MEMILIKI VISI DAN MISI YANG JELAS
· Seorang manajer harus sering dan berani membuat mimpi (visi). Kapan saja dan dalam situasi apa saja.
· Mimpi merupakan “ blue print “ dari realita, artinya suatu saat akan menjadi kenyataan.
· Visi akan memberikan kekuatan positif dan memberikan arah seluruh anggota organisasi untuk melangkah.
· Rencanakan dan buatlah mimpi ini hati-hati dan sebaik mungkin karena mimpi itu akan menjadi kenyataan dikemudian hari.
· Di jaman persaingan yang sangat ketat seperti sekarang ini visi dan misi menjadi sangat penting, karena merupakan kerangka konseptual yang paradigmatik untuk memahami arah dan tujuan organisasi.
· Visi atau mimpi dapat mensugesti, memberikan inspirasi dan memotivasi kepada seluruh anggota organisasi.
· Sementara misi merupakan pernyataan bisnis organisasi yang menjelaskan kegunaan dan alasan keberadaan organisasi.
· Misi juga menggambarkan apa yang sedang dilakukan oleh organisasi.
· Misi mampu mewujudkan mimpi atau visi yang telah ditetapkan.
· Tugas manajerial yang sangat penting dari seorang manajer adalah membuat dan menciptakan visi dan misi yang jelas.
· Sosok manajer yang tangguh harus bisa dan berani membuat visi yang benar, sehingga mampu membuat organisasi dinamis dan penuh motivasi.
· Sebagai manajer harus yakin bahwa keberhasilan perusahaan akan mengikuti visi yang kita ciptakan.
· Bermimpi itu tidak terlalu memakan biaya, bahkan tidak perlu biaya, tetapi seluruh kegiatan dan keberhasilan organisasi justru dimulai dari mimpi atau angan-angan ini.
MAMPU MEMBUAT STRATEGI
· Target perusahaan setiap saat pasti berubah dan berkembang, sebab organisasi atau perusahaan yang eksis harus melakukan perubahan.
· Untuk mengantisipasi dan mewujudkan perubahan diperlukan strategi, yaitu langkah taktis yang efektif dan efisien.
· Strategi juga dapat menghadapi perubahan-perubahan global yang terjadi. Jadi selain perubahan yang kita rencanakan juga terjadi perubahan global yang mempengaruhi seluruh sistem yang terkait. Oleh karena itu harus kita hadapi dengan strategi yang jitu.
· Seorang manajer harus mampu dan ini wajib untuk bisa membuat dan merancang strategi. Langkah global apa yang bisa mengantisipasi perubahan dan mampu mencapai tujuan.
· Strategi dibuat juga untuk meningkatkan daya saing.
· Di Era globalisasi, bisnis berarti persaingan. Dan persaingan hakekatnya adalah adu strategi. Siapa yang mampu membuat strategi yang jitu itulah yang menang.
· Menyusun strategi berarti berpikir ke depan, menyusun langkah demi langkah untuk memenangkan percaturan bisnis.
· Iklim bisnis jaman sekarang sudah semakin ruwet dan semakin kotor. Permainan dan persaingan sering kali tidak “ fair “.
· Manajer tangguh akan tetap berpegang pada bisnis yang beretika.
· Manajer tangguh akan membuat strategi dengan tetap memegang kuat prinsip-prinsip bisnis yang sehat. Walaupun orang lain melakukan hal yang tidak sehat.
· Manajer tangguh harus yakin bahwa bisnis yang sehat tidak kekurangan cara. Masih banyak bahkan kalau ada “ niat “ tidak pernah kehabisan cara dan strategi untuk melakukan bisnis sehat atau beretika.
· Meskipun jaman sudah edan, manajer tangguh tetap tidak mau edan, tidak mau ikut-ikutan dan tidak ingin larut dalam perubahan yang tidak baik.
· Manajer yang tangguh adalah manajer yang tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang halal dan mana yang haram, sehingga dalam membuat strategi tetap berdasar kaidah-kaidah yang barokah.
JELI DALAM MERUMUSKAN TUJUAN DAN SASARAN
· Orang jalan saja pasti punya tujuan, apalagi perusahaan atau instansi, didirikan pasti ada tujuannya. Tetapi apakah semua manajer dan pimpinan organisasi mampu memformat tujuan dan sasaran dengan baik ? Belum tentu.
· Merumuskan tujuan dan sasaran organisasi itu sangat penting. Kenapa penting, karena tujuan dan sasaran merupakan sesuatu yang akan dicapai atau diraih oleh anggota organisasi.
· Tujuan dan sasaran akan memberikan fokus kemana masing-masing anggota organisasi akan melangkah.
· Dengan jelasnya tujuan dan sasaran organisasi, maka persepsi masing-masing orang dalam organisasi itu juga mudah disamakan.
· Tetapi memang tidak mudah untuk merumuskan tujuan dan sasaran organisasi, tidak semua orang mampu.
· Merumuskan tujuan dan sasaran memerlukan penguasaan kondisi organisasi dan wawasan yang luas tentang perkembangan global.
· Seorang manajer yang handal memang harus jeli dalam mereka-reka serta merumuskan sasaran dan tujuan. Sebab salah sasaran, gerakan dan laju organisasi akan melenceng.
· Sasaran dan tujuan bisa jangka pendek, menengah dan panjang. Dan ketiga-tiganya memang harus dibuat. Sasaran jangka pendek biasanya dibuat lebih mendekati realistis. Sebab prediksinya relatif lebih mudah.
· Sasaran jangka menengah dibuat dengan prediksi perubahan yang lebih sulit. Hal ini disebabkan perubahan semakin fluktuatif.
· Sasaran jangka panjang lebih dipengaruhi oleh visi dan misi, sehingga target-targetnya lebih umum dan mengglobal.
· Untuk merumuskan sasaran dan tujuan, seorang manajer harus memiliki kemampuan analisa yang baik, ketajaman intuisi dan mampu membaca tanda-tanda perubahan jaman.
· Kredibilitas seorang manajer sangat tergantung dari kejelian dan ketepatan dalam merumuskan sasaran dan tujuan organisasi. Tentunya sasaran dan tujuan itu disesuaikan dengan kepentingan bersama dari seluruh fihak yang terkait dalam organisasi (stake holders).
MAMPU MELIHAT KEKUATAN ORGANISASI
· Salah satu hal yang penting yang harus kita ketahui kalau kita mau bertinju adalah mengukur kekuatan diri sendiri. Untuk bisa mengukur tentunya harus tahu apa yang menjadi kekuatan dan kelebihan yang ada pada diri sendiri.
· Mengetahui kekuatan lawan memang perlu, tetapi itu nomer dua. Lihat dulu kekuatan sendiri. Apakah cukup kuat untuk bertarung di ring tinju.
· Tidak jauh berbeda situasinya dengan ring tinju, mengelola organisasi juga harus tahu sejauh mana kekuatan organisasi itu. Kelebihan-kelebihan apa yang dimiliki.
· Kelihatannya sederhana mengetahui kekuatan organisasi, tetapi kalau kita tidak fokuskan perhatian untuk betul-betul mencari kekuatan yang ada, mungkin sulit diketahui.
· Ibarat anak muda sering kali tidak tahu potensi yang ada pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa maju kalau tidak tahu apa yang harus dikembangkan.
· Manajer yang tangguh mestinya jeli dalam melihat kekuatan organisasi atau perusahaannya. Agar tepat dalam melakukan pengembangan. Apa yang dimaksimalkan dan digunakan sebagai “ ciri khas “ organisasinya menjadi lebih tepat.
· Memang gampang-gampang susah melihat kekuatan. Salah-salah kalau tidak tepat bisa melenceng.
· Contoh, sebuah perusahaan memiliki karyawan yang banyak, bahasa pasarnya perusahaan itu “ gemuk “. Karyawan yang banyak ini termasuk kekuatan atau kelemahan. Nah disini perlu hati-hati.
· Karyawan yang banyak, kalau hanya dilihat dari satu sisi bisa jadi kekuatan. Seperti kerajaan kalau tentaranya banyak maka merupakan kekuatan.
· Tetapi dilihat dari upah atau biaya SDM, banyaknya karyawan menjadi suatu kelemahan. Apalagi kalau karyawan banyak tetapi etos kerjanya rendah, maka akan menjadi beban perusahaan.
· Manajer yang jeli pasti bisa melihat kekuatan organisasinya dan memanfaatkan kekuatan yang ada secara maksimal.
· Manajer yang cerdik akan meningkatkan nilai kekuatan atau mengembangkannya untuk menghadapi persaingan.
· Jangan pernah menjadi manajer tanpa tahu dan tidak mengembangkan kekuatan organisasinya. Bisa-bisa organisasinya cepat kolaps.
MENYADARI ADANYA KELEMAHAN ORGANISASI
· Sama dengan kekuatan, kelemahan organisasi juga sangat penting untuk diketahui oleh seorang manajer. Manajer yang menyadari adanya kelemahan organisasinya akan lebih hati-hati dalam melangkah.
· Ibarat manusia, mengakui kelemahan diri sendiri adalah pekerjaan yang sulit. Malah sering kali kalau ditunjukkan kelemahannya justru marah-marah. Tidak merasa ada yang kurang pada dirinya. Orang seperti ini biasanya tidak segera bisa maju.
· Orang yang tidak mau mengakui kelemahannya juga memiliki sifat congkak, sombong dan suka menepuk dada. Tapi begitu menghadapi kesulitan, baru terasa bahwa dirinya banyak kelemahan. Dan itupun masih tidak mau mengakui.
· Manajer yang tangguh justru mencari kelemahan dari organisasi yang dipimpinnya. Dia teliti, dia rasakan apa yang sekiranya kurang pas. Dicari mengapa perjalanan operasional tidak lancar. Adakah dalam diri organisasinya sesuatu yang tidak beres.
· Dengan mengetahui dan menyadari kelemahan organisasi, tentunya akan lebih mudah untuk mengambil langkah-langkah perbaikan. Sasaran perbaikan menjadi lebih efektif strategi yang diambilpun menjadi berdaya guna tinggi.
· Manajer yang baik tidak segan-segan mengakui bahwa apa yang dilakukan masih belum sempurna. Dalam perjalanan mengelola organisasi tentu banyak kekurangan. Bahkan bisa jadi mengalami kegagalan.
· Kelemahan organisasi bisa sangat mungkin disebabkan karena kebijakan yang diambil kurang tepat. Jika yang demikian cepat disadari, maka akibatnya tidak akan menjadi berlarut-larut.
· Kelemahan organisasi bisa jadi dari budaya kerja, misalnya etos kerja yang rendah, disiplin rendah atau budaya KKN yang sudah mendarah daging. Kelemahan seperti ini kalau sang manajer tidak tanggap dan tidak mau mengakui, maka sulit rasanya organisasi untuk bisa berkembang.
· Manajer yang tangguh pantang untuk tidak mengakui kelemahan bahkan selalu mengevaluasi baik dirinya sendiri maupun organisasinya demi program-program perbaikan.
LIHAI DALAM MELIHAT PELUANG
· Bisnis sekarang selain persaingannya ketat, juga rebutan peluang. Peluangnya semakin sedikit sementara yang ngroyok banyak.
· Tetapi manajer yang lihai tidak kehabisan akal. Dia tidak pernah berhenti untuk memutar otak dan mencari peluang. Bahkan kalau dicari tidak ketemu dia akan menciptakan peluang baru.
· Seorang manajer memang seharusnya juga seorang entrepreneur yaitu pebisnis yang jeli dalam melihat peluang. Setiap apa yang dilihat dianalisa apakah kemungkinan ada peluang di situ. Bagi pebisnis yang namanya peluang bisa didapatkan dimana-mana.
· Sebagai seorang manajer yang mengelola perusahaan, untuk bisa tetap eksis harus bisa memanfaatkan peluang. Kata orang kalau ada peluang tidak segera diambil, maka peluang tersebut akan pergi dan tidak akan kembali.
· Dan peluang itu sayang bukan seperti makanan yang siap saji dan siap santap. Peluang itu ternyata barang mentah yang masih perlu proses sampai betul-betul bisa dinikmati. Jadi melihat dan menemukan saja belum cukup, masih harus diproses bagaimana peluang itu bisa diambil manfaatnya secara maksimal.
· Tadi dikatakan bahwa agar perusahaan bisa eksis, maka harus memanfaatkan peluang. Kepastian adanya peluang itu akan lebih besar jika manajernya kreatif untuk selalu menciptakan sendiri peluang itu. Yakni dengan inovasi-inovasi produk baru, sistem baru atau proses baru.
· Menciptakan peluang kata para ahli sangat tergantung pada kemauan dan kreativitas. Manajer yang tangguh tentunya memiliki daya kreativitas yang tinggi. Berani mencoba dan tidak takut gagal. Hal yang kelihatannya tidak mungkin dilakukan kebanyakan orang justru dicoba dilakukan. Pertama mungkin ditertawakan orang. Dengan kegigihan dan pantang menyerah dengan perhitungan yang matang bisa jadi apa yang tidak mungkin tadi menjadi mungkin.
· Contohnya banyak, jika kita cermati orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang berhasil melihat sesuatu yang tidak mungkin tetapi terlihat mungkin dan mengganggapnya sebagai suatu peluang.
· Jaman kayak begini kalau jadi manajer tidak mampu melihat apalagi menciptakan peluang, sebaiknya SK pengangkatan sebagai manajer dikembalikan saja dari pada keburu lengser.
PEKA TERHADAP ANCAMAN
· Kita lihat 5 tahun terakhir ini banyak perusahaan yang tutup alias gulung tikar. Banyak perusahaan yang hidupnya Senin Kemis. Hidup tak kuat, mati tak ada niat. Banyak perusahaan terutama BUMN yang berjalan dan beroperasi dalam keadaan merugi terus menerus.
· Pengangguran semakin hari semakin banyak. Kemajuan teknologi bisa menjadi peluang tetapi juga bisa jadi ancaman. Banyaknya pengangguran adalah salah satu korban kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi yang betul-betul merupakan ancaman yang terealisir. Yang terkena dampaknya adalah orang-orang yang tidak siap atau tidak tahu kalau kemajuan teknologi adalah ancaman.
· Bagi yang tahu kalau kemajuan teknologi tersebut ancaman, maka mereka siap-siap dan mengantisipasi. Dan tidak itu saja, mereka menganggap sebagai peluang. Tandanya dengan kemajuan teknologi maka mereka tambah bisa eksis bahkan memanfaatkannya, sehingga bisa berkembang pesat.
· Ancaman memang menyerangnya tidak sekarang, tapi dikemudian hari. Ini sebetulnya baik-baik hatinya sebuah ancaman. Coba jika ancaman itu seketika melakukan serangan. Mungkin tidak ada waktu untuk mengantisipasi. Tetapi memang ancaman itu sebetulnya baik hati, cuma kita-kita saja yang tidak tahu dan tidak bisa mendeteksi adanya ancaman. Kalau toh tahu mungkin kita tenang-tenang saja tidak merespon. Begitu betul-betul kenyataan, baru sadar dan sudah terlambat.
· Seorang manajer memang harus peka terhadap ancaman. Perusahaan yang dikelola tidak pernah akan berjalan mulus tanpa ancaman. Jangankan perusahaan, kitapun sebagai manusia individu tidak pernah terlepas dari ancaman. Perusahaan yang banyak menggunakan berbagai sumber daya tentunya ancamannya juga semakin banyak dan intensitasnya lebih besar.
· Manajer yang tangguh akan peka terhadap ancaman. Sedikit ada tanda-tanda sesuatu yang bisa berpotensi jadi ancaman, dia akan bisa merasakan dan tentunya dengan sigap mengambil ancang-ancang untuk mengantisipasi. Dari pada ancaman tersebut keburu jadi kenyataan, maka segala upaya dilakukan. Bahkan bagi seorang manajer yang tangguh justru akan berusaha untuk merubah ancaman menjadi peluang. Kalau perusahaan dapat manajer seperti ini memang harapan, nggak kawatir kolaps.
TRAMPIL MEMBUAT PERENCANAAN
· Pada hakekatnya perencanaan adalah berfikir sebelum bertidak. Perencanaan adalah mengambil keputusan sebelum pelaksanaan. Dengan perencanaan diharapkan apa yang akan dilaksanakan akan bisa dicapai secara efektif dan efisien.
· Dalam membuat perencanaan ada beberapa pertanyaan yakni :
- Kegiatan apa yang akan dikerjakan.
- Mengapa kegiatan itu dikerjakan.
- Dimana kegiatan itu akan dilaksanakan.
- Kapan dan berapa lama kegiatan itu akan dikerjakan.
- Siapa yang akan mengerjakan kegiatan itu.
- Dengan cara apa kegiatan itu akan dilaksanakan.
- Berapa besar biaya dan pengorbanan yang akan digunakan.
· Perencanaan yang baik berarti separuh lebih dari kegiatan itu sudah dilaksanakan. Sebab dalam melakukan suatu kegiatan yang paling sulit dan memerlukan konsentrasi adalah pada saat membuat perencanaan. Oleh karena itu peran manajer dalam membuat perencanaan sangat dominan.
· Dalam membuat perencanaan tentu memerlukan kebijakan-kebijakan dari seorang manajer untuk landasannya. Disamping itu kesediaan sumber daya juga menjadi bahan pertimbangan yang sangat penting.
· Manajer yang tangguh dalam membuat perencanaan akan mempertimbangkan berbagai aspek, sehingga merupakan perencanaan yang realistis. Tidak muluk-muluk yang mungkin bisa dicapai dan dilaksanakan. Perencanaan yang tidak realistis mungkin hanya baik di atas kertas, tetapi tidak bisa dilaksanakan.
· Tentunya untuk membuat perencanaan yang realistis diperlukan pengalaman yang memadai, wawasan yang luas dan daya analisis yang kuat . Dan satu hal lagi yang penting, yaitu diperlukan mental yang sehat. Sebab begitu perencanaan ini terkontaminasi dengan mental yang kotor, maka akibatnya akan sangat fatal. Perencanaannya menyimpang tentu pelaksanaannya akan menyimpang.
· Kata orang perencanaannya baik dengan pelaksanaannya yang kurang baik masih mungkin menghasilkan sesuatu yang lumayan. Tetapi pelaksanaan baik untuk perencanaan yang salah, maka cenderung menghasilkan sesuatu yang kurang baik. Yang gawat perencanaannya jelek dengan pelaksanaan yang jelek hasilnya tentu amburadul.
MEMILIKI KEMAMPUAN MENGORGANISIR
· Perencanaan yang baik agar mendapatkan hasil yang baik harus diorganisir dengan yang baik pula. Mengorganisir kegiatan berarti membagi-bagi tugas atau pekerjaan menjadi bagian kecil, memilih orang dan menggerakkan untuk memulai .
· Mengorganisir suatu kegiatan tidak terlalu mudah, justru dari seluruh pelaksanaan kegiatan, mengorganisir termasuk yang perlu langsung melibatkan peran seorang manajer.
· Mengorganisir tidak begitu saja bisa dilimpahkan orang dibawah manajer, sebab mengorganisir kegiatan harus melibatkan beberapa bagian atau lintas bagian. Sehingga perlu power dan koordinasi.
· Memilih orang yang tepat untuk menangani bagian dari kegiatan adalah sangat penting. Keliru memilih orang, perencanaan yang sudah matang menjadi tidak jalan. Oleh karena itu seorang manajer harus mengetahui secara pasti kemampuan dan tingkat loyalitas bawahannya.
· Mengorganisir termasuk juga mengevaluasi apakah seluruh “ ubo rampe “ atau sarana dan prasarana kegiatan sudah tersedia dan siap untuk dioperasikan.
· Memulai kegiatan juga merupakan hal yang krusial. Memulai adalah pekerjaan yang sulit. Kata orang kegagalan suatu kegiatan karena tidak bisa memulai. Memulai membutuhkan energi ekstra. Butuh dorongan semangat. Dan ini harus dikomando oleh seorang manajer.
· Yang lebih penting lagi dalam urusan mengorganisir ini adalah memberikan pemahaman kepada seluruh yang terlibat agar persepsinya bisa sama. Bisa dibayangkan suatu kegiatan yang melibatkan banyak orang tetapi persepsinya masing-masing orang tidak sama, apa jadinya.
· Manajer yang mendapat predikat manajer tangguh tentu akan mampu melaksanakan pengorganisasian suatu kegiatan dengan baik. Tentu saja sudah memiliki ilmu dan bekal yang memadai.
· Manajer yang tangguh menyadari betul bahwa mengorganisir adalah tugasnya yang mau tidak mau harus dilaksanakan sendiri atau paling tidak keterlibatannya sangat dibutuhkan.
MAMPU MENGELOLA ANGGOTA TIM
· Seorang manajer tidak mungkin kerja sendirian. Dia pasti bekerja dengan bantuan orang lain. Orang lainpun tidak hanya satu atau dua. Tetapi banyak orang yang tergabung dalam satu tim. Jumlah tim inipun juga lebih dari satu.
· Kalau dalam satu tim terdapat banyak orang, tentunya mengelolanya lebih sulit dari pada satu orang. Sebab setiap orang pikirannya tidak sama. Masing-masing orang punya pendapat sendiri-sendiri. Satu orang bilang baik, belum tentu yang lain. Satu orang kepingin ke Utara yang lain bisa jadi kepingin ke Selatan. Satu setuju yang lain bisa-bisa justru membantah, bahkan menolak, itulah manusia. Setiap kepala maunya berbeda.
· Tugas berat seorang manajer untuk bisa mengelola seluruh anggota tim sehingga mereka mau diajak kerjasama dan mau memahami bahwa apa yang harus mereka lakukan adalah untuk kepentingan bersama.
· Manajer yang baik akan mencari trik-trik bagaimana seluruh anggota tim mau mengeluarkan potensinya masing-masing secara maksimal. Sehingga sinergi dari seluruh anggota tim akan menghasilkan out-put yang optimal.
· Masing-masing anggota tim memang kemampuannya berbeda-beda, bahkan bidang keahlihannya akan berbeda. Karena memang perbedaan keahlian ini dibutuhkan, sebab kegiatan tim menyangkut berbagai bidang. Masalahnya bagaimana seorang manajer mampu menjadi “ derijen “ sebuah orkestra tim yang harus memadu berbagai alat musik sehingga enak didengar.
· Kemampuan mengelola pribadi-pribadi anggota tim kelihatannya cenderung merupakan seni. Seni mengajak dan memotivasi mereka untuk bergerak searah dengan tujuan organisasi. Dan seni seperti ini harus dimiliki oleh seorang manajer. Kalau tidak, tentu kegiatan tidak akan berjalan normal.
· Menjadi catatan bagi seorang manajer yang tangguh bahwa keberhasilan dan kesuksesan atau prestasi seorang manajer akan sangat ditentukan kemam-puannya mengelola tim. Karena tim inilah sebetulnya yang langsung memberikan hasil kerja.
MENGUASAI SISTEM KONTROL YANG EFEKTIF
· Setiap manusia selain pikirannya berbeda-beda, juga ada kecenderungan untuk menyimpang dari yang seharusnya. Cenderung untuk egois mencari enaknya sendiri. Kecenderungan yang demikian itu memang wajar dan manusiawi. Tidak mungkin manusia itu selalu lurus dan berbuat baik terus. Ini menyalahi kodrat. Sebab Tuhan memberikan nikmat kepada manusia berupa nafsu baik dan nafsu jahat.
· Kata para ahli agama kalau makhluk itu berbuat baik terus namanya bukan manusia tetapi Malaikat. Sebaliknya kalau berbuat jelek terus namanya juga bukan manuasia tetapi setan. Sementara yang namanya manusia melakukan kedua hal yaitu berbuat baik dan berbuat jelek. Cuma kalau yang diperbuat banyak baiknya disebut manusia baik dan kalau yang dilakukan banyak hal-hal jelek disebut manusia jelek. Sementara manusia yang melakukan perbuatan baik dan jelek seimbang dinamakan manusia tanggung. Kata orang jawa “ wong magak “ ora apik ya ora elek, sedengan.
· Baik kita kembali ke peran manajer dalam melakukan tugas kontrol atau pengawasan. Mengapa harus dilakukan kontrol alasannya sudah jelas, yaitu adanya kecenderungan manusia untuk berbuat serong. Tetapi masalahnya bagaimana seorang manajer mampu mengontrol banyak orang dalam anggota tim secara efektif.
· Walaupun sebelum jadi manajer dulu telah banyak membaca dan belajar tentang ilmu pengawasan, tetapi dalam praktek ternyata yang dihadapi tidak linier seperti dalam teori. Banyak hal yang tidak ditemui dalam teori. Disinilah seorang manajer harus menciptakan sistem yang disesuaikan dengan keadaan dan kondisi. Bagaimana melakukan kontrol bisa efektif dan berdaya guna tinggi.
· Menurut penulis sistem kontrol yang baik itu adalah sistem yang memungkinkan untuk setiap orang mengontrol dan mengawasi diri sendiri. Dengan demikian manajer tidak harus setiap saat mengawasi setiap orang. Akan capek dan tidak mungkin dilakukan. Tentunya juga akan menghabiskan waktunya.
· Mengawasi diri sendiri 100 % memang tidak mungkin. Sebab seperti dibahas di atas bahwa setiap orang cenderung untuk menyimpang. Sebaliknya mengawasi orang lain 100 %, juga tidak mungkin.
· Manajer yang cerdik akan mengkondisikan sistem pengawasan dengan prosentase sebagai berikut : 75 % pengawasan dari diri sendiri, sementara : 25 % dilakukan oleh atasan atau manajer. Jika ini bisa dilakukan pengawasan akan efektif dan efisien.
MEMILIKI KEMAMPUAN ANALISIS
· Seorang manajer setiap hari akan disuguhi laporan. Mulai dari laporan produksi, keuangan dan laporan-laporan lain yang menggambarkan jalannya operasional organisasi.
· Membaca laporan dalam arti “ letterlijk “ tidak sulit anak SD saja bisa, tetapi membaca makna laporan itu yang tidak semua orang bisa.
· Laporan, pada hakekatnya adalah potret atau gambaran suatu proses atau perjalanan kegiatan. Laporan bisa dalam bentuk kata-kata dan kalimat singkat, bisa berbentuk angka-angka, bisa berbentuk tabel, grafik dan gambar-gambar.
· Untuk bisa membaca makna laporan, seorang manajer dituntut memiliki kemampuan analisa yang tajam. Mampu menganalisa angka-angka yang tersaji. Mampu mengkaitkan antara angka yang satu dengan angka yang lain. Dan akhirnya bisa diambil kesimpulan.
· Manajer yang cerdas begitu melihat laporan sudah langsung bisa melihat apa yang terjadi dalam organisasi. Mampu merasakan bagaimana perjalanan operasional organisasi. Bahkan dari laporan seorang manajer bisa memprediksi apa yang terjadi dimasa mendatang, sekaligus apa yang harus dilakukan untuk langkah antisipasi.
· Daya analisis yang tinggi tentu tidak semua manajer memiliki. Sebab untuk bisa melakukan analisa harus cukup ilmu, ketrampilan dan wawasan. Dan yang tidak kalah penting untuk bisa melakukan analisa dengan jitu adalah informasi.
· Manajer yang cerdik akan minta laporan apa saja yang diperlukan. Dia akan selektif dan format laporanpun tidak luput dari perhatian. Banyak dalam organisasi membuat berbagai macam laporan yang memakan banyak tenaga dan waktu, tetapi manfaatnya kurang. Jadinya hanya akan membuang-buang biaya, setelah jadi laporan tidak digunakan untuk pengambilan keputusan. Ditaruh begitu saja. Ditumpuk dan tidak pernah dibuka.
· Jaman sudah berubah, laporanpun dengan kenajuan teknologi harus dirubah baik sistem dan formatnya. Bahkan dievaluasi apakah laporan yang selama ini dibuat ada manfaatnya. Jika tidak dihilangkan saja agar tidak membuang-buang energi. Jaman sekarang butuh laporan yang praktis, singkat tetapi padat makna.
MAMPU MEMBUAT SKALA PRIORITAS
· Dalam suatu organisasi, masalah yang muncul tentu silih berganti, bahkan datangnya masalah bisa bersama-sama. Jumlah masalah yang harus ditangani juga banyak. Ada yang penting dan mendesak untuk ditangani. Ada yang penting tapi tidak mendesak, ada juga yang tidak penting tapi mendesak. Menghadapi kondisi yang demikian manajer harus bisa mengatur skala prioritas.
· Salah dalam menentukan skala prioritas akan menyebabkan kehilangan waktu dan tenaga. Bahkan yang lebih parah adalah kehilangan kesempatan dan peluang.
· Jaman yang penuh perubahan ini dan dibarengi persaingan yang ketat, menentukan skala prioritas menjadi sangat penting. Salah dalam menentukan prioritas berarti akan kalah dalam bersaing.
· Manajer yang tangguh akan bisa melihat masalah secara taktis. Dia akan mampu menilai mana masalah yang strategis dan yang kurang strategis. Dia bisa menentukan mana masalah yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan yang tidak. Dia mampu menggunakan daya nalar dan daya analisisnya untuk menilai suatu masalah, sehingga mampu menentukan skala prioritas.
· Bagi sebagian orang menentukan skala prioritas dianggap tidak penting, sehingga masalah akan ditangani secara “ urut kacang “ yakni mana yang datang lebih dulu ditangani lebih dulu, masalah yang datang belakang juga ditangani dibelakang. Padahal seharusnya tidak demikian.
· Manfaat ketepatan dalam menentukan skala prioritas sebetulnya banyak, selain dapat menghemat sumber daya juga dapat meningkatkan kinerja perusahaan, meningkatkan daya saing dan menghindari kebocoran dan pemborosan.
· Bagi manajer sendiri kemampuan membuat skala prioritas merupakan persyaratan yang tidak boleh ditawar-tawar. Karena setiap hari, setiap saat masalah akan muncul dan pada saat itu juga harus ditentukan dan diputuskan kapan masalah tersebut harus ditangani.
· Kredibilitas seorang manajer juga akan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam membuat skala prioritas.
MAMPU MENILAI BAWAHAN LEBIH OBYEKTIF
· Menilai prestasi bawahan sulit-sulit gampang, tetapi cenderung agak sulit karena faktor subyektivitasnya lebih menonjol. Wajar sekali seseorang dalam menilai orang lain akan dipengaruhi oleh bagaimana hubungan pribadi orang yang menilai dan orang yang dinilai. Nggak mungkin obyektif 100 %.
· Sebetulnya kalau kita mampu menekan tingkat subyektivitas seminimal mungkin, maka tingkat ketepatan dalam menilai prestasi akan semakin tinggi. Dan yang dikatakan sulit dalam menilai prestasi justru di sini. Subyektifitas merupakan penyakit kecenderungan yang sulit untuk dihilangkan, tetapi bisa dikurangi sekecil mungkin.
· Manajer yang ingin dipatuhi oleh bawahannya pasti akan berusaha untuk mengurangi subyektivitas dalam menilai mereka. Dia akan berusaha melihat secara obyektif kontribusi mereka pada organisasi. Dia menekan sekecil mungkin pengaruh-pengaruh hubungan pribadi tatkala dia harus memberikan penilaian prestasi.
· Dalam praktek memang banyak atasan bersikap “ pilih kasih “. Memberikan bobot yang tidak sesuai dengan kenyataan. Orang malas justru dinaikkan pangkatnya karena memang mempunyai hubungan pribadi. Sementara orang yang berprestasi karena jarang “ sowan “ dinilai kurang baik. Hal semacam ini bukan rahasia lagi dan banyak kita temui di mana-mana. Akibat yang ditimbulkan jika subyektivitas lebih menonjol adalah terjadinya koflik dan suasana kerja yang tidak kondusif. Suasana kerja menjadi panas, muncul intrik-intrik, muncul klik-klik dan saling curiga baik antar bawahan dengan atasan maupun antar bawahan sendiri.
· Jika kondisi seperti ini terus berlanjut sangat mungkin motivasi kerja akan menurun. Yang lebih parah akan timbul ketidak puasan yang merangsang untuk terjadinya protes atau demo. Jika demikian perusahaan akan sangat dirugikan.
· Manajer tangguh akan berbuat yang terbaik untuk organisasinya. Dia akan membuat kriteria-kriteria apa yang akan dinilai dari seorang karyawan. Karyawan diberikan pemahaman apa yang harus mereka lakukan untuk bisa dinilai berprestasi. Dengan mengetahui kriteria penilaian karyawan akan semakin semangat dalam menjalankan tugas.
· Tetapi akhirnya yang penting berpulang juga kepada Sang Manajer, bagaimana dia memberikan penilaian, konsisten atau tidak dengan kriteria yang sudah diberikan. Jika tidak, akan “ sami mawon “.
Mampu melakukan perbaikan
· Seorang manajer tangguh harus memiliki prinsip : Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
· Manajer yang tangguh harus mampu meningkatkan kualitas perusahaan baik SDM maupun profit.
· Selalu berpikir ke depan dan tidak mau terbebani oleh masa lalu yang kelam. Masa depan lebih baik dari masa lalu.
· Memperbaiki diri artinya selalu berusaha menggunakan waktu secara efektif dan efisien.
· Memperbaiki diri berarti selalu berpikir bagaimana caranya meningkatkan kinerja perusahaan agar bisa bertahan menahan gempuran dari banyaknya persaingan.
· Di era yang serba global ini perbaikan selalu diperlukan agar selalu berada di depan pada setiap perubahan.
· Bila hari ini sama dengan hari kemarin berarti kemandegan. Dan bila hari esok lebih buruk dari hari ini berarti kemunduran.
· Manajer yang tangguh akan memberdayakan segenap kemampuannya untuk membawa perusahannya melaju ke depan.
· Setiap kesalahan merupakan pengalaman berharga yang menjadi batu loncatan untuk memperbaiki diri.
· Kesalahan pasti selalu ada tetapi tiada perbaikan tanpa kesalahan. Kesalahan tidak menghalangi untuk melakukan sesuatu. Tiada masa depan tanpa kesalahan.
· Mottonya adalah :” Tiada hari tanpa prestasi”. Hari-harinya disibukkan untuk memperbanyak prestasi.
· Perbaikan tidak hanya menyangkut manajemen dan bawahan, tetapi yang paling penting adalah memperbaiki diri sendiri.
· Memperbaiki kemampuan manajerial, kemampuan emosional dan kemampuan spiritual. Perbaikan mencakup seluruh aspek kehidupan yang diperlukan bagi seorang manajer.
· Di jaman ini manajer yang cepat puas terhadap apa yang ada padanya akan cepat tersisihkan. Hidup selalu bergerak, dan setiap pergerakan berarti harus ada perbaikan.
· Manajer yang tangguh tidak mau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Disamping berhati-hati ia adalah seorang yang mampu berpikir taktis dan matematis.
· Setiap perbuatan dihitung secara seksama dan teliti untung dan ruginya.
· Sosok manajer yang tangguh harus punya kemauan kuat untuk belajar. Dengan selalu belajar ia akan semakin mudah menemukan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya.
· Sebagai manajer ia tidak bisa melihat kesalahan, saat itu juga berusaha untuk memperbaikinya. Kesalahan walau kelihatannya sepele tidak boleh diremehkan.
· Hancurnya perusahaan seringkali disebabkan oleh kesalahan-kesalahan sepele yang diabaikan begitu saja. Walau kelihatannya sepele namun cukup potensial untuk menjadi besar.
Mampu mengambil keputusan secara efektif
· Kredibilitas seorang manajer ditentukan oleh kemampuannya mengambil keputusan secara efektif.
· Membuat keputusan bagi seorang manajer adalah kewajiban. Mau tidak mau harus mau.
· Membuat keputusan itu tak semudah membalik telapak tangan. Harus cermat dan teliti.
· Minimal ada dua unsur penting dalam membuat keputusan yaitu : Pertama, memilih resiko yang paling kecil dengan manfaat optimal. Kedua, mudah diaplikasikan dan didukung oleh sebagian anggota organisasi.
· Sekali diputuskan tidak boleh diubah-ubah tanpa suatu sebab yang jelas dan alasan yang masuk akal.
· Seorang manajer harus berani mengambil resiko atas keputusan yang telah disepakati bersama.
· Jangan mudah membuat keputusan sebelum dipikirkan secara matang dan penuh perhitungan.
· Keputusan yang efektif akan mampu menggerakkan roda manajemen secara maksimal.
· Untuk mampu membuat keputusan yang efektif seorang manajer harus menguasai keadaan. Tahu kelemahan sekaligus kekuatan manajemen. Dan tahu pula apa yang menjadi cita-cita manajemen.
· Keputusan yang ada tidak boleh bertolak belakang dengan keputusan yang telah dibuat sebelumnya. Bila ada dua keputusan yang berbeda, maka kredibilitasnya akan turun di mata bawahan.
· Keputusan yang efektif akan memudahkan bawahan menjalankan tugasnya dengan optimal. Bawahan merasa memiliki kekuatan hukum sehingga tidak ragu-ragu dalam bekerja.
· Seorang manajer harus mengerti betul dampak atas keputusan yang dibuatnya. Keputusan yang keliru bisa menjadi bumerang bagi manajemen.
· Manajer yang bijak akan membuat keputusan dengan hati-hati dan tidak grusa-grusu.
· Keputusan harus mempertimbangkan kondisi real manajemen tanpa mengurangi idealisme.
· Manajer yang ingin mendapat nilai plus di mata bawahan pasti akan berusaha menjalankan keputusan secara konsisten dan konsekuen. Ia berani menanggung resikonya dan bertanggungjawab jika keputusan tersebut tidak sesuai harapan.
· Keputusan yang dibuat harus didasarkan pula pada strategi dan skala prioritas perusahaan.
· Sebagai manajer harus menyadari bahwa hidup matinya perusahaan sangat tergantung pada keputusan yang dibuatnya.
· Tetapi meskipun ia memiliki wewenang dalam membuat keputusan, sebaiknya keputusan tersebut dibuat dengan melibatkan bawahan.
· Jangan sekali-sekali membuat keputusan secara sembarangan, sehingga mudah sekali diralat. Hal ini akan membingungkan bawahan dan membuat fungsi manajemen tidak stabil.
· Ingatlah bahwa semakin tinggi jabatan semakin besar pula pengaruh dari keputusan yang dibuatnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar