PENDAHULUAN
· Pada hakekatnya kita sebagai karyawan atau pegawai senantiasa berperan ganda yaitu sebagai bawahan sekaligus sebagai atasan. Pada saat kita berperan sebagai bawahan kita menginginkan atasan yang baik dan bijak, demikian juga pada saat berperan sebagai atasan kita menginginkan sikap dan perilaku bawahan menyenangkan sesuai yang kita harapkan.
· Yang sering kita jumpai dan sering ditulis adalah bagaimana menjadi atasan atau pemimpin yang baik, sangat jarang sekali buku-buku dan literatur yang membahas bagaimana menjadi bawahan yang baik. Pada hal suatu organisasi akan berjalan baik jika pemimpin dan yang dipimpin sama-sama baik, walaupun yang mempunyai kewajiban untuk membuat “yang dipimpin” atau “bawahan” menjadi baik itu adalah atasannya, tetapi kalau para bawahan sadar bahwa seharusnya mereka juga mempunyai kewajiban untuk berperilaku baik maka proses berorganisasi untuk mencapai tujuan akan mudah tercapai.
MEMPUNYAI PRINSIP BAGAIMANA ATASANNYA BISA SUKSES
· Bawahan yang baik tidak hanya sekedar mampu meri-ngankan beban atasan tapi lebih dari itu yaitu berusaha sekuat tenaga bagaimana Boss bisa sukses, bagaimana Boss bisa berhasil, karena pada hakekatnya kalau Boss berhasil maka bawahannya juga berhasil . Sebaliknya kalau Boss gagal dalam menjalankan tugas berarti sebagian besar kegagalan itu disebabkan oleh bawahan.
· Jika prinsip seperti ini dimiliki oleh banyak para bawahan maka sangat optimis tugas-tugas dalam suatu organisasi akan berjalan lancar dan proses regenerasi akan terjadi secara mulus, suasana kerja menjadi sangat kondusif.
· Sayang sekali seringkali yang terjadi dalam praktek justru sebaliknya, bawahan tidak antusias untuk berusaha mendukung atasannya, “untuk apa kerja keras, paling-paling yang naik pangkat juga Boss” begitu alasannya. Pada hal kalau sedikit mau berpikir kalau Boss tidak naik pangkat berarti tidak ada lowongan jabatan, kapan yang bawah bisa naik, tapi kalau Boss naik jabatan, lho jabatan yang lama bisa ditempati.
BERUSAHA MEMBERIKAN SOLUSI KEPADA ATASAN
· Banyak pegawai setiap menghadap atasan selalu setor masalah, selalu setor kesulitan, selalu membuat pusing atasan, nggak mau berpikir “blas” sedikit ada kesulitan langsung menghadap Boss, sedikit-sedikit menghadap Boss, Bossnya sampai bosan. Bisa kita bayangkan kalau seorang Boss punya bawahan seperti ini sebanyak 10 orang saja bisa-bisa tidak bisa berpikir masalah yang strategis karena selalu disetori masalah-masalah teknis yang seharusnya dapat diselesaikan oleh para bawahan tersebut.
· Berbeda dengan bawahan yang satu ini, dia pantang keras hanya memberikan atau setor masalah pada atasan. Dia barusaha masalah-masalah yang ada selalu dicari solusinya lebih dulu dan akan menghadap Boss dengan membawa solusi atau alternatif pemecahan sehingga Boss tinggal memutuskan “ya” atau “tidak”, itulah bawahan yang tidak menyulitkan atasan
KALAU MASALAH BISA DISELESAIKAN SENDIRI TIDAK PERLU SAMPAI KE ATASAN
· Seorang pimpinan atau atasan seharusnya memang ber-pikir dan berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih strategis. Jangan sampai waktunya habis disibukkan dengan hal-hal kecil yang tidak ada nilai strategisnya dan bahkan sangat teknis.
· Bawahan yang baik faham dan “ngerti” akan hal itu sehingga apabila menemui masalah akan berusaha semaksimal mungkin untuk diselesaikan sendiri. Dia akan sangat malu kalau harus membawa masalah teknis ke atasannya. Dia akan merasa hancur martabatnya kalau harus menghadap ke atasan dengan membawa masalah yang seharusnya dia tangani. Dia merasa jatuh kredibilitasnya kalau menghadap atasan dengan masalah sepele yang seharusnya dia mampu menanganinya.
· Bawahan seperti ini biasanya “ngerti dewe” apa yang harus dia lakukan, ibarat suatu alat sudah “otomatis” bahkan “full otomatis”, ndak ngrepotne Boss blas.
TIDAK PERNAH MENOLAK PERINTAH SEPANJANG PERINTAHNYA TIDAK MELANGGAR HUKUM
· Bawahan yang menjadi lakon pada buku ini memang luar biasa. Dia selalu siap menjalankan perintah, bahkan di-pindah ketempat manapun dia dibutuhkan selalu siap tidak pernah menolak. Dalam benaknya selalu berpikir “dimanapun saya ditempatkan sama saja toh yang penting masih tetap bisa berkarya”. Orang seperti ini memang tidak mempermasalahkan tempat kerja, dimanapun dia berada akan selalu bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat.
· Mempunyai bawahan seperti ini tidak akan pusing kepala, orangnya mudah diatur, tugas dan perintah apa saja selalu direspon dengan positif.
· Berbeda kalau mempunyai bawahan yang sulit diatur, sok mbantah, bahkan malah sok ngatur, ini bikin atasan “mumet”, diberi perintah belum-belum sudah dibantah, mau dipindah ketempat lain tidak mau, ada saja alasannya, apalagi orangnya sok keminter dan merasa paling pinter, wis…..wis…..payah.
MENGINGATKAN ATASAN DENGAN CARA YANG SANTUN
· Yang namanya atasan kan juga manusia, yang sangat dimungkinkan akan berbuat salah dan menyimpang dari aturan. Bawahan yang baik tidak ingin Bossnya terjerumus karena langkah atau perbuatannya yang salah. Dia akan mengingatkan Bossnya dengan cara yang santun sampai Bossnya menyadari akan kekeliruannya tersebut. Dia akan mencari cara-cara untuk mengingatkan Bossnya sehingga beliau tidak tersinggung atau kehilangan muka. Bawahan yang satu ini akan hati-hati dalam mengingatkan Boss, karena jangan sampai salah terima, kalau gegabah bisa-bisa jadi lain masalahnya.
· Tapi masih sering kita jumpai bawahan yang sebaliknya, kalau bawahan yang ini bukan mengingat-kan tapi malah mencari-cari kesalahan atasannya untuk dijadikan senjata pamungkas menjatuhkan atasannya. Dia akan sibuk untuk menginventarisir kelemahan-kelemahan Boss sebagai “kartu truf”, yang sewaktu-waktu bisa digunakan. Bawahan seperti ini sebaiknya segera dipensiun saja kalau memang sudah tidak bisa dibina.
JIKA HARUS MENOLAK PERINTAH ATASAN DILAKUKAN DENGAN CARA YANG ARIF DAN BIJAK
· Seperti disinggung di muka bahwa sangat dimungkinkan Boss berbuat salah, dan apa yang diperintahkanpun bisa-bisa salah dan melangggar prosedur atau aturan. Kalau kebetulan perintah Boss dirasakan meyimpang dari aturan maka sebagai bawahan yang tahu ”unggah-ungguh” dan “toto kromo” akan menolak dengan cara-cara yang arif dan akan menjelaskan dengan penuh kerendahan hati mengapa perintah tersebut tidak harus dilaksanakan.
· Bawahan seperti ini biasanya mempunyai cara dan trik untuk mengingatkan Boss, sehingga Boss tidak merasa perintahnya ditolak mentah-mentah. Tetapi justru Boss menjadi memahami mengapa bawahannya menolak, dan Boss menjadi sadar bahwa perintahnya tersebut sangat membahayakan dirinya sendiri, bawahannya maupun organisasinya. Ya….memang lumayan kalau punya bawahan yang baik seperti ini.
SENANG MEMBERIKAN IDE DAN MASUKAN KEPADA ATASAN
· Bawahan yang kreatif memang banyak idenya. Dia senang sekali memberikan ide, masukan dan usulan pada atasannya. Dia merasa ada kepuasan jika telah memberikan ide-ide kepada atasan. Tidak peduli ide itu diterima atau tidak, dia tetap terus memberikan idenya. Dalam memberikan ide-idenya dia selalu mempersiapkan 2 hal, yaitu, siap untuk ditolak, dan siap untuk melaksanakan idenya kalau Boss berkenan.
· Bawahan seperti ini memang menyenangkan ada saja usulannya, kalau toh usulannya ditolak dia tidak sakit hati atau patah semangat, sebab dia memang sudah siap kalau-kalau usulannya ditolak. Menurut pertimbangan Boss yang lebih luas, jadi sangat mungkin usulan ditolak.
· Berbeda dengan bawahan yang malas memberikan ide dan usulan, kalau sekali saja ditolak idenya, dia akan patah semangat dan sakit hati, “huh…..awas ya….saya nggak akan mau lagi memberikan usulan, kapok“ begitu katanya.
JIKA MEMBERIKAN MASALAH SEKALIGUS MEMBERIKAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA
· Bawahan yang negatif biasanya hanya membawa masa-lah kepada Bossnya tanpa diikuti bagaimana jalan keluar-nya, malas mikir katanya, biar dipikir Boss saja, untuk apa Boss ndak disuruh mikir, toh Boss gajinya lebih besar, jadi ya seharusnya semua-semua dipikir oleh Boss. Karena bawahan gajinya kecil ya….setor masalah sebanyak-banyaknya kepada Boss biar Boss sedikit pusing, seimbang dengan gajinya yang besar.
· Berbeda dengan bawahan yang positif yang selalu mengesankan Bossnya, dia selalu berusaha semaksimal mungkin. Jika ada masalah sekaligus dia cari solusinya dan alternatif pemecahannya, jadi dia menghadap Boss membawa masalah sekaligus alternatif pemecahannya. Bawahan seperti ini sadar berapapun gaji yang diterima kalau memang sudah sepakat mau kerja ya apapun tugas dan tanggung jawabnya harus dilaksanakan.
MAU MEMIKUL TANGGUNG JAWAB YANG LEBIH BESAR
· Kebanyakan orang kalau tahu akan diberi tugas dan tang-gung jawab lebih besar akan lari terbirit-birit dan menolak. Dalam benaknya berpikir untuk apa menerima tugas dan tanggung jawab lebih besar kalau gajinya sama saja, kok cari sengsara saja, “arep dadi opo” kok cari kerjaan, kalau bisa malah santai-santai saja kok, toh gaji tetap tidak dipotong, kalau bisa kerja santai mengapa harus kerja keras dengan mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Tah usah ya…..
· Itulah cara berpikir bawahan yang “super malas” alergi pada tanggung jawab, tapi antusias dalam menuntut hak.
· Sangat berbeda dengan bawahan yang menjadi aktor dalam buku ini yaitu bawahan yang mengesankan atasan. Dia senantiasa mempunyai inisiatif dan proaktif untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Menurut dia tanggung jawab yang lebih besar akan memberikan suatu kepuasan tersendiri dan merupakan suatu bentuk aktuli-sasi diri. Bawahan seperti ini mempunyai prinsip kerja bahwa kalau ingin maju ambillah tanggung jawab yang lebih besar.
TAHU TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB YANG DIEMBAN ATASANNYA
· Bawahan yang baik tahu persis apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab atasannya. Dengan demikian dia akan lebih mudah untuk membantu atasannya, karena tahu persis apa yang harus dia lakukan. Dia tidak segan-segan bertanya pada atasannya apa yang menjadi tugas atasannya tersebut, bahkan dia akan mempelajari job discriptionnya. Selain untuk membantu kesulitan Boss- nya dia juga akan tahu batas-batas sehingga tidak melampaui kewenangannya. Dia memang bawahan yang mengerti bagaimana meringankan tugas atasan, kalau bawahan rata-rata seperti ini kelihatannya tidaklah terlalu sulit mengelola suatu organisasi.
· Tapi sayang dalam praktek tidaklah banyak bawahan seperti ini, yang banyak justru bawahan yang “ethok-ethok” tidak tahu atau berusaha untuk tidak tahu tugas dan tanggung jawab atasannya, jadi aman.
BERUSAHA MELENGKAPI KELEMAHAN ATASANNYA
· Bawahan yang baik mengerti dan manyadari bahwa setiap orang itu mempunyai kelebihan dan kelemahan, serendah apapun status bawahan pasti mempunyai kelebihan, sebaliknya setinggi apapun jabatan seseorang pasti mempunyai kelemahan termasuk para Boss-Boss, pemimpin-pemimpin dan atasan.
· Bawahan yang baik akan berusaha melengkapi atau membantu apa yang menjadi kelemahan atasannya sehingga terjadi proses “saling mengisi” untuk mendapatkan kerja sama dan sinergi yang baik.
· Berbeda dengan bawahan yang negatif, dia selalu mencari-cari kelemahan atasannya untuk dijadikan “gunjingan murahan“ dan dipakai sebagai senjata pamungkas untuk menjatuhkan atasannya tersebut. Mudah-mudahan bawahan seperti ini jumlahnya tidak banyak dan kalau kebetulan para pembaca ada yang mempunyai perilaku seperti bawahan yang negatif ini, buanglah perilaku itu biar tidak merepotkan diri sendiri dan orang lain.
MEMBANTU ATASAN DENGAN IHKLAS
· Banyak orang yang merasa berat dan enggan untuk membantu kesulitan atasannya, mereka berpikir untuk apa “soro-soro” membantu Boss, paling-paling hanya “beliaunya” yang dapat penghargaan, paling-paling justru “Dia” yang mendapatkan promosi, “kan kita rugi ndak dapat apa-apa”, “betulkan”, inilah cara berpikir bawahan yang keliru. Sebetulnya menjadi seorang bawahan itu harus menyadari bahwa tugas bawahan itu adalah membantu dan melaksanakan perintah atasan. Kalau atasannya berhasil itu berarti bawahannya juga berhasil karena yang melaksanakan tugas-tugas adalah bawahannya juga.
· Bawahan yang menjadi tokoh dalam buku ini perilakunya patut dicontoh, dia akan berusaha membantu atasannya secara maksimal dan penuh keihklasan. Dia berpikir bahwa kewajiban utamanya justru membantu dan melak- sanakan perintah dan tugas-tugas dari atasan dengan hati yang ihklas agar dalam pelaksanaan menjadi ringan dan dengan hati yang senang.
MERASA PERSOALAN ATASANNYA JUGA MENJADI PERSOALAN DIRINYA
· Kebanyakan karyawan menganggap bahwa persoalan yang dihadapi adalah terbatas pada persoalan atau masalah yang terkait dengan tugasnya saja, sedang persoalannya sang Boss “itu urusan Boss”, untuk apa ikut pusing-pusing memikirkannya, kok mau-maunya membantu Boss, biar diurusi yang gajinya besar, dan lagi paling-paling yang dapat “nama” juga hanya Boss, begitu komentar mereka. Karyawan yang model begini bisa dikategorikan sebagai karyawan yang tidak punya rasa “melu handarbeni” terhadap organisasinya, nggak mau tahu urusan organisasi.
· Berbeda dengan karyawan yang satu ini, justru karyawan yang patut menjadi “suri tauladan” bagi orang lain. Dia menganggap bahwa persoalan dan masalah organisasi-nya atau tempat kerjanya adalah masalah bersama seluruh anggota organisasi. Masalah yang dihadapi atasan juga merupakan masalah yang harus dibantu oleh para bawahan. Dia merasa dengan penuh kesadaran bahwa kewajibannya adalah termasuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi Bossnya.
MERASA KESALAHAN ATASAN JUGA KESALAHAN DIRINYA
· Agak sulit memang menemukan seorang bawahan yang mempunyai pandangan dan cara berpikir yang luas dan mempunyai tanggung jawab yang besar. Sadar apa yang terjadi adalah merupakan hasil dari usaha bersama, sebagai contoh hasil produksi yang menurun bukan hanya disebabkan oleh pimpinannya saja, tetapi para bawahan juga andil dan ikut menjadi penyebabnya. Sebaliknya jika produksi meningkat maka para bawahan juga andil dalam keberhasilan tersebut.
· Bagi bawahan yang baik, rasa tanggung jawab dan loyalitasnya sangat tinggi jika atasan mengalami kegaga-lan maka dia merasa ikut andil dalam kegagalan tersebut, sebab pada hakekatnya tugas bawahan adalah tugas atasan yang dibagi-bagi dan didistribusikan kepada para bawahan. Jadi kalau para bawahan bekerja baik maka hasil totalnya akan baik, tapi sebaliknya kalau para bawahan bekerja tidak baik maka hasil akhirnya tidak baik. Kegagalan Boss berarti kegagalan bawahan juga.
MENGANGGAP TUGAS YANG DIBERIKAN OLEH ATASAN SEBAGAI SUATU KEPERCAYAAN
· Bawahan yang mengesankan Bossnya akan selalu ceria dan senang walaupun mendapat tugas dan pekerjaan yang cukup banyak, semakin banyak semakin senang karena merasa mendapatkan kepercayaan. Karyawan yang baik seperti ini kalau diberi tugas cepat diselesaikan dengan hasil yang memuaskan. Dalam bekerja dia hanya berpikir bagaimana cara memaksimalkan potensi dirinya untuk mengimbangi kepercayaan yang telah diberikan oleh atasannya. Dia akan berusaha bagaimana untuk tidak “mencederai” kepercayaan tersebut. Menurut karyawan seperti ini kepercayaan itu maha sulit untuk mengembalikan.
· Pemahaman dari bawahan yang baik ini bahwa kalau mendapat tugas itu dirasakan sebagai suatu kepercayaan maka tugas itu akan terasa ringan dan penuh semangat dalam menjalankan tugas, sebaliknya jika tugas-tugas dirasakan sebagai beban maka sekecil apapun tugas itu akan terasa berat dan enggan untuk melaksanakan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar