Rabu, 21 Januari 2009

Hanya Orang-orang Sibuk, Merasakan Wakyu Lewat Begitu Saja

Memang benar adanya. Waktu begitu cepat bagi orang yang sibuk. Ada seorang pegawai bercerita kepada saya. Sejak diangkat menjadi kepala bagian di kantornya ia hampir tidak punya waktu lagi untuk membaca. Jam 4 pagi ia sudah bangun. Usai sholat subuh, ia mempersiapkan tugasnya hari itu di kantor. Kemudian olah raga sebentar, ikut bersih-bersih rumah dan kadang membantu istrinya memasak di dapur. Maklum ia tidak ‘ngingu’ pembantu.
Pukul 6.30 ia sudah berangkat dan tiba di kantor lima menit sebelum apel. Apel sebentar. Setelah itu hampir tidak ada waktu untuk sekedar ngobrol dengan bawahannya. Pekerjaannya amat menyita waktunya sampai waktunya pulang. Sampai di rumah tidur siang satu atau dua jam. Kira-kira pukul 16.30 biasanya ada waktu sebentar untuk membaca koran di teras sambil bercengkerama dengan istri dan anaknya.

Habis maghrib biasanya ada saja acaranya, kalau tidak berkaitan dengan tugas kantor pasti keperluan keluarga. Kadang istri dan anaknya minta antar ke toko beli keperluan rumah tangga atau keperluan sekolah. Atau ada saja tamu yang bertandang ke rumahnya. Pukul 21.00 biasanya ia sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Soalnya, ia punya kebiasaan bangun tengah malam untuk sholat tahajud. Begitulah rutinitasnya setiap hari.

Tak terasa kebiasaan seperti sudah ia jalani hampir sepuluh tahun lamanya, bahkan ketika dirinya masih staf biasa di kantornya. Prinsipnya satu, jangan biarkan ada waktu kosong dalam kehidupannya. Baginya waktu amat berharga sehingga sayang kalau dibiarkan terlewati dengan percuma. “Saya selalu menciptakan kesibukan, kalau sekiranya saya merasa banyak waktu biasanya saya habiskan untuk sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya ketika sempat ngobrol dengan penulis.

Tapi tak semua orang punya prinsip seperti pejabat di atas. Kebanyakan dari kita jarang memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya justru tak punya perencanaan yang tepat tentang waktu. Waktu dibiarkan mengalir begitu saja, seolah-olah hidupnya hanya untuk menghabis-habiskan waktu. Padahal waktu adalah sebuah investasi yang amat mahal harganya.



Orang yang tak menghargai waktu ia akan tergilas oleh waktu. Orang yang tak pernah menciptakan kesibukan akan merasa waktu begitu cepat berlalu. Tentu saja saban harinya kerjanya cuma bermalas-malasan saja. Malahan enggan untuk menyibukkan diri dengan kegiatan, sebaliknya ada kegiatan justru dihindari.

Bedanya orang sibuk dengan orang yang tidak mau sibuk, yang pertama selalu berupaya memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Yang kedua, cenderung untuk menghambur-hamburkan waktu tanpa ada perencanaan. Pejabat di atas mengeluh karena waktunya untuk membaca hampir tidak ada, tetapi bagi sebagian besar orang waktu begitu membosankan untuk dilalui. Kalau pagi ia berharap agar cepat sore, begitu sore datang ia berharap cepat pagi. Begitulah seterusnya. Kenapa? Karena hidupnya tanpa perencanaan.

Di bawah ini sekedar gambaran manusia yang efektif dalam hidupnya :

1. Setiap aktivitasnya direncanakan dengan matang
2. Waktu merupakan investasi yang mahal
3. Tidak ada kamus untuk menghambur-hamburkan waktu
4. Senantiasa menciptakan kesibukan yang positif
5. Ia mengatur waktu, bukan waktu mengatur dirinya
6। Efektif waktu = efektif hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar