, raja lalim raja disanggah”.
· Keadilan meningkatkan motivasi dan ketidakadilan meruntuhkan motivasi. Pemimpin yang tidak adil berpeluang besar menghancurkan motivasi bawahan.
· Manajer yang mendambakan karirnya “mulus lus” tanpa hambatan harus mulai belajar untuk bersikap adil.
· Keadilan akan menumbuhkan cinta dan cinta konon mengalahkan segalanya. Manajer yang adil akan dicintai bawahannya.
· Saat ini untuk menjadi manajer tidak cukup yanya pintar tapi juga harus bijaksana. Dan salah satu aspek terpenting untuk menjadi manajer yang bijaksana adalah mampu bersikap adil.
· Sudah saatnya jaman ini dipimpin oleh orang-orang yang memiliki keadilan.
MEMEBERIKAN PERINTAH SECARA BIJAK
· Perintah adalah perangkat yang harus ada di dalam hubungan antara atasan dengan bawahan.
· Perintah diperlukan selama manajemen menganut sistem hierarki untuk menjalankan roda organisasi.
· Perintah bisa bermakna positif, tetapi juga tak bisa sepenuhnya bebas dari makna negatif. Orang yang paling berperan penting dalam perintah adalah pimpinan.
· Perintah akan berdampak positif jika dilakukan dengan bijaksana, dan berdampak negatif jika sebaliknya.
· Perintah telah menjadi keharusan, orang tidak bisa melepaskan diri dari memberikan perintah dan menerima perintah.
· Kehidupan ini akan berjalan dinamis selama ada perintah. Contohnya matahari pasti akan berhenti berputar jika Tuhan memerintahkan kepadanya untuk berhenti. Perusahaan akan bangkrut apabila komponen pendukungnya menolak perintah manajemen.
· Makna perintah tergantung pada situasi dan tempat di mana perintah tersebut dilakukan.
· Perintah akan menjadi efektif dan efisien kalau diberikan secara bijak.
· Perintah akan dapat dilaksanakan dengan sempurna kalau disesuaikan dengan kemampuan bawahan.
· Seorang pimpinan dituntut mampu memahami kemampuan masing-masing bawahannya.
· Memahami kemampuan bawahan itu menjadi salah satu syarat utama bagi suatu perintah agar dapat dilaksanakan dengan baik.
· Perintah yang esensinya merupakan tugas dari seorang atasan kepada bawahan tak dapat dilepaskan dari potensi bawahan yang bersangkutan. Potensi berpengaruh besar bagi suatu tugas.
· Atasan yang bijaksana memahami benar prinsip the right man in the right place. Perintah yang pas dengan kemampuan orang yang menjadi pelaksana perintah tersebut ibaratnya tumbu oleh tutup. Klop. Kalau toh ada kesalahan, pastilah tidak terlalu banyak. Wajarlah, namanya saja manusia.
· Sebelum memberi perintah seorang atasan harus memahami bagaimana sikap dan karakter bawahannya.
· Peringatan bagi atasan. Jangan memberikan perintah kepada bawahan yang kondisi mentalnya sedang kalut atau emosinya tidak stabil!
· Sebab, lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Mental yang sedang kalut dan emosi yang tak terkontrol mudah mengarah ke tindakan yang negatif.
· Tunggu sampai bawahan bisa mengendalikan emosinya. Atau biarkan ia memuaskan diri dengan emosinya, setelah reda barulah didekati.
· Tidak etis memberikan perintah kepada bawahan yang sedang dirundung kesusahan.
· Pimpinan yang ingin segalanya berjalan lancar tidak akan berani mengambil resiko dengan memberikan perintah kepada bawahan yang sedang terguncang jiwanya.
· Kesimpulannya, mengamati kondisi mental dan emosi bawahan itu merupakan tugas sampingan seorang atasan.
MEMBERIKAN TEGURAN SECARA BIJAK
· Perintah dan teguran adalah ‘napas’ organisasi. Ada perintah pasti ada teguran. Perintah diberikan atasan kepada bawahan dengan tujuan agar program-programnya dapat terdistribusi dengan baik. Sedangkan teguran diberikan dengan maksud agar bawahan selalu bekerja sesuai dengan norma dan koridor yang ada.
· Pengalaman membuktikan bahwa menegur bawahan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Kalau tidak hati-hati malah akan menjadi bumerang bagi atasan. Atasan yang benar-benar berpikir bagaimana mengelola dan memberdayakan potensi bawahannya, pasti akan bersikap bijak ketika terpaksa menegur bawahannya.
· Teguran agaknya telah menjadi pemanis kehidupan ini. Hampir tiap hari kita mengakrabinya, kadang kita yang memberi teguran, di lain waktu diri kita yang kena tegur.
· Teguran adalah sesuatu yang biasa dan harusnya disikapi dengan biasa pula.
· Berpikir secara dewasa merupakan kiat menempatkan teguran pada posisi yang sebenarnya.
· Bersikap bijaksana dalam memberi teguran kiranya menjadi kemutlakan jika menginginkan teguran tersebut direspons sebagaimana mestinya oleh bawahan. Teguran semestinya mendorong bawahan lebih giat bekerja, bukan malah sebaliknya.
· Teguran akan menjadi efektif dan efisien kalau diberikan secara bijak.
· Menegur bawahan di muka umum sangat tidak efektif, bahkan cenderung kontraproduktif.
· Menegur secara empat mata merupakan cara yang cukup efektif dan bijak. Cara ini sangat efektif karena bawahan tidak punya beban
· Gunakan kata-kata yang halus dan sopan seperti umumnya digunakan kepada orang lain. Jangan lantaran karena anak buah bersalah, maka atasan bisa menggunakan kata-kata yang merendahkan harga dirinya.
· Pilihlah kata-kata yang beretika agar bawahan tidak merasa sebagai orang hukuman.
· Pemilihan kata-kata itu penting karena dari kata-kata itu bawahan akan merasa apakah atasan berusaha menghukumnya atau sebagai ungkapan kasih sayangnya.
· Pemilihan kata yang tidak tepat akan menyisakan ‘bom waktu’ yang siap meledak kapan saja.
· Tegurlah bawahan jika merasa yakin bahwa bawahan memang berhak ditegur karena kesalahannya.
· Teliti dengan seksama benarkah bawahan yang bersangkutan telah melakukan kesalahan. Sudahkah cukup bukti untuk menyatakan bahwa dirinya bersalah? Lantas apa saja bukti-bukti itu? Dari mana asalnya bukti-bukti itu? Sudahkah ia mengecek bukti-bukti tersebut?
TIDAK SEGAN MEMINTA MAAF
· Pimpinan bukan orang yang bebas dari kesalahan dan diberi dispensasi untuk boleh tidak meminta maaf. Tidak ada aturan seperti itu.
· Terkait dengan kesalahan baik atasan maupun bawahan mempunyai kewajiban yang sama, tidak ada istilahnya anak emas dan anak tiri.
· Siapa yang salah dihukum dan yang berprestasi akan mendapatkan penghargaan. Semua akan berjalan dengan baik jika semuanya dilakukan dengan landasan yang adil.
· Meminta maaf itu justru akan memberikan citra positif terhadap kepemimpinannya.
· Pimpinan yang berjiwa besar pasti akan minta maaf jika berbuat kesalahan walaupun bawahannya tidak ada yang tahu kesalahan tersebut.
· Pimpinan seperti ini mudah untuk menarik simpati dari orang lain dan bawahannya. Mereka akan memberikan nilai positif dengan anggapan bahwa jika kesalahan kecil saja minta maaf apalagi kesalahan yang besar.
· Pimpinan yang minta maaf bukan tanda merendahkan dirinya dihadapan bawahan. Permintaan maaf itu tidak akan mengurangi wibawa dan gengsinya, justru sebaliknya ia akan semakin dihormati oleh bawahannya.
· Meminta maaf itu tanda kebesaran jiwa seorang pimpinan. Ini adalah teladan yang baik bagi bawahannya, sehingga mereka akan tergerak untuk menteladani apa yang dilakukannya. Saling memaafkan itu akan menimbulkan perasaan kasih sayang.
· Meminta maaf bukan perkara yang sulit. Apa susahnya minta maaf pada bawahan jika memang bersalah.
· Sebagai manusia yang baik dan sebagai pimpinan yang ingin citranya terjaga, meminta maaf ini nampaknya menjadi keharusan.
· Namanya saja bersalah pasti harus minta maaf, dong. Biarpun dirinya seorang pimpinan, tapi apa bedanya pimpinan dengan bawahan jika berbuat kesalahan.
· Meminta maaf merupakan tanda seorang pemimpin yang adil. Dengan meminta maaf ia telah bertindak terhadap kesalahannya sendiri.
· Imbasnya, bawahan akan semakin berhati-hati dalam bekerja. Mereka akan merasa malu terhadap kesalahannya sendiri, sehingga mereka semakin berhati-hati dalam bekerja.
· Seorang pemimpin tidak boleh bersikap tinggi hati dengan tidak mau mengakui kesalahannya sendiri.
· Gengsi untuk mengakui kesalahannya sendiri merupakan salah satu tanda pemimpin yang merusak tatanan.
· Gengsi mengakui kesalahan jelas akan menghancurkan motivasi bawahan.
· Gengsi yang keterlaluan akan melahirkan sikap mengkambinghitamkan orang lain. Pengkambing hitaman pada akhirnya akan menimbulkan penilaian yang subyektif pada bawahan.
· Sikap menangnya sendiri bukannya menguntungkan, malahan akan merugikan dirinya sendiri. Anda pasti tidak mau menjadi pemimpin yang merugi, bukan?
MUDAH MEMBERI MAAF
· Manusia adalah gudangnya salah. Adagium ini mungkin bisa menjernihkan pikiran dalam memahami kesalahan yang dilakukan bawahan.
· Siapapun, bukan hanya bawahan - pimpinan pun tak lepas dari kesalahan. Kesalahan bisa saja muncul tanpa disangka-sangka kendati sudah diantisipasi sebaik mungkin. Memahami kesalahan sebelum melakukan tindakan adalah tindakan tepat.
· Dalam bekerja pasti tak lepas dari kesalahan, apalagi jika bertumpuk-tumpuk banyaknya.
· Kesalahan bisa terjadi lantaran tenaga dan pikiran sudah terlalu letih atau pekerjaan tersebut di luar yang dikerjakan biasanya.
· Saking banyaknya pekerjaan dan ingin cepat selesai, maka ada beberapa point yang luput dari perhatiannya. Sepertinya sudah dikerjakan semua, tetapi ketika dikoreksi oleh pimpinan ternyata ada yang belum dikerjakan.
· Reaksi pertama yang harus dilakukan pemimpin yang bijak adalah mencoba memahami kenapa kesalahan tersebut terjadi.
· Tanyakan apakah pekerjaan tersebut terlalu berat untuknya atau hanya akibat kelelahan karena dikejar-kejar target?
· Dari jawaban itu pimpinan dapat melakukan tindakan yang tepat agar tidak terjadi kesalahan yang kedua kalinya di masa mendatang. Ia mestinya dapat memaklumi kesalahan tersebut.
· Dalam hal ini berpikir positif penting dikedepankan.
· Pimpinan yang arif pasti tidak sembarangan menuduh bawahannya tersebut sengaja melakukan kesalahan.
· Kesadaran bahwa dirinya sendiri pernah berbuat kesalahan serupa, mencegahnya untuk tidak sampai mentang-mentang dengan jabatannya.
· Bisa saja marah namun pasti ada dampak buruknya di kemudian hari.
· Kalau dengan baik-baik bisa diselesaikan, kenapa harus pakai cara-cara yang kasar. Kesalahan bukan harga mati, masih bisa diperbaiki.
· Bawahan pasti bersedia memperbaiki kesalahannya kalau pimpinan menyuruhnya dengan baik-baik. Bahkan ia pasti akan meminta maaf karena telah berbuat kesalahan, walaupun kesalahan tersebut tidak disengaja. Persoalan menjadi beres dan tidak akan timbul gejolak di kemudian hari.
· Berbeda jika pimpinan orangnya tak sabaran. Lihat kesalahan kecil saja sudah memuncak kemarahannya. Bawahannya didamprat habis-habisan dan pekerjaan-nya dilempar ke luar.
· Pimpinan seperti ini cepat atau lambat akan menuai akibat perbuatannya. Bawahan pasti antipati kepadanya.
· Ingatlah bahwa Tuhan saja mau memaafkan kesalahan manusia, kenapa kita tidak? dengan memberi maaf sebenarnya kita telah bertindak bijak.
MEMILIKI KEPEDULIAN YANG TINGGI
· Pemimpin yang benar-benar ideal dilandasi oleh hati nurani.
· Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya dengan hati nurani. Hati nuranilah yang memimpin setiap aktivitasnya, sehingga ia menjadi pemimpin yang tidak pernah kehilangan citra kemanusiaannya.
· Salah satu ciri yang menonjol tipe pemimpin ini adalah rasa kepeduliannya yang tinggi pada sesama.
· Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki kepedulian yang tinggi pada lingkungan sekitarnya, pada nasib anak buahnya, pada penderitaan orang-orang yang tidak beruntung nasibnya dan sebagainya.
· Hatinya selalu tergerak untuk memperhatikan sekelilingnya, adakah sesuatu yang kurang pantas. Adakah yang dapat ia lakukan untuk menolong mereka. Hatinya senantiasa bertanya-tanya.
· Seorang pemimpin yang menjiwai kepemimpinannya pastilah seorang yang memiliki kepekaan sosial.
· Mempraktikkan nilai-nilai kepemimpinan itu tidak terbatas di lingkup pekerjaannya saja, melainkan di tengah-tengah masyarakat.
· Pemimpin mengandung pengertian lebih luas daripada hanya seorang pejabat yang berkuasa. Seorang pemimpin tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dalam kepemimpinannya.
· Nabi Muhammad SAW hingga detik ini tetaplah seorang pemimpin walaupun beliau sudah wafat belasan abad silam.
· Muhammad adalah figur yang sangat tinggi kepeduliannya pada penderitaan sesama manusia, bahkan ia rela memberikan makanannya pada pengemis yang kelaparan. Padahal ia sendiri sudah berhari-hari tidak makan.
· Seorang pemimpin adalah orang yang senang melihat orang lain terlepas dari kesulitan hidupnya.
· Adakah pemimpin jaman sekarang yang mencontoh Muhammad?
· Pernahkah kita mendengar ada seorang pejabat yang merelakan gajinya untuk bawahannya yang kebetulan kesulitan keuangan ketika istrinya melahirkan?
· Kita tidak pernah mendengar, namun mudah-mudahan saja ada dan banyak jumlahnya. Semakin banyak pemimpin yang mau peduli pada sesamanya, semakin cepatlah bangsa ini keluar dari krisis kepemimpinan.
· Memimpinlah dengan hati nurani, agar kita dapat menjadi pemimpin yang universal.
· Memimpin dengan etika dan moral yang tinggi, memimpin dengan nuansa dunia dan akherat.
· Pemimpin adalah orang yang peduli pada kepemimpinannya.
· Memiliki kepedulian berarti selalu tergerak untuk melakukan sesuatu, jika terjadi keadaan yang tidak normal.
MEMILIKI KEPEKAAN TERDAPAT LINGKUNGAN
· Disamping memiliki kepedulian yang tinggi, manajer yang bernilai plus sangat peka terhadap lingkungan.
· Peka dalam arti selalu tergugah untuk memperbaiki segala sesuatu yang dirasanya tidak beres.
· Kepekaan itu diwujudkan ke dalam sikap dan tindakan yang mendorong masyarakat sekitarnya untuk memperbaiki diri.
· Baik menyangkut lingkungan hidup maupun tak hidup. Lingkungan hidup menyangkut kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat. Contohnya, berjudi atau minum-minuman keras.
· Lingkungan tak hidup meliputi penebangan liar, kebersihan got, ancaman demam berdarah dan sebagainya.
· Sebagai manajer perusahaan tidak boleh bersikap cuek terhadap lingkungan dengan alasan sibuk bekerja di kantor.
· Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat sama pentingnya dengan keberadaannya di kantor.
· Mampu menyatukan diri secara lahir batin dengan lingkungan tempat tinggalnya.
· Mampu menjadi pelopor untuk persoalan-persoalan yang menyangkut lingkungan. Sebab, keberadaan lingkungan akan turut mempengaruhi aktivitas kantor tempatnya bekerja.
· Tidak pelit mengeluarkan dana demi perbaikan lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Dan mau ‘disambati’ dana bagi kebutuhan yang menyangkut lingkungan.
· Sebagai manajer harus mampu menempatkan diri sekaligus berempati terhadap lingkungan dengan beranggapan bahwa lingkungan merupakan bagian dari hidupnya.
· Lingkungan yang nyaman dan tentram akan menjadi pendorong utama bagi masyarakat untuk maju. Dan kemajuan masyarakat merupakan sumbangan yang besar bagi kinerja perusahaan.
· Manajer yang bijaksana paham benar bahwa lingkungan punya andil besar bagi dirinya. Bukan hanya kantor yang memberinya kehidupan, tapi juga lingkungan di mana ia berdomisili.
· Sebagai manajer yang sadar betul eksistensi dirinya di tengah lingkungan, semestinya merasa berterimakasih kepada lingkungan yang telah memberinya kesempatan untuk menjadi salah satu bagiannya.
· Ungkapan terimakasih itu baiknya diwujudkan ke dalam sikap dan perilaku yang selalu menyelamatkan lingkungan dari kehancuran.
· Seorang pemimpin idealnya adalah sosok yang memiliki karisma. Nasehat seperti ini sering kita dengar dan kita baca.
· Pemimpin yang karismatik akan dijunjung tinggi oleh orang-orang di sekitarnya.
· Karisma yang dimiliki akan dapat mempengaruhi orang lain, sehingga memudahkan tugas-tugas yang diembannya.
· Siapapun pasti akan menaruh hormat pada pemimpin yang memancarkan karisma dalam kepemimpinannya.
· Tetapi tak semua pemimpin memiliki karisma, karena karisma bukan sesuatu yang mudah didapat.
· Ada memang orang-orang tertentu yang memiliki karisma sejak lahir, tetapi jumlahnya teramat sedikit.
· Orang yang memiliki karisma berarti ia adalah orang pilihan.
· Berbahagialah mereka yang memiliki karisma sejak lahir, karena ia tidak perlu bersusah payah membangunnya dari nol. Asal saja bisa menjaganya, karena godaannya juga tidak kecil.
· Karisma dapat dibangun dengan mengembangkan sifat-sifat mulia pada diri kita.
· Faktor-faktor pembentuk karisma antara lain; kejujuran, keadilan, tanggungjawab, kedisiplinan, amanah, toleransi dan sebagainya.
· Tidak semua orang memiliki semua faktor tersebut, itu artinya karismanya belum sempurna. Sedikit sekali yang akhirnya berhasil membangun karismanya dengan susah payah. Tetapi pengorbanannya tersebut diganti dengan kemuliaan hidupnya.
· Tetapi karisma seseorang bisa luntur karena yang bersangkutan tidak dapat menjaganya dengan baik. Misalnya, ketika masih orang kebanyakan, karismanya tinggi. Tetapi begitu sudah dapat pangkat, tiba-tiba sifat mulia yang dimilikinya tanggal satu demi satu. Dulunya alimnya bukan main, ketika menjadi pejabat sukanya mabuk-mabukan. Dulu menjauhi godaan perempuan sekarang malah senang kalau digoda.
· Pemimpin yang berdimensi dunia akherat pasti akan menjaga sekuat tenaga karismanya. Sebab, niatnya untuk membangun karisma bukan untuk mengejar jabatan, melainkan semata-mata karena mencari ridho-Nya.
· Karisma itu derajatnya jauh lebih tinggi dari jabatan. Kalau dipaksa memilih, lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan karismanya.
· Karena itu jangan sekali-sekali menukar karisma dengan jabatan, karena nilainya sangat tidak sepadan. Lebih baik menjadi Ketua RT yang karismatik daripada menjadi lurah yang tidak memiliki karisma sama sekali. kehilangan karisma sama artinya dengan kehilangan harga diri.
· Seorang pemimpin harus mampu tampil sebagai pemimpin yang karismatik dengan berprinsip bahwa tiada kepemimpinan tanpa karisma.
· Menyadari betapa vitalnya karisma, seorang pemimpin harus mampu membangun karismanya dengan selalu menjaga citra dirinya sebagai pemimpin yang berkualitas.
· Selalu berpikir positif dan tidak mudah berprasangka buruk pada bawahan dan rekan sejawat.
· Ada orang yang tidak punya jabatan tetapi memiliki karisma, sebaliknya ada orang yang punya jabatan tetapi tidak memiliki karisma sama sekali.
· Hal-hal seperti ini banyak dijumpai di mana-mana, tetapi kebangeten jika ada pejabat yang tidak mempunyai karisma sama sekali. Dengan apa ia memimpin?
MAMPU MEMPENGARUHI ORANG LAIN
· Minimal seorang pemimpin itu memiliki pengaruh dan mampu mempengaruhi orang lain.
· Dengan pengaruhnya ia dapat mempengaruhi orang lain, minimal orang yang setia kepadanya.
· Pengaruh itu bisa berupa harta kekayaan atau ketinggian ilmunya. Seyogyanya memang demikian, seorang pemimpin kurang afdol jika seorang fakir atau tak punya ilmu sama sekali.
· Kita mampu mempengaruhi orang lain jika kita mampu menjadikan orang lain menjadi penting.
· Manusia pada dasarnya butuh eksistensi diri dan pengakuan dari orang lain. Agar diakui ia memformat dirinya sedemikian rupa sehingga menjadi orang penting. Menjadi penting itu penting untuk sebuah identitas diri.
· Kita juga bisa mempengaruhi orang lain jika kita mampu menampilkan diri sebagai pemecah masalah. Tanamkan jargon dalam diri kita – kita datang semua beres.
· Menjadi pemimpin itu memang dituntut sempurna, baik dalam sikap maupun perbuatan.
· Bekal minimal agar mampu mempengaruhi orang lain adalah memiliki cara pandang yang positif.
· Pola pikir positif senantiasa mengarahkan pikiran kita pada harapan-harapan, selalu optimis sehingga orang lain akan bangkit semangatnya.
· Kita bisa mempengaruhi orang lain jika kita mampu mengambil hatinya. Berpikir seperti mereka, menempatkan diri sejajar dengan mereka sehingga seolah-olah tiada jarak antara kita dengan mereka.
· Kita adalah mereka dan mereka adalah kita. jangan sekali-sekali mengesankan kita lebih tinggi atau mereka lebih rendah dari kita. Kita dan mereka adalah sama. Pahamilah bahwa manusia itu sama, yang membedakan adalah kadar taqwanya.
· Seorang pemimpin adalah pelayan bagi masyarakat, sedangkan seorang penguasa adalah raja bagi masyarakatnya. Bekali diri kita dengan kesiapan untuk berkorban.
· Berkorban baik waktu, tenaga, pikiran, harta maupun nyawa sekalipun. Berikan segala apa yang kita miliki dan jangan sekali-sekali berharap memiliki hak orang lain.
· Menjadi seorang pemimpin, artinya kita merelakan sebagian diri kita menjadi milik orang lain. Sebagian dari milik kita, apapun namanya kita waqafkan untuk kepentingan umum.
· Orang lain akan menurut kepada kita apabila kita memiliki keahlian atau kelebihan. Kita lebih gampang mempengaruhi orang lain kalau kita memiliki keahlian atau kelebihan.
· Keahlian apa saja, tetapi diakui oleh orang lain. Mereka mengakui keahlian dan kelebihan kita, sehingga mereka menjadi lebih percaya kepada kita.
· Orang lebih percaya pada ahlinya daripada kepada orang lain yang ilmunya pas-pasan. Orang lebih patuh pada orang yang memiliki kelebihan daripada kepada orang biasa-biasa saja.
· Kita tidak boleh menjadi pemimpin hanya dengan modal yang pas-pasan. Resikonya sungguh besar.
MEMILIKI KEMAMPUAN MENGKOORDINIR
· Disamping memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mengorganisir kegiatan.
· Mengkoordinir artinya memilih orang-orang dan membagi tugas sesuai keahlian atau bidangnya serta mengkoordinir sehingga kegiatan berjalan seperti harapan.
· Seorang pemimpin tidak mungkin sendirian dalam melaksanakan tugasnya. Aktivitas kesehariannya membutuhkan peran serta para bawahannya.
· Kendati demikian, tak semua bawahan mudah menjabarkan apa keinginan atasan. Karena itu dalam membagi tugas betul-betul mempertimbangkan faktor keahlian disamping bakat dan karakteristik para bawahan. Seorang pemimpin harus pandai mendelegasikan tugas-tugasnya kepada para bawahan.
· Seorang pemimpin harus berprinsip : The man behind the gun. Orang yang tepat akan berdaya guna di belakang mesin yang tepat.
· Mesinnya bagus, tetapi SDM-nya rendah hasilnya pasti acak-acakan. Begitu pula SDM-nya bagus tetapi salah posisi sudah pasti tidak akan maksimal.
· Seorang pemimpin dituntut memiliki keahlian untuk menentukan posisi tugas bawahannya sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.
· Orang yang ahli dan dipekerjakan pada bidang yang menjadi keahliannya akan membuahkan hasil sesuai harapan.
· Job diescription sangat membantu mempermudah tugas-tugas kepemimpinannya.
· Seorang pemimpin bukan orang yang harus mampu mengerjakan semua tugas, tetapi mampu membagi tugasnya sampai habis kepada semua bawahannya. Seringkali ada atasan yang mengeluh karena beban tugasnya yang menumpuk, padahal seharusnya ia membagi tugas tersebut kepada para bawahannya.
· Sebenarnya tugasnya hanya mengawasi dan mengoreksi kembali tugas-tugas bawahannya, sehingga ia masih punya waktu untuk mengerjakan tugas-tugas lain yang hanya menjadi wewenangnya.
· Pemimpin yang demikian mempunyai dua kemungkinan. Pertama, ia tergolong pemimpin yang menganut pola kepemimpinan tertutup. Kedua, ia tidak mempunyai keahlian dalam membagi tugas-tugasnya.
· Keduanya berimplikasi buruk dalam membangun kinerja para bawahannya. Keduanya bukan pilihan yang tepat untuk jabatan seorang pemimpin. Keduanya menjadi bahan pertimbangan untuk segera diganti.
· Nampaknya sepele, tetapi keahlian mendelegasikan tugas bukan hal yang mudah dilaksanakan.
· Pendelegasian harusnya dilakukan dengan profesional dan obyektif.
· Profesional artinya dilandasi dengan pertimbangan-pertimbangan yang menguntungkan manajemen, sedangkan obyektif artinya tidak mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan kepentingan organisasi.
· Bila job diescription dilaksanakan dengan baik, tugas selanjutnya adalah mengorganisir sehingga masing-masing bagian menjadi kekuatan yang utuh dan terpadu.
· Kata kunci untuk berhasil membangun koordinasi adalah memiliki kemampuan mengorganisasi dan berkomunikasi dengan orang lain.
PANTAS MENJADI TELADAN
· Seorang pemimpin adalah seorang teladan. Teladan bagi orang lain dan lebih-lebih teladan bagi dirinya sendiri.
· Paradigma kepemimpinan haruslah mencakup semua dimensi kemanusiaan. Pemimpin bukan hanya dalam arti memiliki kecerdasan intelektual, emosional tetapi juga spritual.
· Pemimpin tidak identik dengan penguasa, pemerintah atau seorang Bos perusahaan besar. Nilai kepemimpinan mengatasi semua itu.
· Perubahan jaman membuat nilai-nilai kepemimpinan semakin longgar.
· Orang semakin sukar membedakan antara penguasa yang juga seorang pemimpin atau hanya seorang penguasa saja tanpa kepemimpinan.
· Di mana-mana banyak kita jumpai pemimpin dalam arti penguasa yang gagal menunjukkan jiwa kepemimpinannya. Sikap dan perilakunya lebih buruk dari orang kebanyakan. Suka mabuk-mabukan, main perempuan dan melakukan korupsi besar-besaran.
· Pemimpin yang berdimensi fisik dan spiritual, dunia dan akherat adalah figur yang selalu berada di depan.
· Kemampuan otaknya di atas kemampuan karyawannya, lebih-lebih etika dan moralitasnya selalu terjaga.
· Ia memimpin anak buahnya dengan pola-pola kepemimpinan yang Islami, artinya mencakup seluruh dimensi kepemimpinan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.
· Memimpin dengan perilaku, dengan perangai, dengan tindak tanduk dan perbuatan yang mencerminkan manusia yang berkualitas. Inilah kriteria ideal seorang pemimpin yang benar-benar terhormat.
· Dihormati bukan lantaran dirinya seorang pejabat, seorang penguasa, tetapi karena ia berhasil membangun dirinya menjadi pribadi yang unggul.
· Tidak pernah membiarkan dirinya ditempeli oleh aib yang membuat citra kepemimpinannya merosot.
· Pendeknya, ia menjadi pemimpin luar dalam. Ke manapun ia pergi, orang lain akan menghormati karena memang ia menghormati harkat kemanusiannya.
· Saat ini nampaknya susah untuk mencari pemimpin yang benar-benar bermakna pemimpin. Pemimpin yang mampu menjadi teladan bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri.
· Pergulatan hidup yang kian tak ramah membuat nilai-nilai keteladanan semakin ditinggalkan orang.
· Walau hati nurani manusia mendambakan pemimpin seperti itu, tapi ketika gilirannya sendiri ditunjuk menjadi pemimpin, ia merasa tidak sanggup.
· Kepemimpinan dan keteladanan itu sepertinya hanya bisa bersatupadu di dunia khayalan. Sungguh ironis rasanya.
· Semua itu nampaknya hanya ilusi seorang pemimpi. Benarkah demikian?
· Sadarkah kita bahwa dua kata itulah yang menuangkan harapan akan datangnya era yang lebih baik yang penuh dengan keteladanan dan kepemimpinan.
MEMILIKI KEMAMPUAN BERBICARA
· Kemampuan berbicara di depan publik penting sekali dimiliki oleh seorang pemimpin.
· Sebagai pimpinan atau manajer kemampuan berbicara nampaknya mutlak perlu. Sebab, tugas utama seorang pemimpin adalah menyampaikan program, rencana dan langkah strategi yang harus dilaksanakan kepada seluruh anggota organisasi.
· Menyampaikan presentasi di depan para investor untuk menjelaskan proposal, presentasi dalam seminar dan lokakarya juga merupakan tugas dan juga kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
· Kemampuan berbicara di depan publik akan mengandung daya pengaruh yang luar biasa bagi para pendengarnya.
· Jika berbicara di depan karyawan, ucapannya akan menyentuh hati nurani sehingga mereka akan melakukan apapun yang diperintahkan pemimpinnya.
· Bawahan akan segan dan menaruh hormat setinggi-tinggi kepada pemimpin yang pandai berbicara.
· Pintar saja tidak cukup jika kepintarannya tersebut tidak membekas di hati karyawan.
· Ada pemimpin yang luar biasa cerdasnya, tetapi ia gagal mempengaruhi anak buahnya lantaran bicaranya gagap. Diminta menjabarkan apa saja programnya ia tidak mampu, walaupun secara tertulis jelasnya bukan main.
· Tetapi karena kemampuannya berbicara nol, maka anak buahnya masih meragukan kemampuannya.
· Ada pula pemimpin yang kecerdasannya tidak terlalu tinggi, tetapi kecakapan bicaranya luar biasa. Pemimpin seperti ini biasanya lebih berhasil dalam mengelola anak buahnya.
· Idealnya, seorang pemimpin itu disamping memiliki kecerdasan yang tinggi juga dibarengi dengan kepandaian berpidato.
· Kata-kata yang diucapkan dengan gaya memukau dan memikat akan lebih berpengaruh daripada dalam bentuk tulisan.
· Kepintaran mengolah kata-kata dan mengucapkannya dalam kalimat-kalimat yang penuh wibawa merupakan nilai plus bagi seorang pemimpin.
· Pemimpin seperti ini akan lebih mudah mencapai puncak sukses, bahkan keahliannya tersebut akan mampu mengatasi ruang dan waktu. Pada saatnya, ia akan dikenal bukan hanya di internal organisasi, tetapi di eksternal organisasi namanya akan diperhitungkan.
· Kepandaiannya berbicara tersebut harus diikuti dengan sikap yang konsisten.
· Hanya pandai bicara doang, namun cenderung mengingkari ucapannnya sendiri, justru akan menimbulkan antipati. Sekali dua kali mungkin orang masih percaya, selanjutnya mereka akan menolak mentah-mentah.
· Sebagai pemimpin alangkah baiknya kalau mau belajar kepada mendiang Bapak Proklamator kita, Bung Karno dan ulama besar Buya Hamka, dua tokoh yang terkenal karena kepiawaiannya dalam berpidato.
MAMPU BERKOMUNIKASI DENGAN BAIK
· Komunikasi merupakan naluri alam manusia yang melekat sejak lahir.
· Komunikasi adalah kebutuhan pokok manusia, disamping kebutuhan untuk makan, berpakaian dan bertempat tinggal yang layak.
· Komunikasi secara sederhana diartikan sebagai kemampuan berhubungan dengan orang lain baik secara langsung (mulut ke mulut) atau melalui alat(telepon, internet, media massa) dan sebagainya.
· Komunikasi telah memegang peranan penting dalam peradaban manusia, tidak ada kemajuan yang menghenyakkan manusia kecuali komunikasi.
· Perkembangan komunikasi mengalami kemajuan pesat. Seolah baru kemarin kita saling berkomunikasi melalui media kertas (telegram, surat pos) tiba-tiba eranya sudah diganti dengan surat elektrik melalui telepon dan internet.
· Kemajuan tehnologi berdampak positif bagi komunikasi, jarak semakin pendek dan informasi dapat kita dapatkan dalam sekejap mata.
· Daniel Goleman dalam buku :”Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi” mengatakan bahwa mendengarkan dengan baik, merupakan syarat utama untuk empati dan juga penting bagi kecakapan komunikasi.
· Mampu mengendalikan suasana hati kita sendiri juga penting demi komunikasi yang baik.
· Sebuah studi terhadap 130 orang eksekutif dan manajer menemukan bahwa kecerdasan orang menangani emosinya sendiri menentukan seberapa besar orang mau berhubungan dengan mereka.
· Berusaha membangun suasana hati netral adalah strategi terbaik dalam mengantisipasi hubungan dengan orang lain.
· Suasana hati netral membuat kita siap untuk terlibat lebih dalam, untuk hadir lebih nyata ketimbang bila dengan emosi.
· Menjadi komunikator yang ulung adalah batu penjuru di antara semua ketrampilan sosial.
· Di kalangan para manajer, kecakapan dalam komunikasi menjadi pembeda yang nyata antara mereka yang berprestasi tinggi dan mereka yang berprestasi sedang atau buruk.
· Kurangnya ketrampilan ini dapat berakibat pada runtuhnya moral.
· Lebih baik kita tidak terjebak dalam suasana hati yang sangat menguras energi yang akan mengakibatkan hambatan terjalinnya interaksi yang lancar. Jika kita bergabung ke dalam suatu percakapan ketika kita sedang dikuasai suasana hati yang tidak netral, orang lain bisa jadi akan menganggap kita tidak siap.
· Sosiolog Irving Goffman disebut ‘jauh’, yakni kelihatan terlibat dalam percakapan padahal pikirannya ke tempat lain.
· Kemampuan untuk tetap ‘berkepala dingin’ membantu kita menyisihkan pikiran yang membebani untuk beberapa saat, dan tetap luwes terhadap reaksi emosi kita sendiri.
· Orang yang dapat tetap menguasai diri dalam keadaan darurat atau ketika menghadapi kepanikan atau kecemasan orang lain berarti mempunyai kendali diri yang meyakinkan, karena itu dapat dengan mulus memasuki suatu percakapan dan tetap terlibat secara efektif.
MAMPU BERDIPLOMASI
· Diplomasi memegang peranan yang cukup penting bagi manajer dalam menjalankan fungsi manajerialnya.
· Sebagai manajer yang tangguh dituntut untuk mengasah kemampuan berdiplomasi agar seluruh transaksi yang dilaksanakan berjalan lancar.
· Kemampuan berdiplomasi bukan sesuatu yang ‘taken for granted’, namun melalui proses pembelajaran yang terus menerus.
· Kemampuan diplomasi ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah komunikatif dan menguasai persoalan.
· Tak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri.
· Tujuan diplomasi bukan untuk mengelabui konsumen, melainkan untuk menjelaskan kelebihan-kelebihan yang dimiliki yang belum diketahui oleh lawan bicara.
· Diplomasi dilakukan untuk meyakinkan orang lain dan menghilangkan keragu-raguan hatinya.
· Diplomasi yang berkualitas segera ditindaklanjuti dengan sikap yang konsisten serta konsekuen.
· Diplomasi tidak hanya menuntut kemampuan berbicara, melainkan juga kemampuan untuk merealisasikan isi pembicaraan.
· Kemampuan diplomasi juga diperlukan untuk mematahkan argumen-argumen lawan yang cenderung merugikan perusahaan.
· Ingatlah bahwa di dunia bisnis berlaku hukum rimba. Siapa yang kuat itulah yang menang.
· Menghindari persaingan yang tidak sehat dan saling sikut, dapat dikanter dengan kemampuan berdiplomasi.
· Pengalaman membuktikan banyak perusahaan yang gulung tikar karena kalah bersaing dengan perusahaan lain yang didukung oleh kemampuan diplomasi yang unggul.
· Kemampuan diplomasi tidak boleh dilakukan untuk menjelek-jelekkan perusahaan lain. Karena ini menyimpang jauh dari tujuan diplomasi itu sendiri.
· Berdiplomasi secara bijak sehingga dapat meningkatkan citra perusahaan tanpa harus merusak citra perusahaan lain.
· Diplomasi bisa dikatakan sebagai kiat berkelit di masa sulit. Dengan diplomasi yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin.
MAMPU MENGGERAKKAN KEGIATAN
· Kegiatan rutin seorang yang sekaligus manajer adalah menggerakkan dan mengendalikan roda manajemen, mulai dari planning, organizing, actuating, dan controlling.
· Agar roda manajemen dapat berputar secara normal, seorang pemimpin dituntut memiliki strategi dan kunci-kunci sukses dalam mengendalikannya.
· Oleh karena itu seorang pemimpin harus mempunyai bekal ilmu manajemen yang cukup.
· Dalam manajemen, tugas ini menjadi salah satu tugas yang sulit.
· Menggerakan seluruh komponen organisasi akan berjalan sesuai fungsinya masing-masing membutuhkan ketrampilan khusus.
· Manusia bukan mesin yang tidak punya pikiran, problem yang dihadapi dalam menggerakkan manusia jauh lebih sulit daripada menggerakkan mesin. Manusia ada kalanya mogok, atau bahkan memberontak.
· Tidak mudah untuk menanamkan pengaruh kepada para bawahan yang memiliki beragam karakter. Berbeda dengan mesin yang sekali setel bisa langsung hidup, menyetel manusia membutuhkan keahlian tersendiri.
· Mesin kalau rusak problemnya pasti macet. Tetapi manusia kalau error malah akan menjadi ancaman bagi manajemen. Karena itu tidak boleh sembarangan melakukan penetrasi pengaruh kepada para bawahan.
· Berkaitan dengan tugasnya tersebut, seorang pemimpin semestinya menjadi motivator bagi para bawahannya.
· Motivasi yang tidak tepat, anak buah akan cenderung sukar dikendalikan.
· Seyogyanya seorang pemimpin menyadari posisinya sebagai poros, tempat semua persoalan bertumpu kepadanya.
· Kemampuan menggerakkan masing-masing bagian akan menghasilkan produk yang diinginkan manajemen.
· Bawahan biasanya menunggu apa katanya atasan, biarpun job diescription sudah diberikan dengan jelas. Ini memang budaya yang sulit dihilangkan dari mental bangsa ini. Tetapi dengan motivasi yang pas budaya tersebut dapat diminimalkan.
· Sebagai seorang pemimpin dituntut untuk memahami karakter masing-masing bawahannya. Yang dibutuhkan terutama adalah sentuhan kejiwaan, karena dengan inilah hati mereka akan terbuka.
· Kalau ingin menjadi motor penggerak yang cespleng, seorang pemimpin harus mendasari pola-pola kepemimpinannya dengan hati nurani
· Manusia adalah makhluk yang berperasaan, sehingga harus diladeni dengan perasaan pula.
· Pemimpin yang cenderung memerintah dengan gaya yang formalistis susah untuk mengambil hati mereka.
· Seyogyanya tehnik-tehnik motivasi dikuasai betul oleh seorang pemimpin yang menghendaki anak buahnya tunduk dan patuh padanya. Dalam arti mau mendengarkan apa kata-katanya, tetapi tetap mengedepankan rasionalitas. Sebab, tunduk dan patuh secara membabi buta justru akan merugikan dirinya sendiri.
MAMPU MEMBANGUNKAN SEMANGAT BAWAHAN
· Idealnya seorang pemimpin adalah sekaligus seorang motivator. Tidak boleh tidak, demikianlah seharusnya.
· Tugas ini merupakan keniscayaan sebagai pucuk pimpinan yang bertugas membangun motivasi kerja bagi para anak buahnya.
· Pemimpin adalah titik sentral dan titik awal sebuah langkah akan dimulai.
· Motivasi akan lahir bila pucuk pimpinan menyadari fungsinya sebagai motivator. Tugas ini tak boleh diabaikan karena kita tahu motivasi merupakan sarana vital dalam membangun semangat kerja di kalangan karyawan.
· Motivasi bisa diwujudkan dalam bentuk kepedulian kepada orang lain.
· Bagi seorang pemimpin, kepedulian ini akan mampu membangkitkan motivasi anak buahnya.
· Kepedulian akan menimbulkan empati. Empati membuat orang lain sungkan dan segan pada kita, secara tidak langsung empati membuat orang lain merasa berhutang budi kepada kita.
· Motivasi akan tumbuh jika seorang pemimpin mampu menjadi pendengar yang baik. Pemimpin yang baik adalah sosok yang mampu bertindak sebagai bapak bagi bawahannya.
· Pemimpin yang motivator bertujuan untuk meyakinkan orang lain.Agar orang lain yakin atau termotivasi, terlebih dulu kita harus membenahi diri kita sendiri.
· Motivasi itu tidak harus selalu melalui ucapan yang hebat dan membakar semangat. Bahkan dalam kediaman itu tersimpan motivasi.
· Motivasi akan lahir dengan keteladanan, atau perilaku kita sehari-hari walaupun kita tak pernah meminta mereka untuk mencontoh diri kita.
· Kuncinya adalah seberapa jauh kita mampu meyakinkan orang lain.
· Selain memiliki kepedulian terhadap orang lain, seorang pemimpin harus pula berusaha mengerti keinginan orang lain.
· Menempatkan diri sendiri seperti orang lain, atau dalam bahasa Jawanya disebut ‘tepa selira’. Bukan sebaliknya, memaksa orang lain mengerti kemauan kita.
· Seorang pemimpin adalah orang yang bersedia mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya.
· Dengan kata lain, kita harus bersikap demokratis. Kita ini berasal dari mereka, dipilih oleh mereka dan untuk mereka.
· Tidak pantas bagi kita untuk bersikap otoriter, terlalu memaksakan kehendak sendiri dan mengesampingkan aspirasi dari arus bawah.
· Kita ini pelayan, seorang pemimpin adalah seorang pelayan. Keliru jika ditafsirkan sebagai seorang penguasa.
· Seorang pemimpin akan berhasil menjadi motivator jika bisa bersikap : Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat dan di belakang memberikan dorongan.
MEMBERIKAN PENGAYOMAN KEPADA BAWAHAN
· Manajer yang bijak adalah manajer yang mampu memberikan perlindungan kepada bawahannya.
· Mampu berperan layaknya seorang bapak kepada anak-anaknya.
· Mampu memberikan rasa aman baik secara fisik maupun psikis.
· Menganggap segala sesuatu yang mengancam anak buahnya seperti ancaman untuk dirinya sendiri.
· Bertanggungjawab penuh atas tugas-tugas yang dibebankan kepada anak buahnya.
· Kesalahan anak buah adalah kesalahannya juga. Tidak ada alasan untuk mengelak atau lari dari tanggungjawabnya sebagai seorang pimpinan.
· Mengerti setiap kesulitan yang menimpa anak buahnya dan berusaha sedapat mungkin untuk membantu.
· Berperan sebagai ‘payung’ yang bisa memberikan rasa teduh dan damai, sehingga bawahan merasa aman dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.
· Jaminan rasa aman dan terlindungi merupakan salah satu bentuk prasyarat meningkatnya motivasi dalam bekerja.
· Utamanya jaminan keamanan tentang masa depan. Bawahan akan merasa tenang bekerja jika ada jaminan bahwa perusahaan tempatnya bekerja tidak gampang mem-PHK-kan karyawannya.
· Memberikan bantuan hukum jika bawahan mengalami masalah dengan pihak lain terkait dengan tugas-tugasnya.
· Memahami betul bahwa bawahan mendambakan rasa aman psikologis. Rasa aman ini memiliki pengaruh positif yang nilainya tak dapat ditukar dengan uang.
· Bawahan lebih memilih bekerja di perusahaan yang memberikan rasa aman psikologis dengan gaji yang tak seberapa besar daripada bekerja di perusahaan yang memberikan gaji besar tetapi tidak ada jaminan rasa aman psikologis.
· Sebagai manajer hendaknya memahami bahwa kebutuhan rasa aman merupakan kebutuhan pokok manusia yang seringkali terabaikan.
· Perusahaan akan berjalan lancar apabila bawahan merasa segala kebutuhannya tercukupi dengan baik.
· Dan kebutuhan pokok bawahan bukan hanya gaji, tetapi juga rasa aman baik secara psikologis maupun secara hukum.
BERSIKAP ADIL
· Manajer yang tangguh hendaknya menuntut dirinya mampu bersikap adil.
· Adil adalah aspek terpenting dalam wacana kepemimpinan. Tiada kepemimpinan tanpa keadilan.
· Pemimpin yang benar-benar pemimpin adalah pemimpin yang memimpin dengan penuh keadilan.
· Keadilan merupakan syarat mutlak tegaknya kepemimpinan. Banyak manajer yang gagal memimpin bawahan karena sikap dan perilakunya yang tidak adil.
· Adil dalam segalanya, adil dalam menilai prestasi dan sanksi bagi bawahan, adil dalam memberikan perintah dan teguran dan utamanya adalah berlaku adil terhadap diri sendiri.
· Adil artinya menempatkan diri di tengah-tengah dan bersikap netral. Adil harus diberlakukan secara universal tanpa kenal saudara, kerabat, teman dekat, anak atau istri.
· Adil tidak mengenal ewuh pakewuh dan rasa sungkan. Keadilan hanya mengenal benar atau salah. Yang benar dilindungi dan yang salah dihukum.
· Tapi adil itu tak semanis di bibir. Adil sangat terasa getirnya di dalam praktik. Manis dibibir tapi pahit di tangan.
· Adil hanya nampak indah di awang-awang namun menjadi suram ketika turun ke bumi. Antara teori dan praktik sejauh jarak antara langit dan bumi.
· Adil adalah barang yang langka. Pemimpin yang adil bisa dihitung dengan jari, sebaliknya yang tidak adil tak terhitung lagi banyaknya.
· Pemimpin yang adil paham benar pepatah :”Raja Adil raja disembah, raja lalim raja disanggah”.
· Keadilan meningkatkan motivasi dan ketidakadilan meruntuhkan motivasi. Pemimpin yang tidak adil berpeluang besar menghancurkan motivasi bawahan.
· Manajer yang mendambakan karirnya “mulus lus” tanpa hambatan harus mulai belajar untuk bersikap adil.
· Keadilan akan menumbuhkan cinta dan cinta konon mengalahkan segalanya. Manajer yang adil akan dicintai bawahannya.
· Saat ini untuk menjadi manajer tidak cukup yanya pintar tapi juga harus bijaksana. Dan salah satu aspek terpenting untuk menjadi manajer yang bijaksana adalah mampu bersikap adil.
· Sudah saatnya jaman ini dipimpin oleh orang-orang yang memiliki keadilan.
MEMEBERIKAN PERINTAH SECARA BIJAK
· Perintah adalah perangkat yang harus ada di dalam hubungan antara atasan dengan bawahan.
· Perintah diperlukan selama manajemen menganut sistem hierarki untuk menjalankan roda organisasi.
· Perintah bisa bermakna positif, tetapi juga tak bisa sepenuhnya bebas dari makna negatif. Orang yang paling berperan penting dalam perintah adalah pimpinan.
· Perintah akan berdampak positif jika dilakukan dengan bijaksana, dan berdampak negatif jika sebaliknya.
· Perintah telah menjadi keharusan, orang tidak bisa melepaskan diri dari memberikan perintah dan menerima perintah.
· Kehidupan ini akan berjalan dinamis selama ada perintah. Contohnya matahari pasti akan berhenti berputar jika Tuhan memerintahkan kepadanya untuk berhenti. Perusahaan akan bangkrut apabila komponen pendukungnya menolak perintah manajemen.
· Makna perintah tergantung pada situasi dan tempat di mana perintah tersebut dilakukan.
· Perintah akan menjadi efektif dan efisien kalau diberikan secara bijak.
· Perintah akan dapat dilaksanakan dengan sempurna kalau disesuaikan dengan kemampuan bawahan.
· Seorang pimpinan dituntut mampu memahami kemampuan masing-masing bawahannya.
· Memahami kemampuan bawahan itu menjadi salah satu syarat utama bagi suatu perintah agar dapat dilaksanakan dengan baik.
· Perintah yang esensinya merupakan tugas dari seorang atasan kepada bawahan tak dapat dilepaskan dari potensi bawahan yang bersangkutan. Potensi berpengaruh besar bagi suatu tugas.
· Atasan yang bijaksana memahami benar prinsip the right man in the right place. Perintah yang pas dengan kemampuan orang yang menjadi pelaksana perintah tersebut ibaratnya tumbu oleh tutup. Klop. Kalau toh ada kesalahan, pastilah tidak terlalu banyak. Wajarlah, namanya saja manusia.
· Sebelum memberi perintah seorang atasan harus memahami bagaimana sikap dan karakter bawahannya.
· Peringatan bagi atasan. Jangan memberikan perintah kepada bawahan yang kondisi mentalnya sedang kalut atau emosinya tidak stabil!
· Sebab, lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Mental yang sedang kalut dan emosi yang tak terkontrol mudah mengarah ke tindakan yang negatif.
· Tunggu sampai bawahan bisa mengendalikan emosinya. Atau biarkan ia memuaskan diri dengan emosinya, setelah reda barulah didekati.
· Tidak etis memberikan perintah kepada bawahan yang sedang dirundung kesusahan.
· Pimpinan yang ingin segalanya berjalan lancar tidak akan berani mengambil resiko dengan memberikan perintah kepada bawahan yang sedang terguncang jiwanya.
· Kesimpulannya, mengamati kondisi mental dan emosi bawahan itu merupakan tugas sampingan seorang atasan.
MEMBERIKAN TEGURAN SECARA BIJAK
· Perintah dan teguran adalah ‘napas’ organisasi. Ada perintah pasti ada teguran. Perintah diberikan atasan kepada bawahan dengan tujuan agar program-programnya dapat terdistribusi dengan baik. Sedangkan teguran diberikan dengan maksud agar bawahan selalu bekerja sesuai dengan norma dan koridor yang ada.
· Pengalaman membuktikan bahwa menegur bawahan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Kalau tidak hati-hati malah akan menjadi bumerang bagi atasan. Atasan yang benar-benar berpikir bagaimana mengelola dan memberdayakan potensi bawahannya, pasti akan bersikap bijak ketika terpaksa menegur bawahannya.
· Teguran agaknya telah menjadi pemanis kehidupan ini. Hampir tiap hari kita mengakrabinya, kadang kita yang memberi teguran, di lain waktu diri kita yang kena tegur.
· Teguran adalah sesuatu yang biasa dan harusnya disikapi dengan biasa pula.
· Berpikir secara dewasa merupakan kiat menempatkan teguran pada posisi yang sebenarnya.
· Bersikap bijaksana dalam memberi teguran kiranya menjadi kemutlakan jika menginginkan teguran tersebut direspons sebagaimana mestinya oleh bawahan. Teguran semestinya mendorong bawahan lebih giat bekerja, bukan malah sebaliknya.
· Teguran akan menjadi efektif dan efisien kalau diberikan secara bijak.
· Menegur bawahan di muka umum sangat tidak efektif, bahkan cenderung kontraproduktif.
· Menegur secara empat mata merupakan cara yang cukup efektif dan bijak. Cara ini sangat efektif karena bawahan tidak punya beban
· Gunakan kata-kata yang halus dan sopan seperti umumnya digunakan kepada orang lain. Jangan lantaran karena anak buah bersalah, maka atasan bisa menggunakan kata-kata yang merendahkan harga dirinya.
· Pilihlah kata-kata yang beretika agar bawahan tidak merasa sebagai orang hukuman.
· Pemilihan kata-kata itu penting karena dari kata-kata itu bawahan akan merasa apakah atasan berusaha menghukumnya atau sebagai ungkapan kasih sayangnya.
· Pemilihan kata yang tidak tepat akan menyisakan ‘bom waktu’ yang siap meledak kapan saja.
· Tegurlah bawahan jika merasa yakin bahwa bawahan memang berhak ditegur karena kesalahannya.
· Teliti dengan seksama benarkah bawahan yang bersangkutan telah melakukan kesalahan. Sudahkah cukup bukti untuk menyatakan bahwa dirinya bersalah? Lantas apa saja bukti-bukti itu? Dari mana asalnya bukti-bukti itu? Sudahkah ia mengecek bukti-bukti tersebut?
TIDAK SEGAN MEMINTA MAAF
· Pimpinan bukan orang yang bebas dari kesalahan dan diberi dispensasi untuk boleh tidak meminta maaf. Tidak ada aturan seperti itu.
· Terkait dengan kesalahan baik atasan maupun bawahan mempunyai kewajiban yang sama, tidak ada istilahnya anak emas dan anak tiri.
· Siapa yang salah dihukum dan yang berprestasi akan mendapatkan penghargaan. Semua akan berjalan dengan baik jika semuanya dilakukan dengan landasan yang adil.
· Meminta maaf itu justru akan memberikan citra positif terhadap kepemimpinannya.
· Pimpinan yang berjiwa besar pasti akan minta maaf jika berbuat kesalahan walaupun bawahannya tidak ada yang tahu kesalahan tersebut.
· Pimpinan seperti ini mudah untuk menarik simpati dari orang lain dan bawahannya. Mereka akan memberikan nilai positif dengan anggapan bahwa jika kesalahan kecil saja minta maaf apalagi kesalahan yang besar.
· Pimpinan yang minta maaf bukan tanda merendahkan dirinya dihadapan bawahan. Permintaan maaf itu tidak akan mengurangi wibawa dan gengsinya, justru sebaliknya ia akan semakin dihormati oleh bawahannya.
· Meminta maaf itu tanda kebesaran jiwa seorang pimpinan. Ini adalah teladan yang baik bagi bawahannya, sehingga mereka akan tergerak untuk menteladani apa yang dilakukannya. Saling memaafkan itu akan menimbulkan perasaan kasih sayang.
· Meminta maaf bukan perkara yang sulit. Apa susahnya minta maaf pada bawahan jika memang bersalah.
· Sebagai manusia yang baik dan sebagai pimpinan yang ingin citranya terjaga, meminta maaf ini nampaknya menjadi keharusan.
· Namanya saja bersalah pasti harus minta maaf, dong. Biarpun dirinya seorang pimpinan, tapi apa bedanya pimpinan dengan bawahan jika berbuat kesalahan.
· Meminta maaf merupakan tanda seorang pemimpin yang adil. Dengan meminta maaf ia telah bertindak terhadap kesalahannya sendiri.
· Imbasnya, bawahan akan semakin berhati-hati dalam bekerja. Mereka akan merasa malu terhadap kesalahannya sendiri, sehingga mereka semakin berhati-hati dalam bekerja.
· Seorang pemimpin tidak boleh bersikap tinggi hati dengan tidak mau mengakui kesalahannya sendiri.
· Gengsi untuk mengakui kesalahannya sendiri merupakan salah satu tanda pemimpin yang merusak tatanan.
· Gengsi mengakui kesalahan jelas akan menghancurkan motivasi bawahan.
· Gengsi yang keterlaluan akan melahirkan sikap mengkambinghitamkan orang lain. Pengkambing hitaman pada akhirnya akan menimbulkan penilaian yang subyektif pada bawahan.
· Sikap menangnya sendiri bukannya menguntungkan, malahan akan merugikan dirinya sendiri. Anda pasti tidak mau menjadi pemimpin yang merugi, bukan?
MUDAH MEMBERI MAAF
· Manusia adalah gudangnya salah. Adagium ini mungkin bisa menjernihkan pikiran dalam memahami kesalahan yang dilakukan bawahan.
· Siapapun, bukan hanya bawahan - pimpinan pun tak lepas dari kesalahan. Kesalahan bisa saja muncul tanpa disangka-sangka kendati sudah diantisipasi sebaik mungkin. Memahami kesalahan sebelum melakukan tindakan adalah tindakan tepat.
· Dalam bekerja pasti tak lepas dari kesalahan, apalagi jika bertumpuk-tumpuk banyaknya.
· Kesalahan bisa terjadi lantaran tenaga dan pikiran sudah terlalu letih atau pekerjaan tersebut di luar yang dikerjakan biasanya.
· Saking banyaknya pekerjaan dan ingin cepat selesai, maka ada beberapa point yang luput dari perhatiannya. Sepertinya sudah dikerjakan semua, tetapi ketika dikoreksi oleh pimpinan ternyata ada yang belum dikerjakan.
· Reaksi pertama yang harus dilakukan pemimpin yang bijak adalah mencoba memahami kenapa kesalahan tersebut terjadi.
· Tanyakan apakah pekerjaan tersebut terlalu berat untuknya atau hanya akibat kelelahan karena dikejar-kejar target?
· Dari jawaban itu pimpinan dapat melakukan tindakan yang tepat agar tidak terjadi kesalahan yang kedua kalinya di masa mendatang. Ia mestinya dapat memaklumi kesalahan tersebut.
· Dalam hal ini berpikir positif penting dikedepankan.
· Pimpinan yang arif pasti tidak sembarangan menuduh bawahannya tersebut sengaja melakukan kesalahan.
· Kesadaran bahwa dirinya sendiri pernah berbuat kesalahan serupa, mencegahnya untuk tidak sampai mentang-mentang dengan jabatannya.
· Bisa saja marah namun pasti ada dampak buruknya di kemudian hari.
· Kalau dengan baik-baik bisa diselesaikan, kenapa harus pakai cara-cara yang kasar. Kesalahan bukan harga mati, masih bisa diperbaiki.
· Bawahan pasti bersedia memperbaiki kesalahannya kalau pimpinan menyuruhnya dengan baik-baik. Bahkan ia pasti akan meminta maaf karena telah berbuat kesalahan, walaupun kesalahan tersebut tidak disengaja. Persoalan menjadi beres dan tidak akan timbul gejolak di kemudian hari.
· Berbeda jika pimpinan orangnya tak sabaran. Lihat kesalahan kecil saja sudah memuncak kemarahannya. Bawahannya didamprat habis-habisan dan pekerjaan-nya dilempar ke luar.
· Pimpinan seperti ini cepat atau lambat akan menuai akibat perbuatannya. Bawahan pasti antipati kepadanya.
· Ingatlah bahwa Tuhan saja mau memaafkan kesalahan manusia, kenapa kita tidak? dengan memberi maaf sebenarnya kita telah bertindak bijak.
MEMILIKI KEPEDULIAN YANG TINGGI
· Pemimpin yang benar-benar ideal dilandasi oleh hati nurani.
· Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya dengan hati nurani. Hati nuranilah yang memimpin setiap aktivitasnya, sehingga ia menjadi pemimpin yang tidak pernah kehilangan citra kemanusiaannya.
· Salah satu ciri yang menonjol tipe pemimpin ini adalah rasa kepeduliannya yang tinggi pada sesama.
· Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki kepedulian yang tinggi pada lingkungan sekitarnya, pada nasib anak buahnya, pada penderitaan orang-orang yang tidak beruntung nasibnya dan sebagainya.
· Hatinya selalu tergerak untuk memperhatikan sekelilingnya, adakah sesuatu yang kurang pantas. Adakah yang dapat ia lakukan untuk menolong mereka. Hatinya senantiasa bertanya-tanya.
· Seorang pemimpin yang menjiwai kepemimpinannya pastilah seorang yang memiliki kepekaan sosial.
· Mempraktikkan nilai-nilai kepemimpinan itu tidak terbatas di lingkup pekerjaannya saja, melainkan di tengah-tengah masyarakat.
· Pemimpin mengandung pengertian lebih luas daripada hanya seorang pejabat yang berkuasa. Seorang pemimpin tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dalam kepemimpinannya.
· Nabi Muhammad SAW hingga detik ini tetaplah seorang pemimpin walaupun beliau sudah wafat belasan abad silam.
· Muhammad adalah figur yang sangat tinggi kepeduliannya pada penderitaan sesama manusia, bahkan ia rela memberikan makanannya pada pengemis yang kelaparan. Padahal ia sendiri sudah berhari-hari tidak makan.
· Seorang pemimpin adalah orang yang senang melihat orang lain terlepas dari kesulitan hidupnya.
· Adakah pemimpin jaman sekarang yang mencontoh Muhammad?
· Pernahkah kita mendengar ada seorang pejabat yang merelakan gajinya untuk bawahannya yang kebetulan kesulitan keuangan ketika istrinya melahirkan?
· Kita tidak pernah mendengar, namun mudah-mudahan saja ada dan banyak jumlahnya. Semakin banyak pemimpin yang mau peduli pada sesamanya, semakin cepatlah bangsa ini keluar dari krisis kepemimpinan.
· Memimpinlah dengan hati nurani, agar kita dapat menjadi pemimpin yang universal.
· Memimpin dengan etika dan moral yang tinggi, memimpin dengan nuansa dunia dan akherat.
· Pemimpin adalah orang yang peduli pada kepemimpinannya.
· Memiliki kepedulian berarti selalu tergerak untuk melakukan sesuatu, jika terjadi keadaan yang tidak normal.
MEMILIKI KEPEKAAN TERDAPAT LINGKUNGAN
· Disamping memiliki kepedulian yang tinggi, manajer yang bernilai plus sangat peka terhadap lingkungan.
· Peka dalam arti selalu tergugah untuk memperbaiki segala sesuatu yang dirasanya tidak beres.
· Kepekaan itu diwujudkan ke dalam sikap dan tindakan yang mendorong masyarakat sekitarnya untuk memperbaiki diri.
· Baik menyangkut lingkungan hidup maupun tak hidup. Lingkungan hidup menyangkut kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat. Contohnya, berjudi atau minum-minuman keras.
· Lingkungan tak hidup meliputi penebangan liar, kebersihan got, ancaman demam berdarah dan sebagainya.
· Sebagai manajer perusahaan tidak boleh bersikap cuek terhadap lingkungan dengan alasan sibuk bekerja di kantor.
· Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat sama pentingnya dengan keberadaannya di kantor.
· Mampu menyatukan diri secara lahir batin dengan lingkungan tempat tinggalnya.
· Mampu menjadi pelopor untuk persoalan-persoalan yang menyangkut lingkungan. Sebab, keberadaan lingkungan akan turut mempengaruhi aktivitas kantor tempatnya bekerja.
· Tidak pelit mengeluarkan dana demi perbaikan lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Dan mau ‘disambati’ dana bagi kebutuhan yang menyangkut lingkungan.
· Sebagai manajer harus mampu menempatkan diri sekaligus berempati terhadap lingkungan dengan beranggapan bahwa lingkungan merupakan bagian dari hidupnya.
· Lingkungan yang nyaman dan tentram akan menjadi pendorong utama bagi masyarakat untuk maju. Dan kemajuan masyarakat merupakan sumbangan yang besar bagi kinerja perusahaan.
· Manajer yang bijaksana paham benar bahwa lingkungan punya andil besar bagi dirinya. Bukan hanya kantor yang memberinya kehidupan, tapi juga lingkungan di mana ia berdomisili.
· Sebagai manajer yang sadar betul eksistensi dirinya di tengah lingkungan, semestinya merasa berterimakasih kepada lingkungan yang telah memberinya kesempatan untuk menjadi salah satu bagiannya.
· Ungkapan terimakasih itu baiknya diwujudkan ke dalam sikap dan perilaku yang selalu menyelamatkan lingkungan dari kehancuran.
Langganan:
Postingan (Atom)
