Rabu, 21 Januari 2009

PENINGKATAN MOTIVASI DIRI DI ERA PERUBAHAN

PENDAHULUAN
· Memotivasi kerja atau semangat kerja, adalah salah satu faktor penting dari prestasi seseorang.
· Selain motivasi kerja, faktor penting lainnya adalah potensi atau kemampuan seseorang. Tetapi motivasi lebih penting daripada potensi.
· Potensi relatif lebih konstan, bahkan cenderung bertambah keberadaannya pada diri manusia, sementara motivasi sangat fluktuatif keberadaannya. Sebagai contoh, hari ini seseorang mempunyai motivasi yang tinggi menggebu-gebu, tetapi sangat dimungkinkan besok paginya motivasi tersebut bisa hilang sama sekali, bahkan sampai minus.
· Secara garis besar ada dua sumber pengaruh motivasi, yakni motivasi yang bersumber dari luar, yaitu motivasi yang muncul karena adanya pengaruh luar seperti ditakut-takuti, atau dijanjikan akan diberikan sesuatu. Sedangkan yang satu lagi adalah motivasi yang bersumber pada kesadaran diri atau muncul dari dalam diri sendiri, meskipun rangsangannya bisa jadi dari lingkungan sekitarnya.
· Memovitasi diri berarti bagaimana membuat diri ini selalu termotivasi dengan penuh kesadaran, tidak tergantung pada pengaruh luar, membangun suatu prinsip dalam diri sendiri, sehingga apapun yang terjadi motivasi kerja tetap eksis di dalam diri.
· Banyak cara untuk memotivasi diri, tetapi apa yang akan disajikan dalam buku ini adalah cara-cara yang memungkinkan dan efektif untuk membangun motivasi diri.
· Penyebab-penyebab turunnya motivasi kerja, yang selama ini justru banyak terjadi karena memang sistem dan budaya yang belum mendukung, akan dicoba untuk dieliminir sehingga pemahaman bagaimana seharusnya tetap termotivasi akan ditemukan.
· Selama ini yang mudah dianalisa bahwa jika seseorang mengalami kekecewaan, secara otomatis kerjanya akan turun. Sedangkan penyebab kekecewaan seseorang sangat banyak sekali. Setiap saat seseorang bisa mengalami kekecewaan, bisa karena atasan, teman, atau bawahan, bahkan banyak disebabkan karena adanya perubahan.
· Sementara perubahan tidak akan pernah berhenti. Jika setiap perubahan yang terjadi motivasi kerja terpengaruh, lalu betapa rapuhnya motivasi kerja kita.
· Oleh karena itu kesadaran diri sehingga menumbuhkan motivasi diri, akan lebih memberikan kelanggengan. Seperti melalui niat kerja yang tepat, bagaimana mensyukuri nikmat, mengelola perasaan kecewa, kesadaran akan hak dan kewajiban, rasa ikhlas dalam melakukan pekerjaan, membangkitkan rasa puas, senang menjadi teladan, dan tidak menomor-satukan sistem “reward & punishment” sebagai motivator.
· Semua cara-cara motivasi diri yang disebut diatas, sangat terkait dengan kecenderungan spiritual dan emosional seseorang.









NIAT KERJA UNTUK IBADAH

· Ada ungkapan bahwa nilai kegiatan yang kita lakukan, tergantung pada niatnya.
· Tahap awal meluruskan niat kerja, adalah kesadaran untuk apa manusia ini diciptakan.
· Gaji yang kita terima setiap bulan adalah rezeki. Kita coba telusuri, sebetulnya dari mana asal muasalnya gaji tersebut.
· Niat kerja dapat dibangun dengan menganalisa hakikat kontrak kerja kita, yaitu dengan siapa sebenarnya kontrak kerja kita dibuat. Dengan atasan kita, dengan perusahaan, atau dengan Tuhan.
· Jika kontrak kerja kita ini pada hakekatnya dengan Tuhan, maka kita akan merasakan bahwa semua yang kita lakukan akan diawasi oleh Tuhan Yang Maha Tahu.
· Niat kerja kita yang benar akan menyadarkan diri pada kewajiban, yang sekaligus mendorong untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.
· Apapun yang kita lakukan, jika kita niati dengan benar akan mendapatkan ridho, yang tentunya akan memberikan pengaruh psikologis terhadap semangat kerja.
· Akhirnya kalau niat kerja kita adalah untuk ibadah, maka rentetan pemahaman, perasaan, cara menyikapi, dan pelaksanaan kerja akan berpengaruh terhadap kesadaran diri untuk termotivasi.




PANDAI MENSYUKURI NIKMAT

· Tuhan tidak pernah bohong, Barang siapa pandai mensyukuri nikmat maka akan ditambah. Tetapi bila sebaliknya, maka nikmat tersebut akan diubah jadi siksa.
· Nikmat yang disyukuri akan membawa kebahagiaan keluarga, yang sekaligus memberikan ketenangan didalam bekerja.
· Jika nikmat tidak disyukuri, maka rezeki yang diterima akan berubah jadi siksa. Suasana rumah tangga jadi kacau, perasaan tidak tenang, yang tentunya mempengaruhi semangat kerja.
· Apa yang terjadi saat ini harus disyukuri sebagai yang terbaik adalah salah satu cara menggiring hati kita untuk pandai bersyukur. Termasuk yakin bahwa sesuatu yang terjadi ada yang mengatur.
· Untuk mempermudah munculnya rasa syukur, sering-seringlah kita melihat ke bawah. Dengan demikian kita merasa bukan orang yang paling sengsara, masih banyak orang di bawah kita.
· Bersyukur dengan menggunakan nikmat untuk hal-hal yang baik, akan memberikan efek psikologis terhadap kesadaran diri tentang kebesaran Tuhan.
· Menyatakan syukur ada tiga macam yaitu dengan lisan, hati dan perbuatan.
· Di era dimana perubahan sangat fluktuatif dengan intensitas yang sangat tinggi, permasalahan sering muncul bagaimana mensyukuri perubahan-perubahan yang terjadi, yang kadangkala merugikan kita. Solusinya adalah berusaha dengan penuh kesadaran diri, dengan berbagai cara bagaimana perubahan tersebut justru menumbuhkan pemahaman, bahwa salah satu tanda kebesaran Allah adalah terjadinya perubahan tersebut.







MENGERJAKAN TUGAS DENGAN IKHLAS

· Mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan, itulah perasaan ikhlas. Perasaan ikhlas tidak begitu saja muncul dalam hati kita. Ada beberapa pemahaman dan sikap yang harus dikelola, agar suasana hati menyiap-tumbuhkan perasaan ikhlas.
· Menganggap tugas yang diterima sebagai suatu kepercayaan, merupakan salah satu awal bibit rasa ikhlas.
· Perasaan ikhlas dalam menerima tugas dan tanggung jawab, secara otomatis menumbuhkan motivasi untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut.
· Keyakinan bahwa apa yang dikerjakan akan bermanfaat bagi orang lain dan tidak sia-sia, akan menghilangkan perasaan malu, perasaan enggan dan berat hati. Demikian juga keyakinan tersebut akan memberikan dorongan semangat kerja.
· Ikhlas berarti rela mengerjakan sesuatu yang secara universal dinilai baik. Atau dengan perkataan lain mengerjakan apa saja mau, asal pekerjaan tersebut adalah halal.
· Bekerja bukan karena atasan, tetapi semata-mata karena ibadah dan kesadaran akan kewajiban, banyak memberikan andil dalam membangun motivasi diri.
· Kesadaran akan tanggung jawab dan resiko, membawa pemahaman bahwa jika seseorang memutuskan untuk menerima suatu tugas, maka dengan rela hati menghadapi konsekuensi yang timbul.
· Perasaan ikhlas selain menumbuhkan motivasi kerja, sekaligus merubah sesuatu yang berat jadi dingin.





MAMPU MENGELOLA PERASAAN KECEWA

· Biang turunnya motivasi kerja adalah perasaan kecewa. Begitu perasaan kecewa muncul, secara otomatis akan diikuti dengan menurunnya motivasi kerja.
· Penyebab terjadinya perasaan kecewa tersebut sangat banyak dan bermacam-macam. Sementara ini yang lazim terjadi, bahwa perasaan kecewa akan berbanding terbalik dengan motivasi kerja. Artinya jika perasaan kecewa tinggi, maka motivasi kerja rendah dan sebaliknya.
· Padahal orang kecewa itu manusiawi dan bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.
· Pertanyaannya, apakah motivasi kerja kita akan kita biarkan mengikuti irama perasaan kecewa ? Haruskah setiap saat motivasi kerja kita menurun ?
· Jawabannya adalah perasaan kecewa boleh terjadi, karena hal ini manusiawi. Tetapi perasaan kecewa tersebut harus kita kelola sehingga tidak mempengaruhi motivasi kerja. Bahkan jika mungkin, bagaimana perasaan kecewa justru diubah jadi pendorong semangat kerja.
· Cara yang mudah (tetapi sulit dilaksanakan) adalah memotong hubungan perasaan kecewa dengan motivasi kerja, dan mengkaitkan motivasi kerja dengan hak yang kita terima. Artinya perasaan kecewa boleh jalan terus, tetapi motivasi kerja juga tetap tinggi, sebab motivasi kerja dikaitkan dengan hak atau gaji yang kita terima. Selama kita masih mau menerima gaji setiap bulan, maka motivasi kerja harus tetap tinggi.
· Kesadaran bahwa perasaan kecewa akan menyiksa diri, angan-angan yang terlalu tinggi akan menyebabkan kekecewaan, dan apa yang terjadi saat ini adalah yang terbaik, akan membantu mengurangi perasaan kecewa.
· Akhirnya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, adalah senjata pamungkas untuk mengelola perasaan kecewa.

MENDAPATKAN KEPUASAN DARI HASIL KERJA SETIAP HARI

· Kepuasan diri jelas akan berpengaruh terhadap meningkatnya motivasi kerja. Kepuasan berbanding lurus dengan motivasi kerja. Semakin tinggi perasaan puas, semakin tinggi motivasi kerja.
· Masalahnya dari mana kita mendapatkan kepuasan yang bisa dirasakan setiap saat bahkan setiap hari, sehingga motivasi kerja kita akan terus tinggi.
· Apakah gaji, pangkat, atau penghargaan dapat memberikan kepuasan setiap hari ? Jawabannya secara jujur adalah “belum tentu”.
· Gaji bulanan, selain besarnya kita sudah tahu, juga merupakan hal rutin setiap bulan. Pangkat belum tentu 3 tahun sekali naik, sementara perasaan puas pada saat naik pangkat paling lama satu minggu, setelah itu biasa-biasa lagi. Penghargaan juga belum tentu setiap tahun kita dapatkan.
· Ilustrasi konkrit, coba kita cermati apakah kalau gaji kita naik hari ini, terus besok pagi semangat kerja kita langsung meningkat, jawabannya adalah belum tentu. Justru banyak yang merasa kecewa dan “nglokro”, karena merasa kurang dan tidak pandai mensyukuri.
· Coba kita mencari dan mendapatkan kepuasan dari hasil kerja setiap hari. Kemungkinan besar justru dari hasil kerja ini kita merasa puas.
· Setiap hari kita mampu berupaya bekerja dengan penuh semangat. Sehingga pada saat pulang kerja dirasakan kepuasan, karena hari itu telah banyak yang dikerjakan.
· Jika setiap hari hasil kerja kita pantas memberikan kepuasan, yaitu sudah seimbang dengan hak yang kita terima, maka setiap hari motivasi kerja kita akan tetap tinggi.


SENANG DICONTOH ORANG LAIN


· Perasaan senang dicontoh orang lain mempengaruhi seseorang untuk berbuat yang terbaik. Dia akan terangsang dan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang patut dicontoh.
· Orang yang senang dicontoh orang lain berusaha untuk membedakan hal yang baik dan yang buruk, dan senantiasa mengerjakan hal-hal yang baik.
· Menjadi contoh orang lain, berarti apa saja yang diperbuat akan diikuti dan ditiru orang banyak. Sadar akan hal tersebut maka orang yang senang dicontoh orang lain, akan menghindari perbuatan-perbuatan yang memalukan dan tidak pantas untuk dicontoh.
· Konsisten dan konsekuen adalah salah satu cara orang yang patut dicontoh.
· Dicontoh orang lain berarti “amar ma’ruf”, yaitu mengajak kepada kebaikan dan ini berarti ibadah.
· Senang dicontoh orang lain memotivasi diri untuk bekerja secara sungguh-sungguh sehingga menda-patkan hasil yang terbaik.
· Bagi orang yang senang dicontoh, melihat sesuatu yang tidak baik selalu terasa gatal untuk memperbaikinya.
· Kerja keras, disiplin tinggi, integrasi tinggi dan motivasi tinggi adalah menjadi kebiasaan orang yang senang dicontoh.




MENYEIMBANGKAN ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN


· Banyak orang hanya berpikir tentang hak, tetapi jarang mencoba mengetahui berapa sebenarnya hak yang diterima baik saat ini maupun yang akan datang.
· Sebagai pegawai yang digaji bulanan dan mendapatkan fasilitas lain coba kita hitung-hitung dan kita pikirkan apakah hak-hak yang kita terima sudah diimbangi dengan menjalankan kewajibannya.
· Hak seringkali diberikan sampai kita meninggal dunia, sementara menjalankan kewajiban waktunya terbatas sampai pada saat memasuki masa pensiun. Agar hak dan kewajiban seimbang, maka pada saat masih aktif seharusnya kita bekerja secara maksimal.
· Rezeki haram tidak harus dari hasil korupsi atau mencuri, tetapi gaji yang kita terimapun bisa-bisa menjadi haram jika kewajibannya tidak kita jalankan dengan baik.
· Siapa yang bisa menilai bahwa kita sudah menjalankan kewajiban dengan baik dan seimbang dengan hak, adalah hati nurani kita sendiri.
· Orang yang ingin mendapatkan rezeki yang barokah, akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan kewajiban dengan baik.
· Keinginan untuk menyeimbangkan hak dan kewajiban mendorong kita untuk bekerja dengan motivasi tinggi.



MENYIKAPI PERUBAHAN SECARA POSITIF


· Perubahan adalah sesuatu yang berbeda dengan kemarin.
· Perubahan selalu akan terjadi, tidak pernah berhenti.
· Setiap terjadi perubahan selalu ada sisi positif dan negatifnya, selalu ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan.
· Setiap perubahan tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak.
· Sebaik apapun perubahan pasti ada yang tidak setuju.
· Seringkali perubahan menyebabkan orang jadi kecewa, frustasi bahkan sampai strees.
· Kita semua tahu bahwa orang yang kecewa atau frustasi akan kehilangan motivasinya.
· Akankah semangat kerja kita akan mengikuti irama perasaan kecewa,. Yang sangat dipengaruhi oleh perubahan ?
· Menyikapi perubahan secara positif akan menghindari munculnya perasaan kecewa, dan sekaligus mempertahankan motivasi kerja.
· Mensyukuri perubahan merupakan salah satu cara efektif untuk mendorong kita berpikir positif.






TIDAK MENOMOR-SATUKAN ‘REWARD & PUNISMENT”
SEBAGAI MOTIVATOR


· Memang tidak bisa dipungkiri bahwa “Reward & Punisment System” adalah alat yang “ ampuh” untuk mendorong semangat kerja. Bahkan potensi seseorang akan dapat keluar seratus persen, karena iming-iming hadiah atau ditakut-takuti sangsi.
· Tetapi kalau semangat yang tinggi hanya semata-mata karena hadiah atau takut sanksi, bagaimana kalau hadiah dan sanksi tersebut tidak ada atau aplikasi sistem tersebut belum baik.
· Padahal seharusnya kita bekerja ini bukan untuk mencari hadiah, penghargaan atau takut sanksi tetapi bekerja karena memenuhi kewajiban, terutama bagi kita yang mendapatkan gaji bulanan.
· Di era di mana masih sarat dengan KKN, ketidak-adilan, subyektivitas yang tinggi, dan budaya pilih kasih, maka jika kita menomor-satukan sistem “reward & punishment” yang terjadi justru hanya kekecewaan.
· Oleh karena itu boleh dan sah-sah saja sistem ini dipakai sebagai motivator, tetapi sebaiknya didahului oleh motivator-motivator yang lain, seperti diuraikan pada Bab I s.d Bab VIII.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar