Kamis, 22 Januari 2009

MODAL DASAR SEORANG PEMIMPINAN

MEMILIKI KARISMA
· Seorang pemimpin idealnya adalah sosok yang memiliki karisma. Nasehat seperti ini sering kita dengar dan kita baca.
· Pemimpin yang karismatik akan dijunjung tinggi oleh orang-orang di sekitarnya.
· Karisma yang dimiliki akan dapat mempengaruhi orang lain, sehingga memudahkan tugas-tugas yang diembannya.
· Siapapun pasti akan menaruh hormat pada pemimpin yang memancarkan karisma dalam kepemimpinannya.
· Tetapi tak semua pemimpin memiliki karisma, karena karisma bukan sesuatu yang mudah didapat.
· Ada memang orang-orang tertentu yang memiliki karisma sejak lahir, tetapi jumlahnya teramat sedikit.
· Orang yang memiliki karisma berarti ia adalah orang pilihan.
· Berbahagialah mereka yang memiliki karisma sejak lahir, karena ia tidak perlu bersusah payah membangunnya dari nol. Asal saja bisa menjaganya, karena godaannya juga tidak kecil.
· Karisma dapat dibangun dengan mengembangkan sifat-sifat mulia pada diri kita.
· Faktor-faktor pembentuk karisma antara lain; kejujuran, keadilan, tanggungjawab, kedisiplinan, amanah, toleransi dan sebagainya.
· Tidak semua orang memiliki semua faktor tersebut, itu artinya karismanya belum sempurna. Sedikit sekali yang akhirnya berhasil membangun karismanya dengan susah payah. Tetapi pengorbanannya tersebut diganti dengan kemuliaan hidupnya.
· Tetapi karisma seseorang bisa luntur karena yang bersangkutan tidak dapat menjaganya dengan baik. Misalnya, ketika masih orang kebanyakan, karismanya tinggi. Tetapi begitu sudah dapat pangkat, tiba-tiba sifat mulia yang dimilikinya tanggal satu demi satu. Dulunya alimnya bukan main, ketika menjadi pejabat sukanya mabuk-mabukan. Dulu menjauhi godaan perempuan sekarang malah senang kalau digoda.
· Pemimpin yang berdimensi dunia akherat pasti akan menjaga sekuat tenaga karismanya. Sebab, niatnya untuk membangun karisma bukan untuk mengejar jabatan, melainkan semata-mata karena mencari ridho-Nya.
· Karisma itu derajatnya jauh lebih tinggi dari jabatan. Kalau dipaksa memilih, lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan karismanya.
· Karena itu jangan sekali-sekali menukar karisma dengan jabatan, karena nilainya sangat tidak sepadan. Lebih baik menjadi Ketua RT yang karismatik daripada menjadi lurah yang tidak memiliki karisma sama sekali. kehilangan karisma sama artinya dengan kehilangan harga diri.
· Seorang pemimpin harus mampu tampil sebagai pemimpin yang karismatik dengan berprinsip bahwa tiada kepemimpinan tanpa karisma.
· Menyadari betapa vitalnya karisma, seorang pemimpin harus mampu membangun karismanya dengan selalu menjaga citra dirinya sebagai pemimpin yang berkualitas.
· Selalu berpikir positif dan tidak mudah berprasangka buruk pada bawahan dan rekan sejawat.
· Ada orang yang tidak punya jabatan tetapi memiliki karisma, sebaliknya ada orang yang punya jabatan tetapi tidak memiliki karisma sama sekali.
· Hal-hal seperti ini banyak dijumpai di mana-mana, tetapi kebangeten jika ada pejabat yang tidak mempunyai karisma sama sekali. Dengan apa ia memimpin?

MAMPU MEMPENGARUHI ORANG LAIN
· Minimal seorang pemimpin itu memiliki pengaruh dan mampu mempengaruhi orang lain.
· Dengan pengaruhnya ia dapat mempengaruhi orang lain, minimal orang yang setia kepadanya.
· Pengaruh itu bisa berupa harta kekayaan atau ketinggian ilmunya. Seyogyanya memang demikian, seorang pemimpin kurang afdol jika seorang fakir atau tak punya ilmu sama sekali.
· Kita mampu mempengaruhi orang lain jika kita mampu menjadikan orang lain menjadi penting.
· Manusia pada dasarnya butuh eksistensi diri dan pengakuan dari orang lain. Agar diakui ia memformat dirinya sedemikian rupa sehingga menjadi orang penting. Menjadi penting itu penting untuk sebuah identitas diri.
· Kita juga bisa mempengaruhi orang lain jika kita mampu menampilkan diri sebagai pemecah masalah. Tanamkan jargon dalam diri kita – kita datang semua beres.
· Menjadi pemimpin itu memang dituntut sempurna, baik dalam sikap maupun perbuatan.
· Bekal minimal agar mampu mempengaruhi orang lain adalah memiliki cara pandang yang positif.
· Pola pikir positif senantiasa mengarahkan pikiran kita pada harapan-harapan, selalu optimis sehingga orang lain akan bangkit semangatnya.
· Kita bisa mempengaruhi orang lain jika kita mampu mengambil hatinya. Berpikir seperti mereka, menempatkan diri sejajar dengan mereka sehingga seolah-olah tiada jarak antara kita dengan mereka.
· Kita adalah mereka dan mereka adalah kita. jangan sekali-sekali mengesankan kita lebih tinggi atau mereka lebih rendah dari kita. Kita dan mereka adalah sama. Pahamilah bahwa manusia itu sama, yang membedakan adalah kadar taqwanya.
· Seorang pemimpin adalah pelayan bagi masyarakat, sedangkan seorang penguasa adalah raja bagi masyarakatnya. Bekali diri kita dengan kesiapan untuk berkorban.
· Berkorban baik waktu, tenaga, pikiran, harta maupun nyawa sekalipun. Berikan segala apa yang kita miliki dan jangan sekali-sekali berharap memiliki hak orang lain.
· Menjadi seorang pemimpin, artinya kita merelakan sebagian diri kita menjadi milik orang lain. Sebagian dari milik kita, apapun namanya kita waqafkan untuk kepentingan umum.
· Orang lain akan menurut kepada kita apabila kita memiliki keahlian atau kelebihan. Kita lebih gampang mempengaruhi orang lain kalau kita memiliki keahlian atau kelebihan.
· Keahlian apa saja, tetapi diakui oleh orang lain. Mereka mengakui keahlian dan kelebihan kita, sehingga mereka menjadi lebih percaya kepada kita.
· Orang lebih percaya pada ahlinya daripada kepada orang lain yang ilmunya pas-pasan. Orang lebih patuh pada orang yang memiliki kelebihan daripada kepada orang biasa-biasa saja.
· Kita tidak boleh menjadi pemimpin hanya dengan modal yang pas-pasan. Resikonya sungguh besar.

MEMILIKI KEMAMPUAN MENGKOORDINIR
· Disamping memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mengorganisir kegiatan.
· Mengkoordinir artinya memilih orang-orang dan membagi tugas sesuai keahlian atau bidangnya serta mengkoordinir sehingga kegiatan berjalan seperti harapan.
· Seorang pemimpin tidak mungkin sendirian dalam melaksanakan tugasnya. Aktivitas kesehariannya membutuhkan peran serta para bawahannya.
· Kendati demikian, tak semua bawahan mudah menjabarkan apa keinginan atasan. Karena itu dalam membagi tugas betul-betul mempertimbangkan faktor keahlian disamping bakat dan karakteristik para bawahan. Seorang pemimpin harus pandai mendelegasikan tugas-tugasnya kepada para bawahan.
· Seorang pemimpin harus berprinsip : The man behind the gun. Orang yang tepat akan berdaya guna di belakang mesin yang tepat.
· Mesinnya bagus, tetapi SDM-nya rendah hasilnya pasti acak-acakan. Begitu pula SDM-nya bagus tetapi salah posisi sudah pasti tidak akan maksimal.
· Seorang pemimpin dituntut memiliki keahlian untuk menentukan posisi tugas bawahannya sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.
· Orang yang ahli dan dipekerjakan pada bidang yang menjadi keahliannya akan membuahkan hasil sesuai harapan.
· Job diescription sangat membantu mempermudah tugas-tugas kepemimpinannya.
· Seorang pemimpin bukan orang yang harus mampu mengerjakan semua tugas, tetapi mampu membagi tugasnya sampai habis kepada semua bawahannya. Seringkali ada atasan yang mengeluh karena beban tugasnya yang menumpuk, padahal seharusnya ia membagi tugas tersebut kepada para bawahannya.
· Sebenarnya tugasnya hanya mengawasi dan mengoreksi kembali tugas-tugas bawahannya, sehingga ia masih punya waktu untuk mengerjakan tugas-tugas lain yang hanya menjadi wewenangnya.
· Pemimpin yang demikian mempunyai dua kemungkinan. Pertama, ia tergolong pemimpin yang menganut pola kepemimpinan tertutup. Kedua, ia tidak mempunyai keahlian dalam membagi tugas-tugasnya.
· Keduanya berimplikasi buruk dalam membangun kinerja para bawahannya. Keduanya bukan pilihan yang tepat untuk jabatan seorang pemimpin. Keduanya menjadi bahan pertimbangan untuk segera diganti.
· Nampaknya sepele, tetapi keahlian mendelegasikan tugas bukan hal yang mudah dilaksanakan.
· Pendelegasian harusnya dilakukan dengan profesional dan obyektif.
· Profesional artinya dilandasi dengan pertimbangan-pertimbangan yang menguntungkan manajemen, sedangkan obyektif artinya tidak mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan kepentingan organisasi.
· Bila job diescription dilaksanakan dengan baik, tugas selanjutnya adalah mengorganisir sehingga masing-masing bagian menjadi kekuatan yang utuh dan terpadu.
· Kata kunci untuk berhasil membangun koordinasi adalah memiliki kemampuan mengorganisasi dan berkomunikasi dengan orang lain.

PANTAS MENJADI TELADAN
· Seorang pemimpin adalah seorang teladan. Teladan bagi orang lain dan lebih-lebih teladan bagi dirinya sendiri.
· Paradigma kepemimpinan haruslah mencakup semua dimensi kemanusiaan. Pemimpin bukan hanya dalam arti memiliki kecerdasan intelektual, emosional tetapi juga spritual.
· Pemimpin tidak identik dengan penguasa, pemerintah atau seorang Bos perusahaan besar. Nilai kepemimpinan mengatasi semua itu.
· Perubahan jaman membuat nilai-nilai kepemimpinan semakin longgar.
· Orang semakin sukar membedakan antara penguasa yang juga seorang pemimpin atau hanya seorang penguasa saja tanpa kepemimpinan.
· Di mana-mana banyak kita jumpai pemimpin dalam arti penguasa yang gagal menunjukkan jiwa kepemimpinannya. Sikap dan perilakunya lebih buruk dari orang kebanyakan. Suka mabuk-mabukan, main perempuan dan melakukan korupsi besar-besaran.
· Pemimpin yang berdimensi fisik dan spiritual, dunia dan akherat adalah figur yang selalu berada di depan.
· Kemampuan otaknya di atas kemampuan karyawannya, lebih-lebih etika dan moralitasnya selalu terjaga.
· Ia memimpin anak buahnya dengan pola-pola kepemimpinan yang Islami, artinya mencakup seluruh dimensi kepemimpinan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.
· Memimpin dengan perilaku, dengan perangai, dengan tindak tanduk dan perbuatan yang mencerminkan manusia yang berkualitas. Inilah kriteria ideal seorang pemimpin yang benar-benar terhormat.
· Dihormati bukan lantaran dirinya seorang pejabat, seorang penguasa, tetapi karena ia berhasil membangun dirinya menjadi pribadi yang unggul.
· Tidak pernah membiarkan dirinya ditempeli oleh aib yang membuat citra kepemimpinannya merosot.
· Pendeknya, ia menjadi pemimpin luar dalam. Ke manapun ia pergi, orang lain akan menghormati karena memang ia menghormati harkat kemanusiannya.
· Saat ini nampaknya susah untuk mencari pemimpin yang benar-benar bermakna pemimpin. Pemimpin yang mampu menjadi teladan bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri.
· Pergulatan hidup yang kian tak ramah membuat nilai-nilai keteladanan semakin ditinggalkan orang.
· Walau hati nurani manusia mendambakan pemimpin seperti itu, tapi ketika gilirannya sendiri ditunjuk menjadi pemimpin, ia merasa tidak sanggup.
· Kepemimpinan dan keteladanan itu sepertinya hanya bisa bersatupadu di dunia khayalan. Sungguh ironis rasanya.
· Semua itu nampaknya hanya ilusi seorang pemimpi. Benarkah demikian?
· Sadarkah kita bahwa dua kata itulah yang menuangkan harapan akan datangnya era yang lebih baik yang penuh dengan keteladanan dan kepemimpinan.

MEMILIKI KEMAMPUAN BERBICARA
· Kemampuan berbicara di depan publik penting sekali dimiliki oleh seorang pemimpin.
· Sebagai pimpinan atau manajer kemampuan berbicara nampaknya mutlak perlu. Sebab, tugas utama seorang pemimpin adalah menyampaikan program, rencana dan langkah strategi yang harus dilaksanakan kepada seluruh anggota organisasi.
· Menyampaikan presentasi di depan para investor untuk menjelaskan proposal, presentasi dalam seminar dan lokakarya juga merupakan tugas dan juga kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
· Kemampuan berbicara di depan publik akan mengandung daya pengaruh yang luar biasa bagi para pendengarnya.
· Jika berbicara di depan karyawan, ucapannya akan menyentuh hati nurani sehingga mereka akan melakukan apapun yang diperintahkan pemimpinnya.
· Bawahan akan segan dan menaruh hormat setinggi-tinggi kepada pemimpin yang pandai berbicara.
· Pintar saja tidak cukup jika kepintarannya tersebut tidak membekas di hati karyawan.
· Ada pemimpin yang luar biasa cerdasnya, tetapi ia gagal mempengaruhi anak buahnya lantaran bicaranya gagap. Diminta menjabarkan apa saja programnya ia tidak mampu, walaupun secara tertulis jelasnya bukan main.
· Tetapi karena kemampuannya berbicara nol, maka anak buahnya masih meragukan kemampuannya.
· Ada pula pemimpin yang kecerdasannya tidak terlalu tinggi, tetapi kecakapan bicaranya luar biasa. Pemimpin seperti ini biasanya lebih berhasil dalam mengelola anak buahnya.
· Idealnya, seorang pemimpin itu disamping memiliki kecerdasan yang tinggi juga dibarengi dengan kepandaian berpidato.
· Kata-kata yang diucapkan dengan gaya memukau dan memikat akan lebih berpengaruh daripada dalam bentuk tulisan.
· Kepintaran mengolah kata-kata dan mengucapkannya dalam kalimat-kalimat yang penuh wibawa merupakan nilai plus bagi seorang pemimpin.
· Pemimpin seperti ini akan lebih mudah mencapai puncak sukses, bahkan keahliannya tersebut akan mampu mengatasi ruang dan waktu. Pada saatnya, ia akan dikenal bukan hanya di internal organisasi, tetapi di eksternal organisasi namanya akan diperhitungkan.
· Kepandaiannya berbicara tersebut harus diikuti dengan sikap yang konsisten.
· Hanya pandai bicara doang, namun cenderung mengingkari ucapannnya sendiri, justru akan menimbulkan antipati. Sekali dua kali mungkin orang masih percaya, selanjutnya mereka akan menolak mentah-mentah.
· Sebagai pemimpin alangkah baiknya kalau mau belajar kepada mendiang Bapak Proklamator kita, Bung Karno dan ulama besar Buya Hamka, dua tokoh yang terkenal karena kepiawaiannya dalam berpidato.

MAMPU BERKOMUNIKASI DENGAN BAIK
· Komunikasi merupakan naluri alam manusia yang melekat sejak lahir.
· Komunikasi adalah kebutuhan pokok manusia, disamping kebutuhan untuk makan, berpakaian dan bertempat tinggal yang layak.
· Komunikasi secara sederhana diartikan sebagai kemampuan berhubungan dengan orang lain baik secara langsung (mulut ke mulut) atau melalui alat(telepon, internet, media massa) dan sebagainya.
· Komunikasi telah memegang peranan penting dalam peradaban manusia, tidak ada kemajuan yang menghenyakkan manusia kecuali komunikasi.
· Perkembangan komunikasi mengalami kemajuan pesat. Seolah baru kemarin kita saling berkomunikasi melalui media kertas (telegram, surat pos) tiba-tiba eranya sudah diganti dengan surat elektrik melalui telepon dan internet.
· Kemajuan tehnologi berdampak positif bagi komunikasi, jarak semakin pendek dan informasi dapat kita dapatkan dalam sekejap mata.
· Daniel Goleman dalam buku :”Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi” mengatakan bahwa mendengarkan dengan baik, merupakan syarat utama untuk empati dan juga penting bagi kecakapan komunikasi.
· Mampu mengendalikan suasana hati kita sendiri juga penting demi komunikasi yang baik.
· Sebuah studi terhadap 130 orang eksekutif dan manajer menemukan bahwa kecerdasan orang menangani emosinya sendiri menentukan seberapa besar orang mau berhubungan dengan mereka.
· Berusaha membangun suasana hati netral adalah strategi terbaik dalam mengantisipasi hubungan dengan orang lain.
· Suasana hati netral membuat kita siap untuk terlibat lebih dalam, untuk hadir lebih nyata ketimbang bila dengan emosi.
· Menjadi komunikator yang ulung adalah batu penjuru di antara semua ketrampilan sosial.
· Di kalangan para manajer, kecakapan dalam komunikasi menjadi pembeda yang nyata antara mereka yang berprestasi tinggi dan mereka yang berprestasi sedang atau buruk.
· Kurangnya ketrampilan ini dapat berakibat pada runtuhnya moral.
· Lebih baik kita tidak terjebak dalam suasana hati yang sangat menguras energi yang akan mengakibatkan hambatan terjalinnya interaksi yang lancar. Jika kita bergabung ke dalam suatu percakapan ketika kita sedang dikuasai suasana hati yang tidak netral, orang lain bisa jadi akan menganggap kita tidak siap.
· Sosiolog Irving Goffman disebut ‘jauh’, yakni kelihatan terlibat dalam percakapan padahal pikirannya ke tempat lain.
· Kemampuan untuk tetap ‘berkepala dingin’ membantu kita menyisihkan pikiran yang membebani untuk beberapa saat, dan tetap luwes terhadap reaksi emosi kita sendiri.
· Orang yang dapat tetap menguasai diri dalam keadaan darurat atau ketika menghadapi kepanikan atau kecemasan orang lain berarti mempunyai kendali diri yang meyakinkan, karena itu dapat dengan mulus memasuki suatu percakapan dan tetap terlibat secara efektif.

MAMPU BERDIPLOMASI
· Diplomasi memegang peranan yang cukup penting bagi manajer dalam menjalankan fungsi manajerialnya.
· Sebagai manajer yang tangguh dituntut untuk mengasah kemampuan berdiplomasi agar seluruh transaksi yang dilaksanakan berjalan lancar.
· Kemampuan berdiplomasi bukan sesuatu yang ‘taken for granted’, namun melalui proses pembelajaran yang terus menerus.
· Kemampuan diplomasi ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah komunikatif dan menguasai persoalan.
· Tak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri.
· Tujuan diplomasi bukan untuk mengelabui konsumen, melainkan untuk menjelaskan kelebihan-kelebihan yang dimiliki yang belum diketahui oleh lawan bicara.
· Diplomasi dilakukan untuk meyakinkan orang lain dan menghilangkan keragu-raguan hatinya.
· Diplomasi yang berkualitas segera ditindaklanjuti dengan sikap yang konsisten serta konsekuen.
· Diplomasi tidak hanya menuntut kemampuan berbicara, melainkan juga kemampuan untuk merealisasikan isi pembicaraan.
· Kemampuan diplomasi juga diperlukan untuk mematahkan argumen-argumen lawan yang cenderung merugikan perusahaan.
· Ingatlah bahwa di dunia bisnis berlaku hukum rimba. Siapa yang kuat itulah yang menang.
· Menghindari persaingan yang tidak sehat dan saling sikut, dapat dikanter dengan kemampuan berdiplomasi.
· Pengalaman membuktikan banyak perusahaan yang gulung tikar karena kalah bersaing dengan perusahaan lain yang didukung oleh kemampuan diplomasi yang unggul.
· Kemampuan diplomasi tidak boleh dilakukan untuk menjelek-jelekkan perusahaan lain. Karena ini menyimpang jauh dari tujuan diplomasi itu sendiri.
· Berdiplomasi secara bijak sehingga dapat meningkatkan citra perusahaan tanpa harus merusak citra perusahaan lain.
· Diplomasi bisa dikatakan sebagai kiat berkelit di masa sulit. Dengan diplomasi yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin.

MAMPU MENGGERAKKAN KEGIATAN
· Kegiatan rutin seorang yang sekaligus manajer adalah menggerakkan dan mengendalikan roda manajemen, mulai dari planning, organizing, actuating, dan controlling.
· Agar roda manajemen dapat berputar secara normal, seorang pemimpin dituntut memiliki strategi dan kunci-kunci sukses dalam mengendalikannya.
· Oleh karena itu seorang pemimpin harus mempunyai bekal ilmu manajemen yang cukup.
· Dalam manajemen, tugas ini menjadi salah satu tugas yang sulit.
· Menggerakan seluruh komponen organisasi akan berjalan sesuai fungsinya masing-masing membutuhkan ketrampilan khusus.
· Manusia bukan mesin yang tidak punya pikiran, problem yang dihadapi dalam menggerakkan manusia jauh lebih sulit daripada menggerakkan mesin. Manusia ada kalanya mogok, atau bahkan memberontak.
· Tidak mudah untuk menanamkan pengaruh kepada para bawahan yang memiliki beragam karakter. Berbeda dengan mesin yang sekali setel bisa langsung hidup, menyetel manusia membutuhkan keahlian tersendiri.
· Mesin kalau rusak problemnya pasti macet. Tetapi manusia kalau error malah akan menjadi ancaman bagi manajemen. Karena itu tidak boleh sembarangan melakukan penetrasi pengaruh kepada para bawahan.
· Berkaitan dengan tugasnya tersebut, seorang pemimpin semestinya menjadi motivator bagi para bawahannya.
· Motivasi yang tidak tepat, anak buah akan cenderung sukar dikendalikan.
· Seyogyanya seorang pemimpin menyadari posisinya sebagai poros, tempat semua persoalan bertumpu kepadanya.
· Kemampuan menggerakkan masing-masing bagian akan menghasilkan produk yang diinginkan manajemen.
· Bawahan biasanya menunggu apa katanya atasan, biarpun job diescription sudah diberikan dengan jelas. Ini memang budaya yang sulit dihilangkan dari mental bangsa ini. Tetapi dengan motivasi yang pas budaya tersebut dapat diminimalkan.
· Sebagai seorang pemimpin dituntut untuk memahami karakter masing-masing bawahannya. Yang dibutuhkan terutama adalah sentuhan kejiwaan, karena dengan inilah hati mereka akan terbuka.
· Kalau ingin menjadi motor penggerak yang cespleng, seorang pemimpin harus mendasari pola-pola kepemimpinannya dengan hati nurani
· Manusia adalah makhluk yang berperasaan, sehingga harus diladeni dengan perasaan pula.
· Pemimpin yang cenderung memerintah dengan gaya yang formalistis susah untuk mengambil hati mereka.
· Seyogyanya tehnik-tehnik motivasi dikuasai betul oleh seorang pemimpin yang menghendaki anak buahnya tunduk dan patuh padanya. Dalam arti mau mendengarkan apa kata-katanya, tetapi tetap mengedepankan rasionalitas. Sebab, tunduk dan patuh secara membabi buta justru akan merugikan dirinya sendiri.

MAMPU MEMBANGUNKAN SEMANGAT BAWAHAN
· Idealnya seorang pemimpin adalah sekaligus seorang motivator. Tidak boleh tidak, demikianlah seharusnya.
· Tugas ini merupakan keniscayaan sebagai pucuk pimpinan yang bertugas membangun motivasi kerja bagi para anak buahnya.
· Pemimpin adalah titik sentral dan titik awal sebuah langkah akan dimulai.
· Motivasi akan lahir bila pucuk pimpinan menyadari fungsinya sebagai motivator. Tugas ini tak boleh diabaikan karena kita tahu motivasi merupakan sarana vital dalam membangun semangat kerja di kalangan karyawan.
· Motivasi bisa diwujudkan dalam bentuk kepedulian kepada orang lain.
· Bagi seorang pemimpin, kepedulian ini akan mampu membangkitkan motivasi anak buahnya.
· Kepedulian akan menimbulkan empati. Empati membuat orang lain sungkan dan segan pada kita, secara tidak langsung empati membuat orang lain merasa berhutang budi kepada kita.
· Motivasi akan tumbuh jika seorang pemimpin mampu menjadi pendengar yang baik. Pemimpin yang baik adalah sosok yang mampu bertindak sebagai bapak bagi bawahannya.
· Pemimpin yang motivator bertujuan untuk meyakinkan orang lain.Agar orang lain yakin atau termotivasi, terlebih dulu kita harus membenahi diri kita sendiri.
· Motivasi itu tidak harus selalu melalui ucapan yang hebat dan membakar semangat. Bahkan dalam kediaman itu tersimpan motivasi.
· Motivasi akan lahir dengan keteladanan, atau perilaku kita sehari-hari walaupun kita tak pernah meminta mereka untuk mencontoh diri kita.
· Kuncinya adalah seberapa jauh kita mampu meyakinkan orang lain.
· Selain memiliki kepedulian terhadap orang lain, seorang pemimpin harus pula berusaha mengerti keinginan orang lain.
· Menempatkan diri sendiri seperti orang lain, atau dalam bahasa Jawanya disebut ‘tepa selira’. Bukan sebaliknya, memaksa orang lain mengerti kemauan kita.
· Seorang pemimpin adalah orang yang bersedia mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya.
· Dengan kata lain, kita harus bersikap demokratis. Kita ini berasal dari mereka, dipilih oleh mereka dan untuk mereka.
· Tidak pantas bagi kita untuk bersikap otoriter, terlalu memaksakan kehendak sendiri dan mengesampingkan aspirasi dari arus bawah.
· Kita ini pelayan, seorang pemimpin adalah seorang pelayan. Keliru jika ditafsirkan sebagai seorang penguasa.
· Seorang pemimpin akan berhasil menjadi motivator jika bisa bersikap : Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat dan di belakang memberikan dorongan.

MEMBERIKAN PENGAYOMAN KEPADA BAWAHAN
· Manajer yang bijak adalah manajer yang mampu memberikan perlindungan kepada bawahannya.
· Mampu berperan layaknya seorang bapak kepada anak-anaknya.
· Mampu memberikan rasa aman baik secara fisik maupun psikis.
· Menganggap segala sesuatu yang mengancam anak buahnya seperti ancaman untuk dirinya sendiri.
· Bertanggungjawab penuh atas tugas-tugas yang dibebankan kepada anak buahnya.
· Kesalahan anak buah adalah kesalahannya juga. Tidak ada alasan untuk mengelak atau lari dari tanggungjawabnya sebagai seorang pimpinan.
· Mengerti setiap kesulitan yang menimpa anak buahnya dan berusaha sedapat mungkin untuk membantu.
· Berperan sebagai ‘payung’ yang bisa memberikan rasa teduh dan damai, sehingga bawahan merasa aman dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.
· Jaminan rasa aman dan terlindungi merupakan salah satu bentuk prasyarat meningkatnya motivasi dalam bekerja.
· Utamanya jaminan keamanan tentang masa depan. Bawahan akan merasa tenang bekerja jika ada jaminan bahwa perusahaan tempatnya bekerja tidak gampang mem-PHK-kan karyawannya.
· Memberikan bantuan hukum jika bawahan mengalami masalah dengan pihak lain terkait dengan tugas-tugasnya.
· Memahami betul bahwa bawahan mendambakan rasa aman psikologis. Rasa aman ini memiliki pengaruh positif yang nilainya tak dapat ditukar dengan uang.
· Bawahan lebih memilih bekerja di perusahaan yang memberikan rasa aman psikologis dengan gaji yang tak seberapa besar daripada bekerja di perusahaan yang memberikan gaji besar tetapi tidak ada jaminan rasa aman psikologis.
· Sebagai manajer hendaknya memahami bahwa kebutuhan rasa aman merupakan kebutuhan pokok manusia yang seringkali terabaikan.
· Perusahaan akan berjalan lancar apabila bawahan merasa segala kebutuhannya tercukupi dengan baik.
· Dan kebutuhan pokok bawahan bukan hanya gaji, tetapi juga rasa aman baik secara psikologis maupun secara hukum.




BERSIKAP ADIL
· Manajer yang tangguh hendaknya menuntut dirinya mampu bersikap adil.
· Adil adalah aspek terpenting dalam wacana kepemimpinan. Tiada kepemimpinan tanpa keadilan.
· Pemimpin yang benar-benar pemimpin adalah pemimpin yang memimpin dengan penuh keadilan.
· Keadilan merupakan syarat mutlak tegaknya kepemimpinan. Banyak manajer yang gagal memimpin bawahan karena sikap dan perilakunya yang tidak adil.
· Adil dalam segalanya, adil dalam menilai prestasi dan sanksi bagi bawahan, adil dalam memberikan perintah dan teguran dan utamanya adalah berlaku adil terhadap diri sendiri.
· Adil artinya menempatkan diri di tengah-tengah dan bersikap netral. Adil harus diberlakukan secara universal tanpa kenal saudara, kerabat, teman dekat, anak atau istri.
· Adil tidak mengenal ewuh pakewuh dan rasa sungkan. Keadilan hanya mengenal benar atau salah. Yang benar dilindungi dan yang salah dihukum.
· Tapi adil itu tak semanis di bibir. Adil sangat terasa getirnya di dalam praktik. Manis dibibir tapi pahit di tangan.
· Adil hanya nampak indah di awang-awang namun menjadi suram ketika turun ke bumi. Antara teori dan praktik sejauh jarak antara langit dan bumi.
· Adil adalah barang yang langka. Pemimpin yang adil bisa dihitung dengan jari, sebaliknya yang tidak adil tak terhitung lagi banyaknya.
· Pemimpin yang adil paham benar pepatah :”Raja Adil raja disembah, raja lalim raja disanggah”.
· Keadilan meningkatkan motivasi dan ketidakadilan meruntuhkan motivasi. Pemimpin yang tidak adil berpeluang besar menghancurkan motivasi bawahan.
· Manajer yang mendambakan karirnya “mulus lus” tanpa hambatan harus mulai belajar untuk bersikap adil.
· Keadilan akan menumbuhkan cinta dan cinta konon mengalahkan segalanya. Manajer yang adil akan dicintai bawahannya.
· Saat ini untuk menjadi manajer tidak cukup yanya pintar tapi juga harus bijaksana. Dan salah satu aspek terpenting untuk menjadi manajer yang bijaksana adalah mampu bersikap adil.
· Sudah saatnya jaman ini dipimpin oleh orang-orang yang memiliki keadilan.

MEMEBERIKAN PERINTAH SECARA BIJAK
· Perintah adalah perangkat yang harus ada di dalam hubungan antara atasan dengan bawahan.
· Perintah diperlukan selama manajemen menganut sistem hierarki untuk menjalankan roda organisasi.
· Perintah bisa bermakna positif, tetapi juga tak bisa sepenuhnya bebas dari makna negatif. Orang yang paling berperan penting dalam perintah adalah pimpinan.
· Perintah akan berdampak positif jika dilakukan dengan bijaksana, dan berdampak negatif jika sebaliknya.
· Perintah telah menjadi keharusan, orang tidak bisa melepaskan diri dari memberikan perintah dan menerima perintah.
· Kehidupan ini akan berjalan dinamis selama ada perintah. Contohnya matahari pasti akan berhenti berputar jika Tuhan memerintahkan kepadanya untuk berhenti. Perusahaan akan bangkrut apabila komponen pendukungnya menolak perintah manajemen.
· Makna perintah tergantung pada situasi dan tempat di mana perintah tersebut dilakukan.
· Perintah akan menjadi efektif dan efisien kalau diberikan secara bijak.
· Perintah akan dapat dilaksanakan dengan sempurna kalau disesuaikan dengan kemampuan bawahan.
· Seorang pimpinan dituntut mampu memahami kemampuan masing-masing bawahannya.
· Memahami kemampuan bawahan itu menjadi salah satu syarat utama bagi suatu perintah agar dapat dilaksanakan dengan baik.
· Perintah yang esensinya merupakan tugas dari seorang atasan kepada bawahan tak dapat dilepaskan dari potensi bawahan yang bersangkutan. Potensi berpengaruh besar bagi suatu tugas.
· Atasan yang bijaksana memahami benar prinsip the right man in the right place. Perintah yang pas dengan kemampuan orang yang menjadi pelaksana perintah tersebut ibaratnya tumbu oleh tutup. Klop. Kalau toh ada kesalahan, pastilah tidak terlalu banyak. Wajarlah, namanya saja manusia.
· Sebelum memberi perintah seorang atasan harus memahami bagaimana sikap dan karakter bawahannya.
· Peringatan bagi atasan. Jangan memberikan perintah kepada bawahan yang kondisi mentalnya sedang kalut atau emosinya tidak stabil!
· Sebab, lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Mental yang sedang kalut dan emosi yang tak terkontrol mudah mengarah ke tindakan yang negatif.
· Tunggu sampai bawahan bisa mengendalikan emosinya. Atau biarkan ia memuaskan diri dengan emosinya, setelah reda barulah didekati.
· Tidak etis memberikan perintah kepada bawahan yang sedang dirundung kesusahan.
· Pimpinan yang ingin segalanya berjalan lancar tidak akan berani mengambil resiko dengan memberikan perintah kepada bawahan yang sedang terguncang jiwanya.
· Kesimpulannya, mengamati kondisi mental dan emosi bawahan itu merupakan tugas sampingan seorang atasan.

MEMBERIKAN TEGURAN SECARA BIJAK
· Perintah dan teguran adalah ‘napas’ organisasi. Ada perintah pasti ada teguran. Perintah diberikan atasan kepada bawahan dengan tujuan agar program-programnya dapat terdistribusi dengan baik. Sedangkan teguran diberikan dengan maksud agar bawahan selalu bekerja sesuai dengan norma dan koridor yang ada.
· Pengalaman membuktikan bahwa menegur bawahan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Kalau tidak hati-hati malah akan menjadi bumerang bagi atasan. Atasan yang benar-benar berpikir bagaimana mengelola dan memberdayakan potensi bawahannya, pasti akan bersikap bijak ketika terpaksa menegur bawahannya.
· Teguran agaknya telah menjadi pemanis kehidupan ini. Hampir tiap hari kita mengakrabinya, kadang kita yang memberi teguran, di lain waktu diri kita yang kena tegur.
· Teguran adalah sesuatu yang biasa dan harusnya disikapi dengan biasa pula.
· Berpikir secara dewasa merupakan kiat menempatkan teguran pada posisi yang sebenarnya.
· Bersikap bijaksana dalam memberi teguran kiranya menjadi kemutlakan jika menginginkan teguran tersebut direspons sebagaimana mestinya oleh bawahan. Teguran semestinya mendorong bawahan lebih giat bekerja, bukan malah sebaliknya.
· Teguran akan menjadi efektif dan efisien kalau diberikan secara bijak.
· Menegur bawahan di muka umum sangat tidak efektif, bahkan cenderung kontraproduktif.
· Menegur secara empat mata merupakan cara yang cukup efektif dan bijak. Cara ini sangat efektif karena bawahan tidak punya beban
· Gunakan kata-kata yang halus dan sopan seperti umumnya digunakan kepada orang lain. Jangan lantaran karena anak buah bersalah, maka atasan bisa menggunakan kata-kata yang merendahkan harga dirinya.
· Pilihlah kata-kata yang beretika agar bawahan tidak merasa sebagai orang hukuman.
· Pemilihan kata-kata itu penting karena dari kata-kata itu bawahan akan merasa apakah atasan berusaha menghukumnya atau sebagai ungkapan kasih sayangnya.
· Pemilihan kata yang tidak tepat akan menyisakan ‘bom waktu’ yang siap meledak kapan saja.
· Tegurlah bawahan jika merasa yakin bahwa bawahan memang berhak ditegur karena kesalahannya.
· Teliti dengan seksama benarkah bawahan yang bersangkutan telah melakukan kesalahan. Sudahkah cukup bukti untuk menyatakan bahwa dirinya bersalah? Lantas apa saja bukti-bukti itu? Dari mana asalnya bukti-bukti itu? Sudahkah ia mengecek bukti-bukti tersebut?











TIDAK SEGAN MEMINTA MAAF
· Pimpinan bukan orang yang bebas dari kesalahan dan diberi dispensasi untuk boleh tidak meminta maaf. Tidak ada aturan seperti itu.
· Terkait dengan kesalahan baik atasan maupun bawahan mempunyai kewajiban yang sama, tidak ada istilahnya anak emas dan anak tiri.
· Siapa yang salah dihukum dan yang berprestasi akan mendapatkan penghargaan. Semua akan berjalan dengan baik jika semuanya dilakukan dengan landasan yang adil.
· Meminta maaf itu justru akan memberikan citra positif terhadap kepemimpinannya.
· Pimpinan yang berjiwa besar pasti akan minta maaf jika berbuat kesalahan walaupun bawahannya tidak ada yang tahu kesalahan tersebut.
· Pimpinan seperti ini mudah untuk menarik simpati dari orang lain dan bawahannya. Mereka akan memberikan nilai positif dengan anggapan bahwa jika kesalahan kecil saja minta maaf apalagi kesalahan yang besar.
· Pimpinan yang minta maaf bukan tanda merendahkan dirinya dihadapan bawahan. Permintaan maaf itu tidak akan mengurangi wibawa dan gengsinya, justru sebaliknya ia akan semakin dihormati oleh bawahannya.
· Meminta maaf itu tanda kebesaran jiwa seorang pimpinan. Ini adalah teladan yang baik bagi bawahannya, sehingga mereka akan tergerak untuk menteladani apa yang dilakukannya. Saling memaafkan itu akan menimbulkan perasaan kasih sayang.
· Meminta maaf bukan perkara yang sulit. Apa susahnya minta maaf pada bawahan jika memang bersalah.
· Sebagai manusia yang baik dan sebagai pimpinan yang ingin citranya terjaga, meminta maaf ini nampaknya menjadi keharusan.
· Namanya saja bersalah pasti harus minta maaf, dong. Biarpun dirinya seorang pimpinan, tapi apa bedanya pimpinan dengan bawahan jika berbuat kesalahan.
· Meminta maaf merupakan tanda seorang pemimpin yang adil. Dengan meminta maaf ia telah bertindak terhadap kesalahannya sendiri.
· Imbasnya, bawahan akan semakin berhati-hati dalam bekerja. Mereka akan merasa malu terhadap kesalahannya sendiri, sehingga mereka semakin berhati-hati dalam bekerja.
· Seorang pemimpin tidak boleh bersikap tinggi hati dengan tidak mau mengakui kesalahannya sendiri.
· Gengsi untuk mengakui kesalahannya sendiri merupakan salah satu tanda pemimpin yang merusak tatanan.
· Gengsi mengakui kesalahan jelas akan menghancurkan motivasi bawahan.
· Gengsi yang keterlaluan akan melahirkan sikap mengkambinghitamkan orang lain. Pengkambing hitaman pada akhirnya akan menimbulkan penilaian yang subyektif pada bawahan.
· Sikap menangnya sendiri bukannya menguntungkan, malahan akan merugikan dirinya sendiri. Anda pasti tidak mau menjadi pemimpin yang merugi, bukan?


MUDAH MEMBERI MAAF
· Manusia adalah gudangnya salah. Adagium ini mungkin bisa menjernihkan pikiran dalam memahami kesalahan yang dilakukan bawahan.
· Siapapun, bukan hanya bawahan - pimpinan pun tak lepas dari kesalahan. Kesalahan bisa saja muncul tanpa disangka-sangka kendati sudah diantisipasi sebaik mungkin. Memahami kesalahan sebelum melakukan tindakan adalah tindakan tepat.
· Dalam bekerja pasti tak lepas dari kesalahan, apalagi jika bertumpuk-tumpuk banyaknya.
· Kesalahan bisa terjadi lantaran tenaga dan pikiran sudah terlalu letih atau pekerjaan tersebut di luar yang dikerjakan biasanya.
· Saking banyaknya pekerjaan dan ingin cepat selesai, maka ada beberapa point yang luput dari perhatiannya. Sepertinya sudah dikerjakan semua, tetapi ketika dikoreksi oleh pimpinan ternyata ada yang belum dikerjakan.
· Reaksi pertama yang harus dilakukan pemimpin yang bijak adalah mencoba memahami kenapa kesalahan tersebut terjadi.
· Tanyakan apakah pekerjaan tersebut terlalu berat untuknya atau hanya akibat kelelahan karena dikejar-kejar target?
· Dari jawaban itu pimpinan dapat melakukan tindakan yang tepat agar tidak terjadi kesalahan yang kedua kalinya di masa mendatang. Ia mestinya dapat memaklumi kesalahan tersebut.
· Dalam hal ini berpikir positif penting dikedepankan.
· Pimpinan yang arif pasti tidak sembarangan menuduh bawahannya tersebut sengaja melakukan kesalahan.
· Kesadaran bahwa dirinya sendiri pernah berbuat kesalahan serupa, mencegahnya untuk tidak sampai mentang-mentang dengan jabatannya.
· Bisa saja marah namun pasti ada dampak buruknya di kemudian hari.
· Kalau dengan baik-baik bisa diselesaikan, kenapa harus pakai cara-cara yang kasar. Kesalahan bukan harga mati, masih bisa diperbaiki.
· Bawahan pasti bersedia memperbaiki kesalahannya kalau pimpinan menyuruhnya dengan baik-baik. Bahkan ia pasti akan meminta maaf karena telah berbuat kesalahan, walaupun kesalahan tersebut tidak disengaja. Persoalan menjadi beres dan tidak akan timbul gejolak di kemudian hari.
· Berbeda jika pimpinan orangnya tak sabaran. Lihat kesalahan kecil saja sudah memuncak kemarahannya. Bawahannya didamprat habis-habisan dan pekerjaan-nya dilempar ke luar.
· Pimpinan seperti ini cepat atau lambat akan menuai akibat perbuatannya. Bawahan pasti antipati kepadanya.
· Ingatlah bahwa Tuhan saja mau memaafkan kesalahan manusia, kenapa kita tidak? dengan memberi maaf sebenarnya kita telah bertindak bijak.




MEMILIKI KEPEDULIAN YANG TINGGI
· Pemimpin yang benar-benar ideal dilandasi oleh hati nurani.
· Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya dengan hati nurani. Hati nuranilah yang memimpin setiap aktivitasnya, sehingga ia menjadi pemimpin yang tidak pernah kehilangan citra kemanusiaannya.
· Salah satu ciri yang menonjol tipe pemimpin ini adalah rasa kepeduliannya yang tinggi pada sesama.
· Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki kepedulian yang tinggi pada lingkungan sekitarnya, pada nasib anak buahnya, pada penderitaan orang-orang yang tidak beruntung nasibnya dan sebagainya.
· Hatinya selalu tergerak untuk memperhatikan sekelilingnya, adakah sesuatu yang kurang pantas. Adakah yang dapat ia lakukan untuk menolong mereka. Hatinya senantiasa bertanya-tanya.
· Seorang pemimpin yang menjiwai kepemimpinannya pastilah seorang yang memiliki kepekaan sosial.
· Mempraktikkan nilai-nilai kepemimpinan itu tidak terbatas di lingkup pekerjaannya saja, melainkan di tengah-tengah masyarakat.
· Pemimpin mengandung pengertian lebih luas daripada hanya seorang pejabat yang berkuasa. Seorang pemimpin tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dalam kepemimpinannya.
· Nabi Muhammad SAW hingga detik ini tetaplah seorang pemimpin walaupun beliau sudah wafat belasan abad silam.
· Muhammad adalah figur yang sangat tinggi kepeduliannya pada penderitaan sesama manusia, bahkan ia rela memberikan makanannya pada pengemis yang kelaparan. Padahal ia sendiri sudah berhari-hari tidak makan.
· Seorang pemimpin adalah orang yang senang melihat orang lain terlepas dari kesulitan hidupnya.
· Adakah pemimpin jaman sekarang yang mencontoh Muhammad?
· Pernahkah kita mendengar ada seorang pejabat yang merelakan gajinya untuk bawahannya yang kebetulan kesulitan keuangan ketika istrinya melahirkan?
· Kita tidak pernah mendengar, namun mudah-mudahan saja ada dan banyak jumlahnya. Semakin banyak pemimpin yang mau peduli pada sesamanya, semakin cepatlah bangsa ini keluar dari krisis kepemimpinan.
· Memimpinlah dengan hati nurani, agar kita dapat menjadi pemimpin yang universal.
· Memimpin dengan etika dan moral yang tinggi, memimpin dengan nuansa dunia dan akherat.
· Pemimpin adalah orang yang peduli pada kepemimpinannya.
· Memiliki kepedulian berarti selalu tergerak untuk melakukan sesuatu, jika terjadi keadaan yang tidak normal.



MEMILIKI KEPEKAAN TERDAPAT LINGKUNGAN
· Disamping memiliki kepedulian yang tinggi, manajer yang bernilai plus sangat peka terhadap lingkungan.
· Peka dalam arti selalu tergugah untuk memperbaiki segala sesuatu yang dirasanya tidak beres.
· Kepekaan itu diwujudkan ke dalam sikap dan tindakan yang mendorong masyarakat sekitarnya untuk memperbaiki diri.
· Baik menyangkut lingkungan hidup maupun tak hidup. Lingkungan hidup menyangkut kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat. Contohnya, berjudi atau minum-minuman keras.
· Lingkungan tak hidup meliputi penebangan liar, kebersihan got, ancaman demam berdarah dan sebagainya.
· Sebagai manajer perusahaan tidak boleh bersikap cuek terhadap lingkungan dengan alasan sibuk bekerja di kantor.
· Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat sama pentingnya dengan keberadaannya di kantor.
· Mampu menyatukan diri secara lahir batin dengan lingkungan tempat tinggalnya.
· Mampu menjadi pelopor untuk persoalan-persoalan yang menyangkut lingkungan. Sebab, keberadaan lingkungan akan turut mempengaruhi aktivitas kantor tempatnya bekerja.
· Tidak pelit mengeluarkan dana demi perbaikan lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Dan mau ‘disambati’ dana bagi kebutuhan yang menyangkut lingkungan.
· Sebagai manajer harus mampu menempatkan diri sekaligus berempati terhadap lingkungan dengan beranggapan bahwa lingkungan merupakan bagian dari hidupnya.
· Lingkungan yang nyaman dan tentram akan menjadi pendorong utama bagi masyarakat untuk maju. Dan kemajuan masyarakat merupakan sumbangan yang besar bagi kinerja perusahaan.
· Manajer yang bijaksana paham benar bahwa lingkungan punya andil besar bagi dirinya. Bukan hanya kantor yang memberinya kehidupan, tapi juga lingkungan di mana ia berdomisili.
· Sebagai manajer yang sadar betul eksistensi dirinya di tengah lingkungan, semestinya merasa berterimakasih kepada lingkungan yang telah memberinya kesempatan untuk menjadi salah satu bagiannya.
· Ungkapan terimakasih itu baiknya diwujudkan ke dalam sikap dan perilaku yang selalu menyelamatkan lingkungan dari kehancuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar