Rabu, 21 Januari 2009

Tersenyumlah

Jika kamu tidak menggunakan senyumanmu, kamu seperti orang yang memiliki tabungan satu juta dolar tetapi tidak mempunyai buku cek untuk mengambilnya.

Kisah ini penulis sadur dari buku :” Chicken Soup for the Soul at Work” buah karya Jack Canfield dkk yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama 1997. Ceritanya sebagai berikut :
Hari itu hari Rabu seperti hari-hari Rabu yang lain. Saya dan istri saya sedang mengobrol di sebuah panti jompo tentang pulihnya kesehatan kami setelah mendapat serangan jantung. Kemudian salah seorang penghuni panti, Miriam, bertanya, apakah kami mau menemaninya mengobrol sebentar.
“Menurut saya, ada tiga hal yang diperlukan untuk merasa bahagia : seseorang untuk dicintai, sesuatu untuk dilakukan, dan sesuatu untuk diharapkan,”katanya. “Di sini ada orang-orang yang saya cintai, dan kegiatan yang menyibukkan saya. Tetapi saya tidak punya harapan untuk masa depan. Apakah kalian punya gagasan?”
“Sebelum masuk ke sini, apa harapan Ibu?” tanya kami.
“Oh, saya selalu senang tertawa bersama orang lain,”jawabnya.
“Apa yang ditertawakan?” tanya kami.
“Apa saja yang dapat saya lihat, dengar, rasakan, cicipi atau baui,” katanya sambil tersenyum.
Pada waktu itulah kami mendapatkan gagasan untuk memulai proyek kami. Kami mulai mencari lelucon, dan kami menggunakan semua indra kami.
Kami mulai dengan membuat poster yang bertuliskan :”Hidup ini terlalu penting untuk dihadapi dengan serius. Kami menciptakan sebuah kancing bertuliskan : Nikmati hidup ini. Hidup bukan latihan mengenakan pakaian. Pada sebuah kotak teh celup kami tuliskan : Anda seperti teh celup ini…hanya dalam air panaslah Anda menyadari betapa kuatnya Anda.
Kami terus mencari dan menciptakan gambar kartun, kaset video dan audio yang sarat lelucon. Orang-orang membawakan kami stiker untuk dipasang di bemper mobil, gambar, buku, permainan, gambar komik, dan majalah. Boneka binatang selalu digemari, juga Slinkies dan bola Kusch. Dan sebuah keranjang baru disebut sempurna kalau sudah dilengkapi cairan gelembung untuk ditiupkan.
Tentu saja, kami membuat keranjang lelucon untuk Miriam, wanita yang menjadi sumber inspirasi proyek kami ini. Katanya, puncak kecerian hari-harinya adalah pada saat dia mengajak orang lain menikmati isi keranjangnya : sesama penghuni, para tamu…siapa saja yang dilihatnya. Seseorang mengatakan bahwa Miriam mencari senyuman dan menikmatinya bersama orang lain. Jadi, itulah yang kami jadikan motto kami:”Carilah Senyuman dan Nikmati Bersama Orang Lain.”
Proyek itu begitu sukses sehingga panti jompo lain terpikat dan mengajukan permintaan khusus. Sebuah panti jompo meminta kami membuatkan kereta lelucon, seperti kereta belanjaan di supermarket. Para sukarelawan mendorong kereta itu menyusuri lorong-lorong panti, berbagi senyuman dan tawa dengan para penghuni panti.
Tetapi ada panti lain yang meminta kami merancang sebuah ruangan lelucon, lengkap dengan VCR untuk video yang lucu-lucu. Tidak lama kemudian, banyak keluarga yang mulai memberikan sumbangan video kegemaran mereka seperti sport Bloopers, Candid Camera, dan cuplikan acara Carol Burnett dan Johnny Carson.
Apa yang semula merupakan tulisan sederhana untuk membantu seorang wanita lanjut usia telah berubah menjadi proyek seumur hidup.
Miriam telah meninggal dunia sekarang, tetapi ketika terakhir kalinya kami menemuinya, dia menuliskan kata-kata ini di pintu pantinya : Kebahagiaan adalah seorang wanita yang dapat mentertawakan dirinya sendiri. Dia tidak pernah berhenti bergembira.

John Murphy

Hari ini
adalah milik kita



Saat ini memiliki satu keuntungan lebih dari setiap saat yang lain, saat ini adalah milik kita
Charles C. Colton

Hari ini milik kita dan bebas digunakan untuk apa saja. Hari ini bukan milik orang lain, orang lain punya hari sendiri-sendiri. Hari ini adalah hari yang paling menentukan, bukan kemarin atau esok lusa. Tetapi hari ini. Ingatlah bahwa hari ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup kita.
Ini hari yang paling bahagia, hari yang paling berhasil, hari yang paling sehat dari kehidupan anda. Tidak ada perasaan kecewa, resah dan gelisah, gundah dan was-was. Dunia ini saat ini rasanya hanya milik kita, bukan milik orang lain. Biarlah orang lain mencari dunia yang lain, tetapi jangan merebut dunia ini saat ini dari tangan kita.
Kita ada di sini dan kini. Ini adalah hari terakhir yang jelas menjadi milik kita, esok pagi belum pasti. Masa depan bukan milik kita, tetapi milik Allah. Kita tidak tahu apakah esok pagi kita masih diberi kesempatan untuk menikmati indahnya dunia. Kita tidak pernah tahu, yang tahu hanya Allah semata.
Kemarin sudah masa lalu dan bukan lagi milik kita, apa yang sudah terlepas dan berlalu berarti sudah bukan milik kita. Sedangkan esok, siapa yang berani memastikan bahwa esok adalah milik kita? Ibaratnya kita sedang menghitung detik-detik menuju tiang gantungan, dan eksekutor memberikan kesempatan kepada kita untuk menyampaikan wasiat terakhirnya.
Lihatlah di sekitar kita begitu banyak orang yang tidak bisa menikmati hari ini. Mereka tidak berhak untuk hari ini karena hidupnya harus berakhir di masa lalu dan kemarin. Mereka bahkan mungkin tidak sempat memberikan surat wasiat kepada keluarganya, mereka mungkin juga tidak sempat tersenyum akan memberikan warisan berharga sepeninggalnya. Mereka mungkin termasuk orang-orang yang merugi.
Tetapi kita bisa bernapas sampai hari ini. Pagi tadi sudah kita habiskan dengan bersenda gurau bersama anak istri atau main bulu tangkis dengan tetangga di sekitar rumah kita. Baru saja kita menikmati hidangan paling lezat yang disajikan istri tercinta kita. Alangkah indahnya hari ini, alangkah bergunanya hidup ini.
Hari ini kita masih bisa memegang ponsel, masih bisa tertawa melihat acara komedi di televisi, tubuh masih bisa berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik di radio. Hari ini benar-benar milik kita. Alangkah indahnya hari ini, alangkah bahagianya hidup ini.
Hari ini kita masih sempat menggoreskan sejarah, menyelesaikan tulisan-tulisan yang berserakan atau membuat goresan terakhir pada lukisan kita yang hampir rampung. Hari ini kita masih bisa menyaksikan anak kita yang masih balita belajar tengkurap atau anak kita yang sulung menikmati hari-hari bahagianya karena kemarin baru saja diwisuda.
Kita adalah sejarah kehidupan kita sendiri, dan sejarah itu adalah hari ini. Semuanya bergantung kepada diri kita sendiri, sejarah apa dan bagaimana yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita dan juga kepada kehidupan esok hari. Hitam, putih, atau abu-abu? Atau kita tidak ingin membuat sejarah?
Akan kita beri warna apa kehidupan ini juga apa katanya kita. Juga kita bisa saja tidak mau memberi warna dan membiarkan hidup ini nampak polos seperti warna aslinya. Haruskah kita peduli kepada orang lain? Hari ini adalah milik kita, siapapun tidak berhak mengklaim sebagai miliknya. Kita berkuasa penuh atasnya, kita berhak bersikap otoriter kepada hidup kita sendiri.
Tetapi apakah kita tidak ingin memanfaatkan detik-detik terakhir itu untuk menebarkan kebaikan? Tidakkah kita ingin agar hari-hari terakhir itu kita masih bisa tersenyum bahagia karena kita telah memanfaatkan momentum itu dengan memberikan sesuatu yang paling berarti bagi kehidupan? Tidakkah kita ingin dikenang sebagai manusia yang memiliki arti bagi kehidupan ini?
Di sisi lain haruskah kita jalani akhir kehidupan ini dengan kesedihan dan ratap tangis tanpa sebab? Hidup hanya sekali, haruskah kita sia-siakan dengan selalu berurai air mata? Apa gunanya? Bukankah kebahagiaan lain akan menunggu, bukankah hari esok artinya hari yang lebih berbahagia daripada hari ini? Kalau toh hari esok bukan milik kita hari ini hendaknya kita jadikan sebagai hari terakhir yang paling berbahagia dalam hidup ini.
Kesedihan, kemurungan, siksaan batin atau penderitaan sebaiknya hanya menjadi masa lalu. Kita hidup hari ini, bukan kemarin. Kita ada di sini sekarang dan tengah membuat sejarah baru. Kalau kemarin kita gagal, kita tidak boleh gagal lagi hari ini. Kalau kemarin kita menangis, hari ini kita harus bisa tersenyum dan tertawa sepuas-puasnya.
Begitu mudahnya kita menjalani hidup ini sebenarnya. Kita hanya perlu menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya dan kemudian segala sesuatunya kita kembalikan kepada Yang Maha Mengatur. Kenapa harus dibuat ruwet?



Berpikir positif
dan bersyukurlah



Berpikir positif dan bersyukur memiliki korelasi yang sangat erat bagi manusia untuk menemukan makna diri dan kehidupannya. Berpikir positif akan mengarahkan manusia untuk senantiasa bersyukur, sebaliknya rasa syukur akan menciptakan benak manusia alur pandang yang positif dalam menilai segala sesuatu.
Berpikir positif yang dilandasi dengan semangat kesyukuran akan membuahkan hasil berupa kelegaan dan kebahagiaan hidup. Tidak adanya rasa cemas, was-was, kuatir atau buruk sangka kepada orang lain. Semua yang ada bisa dinikmati dengan sebaik-baiknya sehingga manusia akan senantiasa tersenyum menyikapi hidup dan kehidupannya.
Sebagaimana firman Allah :“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. Ibrahim :7).
Dari tinjauan psikologis akan diketahui bahwa orang yang selalu bersyukur dalam hidupnya, disamping akan menumbuhkan sikap positif juga memberikan dampak kebahagiaan tersendiri. Orang yang selalu bersyukur akan selalu bahagia, itulah salah satu bentuk tambahan nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
Hati yang penuh syukur akan membawa implikasi berupa ketenangan dan ketentraman hati. Hati yang tenang dan tentram merupakan dambaan manusia meskipun seringkali dilalaikan. Ketenangan dan ketentraman hati mahal harganya, tak bisa ditukar dengan emas berlian.
Ketika bersyukur sebenarnya manusia pada saat itu sudah memenangkan suatu pertarungan hebat melawan keserakahan. Keserakahan itulah sumber utama kekecewaan dan kesengsaraan manusia, karena orang yang serakah tidak akan pernah merasa bahagia dengan apa yang dimilikinya.
Sebenarnya antara rasa syukur dengan berpikir positif itu tidak ada perbedaan yang jelas. Keduanya merupakan perpaduan yang serasi dan harmonis, orang yang bersyukur pasti berpikir positif dan orang yang berpikir positif pastilah selalu bersyukur. Bedanya rasa syukur itu letaknya di hati dan sikap positif itu berada di akal pikiran manusia.
Dunia secara klasik hanya berisi dua hal yang berbeda dan bertolak belakang. Sederhana sekali sebenarnya meskipun akibat yang ditimbulkannya luar biasa sekali. Dalam dimensi apapun pasti ada wacana positif dan negatif, dua kutub yang berbeda tetapi sebenarnya saling melengkapi.
Penting bagi kita untuk mendorong adanya emosi positif sebagai kekuatan yang mendominasi pikiran kita, dan melenyapkan emosi negatif. Karena itulah dunia, kita lahir dalam kondisi seperti itu. Kita lahir di tengah-tengah kutub positif dan negatif, karena itu sangat patut kita syukuri.
Harkat kemanusiaan kita justru menjadi sangat jelas ketika kita selalu bertarung untuk memperjuangkan nilai-nilai positif dan mengenyahkan nilai-nilai negatif dalam hidup kita. Dan hanya dengan bersyukur yang membawa dampak lebih lanjut berupa keikhlasan hati yang bisa membantu diri kita melawan nilai-nilai negatif yang ada.
Dari situ persoalan akan kian jelas kenapa kita harus diingatkan kembali untuk berpikir positif dan bersyukur. Pikiran yang didominasi oleh emosi positif menjadi tempat yang menyenangkan bagi keadaan pikiran yang dikenal sebagai keyakinan. Pikiran yang didominasi sampai sedemikian rupa, mampu, berdasarkan kemauan memberikan instruksi kepada pikiran bawah sadar yang segera menerimanya dan digunakan sebagai landasan tindakan.
Problematika primitif manusia dengan sendirinya akan tertemukan jawabannya apabila manusia mau menghayati dan mengamalkan nilai-nilai tersebut di atas. Hanya dengan bersyukurlah manusia akan menemukan apa yang dicarinya selama ini, yakni kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah titik akhir pencarian manusia yang namanya bisa diubah-ubah namun esensinya sama. Kesadaran tentang pentingnya mempertahankan cara berpikir yang positif dan meningkatkan rasa syukur itu hendaknya selalu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Dalam arti semua itu jangan hanya sekedar menjadi wacana di bibir saja, melainkan harus diresapi dan diamalkan dalam keseharian kita.
Inilah titik awal kita melangkah dalam upaya mencari sebuah bentuk senyuman yang bernilai bahagia, bukan seulas senyum yang hanya sekedar pembalut dari rasa kekecewaan dan kesengsaraan yang kita alami. Memang sebagai dampak adanya dua kutub yang bertolak belakang tadi maka kita seringkali memilih untuk mendramatisir keadaan sehingga kita akhirnya terjebak sendiri ke dalam lumpur kekecewaan.
Pada dasarnya mudah sekali menemukan senyum yang bernilai bahagia itu, gunakanlah akal pikiran untuk selalu berpikir. Teruslah berpikir dan jangan biarkan akal pikiran itu kosong, karena kekosongan itu rawan sekali akan menimbulkan pikiran-pikiran buruk, syak wasangka dan sebagainya. Cobalah, tak ada salahnya dicoba!

Yang lalu
biarlah berlalu




Tersenyum tidak semua orang bisa, ada orang yang susah tersenyum. Seumur-umur senyumnya bisa dihitung dengan jari. Padahal hampir segala kebutuhan hidup dimiliki, rumah, mobil, deposito dan sebagainya cukup untuk tujuh turunan. Tetapi hidupnya seperti gelandangan yang tidak punya apa-apa karena tidak memiliki senyum.
Semestinya kita senantiasa menyambut datangnya mentari pagi dengan senyum. Setiap hari baru artinya kelahiran, semangat dan harapan baru. Waktu terus berputar ke depan dan tidak pernah berhenti barang sedetik saja, apalagi menoleh ke belakang. Waktu tidak punya toleransi untuk masa lalu, karena masa lalu adalah bagian masa lalu.
Masa lalu adalah bagian dari sejarah kehidupan ini, tidak perlu diutak-atik lagi. Seperti orang yang sudah mati tidak mungkin akan hidup kembali. Mengungkit-ungkit masa lalu hanyalah pekerjaan yang sia-sia dan hanya menghabis-habiskan energi saja. Kenapa kita harus merasa berat meninggalkan masa lalu, padahal kita tidak mungkin mampu mengubah sejarah yang sudah berlalu.
Yang lalu biarlah berlalu, tepat sekali. Begitulah jalan pikiran orang-orang yang cerdas dan selalu berpikiran jauh ke depan. Manusia memang harus melalui masa lalu untuk sampai pada hari sebelum melanjutkan perjalanannya ke masa depan. Tetapi tidak seharusnya manusia berpikir ke masa lalu sehingga melupakan bahwa dirinya hidup pada hari ini dan perjalanan ke masa depan membutuhkan energi yang sangat besar.
Apapun yang terjadi di masa lalu semuanya merupakan bagian dari masa lalu. Baik dan buruk semuanya sudah terlanjur terjadi, manusia tidak mungkin kembali ke masa lalu. Untuk mengubah sejarah masa lalu yang kelam manusia tidak harus mengubah sejarah, tetapi memperbaikinya di masa depan.
Tidak seharusnya perasaan dan pikiran kita masih disibukkan dengan urusan masa lalu, karena kita sedang menuju ke masa depan. Masa depan yang belum ada kepastian tentunya membutuhkan lebih banyak perhatian dan pikiran kita. Padahal energi kita sangat terbatas, di sisi lain tantangan masa depan tentunya jauh lebih berat dibanding masa lalu.
Untuk apa kita menghambur-hamburkan energi yang tidak perlu, kenapa perasaan dan pikiran kita tidak kita fokuskan ke masa depan? Seharusnya memang demikian bagi orang-orang yang bisa berpikir jernih. Memberati masa lalu hanya akan membuat fokus kita ke masa depan terkendala, sehingga susah diharapkan kita akan bisa tampil prima nantinya.
Melupakan masa lalu bukan berarti melupakan sejarah, keduanya jelas jauh berbeda. Melupakan masa lalu artinya kita tidak memberi kesempatan kepada masa lalu untuk menjadi rintangan menuju masa depan. Tetapi kita tetap mengambil hikmahnya, kita mengambil pelajaran dari masa lalu demi memperbaiki diri di masa depan.
Banyak orang yang terbuai oleh masa lalunya yang indah, sehingga berangan-angan ingin kembali ke masa itu. Padahal memahami bahwa hal itu mustahil, pikirannya mengatakan hal itu tidak benar tetapi perasaannya tidak bisa melepaskan diri dari nostalgianya.
Seindah apapun masa lalu tetaplah hanya masa lalu, masih jauh lebih indah hari ini dan masa depan. Apa gunanya memerangkap diri ke dalam masa lalu yang indah jika semua itu membuat hidupnya kini dan masa depannya jauh lebih buruk. Tidak seharusnya manusia tersenyum mengenang masa lalunya tetapi menangisi hidupnya kini dan nanti.
Pepatah mengatakan biarkan yang mati mengubur yang mati. Hiduplah dalam waktu sekarang, pecahkan masalah-masalah anda yang sekarang, siapkan diri secara intelektual untuk masa depan, tetapi jangan utak-atik masa lampau. Buang jauh kata ‘seandainya’, andaikata’ yang hanya membuat pikiran kita menjadi tumpul.
Kalau kita berhasil di masa lalu, jadikan hal itu sebagai pemicu semangat kita untuk menjadi lebih berhasil lagi di masa depan. Jika masa lalu kita gagal, ubahlah kegagalan itu dengan kesuksesan di masa depan. Kita tidak boleh terlalu menangisi atau memanjakan masa lalu tetapi melupakan bahwa yang kita hadapi adalah hari ini dan nanti.
Semua masa ada bagiannya sendiri-sendiri, sedangkan masa lalu tidak mungkin menjadi masa kini atau masa depan. Sebagaimana masa depan tidak mungkin tertukar dengan masa kini atau masa lalu. Kita boleh saja merasa kehilangan, tetapi jangan sampai perasaan itu membuat pikiran kita menjadi melayang-layang tak tentu arah.
Bagaimanapun masa kini dan masa depan jauh lebih berarti dibanding masa lalu betapapun baiknya masa lalu tersebut. Jangan membuka peluang bagi perasaan dan pikiran untuk melayang jauh ke belakang, sehingga kita tidak tahu dan tidak siap untuk menghadapi masa depan. Betapa ruginya kalau sampai demikian yang terjadi.


Berpikirlah optimis





Ubahlah pikiran-pikiran anda, maka anda akan mengubah dunia anda
Norman Vincent peale

Bagaimana sikap kita memandang kehidupan biasanya ditentukan oleh seberapa besar kita memiliki harapan di masa depan. Sebuah harapan biarpun samar-samar tetaplah harapan yang bisa membangkitkan semangat dan motivasi. Harapan membuat diri kita menjadi optimis, aktif dan dinamis.
Orang yang pesimis biasanya disebabkan oleh tiadanya harapan di dalam hatinya atau punya prasangk buruk dan skeptis. Optimis adalah salah satu sikap positif, kita harus terus memupuknya karena pada sikap itulah kita berharap banyak untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita sendiri.
Kehidupan memang soal pilihan, tidak lebih dari itu. Kita bebas memilih dan tidak memilih, kita bebas melangkahkah kaki atau berdiam diri tanpa melangkah sama sekali. Keputusan mutlak ada di tangan kita sendiri, begitu pula apa yang terjadi esok hari semuanya ditentukan oleh bagaimana kita menjalahi hidup hari ini.
Tetapi belajar dari pengalaman dan referensi dari sana-sini akan tahulah kita bahwa kalau kita salah memilih jalan maka hidup kita akan susah. Pengalaman mengajarkan bahwa sikap optimis adalah pilihan yang baik karena kesuksesan hanya akan tercipta apabila dilandasi oleh sikap optimis dan keyakinan yang kuat.
Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul : “Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi” menunjukkan ciri-ciri tertentu bagaimana orang optimis dalam bekerja. Orang dengan kecakapan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
- Tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan
- Bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya takut gagal
- Memandang kegagalan atau kemunduran sebagai situasi yang dapat dikendalikan ketimbang sebagai kekurangan pribadi
Sebaliknya orang pesimis memandang kegagalan sebagai penegasan atas sejumlah kekurangan fatal dalam diri sendiri yang tidak dapat diubah. Hasil akhirnya adalah sikap mudah menyerah, putus asa, dan merasa tidak berdaya :Jika anda ditakdirkan untuk gagal buat apa mencoba?
Sebaliknya, seorang optimis, memandang kemunduran sebagai akibat sejumlah faktor yang masih mampu mereka ubah, bukan kekurangan atau kelemahan pada diri sendiri. Orang optimis dapat lebih siap membuat pengukuran yang realistis atas suatu kemunduran dan mengakui peran mereka dalam kegagalan tersebut.
Tidak salah apabila Norman Vincent Peale mengatakan seperti di awal tulisan ini : “Ubahlah pikiran anda maka anda akan mengubah hidup anda.” Pelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa optimis dan pesimis itu berawal dari pola pikir kita sendiri. Pikiran yang membuat diri kita menjadi orang yang optimis atau pesimis.
Pola pikir itulah yang semestinya selalu kita benahi agar mampu menghasilkan sikap dan perilaku yang mengantarkan diri kita meraih kesuksesan. Pikiran seharusnya selalu kita bersihkan dari segala unsur-unsur jahat atau syak wasangka yang tak berdasar atau rasa curiga berlebihan yang tidak masuk akal.
Untuk tetap berdimensi optimis kita harus selalu mengedepankan sikap positif. Memandang kehidupan apa adanya dan dari sisi yang baik, jangan bersikap skeptis atau berburuk sangka sebelum memahami persoalannya dengan benar. Tidak perlu mencurigai seseorang atau masa depan, lebih baik kita merasa yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Hidup ini ada yang mengatakan tergantung kepada diri kita sendiri. Hidup ini hanya soal bagaimana kita menggerakkan dan mengarahkan pikiran, kalau kita arahkan ke hal-hal yang baik maka hasilnya akan baik dan jika kita tujukan ke hal-hal yang buruk maka hasilnya pasti buruk pula. Baik dan buruk kehidupan semuanya tergantung kepada diri kita sendiri.
Nasib kita mungkin tidak selalu baik, tetapi kita masih bisa tersenyum bahagia kalau pikiran dan perasaan kita mengatakan demikian. Bukan nasib yang buruk yang membuat diri kita kecewa dan menderita tetapi perasaan dan pikiran kita sendiri.
Sebenarnya begitu mudah kita mencari kata bahagia dalam hidup ini, asal kita tidak salah dalam memilih jalur mana yang kita pilih. Bahkan di dalam penderitaan pun masih ada senyum, sebaliknya di tengah kemewahan juga bisa ditemukan kesengsaraan dan tangis kesedihan.
Sikap optimis dan hati yang selalu dipenuhi dengan harapan yang membuat hidup ini akan selalu penuh dengan senyum. Sikap optimis membuat kehidupan ini nampak memiliki gairah, itulah yang membuat diri ini bertahan hidup.

Di balik kesulitan
ada kemudahan




“Fainna ma’al ‘usri yusraa, inna ma’al ‘usri yusraa” Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah ada kesulitan ada kemudahan (QS Alam Nasyrah (94) :5-6).

Ayat di atas betapa besar pengaruhnya dalam diri kita. Itulah salah satu ayat yang berisikan motivasi dan harapan. Kalau kita memahaminya dengan baik, maka kita akan selalu tersenyum menghadapi hidup ini. Tidak akan ada kesusahan, penderitaan, tangisan sedih atau kekecewaan. Karena kita sudah mengetahui polanya dan pola tersebut tidak akan berubah karena merupakan sunnatullah.
Kesusahan, kesedihan, kekecewaan atau sejenisnya itu hanyalah lintasan sejarah bagi kehidupan ini. Semua itu memang harus ada, tetapi keberadaannya itu bukanlah pertanda kemalangan. Kesusahan, kesedihan ataupun kekecewaan harus ada karena di balik itu semua tersimpan kemudahan.
Seperti ada gunung pasti ada lembah begitu pula kehidupan ini. Kalau ada kesusahan pastilah ada kegembiraan. Tidak mungkin ada lembah jika tidak ada bukit, atau sebaliknya. Setelah kita berpayah-payah mendaki bukit yang terjal kita akan mencapai puncak dan dari puncak kita turun lagi menuju lembah. Begitu seterusnya.
Seharusnya kita bisa belajar dari gejala atau kenyataan alam yang terjadi di sekitar kita. Seseorang tidak mungkin akan selalu mengalami kesedihan sepanjang hidupnya, seperti juga tidak mungkin tertawa sepanjang hidupnya. Susah dan gembira akan selalu berganti. Kadang kita susah, kadang kita tersenyum bahagia.
Orang bijak mengatakan kita harus selalu mengendalikan diri. Ketika kita sedang bersedih ingatlah bahwa di balik kesedihan itu akan ada kebahagiaan. Sebaliknya ketika kita sedang bahagia, menangislah karena setelah itu akan mengalami kesedihan. Sikap kita yang baik adalah menjalani semuanya itu secara wajar atau tidak berlebihan.
Tetapi ada satu fakta lagi bahwa di dunia ini berlalu hukum kelelahan bahan. Segala sesuatu pasti ada titik puncaknya, setelah sampai puncak pasti akan turun kembali. Begitu kesedihan atau kegembiraan itu memiliki puncak sendiri-sendiri. Ketika sampai pada puncak tertinggi akan kembali turun, ada yang cepat ada yang lambat.
Namun energi yang kita gunakan untuk sedih dan kecewa lebih besar daripada energi yang kita gunakan untuk tersenyum dan gembira. Kalau perasaan kita sedang gembira kita bisa melakukan apa saja seolah-olah kita tidak pernah lelah. Sebaliknya jika kita merasa sedih dan kecewa, maka tubuh rasanya cepat lelah dan kita merasa tidak memiliki gairah hidup.
Karena itu perasaan gembira itu harus diupayakan terus menerus. Kita jangan mudah terpengaruh oleh keadaan, seburuk apapun kondisinya jika kita mampu mengelola pikiran dan perasaan kita masih bisa tersenyum. Kesulitan akan selalu ada kapan dan di manapun kita berada. Tetapi jangan jadikan kesulitan itu sebagai penghalang kita untuk tersenyum.
Cobalah untuk tersenyum bagaimanapun kondisinya, karena dengan tersenyum kita akan memperoleh tambahan energi. Kalau kita sedang sedih, kesedihan itu jangan ditambah-tambahi dengan kekecewaan, tetapi ubahlah kesedihan dengan senyuman.
Masa-masa sulit memperkuat kemandirian kita. Kesulitan akan merangsang pengembangan daya pikir kita. Pikiran seseorang biasanya terbuka ketika kondisinya sudah sangat kritis, di tengah kesulitan yang sudah sangat parah tiba-tiba muncul seberkas sinar yang membawa harapan.
Karena itu bukanlah sikap yang bijak apabila kita lari dari kesulitan, karena ke manapun kita pergi kesulitan itu akan selalu ada. Bersikap pengecut justru akan memperburuk keadaan karena ketika kita lari dari kesulitan pada saatnya kesulitan itu akan bertumpuk-tumpuk jadinya.
Kita harus berani menghadapi kesulitan hidup, seberat apapun. Semakin berat kesulitan yang kita alami semakin mudahlah kita akan menjalani hidup selanjutnya. Orang yang tidak mau menerima kesulitan hidupnya berarti dirinya tidak mau membuka pintu suksesnya.
Karena kesuksesan itu bukanlah proses panjang yang selalu mudah, justru akan banyak kesulitan demi kesulitan. Tetapi semakin kita sering melalui kesulitan demi kesulitan semakin dekatlah kesuksesan itu. Orang yang berhenti ketika ada kesulitan menghadang berarti ia tidak pernah mencapai tujuan hidupnya.
Dibutuhkan ketrampilan dan juga ketabahan untuk menghadapi semua itu, karena orang yang tidak tabah akan mudah sekali menyerah kalah. Biarpun memahami hakekat kehidupan ini seperti itu, tetapi kebanyakan manusia cenderung memilih jalan pintas untuk cepat sampai di tujuan. Padahal jalan pintas tidak selamanya menguntungkan, jalan pintas kerap menyesatkan.

Hadapilah
hidup ini apa adanya





Di manakah diri kita sekarang? Kalau diibaratkan perjalanan manusia seperti matahari yang terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat, kira-kira posisi kita sekarang ini di mana? Masih di lintasan timur, sudah condong ke barat atau mendekati senja? Remaja, dewasa atau sudah mendekati kematian?
Di manapun kita berada satu hal pasti adalah bahwa kita sedang menuju ke akhir kehidupan. Kita tidak bisa mundur barang setapak pun, walaupun kita mati-matian berusaha menolaknya. Bedanya dengan matahari, ufuk itu tidak selalu menunggu kita menjadi tua, kadang ufuk itu bisa bersamaan waktunya dengan terbitnya. Ada orang yang lahir langsung meninggal.
Kita tidak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang kematian, tetapi kita bisa menjadi bijaksana dalam meniti kehidupan. Yang kita perlukan adalah pemahaman yang benar tentang makna dan esensi kehidupan dan kematian supaya kita menjadi orang yang paling bijak sehingga kita termasuk orang-orang yang beruntung di akhir kehidupan nanti.
Kelahiran bukanlah kehendak kita sendiri, tetapi setelah kita lahir tidak ada bagi kita untuk menolaknya. Kita harus pandai-pandai menyiasati kehidupan supaya kita tidak termasuk orang-orang yang menyesal nantinya. Menyesal kenapa kita dilahirkan dan lebih menyesal lagi ketika kita menghadapi kematian.
Melalui perenungan yang panjang dan dengan belajar dari sana-sini juga dengan memperhatikan fenomena alam maka hanya ada satu cara untuk menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya, yakni dengan menjalani kehidupan ini apa adanya.
Sebab, itulah yang terjadi. Kita tidak mungkin dan tidak mampu menolaknya meskipun kita kebetulan sedang mengalami nasib yang paling buruk. Tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki nasib apabila kita mau berusaha. Memperbaiki nasib yang kurang beruntung bukan dengan cara menolaknya, tetapi dengan belajar dari kegagalan.
Hidup ini memang harus kita hadapi apa adanya. Apapun yang terjadi itulah yang terbaik bagi kita, meskipun perasaan dan pikiran kita merasa tidak puas, sedih atau kecewa. Tetapi begitulah tabiat manusia, ketidakpuasan akan selalu menyertai meskipun sebenarnya hidupnya tidak kurang suatu apa. Ada manusia yang justru merasa tidak puas karena merasa dirinya tidak memiliki kekurangan. Aneh, bukan?
Kebaikan dan keburukan adalah warna kehidupan, kita tidak mungkin mengabaikannya. Kebaikan dan keburukan adalah medan pembelajaran yang paling efektif asal kita selalu siap untuk belajar darinya. Tidak ada kehidupan yang sempurna, justru ketidaksempurnaan itu merupakan tanda-tanda kesempurnaan.
Siapapun diri kita semestinya kita terima dengan berjiwa besar. Kita tidak mungkin menolak siapa diri kita, tetapi kita bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan yang kita miliki dengan selalu belajar dan belajar. Bukan tindakan menguntungkan jika kita menyesali diri, karena penyesalan tidak pernah membuahkan solusi yang lebih baik.
Lebih baik kita memberdayakan apa yang kita miliki semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang kita idealkan dalam hidup ini. Tidak perlu melihat kanan kiri dan merasa orang lain hidupnya lebih baik, karena orang lain akan berpikiran serupa.
Berusahalah untuk selalu ridha terhadap takdir Tuhan, karena Tuhan selalu berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya. Tuhan tidak pernah berbuat aniaya, tetapi manusia sendiri yang tanpa sadar menganiaya dirinya sendiri. Tuhan menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, tetapi manusia seringkali menjadi tidak bersyukur karenanya.
Kita harus mengasumsikan bahwa cara kita memandang segala sesuatu harus sebagaimana adanya atau sebagaimana seharusnya. Memang harusnya seperti itu, memang seharusnya seperti ini hidup kita. Apa yang kita miliki baik atau buruk itulah yang diberikan Tuhan kepada kita dan kita harus yakin bahwa itulah yang terbaik.
Kita harus bisa menerima segala sesuatu yang tidak dapat kita ubah, karena kalau kita menolak kita akan menjadi apa? Apakah kalau kita tolak takdir itu hidup kita akan menjadi lebih baik? Atau jangan-jangan menjadi lebih buruk. Kenapa kita menolak padahal kelahiran ini bukan kehendak kita sendiri?
Selamanya kita akan merasa tidak puas jika kita belum bisa menerima takdir itu apa adanya. Selamanya kita akan dicekam kebimbangan karena kita akan sulit melangkah dan menentukan tujuan karena kita merasa ragu-ragu untuk melangkah. selamanya kita akan berada di awang-awang kalau kita selalu bermimpi indah dan memungkiri kenyataan yang terjadi. Haruskah kita menyia-nyiakan hidup ini dengan pikiran-pikiran tak berguna semacam itu? Kenapa kita tidak bersikap lebih dewasa sedikit dengan menerima apa adanya?


Mengelola perubahan dengan jiwa optimis






Seiring dengan mengalirnya waktu kita akan selalu mengalami sesuatu yang baru. Hari ini tidak sama dengan kemarin, dan hari esok berbeda dengan hari ini. Setiap saat kita mengalami perubahan, baik internal maupun eksternal. Baik diri kita sendiri maupun orang lain yang berubah. Perubahan tidak pernah berhenti.
Kemarin kita masih menjadi sales keliling, tetapi pagi tadi kita sudah dilantik menjadi manajer pemasaran. Alhamdulillah, rasa syukur kita panjatkan ke hadirat Yang Maha Kuasa. Tetapi apa yang akan terjadi esok pagi, kita belum tahu. Masa depan bukan milik manusia, melainkan milik Tuhan semata.
Akan selalu ada perubahan, biarpun kita merasa enggan untuk ikut-ikutan berubah. Hari ini nasib kita mungkin lebih baik dari kemarin, tetapi hari esok belum tentu. Hari ini mungkin kita beruntung, tetapi hari esok barangkali nasib kita lebih baik. Perubahan akan mengejar manusia dalam setiap aktivitasnya.
Perubahan seperti halnya kelahiran dan kematian adalah sesuatu yang tidak dapat kita tolak. Menolak tidak ada gunanya sebab perubahan akan selalu terjadi. Yang semestinya kita lakukan bukanlah menolaknya, melainkan mensiasatinya agar perubahan itu selaras dengan keinginan kita.
Hari ini kita mengalami hari yang paling berat, jauh lebih berat dari hari kemarin. Tetapi hari esok kita berharap kita menemukan hari yang lebih indah. Kita tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi esok hari ini, karena itu kita harus tetap optimis.
Mengelola perubahan sebenarnya tak jauh berbeda dengan upaya kita dalam mengelola pikiran. Kalau kita mampu mengelola pikiran dengan baik, hal itu akan lebih memudahkan kita untuk mengelola perubahan yang terjadi. Kalau kita selalu berpikir positif dan optimis, maka dengan sendirinya kita akan memandang perubahan itu dari kaca mata positif dan jiwa yang optimis.
Kita tidak bisa membayangkan dengan pasti perubahan apa yang akan terjadi, karena perubahan bukan sesuatu yang bisa dipastikan. Kecuali perubahan itu sendiri yang pasti, semuanya tidak pasti. Ketidakpastian itu hanya bisa kita hadapi dengan pola pikir yang positif dan jiwa yang optimis.
Karena kita tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi, dan semua orang agaknya bernasib sama, maka bisa dipastikan bahwa nasib manusia di masa depan semuanya mengandung ketidakpastian. Artinya setiap orang mengalami problem yang sama, yakni ketidakpastian masa depan.
Baik kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa semuanya memiliki masalah yang tidak jauh berbeda. Kalau hari ini bisa makan enak misalnya belum tentu esok atau seminggu bisa makan dengan sama enaknya. Sebaliknya jika hari ini hanya bisa makan dengan krupuk, belum tentu pula seminggu lagi tidak bisa makan dengan sate atau ayam goreng.
Semuanya tidak pernah tahu. Justru karena semua orang tidak ada yang tahu dengan pasti kita sendiri harus menyikapi perubahan itu dengan tersenyum. Kita tidak perlu takut untuk menghadapi perubahan, karena belum tentu perubahan itu lebih buruk dari apa yang kita alami sekarang.
Sebaiknya kita harus berharap penuh pada perubahan, kita harus menggantungkan diri pada perubahan. Namun kita harus mengantisipasi sedapat mungkin menurut kesiapan kita sendiri. Artinya kita harus menghadapi perubahan itu dengan bekal sebanyak-banyaknya. Mungkin saja nasib kita tidak jauh berubah, tetapi dengan bekal yang banyak kita masih bisa eksis.
Bekal itu mutlak diperlukan untuk menghadapi perubahan yang sekali lagi penuh ketidakpastian tersebut. Kalau kita kaya, bekal itu minimal membuat kekayaan kita tidak berkurang atau kalau nasib lagi baik akan semakin bertambah. Kalau kita miskin, dengan bekal itu kita berharap tidak semakin miskin nantinya.
Segala kemungkinan yang akan terjadi harus kita antisipasi semaksimal mungkin. Kita harus melakukan prioritas mana yang seharusnya kita lakukan dan mana yang semestinya tidak kita lakukan. Dan karena energi yang kita miliki sangat terbatas, maka energi itu harus kita gunakan seefektif dan seefisien mungkin.
Kalau kita merasa gamang menghadapi perubahan, kegamangan itu jangan ditambah dengan sikap kita yang pesimis dan penuh ketakutan. Keduanya justru akan menjadi beban bagi kesiapan kita dalam menghadapi perubahan tersebut.
Tetapi cobalah menghilangkan beban dan masalah yang mengganjal tersebut dengan selalu tersenyum. Senyum mungkin hal biasa, namun secara psikologis senyum ternyata mengandung tambahan energi. Senyum bisa diibaratkan seperti minuman suplemen ketika tubuh kita merasa kurang fit sehingga menjadi segar kembali setelah meminumnya.


Jangan terlalu
Mengharapkan
Ucapan terimakasih





Good deed need no praise. Perbuatan baik tidak membutuhkan pujian, kira-kira begitu artinya. Kata-kata mutiara itu banyak kita jumpai sebagai asesori pada buku tulis yang sering kita beli. Kandungan maknanya begitu dalam, apalagi dikaitkan dengan kecenderungan manusia yang semakin pragmatis ini.
Ada ungkapan lain yang maknanya hampir sama yakni, tangan kanan memberi tangan kiri di belakang punggung. Setiap kebaikan yang kita berikan kepada kehidupan hendaknya segera dilupakan seolah-olah kita tidak pernah melakukannya. Jangan pernah diceritakan kepada orang lain apalagi diungkit-ungkit.
Sehabis kita berbuat baik cerita sebaiknya diakhiri di situ saja, tidak perlu ada episode bersambungnya yang hanya akan mengurangi makna perbuatan itu sendiri. Dengan kata lain, berbuat baiklah tetapi jangan mengharapkan ada ucapan terimakasih.
Biarlah terimakasih atau tidak itu urusannya mereka sendiri. Urusan kita adalah berusaha berbuat baik, mereka mau berterimakasih atau tidak untuk apa dipikirkan. Kalau mereka berterimakasih kita hargai, tidak pun tidak perlu disesali. Apalagi sampai diungkit-ungkit dan diceritakan kepada orang lain.
Memang tidak mudah, kita tidak perlu malu mengakuinya. Namun sikap tanpa pamrih itu (walau sekedar ucapan terimakasih) harus semakin kita pupuk. Bukan besarnya perbuatan baik yang diperhitungkan, melainkan kadar keikhlasannya. Nilainya akan menurun drastis apabila kita melakukan sesuatu dengan tidak ikhlas.
Mengharapkan sesuatu walau sekedar ucapan terimakasih sama artinya dengan memberi ganjalan pada hati kita sendiri. Apalagi jika harapan itu tidak kesampaian, ganjalan itu rasanya semakin membesar dan membengkak. Kalau tidak segera diatasi ganjalan itu bisa menumbuhkan rasa kesal dan marah.
Artinya kita dengan sengaja menyusahkan diri kita sendiri. Orang yang tidak ikhlas itu memang susah dan sulit bisa tersenyum. Ketidakikhlasan membuat diri kita susah untuk menemukan kata bahagia, karena pikiran kita selalu dibayang-bayangi oleh kekesalan dan kemarahan akibat pemberian yang tidak dibalas dengan ucapan terimakasih.
Ucapan terimakasih itu sebenarnya tidak kita perlukan. Kalau mereka tidak mau berterimakasih biarkan saja, dengan begitu kita akan tahu bagaimana kepribadiannya. Seandainya pun mereka membalas perbuatan baik itu dengan ucapan terimakasih juga tidak mengubah apa-apa.
Senang atau tidak senang bukan karena ucapan terimakasih tetapi karena hati kita sendiri. Kita tidak perlu merasa tidak senang jika perbuatan baik kita rasanya tidak dihargai sama sekali. Biarkan saja, kita sebagai manusia hanya berkewajiban berbuat baik kepada sesama. Tetapi kita tidak wajib meminta orang lain mengucapkan terimakasih.
Yang kita perlukan sekarang adalah menumbuhkan atau meningkatkan keyakinan bahwa setiap perbuatan baik atau buruk pasti ada balasannya yang setimpal. Dan yang membalas itu hanya Tuhan Yang Maha Esa. Kita tidak perlu kuatir atau marah apabila perbuatan baik kita tidak dihargai sama sekali, sebab, Tuhan pasti akan membalasnya.
Sebaiknya setiap kita berbuat baik kita bayangkan diri kita sedang buang air besar(maaf). Kita kalau tidak buang air besar sehari saja rasanya pasti ada yang tidak beres di tubuh kita. Dan kalau sudah waktunya ke belakang tetapi kemudian ada yang menahan-nahan atau mencegah kita pasti akan marah atau menantang duel.
Begitu pula dengan perbuatan baik yang kita lakukan, kita justru harus merasa lega karena kita sudah berbuat baik. Sama leganya setelah kita habis buang hajat di kamar kecil. Apakah kita meminta ucapan terimakasih, sebaliknya seharusnya kitalah yang mengucapkan terimakasih karena setelah buang hajat kita bisa tersenyum senang.
Bedanya kalau buang hajat sehari sekali sudah cukup, tetapi berbuat baik itu harus kita lakukan terus menerus sepanjang hidup ini. Semakin banyak amalan baik kita, semakin besar balasan yang akan kita terima kelak di sisi-Nya. Asal saja semua itu kita lakukan dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karena itu kalau kita mengharapkan orang lain, apalagi memaksanya mengucapkan terimakasih berarti kita mengurangi jatah kita sendiri nanti di sisi Tuhan. Sayang sekali kalau begitu, sudah berpayah-payah berbuat baik tetapi kita tidak mendapatkan apa-apa, hanya sekedar ucapan terimakasih yang dipaksakan pula.
Setelah kita memahami hakekat persoalan ini, kita pasti bisa tersenyum. Kita memang harus selalu saling mengingatkan, karena manusia kata orang adalah gudangnya lupa.




Yakinlah
setiap persoalan ada jalan keluarnya



Dunia bukanlah panggung keabadian, kita memahami hal itu dengan baik. dunia selalu bergerak dan berubah, seperti diri kita sendiri yang selalu mengalami perubahan. Tetapi ada hal-hal yang tidak mengalami perubahan, biarpun perubahan itu tidak pernah berhenti barang sejenak. Salah satu contohnya adalah adanya siang dan malam.
Siang menghilang malam menjelang atau malam menghilang siang menjelang. Apakah peristiwa ini hanya kebetulan belaka, tentunya tidak demikian. Di dalam salah satu firman-Nya Allah sudah mengingatkan bahwa di balik penciptaan langit dan bumi dan bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir.
Kesimpulannya, hikmah di balik penciptaan itu hanya akan diperoleh bagi orang-orang yang selalu menggunakan akal pikirannya. Setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi sudah diperhitungkan dengan tepat sehingga semuanya saling berhubungan.
Semakin kita memberdayakan akal pikiran kita, semakin banyaklah pelajaran yang dapat kita petik. Bagi penulis, salah satu hikmah dari pergantian siang dan malam itu adalah pelajaran bahwa setiap persoalan itu pasti ada jalan keluarnya.
Dalam kondisi normal tidak mungkin siang terus menerus, atau malam terus menerus kecuali di sekitar kutub. Lebih luas lagi bisa ditarik kesimpulan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, pada saatnya penyakit yang selama ini tidak ada obatnya pasti akan ditemukan obatnya.
Begitu pula setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya, dengan kata lain jika tidak ada jalan keluar berarti bukan persoalan. Tetapi untuk sampai pada kesimpulan demikian kita harus memiliki keyakinan yang kuat dan juga akal pikiran yang jernih.Inilah rumus berpikir yang sederhana namun tepat guna. Silahkah dicoba kalau tidak percaya.
Persoalan yang sering menghinggapi manusia adalah menganggap persoalan sebagai persoalan dengan konotasi yang buruk. Padahal persoalan adalah aspek kehidupan yang amat penting bagi manusia. Manusia bisa bertahan dan melangsungkan kehidupannya karena selalu diliputi persoalan. Selama manusia bernapas selama itu manusia akan didera oleh persoalan demi persoalan.
Kehidupan itu sendiri sebenarnya persoalan, jadi persoalan bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Karena siapa yang menakuti persoalan berarti ia takut pada hidupnya sendiri. Jalan berpikir demikian berarti tidak masuk akal, hanya manusia yang bodoh yang takut pada hidupnya sendiri. Kita semua pastilah tidak mau dicap sebagai orang yang bodoh.
Jadi marilah kita membenahi cara berpikir kita. Cobalah untuk menjaga jarak dengan persoalan, berpikirlah dengan tenang dan pandanglah persoalan dengan hati yang lapang. Tidak perlu panik, cemas atau ketakutan seperti melihat hantu di siang bolong.
Cobalah untuk melihat persoalan dengan teliti dan menganalisanya dengan cermat. Apa yang membuat kita ketakutan melihatnya, haruskah kita takut? Yang namanya persoalan pasti membuat kening kita berkerut dan pikiran kita bekerja. Tetapi justru itulah yang kita perlukan, persoalan membuat akal pikiran kita aktif bekerja.
Keaktifan tersebut akan membantu diri kita mengenali persoalan dengan seksama sehingga kita bisa melihat jalan keluar yang selama ini tidak terlihat oleh mata kita yang sedang dilanda kekalutan. Kuncinya ada pada diri kita sendiri yakni semangat tinggi dan selalu berpikir dengan jernih dan obyektif.
Sebagian dari kita menjadi layu sebelum berkembang menghadapi persoalan, padahal persoalan itu bagi orang lain bukan apa-apa. Banyak orang yang berpikir praktis dengan melarikan diri dari persoalan. Harapannya di tempat lain dirinya tidak akan menemukan persoalan,tetapi ternyata justru di tempat barunya itu persoalan serupa menimpanya pula.
Ada pula yang cenderung melimpahkan persoalan kepada orang lain, ini adalah sikap orang yang pengecut. Tidak punya nyali mengatasi persoalannya sendiri, sehingga menempatkan dirinya lebih kecil dari persoalan tersebut. Padahal manusia jauh lebih besar dari persoalan, tetapi karena ketakutannya manusia tidak mampu melihat kebesarannya sendiri.
Melarikan diri dari persoalan adalah tipikal manusia yang tidak dewasa, cara berpikirnya masih kekanak-kanakan. Padahal semakin kita dibebani persoalan semakin mendewasakan diri dengan syarat kita berani menghadapinya dan tidak melarikan diri. Persoalan itu sendiri sebenarnya proses yang harus kita lalui, bukan hal yang harus kita takuti.
Orang yang tidak mau menghadapi persoalan berarti mentalnya tidak siap untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Persoalan itu seperti karir kita sendiri, untuk menjadi yang teratas harus melewati tangga demi tangga. Tidak mungkin langsung melompat ke atas. Kita pasti tidak mau menjadi tua biologis tetapi psikologis kita tetap anak SD.


Terimalah musibah sebagai nikmat Tuhan



Art mortell dalam bukuya :”Berani Menghadapi Kegagalan” mengatakan bahwa kemampuan kita untuk berhasil didasarkan pada kesediaan kita untuk menerima kegagalan. Banyak orang percaya bahwa antusiasme merupakan faktor utama meraih sukses. Namun kita perlu bertanya mengapa beberapa orang berani mencoba suatu pendekatan yang baru dengan penuh gairah, tetapi kemudian jika mereka tidak segera memperoleh hasilnya mereka akan berhenti berusaha.
Sedangkan sebagian yang lain memulai dengan hati-hati dan tanpa kesulitan mereka terus membangun semangatnya hingga tujuan mereka tercapai. Salah satu jawabannya adalah kemampuan seseorang untuk menerima kegagalan.
Kebanyakan orang begitu takut menerima kegagalan dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencari cara bagaimana cara bagaimana berhasil tanpa pernah ada kata gagal. Sayangnya kesempatan itu tidak pernah ada, karena tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan.
Kegagalan atau dalam bahasa yang lebih luas lagi adalah kemalangan adalah hal biasa yang terjadi di dalam kehidupan. Kemalangan akan menimpa manusia, tidak ada manusia yang luput darinya. Namun kadarnya berbeda-beda, ada yang berat, sedang dan ada yang ringan-ringan saja. Tetapi semuanya merupakan batu ujian bagi manusia.
Kebanyakan manusia meratapi kemalangannya berlarut-larut lama sehingga merusak akal sehatnya. Kemalangan membuatnya terpuruk sehingga hidupnya semakin menderita karena ia menjadi patah semangat dan putus asa. Mereka menyesali dan tidak mau menerima kemalangan itu, tetapi cara yang ditempuhnya justru semakin membuatnya menderita.
Kisah nyata di bawah ini mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua : Seorang istri dengan kelima anaknya tiba-tiba harus kehilangan suaminya akibat kecelakaan. Selama ini suaminya itulah satu-satunya tempat bergantung untuk mencukupi kebutuhan hidupnya setiap hari.
Banyak orang yang bersimpati kepadanya dan sebagian menunjukkan belas kasihannya tanpa ditutup-tutupi. Tetapi apa jawabnya,” Bagi saya ini adalah yang terbaik bagi saya dan kelima anak saya. Bagi saya ini bukan musibah, melainkan nikmat yang diberikan Allah kepada keluarga saya. Insya Allah hidup saya akan menjadi lebih baik sepeninggal suami saya, karena rejeki itu dari Allah.
Rejeki itu tidak akan pergi meskipun suami saya telah dipanggil menghadap-Nya karena Allah sudah berjanji akan mencukupi kebutuhan hamba-hamba-Nya. Setiap manusia sudah diatur rejekinya sendiri-sendiri. Insya Allah jika saya berusaha, rejeki itu akan datang juga, bahkan mungkin jauh lebih banyak daripada yang selama ini saya terima.”
Apakah sikap tersebut menunjukkan kesombongannya? Bukan, itulah sikap orang yang bertawakal kepada-Nya. Rejeki, jodoh dan ajal manusia berada di tangan-Nya, manusia tidak memiliki kewenangan sedikitpun untuk mengaturnya bahkan untuk dirinya sendiri.
Aa’ Gym mengatakan yang benar itu bukanlah mencari rejeki tetapi menjemput rejeki. Dinamakan mencari jika rejeki itu belum ada, padahal rejeki itu sudah ada dari sononya, hanya saja manusia harus menjemputnya. Caranya dengan selalu berusaha dan berdoa kepada-Nya.
Hidup ini sebenarnya sederhana sekali karena Tuhan sudah menyediakan segala kebutuhan hidup manusia. Tidak ada kebutuhan manusia yang tidak tersedia di muka bumi ini, semuanya ada dan semuanya untuk manusia. Juga sebenarnya tidak ada kemalangan kalau manusia memahami hakekat hidup ini sebenarnya.
Karena di balik kemalangan itu Tuhan akan melimpahkan anugerah-Nya. Tuhan tidak pernah menciptakan manusia untuk sengsara hidupnya, tetapi Tuhan memang sering memberinya ujian untuk mengetahui kadar keimanan seseorang kepada-Nya.
Bukan pula sikap sok menggampangkan persoalan apabila kemalangan itu tiada lain adalah nikmat semata. Memang kenyataannya demikian. Seperti kisah di atas, memang rejeki itu tidak putus walaupun suaminya telah meninggal. Karena yang berhak memberi rejeki itu hanyalah Allah, manusia hanya perantara saja.
Bahkan Allah sudah menjanjikan pahala yang besar bagi hamba-Nya yang sakit dan menerimanya dengan hati yang ikhlas. Rasa sakit itu akan mendapatkan balasannya yang setimpal di akherat kelak disamping pembalasan yang akan diterimanya di dunia. Itulah janji Allah dan janji Allah tidak pernah luput.
Secara psikologis memandang kemalangan sebagai nikmat merupakan sikap yang positif dan mampu memberikan energi untuk mengurangi beban penderitaan akibat kemalangan tersebut. Berbeda jika kemalangan itu disesali, maka beban itu akan semakin bertambah dan semakin sulitlah untuk kembali seperti sedia kala.



Dekati orang
yang tidak senang kepada kita



Apakah kita mengharapkan semua orang di dunia ini menyukai kita? Berat sekali rasanya dan tidak mungkin. Senang dan tidak senang itu adalah sunnatullah, karena itu tidak masuk akal apabila kita mengharapkan tidak ada satupun manusia di muka ini yang membenci diri kita. Satu atau dua orang pasti akan membenci kita, meskipun kita tidak benci kepadanya.
Berusaha hidup secara realistis dan logis merupakan sumber kebahagiaan. Jalani saja hidup ini apa adanya, jangan terlalu peduli kepada orang lain yang membenci kita. Biarkan saja mereka benci asal kita sendiri tidak benci kepadanya. Pada saatnya kebencian itu akan sirna dengan sendirinya.
Berusaha memandang kehidupan ini secara wajar dan menjalani dengan wajar pula kiranya memudahkan kita untuk menentramkan hati. Kita harus tetap mengendalikan diri agar tidak memandang rasa senang dan benci itu secara berlebihan, agar kita bisa menyikapinya dengan sikap yang paling baik.
Ketika ada orang lain menyatakan kekagumannya kepada diri kita, kita sambut gembira dan kita ucapkan terimakasih. Tetapi saat kita merasakan orang lain di sekitar kita menunjukkan tanda-tanda kurang menyukai kita, juga jangan ditanggapi secara emosional. Segera ingat bahwa senang dan benci itu adalah dua hal yang selalu ada.
Tetapi memang ada bedanya antara disukai dan dibenci orang. Pada saat kita merasa kehadiran kita disukai, hati kita merasa senang dan berbunga-bunga. Sebaliknya ketika merasakan ternyata ada orang yang membenci kita, terasa ada yang mengganjal di dalam hati. Perasaan seperti itu biasa dan manusiawi.
Di dalam hidup ini kita memang harus selalu pandai-pandai mengambil pelajaran dari segala sesuatu yang terjadi. Semestinya kita menjadi bersyukur ketika ada orang yang membenci, karena kita menjadi berhati-hati dan mengarahkan kita untuk berintrospeksi diri. Kenapa mereka benci, padahal hati kita tidak pernah benci kepada mereka?
Apakah kita pernah bersalah kepadanya tanpa kita sadari? Kalau kita bisa sedikit membijakkan diri, pertanyaan itu akan memenuhi benak kita. Tetapi dari situ kita menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan memandang sesuatu. Keadaan seperti itu akan selalu ada biarpun kita sudah berusaha sebaik mungkin kepada orang lain.
Pada titik ini kita seolah berada di persimpangan jalan –satu jalan mendorong kita untuk membalas kebenciannya, satu jalan lagi mendorong kita untuk memaafkan. Kebanyakan kita memilih jalan yang pertama karena emosi biasanya lebih kuat dari akal sehat kita. Inilah yang tantangan kehidupan yang harus kita lalui.
Pada saat-saat seperti itulah cobalah untuk mengambil jarak dari apa yang sedang terjadi. Menahan diri itulah kuncinya, jangan menuruti apa kata hati. Tetapi cobalah menghitung untung ruginya mana yang lebih menguntungkan dari dua jalan tersebut. setelah kita memperoleh gambaran yang jelas masing-masing Akibatnya, barulah kita memantapkan hati untuk memilih.
Hidup memang soal pilihan, tetapi pilihan itu bisa membawa implikasi yang hebat dalam kehidupan kita selanjutnya. Kalau kita salah memilih jalan kehidupan, kita akan menjadi tersesat dan untuk kembali ke jalan yang benar kadang tidak selalu mudah. Apalagi kalau kita merasa sudah sangat terlambat karena nasib sepertinya sudah berada di ujung tanduk.
Sebagai orang yang menginginkan akhir kehidupan yang lebih baik, maka kita seharusnya mendasari tingkah laku kita dengan prinsip benar - salah, bukan senang atau tidak senang. Hidup jangan hanya menggantungkan pada perasaan, tetapi kita harus menggunakan logika tanpa harus kehilangan perasaan.
Karena itu ketika kita merasa dibenci orang, langkah bijak yang kita lakukan adalah berusaha mencari tahu kenapa orang tersebut membenci. Mari kita dekati dan akrabi agar mereka mau membuka hatinya sehingga kita menjadi tahu alasan kebenciannya tersebut.
Memang menjadi orang-orang baik saja tidak akan bisa mengantarkan diri kita untuk menuju kesempurnaan. Kita perlu meningkatkan kualitas hidup ini dengan selalu berusaha keras agar menjadi orang yang terbaik. Kita jangan sebatas berusaha menjadi orang baik, tetapi kita harus memformat diri menjadi orang yang penuh dengan kebajikan.
Ketika ada orang benci kepada kita, rasanya kita tidak cukup untuk tidak membalas kebenciannya dengan kebencian yang serupa. Tetapi alangkah bijaknya apabila kita membalas kebencian itu dengan sikap dan tingkah laku kita yang bajik. Artinya, jika mereka membutuhkan pertolongan, kita berikan apa yang mereka mau dengan sukarela dan tanpa perasaan dendam.


Jangan berlebihan
menyikapi pujian
dari orang lain



Karakteristik manusia yang ikhlas hatinya adalah tidak gembira kalau dipuji dan tidak marah ketika dibenci. Baik pujian maupun kebencian akan diterimanya sebagai bagian kehidupan, tidak lebih dari itu. Keduanya ada plus minusnya, keduanya mengandung pelajaran apabila disikapi dengan bijaksana.
Bahkan pujian seringkali membuat manusia menjadi lupa diri kalau disikapi dengan berlebihan. Manusia kalau sudah mabuk pujian maka akan segera muncul rasa sombong, congkak, merasa paling benar, paling kuat dan merasa seolah-olah orang lain lebih kecil darinya. Pujian yang disikapi secara berlebihan akan menjadikan seseorang kerdil dengan kebesarannya.
Berlebih-lebihan dalam konteks apapun adalah sikap yang tidak menguntungkan bagi diri kita sendiri. Bukan sekedar kita akan kehilangan kepribadian tetapi sikap seperti itu akan merugikan diri kita sendiri. Ditinjau dari segi moral dan agama, berlebih-lebihan adalah sikap yang tidak baik karena itu tidak dianjurkan.
Haramkah apabila perasaan kita menjadi senang ketika dipuji orang lain? Tentu saja tidak. Perasaan seperti itu manusiawi siapapun namanya tak peduli kiai akan memiliki perasaan yang sama. Tetapi rasa senang itu janganlah ditampakkan secara berlebih-lebihan, senang boleh saja tetapi ungkapkan perasaan senang itu secara dewasa.
Kalau ada orang lain memuji kita, kita balas pujian itu dengan senyuman. Berterimakasihlah kepadanya tetapi tetaplah berhati-hati agar kita tidak menjadi kehilangan keseimbangan jiwa. Perhatikan apakah pujian itu tulus dari hatinya atau sekedar basa-basi karena menginginkan sesuatu dari kita.
Nabi bersabda di dalam salah satu hadistnya bahwa pujian yang diucapkan di depan orangnya sama artinya dengan menjerat leher orang yang bersangkutan. Ini adalah peringatan yang keras dari Nabi karena akibat pujian itu memang sangat besar dampaknya.
Banyak orang yang tidak kuat menahan pujian, sehingga hidupnya merasa di awang-awang. Pujian bisa membuat orang menjadi mabuk, orang yang sudah mabuk kadang tidak tahu apa yang sedang terjadi sehingga benar salah dilakukan juga. Barulah menyesal setelah semuanya telah terjadi, tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Kebanyakan manusia menjadi kalah oleh pujian tetapi tumbuh semangatnya karena dibenci. Kalau ada orang yang sengaja ingin menghancurkan kita, tidak harus dengan kekerasan tetapi dengan pujian. Mereka memuji-muji diri kita, menyanjung-nyanjung kebaikan yang telah kita lakukan dengan tujuan agar hati kita menjadi luluh kepadanya.
Ada pepatah yang tepat untuk hal ini yakni, ‘jabung alus, jala sutra’. Artinya mengadu domba secara halus dan menjaring dengan jaring sutra sehingga tidak kentara sama sekali. Betapa hebatnya pujian sehingga kalau kita tidak hati-hati menyikapinya maka kita akan termakan oleh perangkapnya yang halus sehalus sutra.
Tetapi juga bukan berarti kita harus selalu mencurigai orang yang memuji-muji kita, karena seseorang itu kadang kalau sudah senang dengan orang lain biasanya tidak bisa menahan diri. Kekagumannya itu langsung diutarakan di depan pujaannya tersebut, sehingga sering membuat risih dan malu yang bersangkutan.
Begitulah isi dunia ini, kalau kita mau merenung sejenak kita akan tersenyum sendiri. Aneh sekali rasanya membuat kita semakin memahami arti misterinya. Di situlah kita menjejakkan kaki entah untuk berapa lama dan selama itu kita akan menerima pujian dan juga kebencian silih berganti. Tidak ada yang harus kita lakukan kecuali menerima apa adanya sebagai takdir Allah.
Kita sendiri bukankah demikian? Kalau kita senang pada seseorang kadang-kadang kita tidak kuat menahan diri sehingga kita puji yang bersangkutan di depan hidungnya. Sering pujian itu memang sengaja dipamer-pamerkan di depan banyak orang, sehingga tanpa setahu kita yang bersangkutan sebenarnya merasa tidak enak hati. Tetapi kita sendiri menjadi lega karena perasaan tersebut bisa tersalurkan dengan bebas.
Kuncinya memang menahan diri, menahan diri di kala menerima pujian dan menahan diri ketika memberikan pujian. Mungkin seperti itulah tanda-tanda orang bijak, hidupnya seperti air yang mengalir dengan tenang. Apapun yang terjadi seolah-olah tidak sampai membuat perasaannya bergejolak, semuanya dihadapi dengan hati yang tenang.
Mudah-mudahan melalui perenungan ini kita semakin dewasa dalam menyikapi arti pujian tersebut, sehingga hidup kita akan selalu bisa tersenyum. Minimal tersenyum karena melihat di balik semua itu ada lelucon yang tersamar.
Hadapi kritik,
cercaan, dan hinaan dengan jiwa besar



“Abu Bakar RA duduk bersama Rasulullah SAW. Lalu datang seorang mencaci maki Abu Bakar dan waktu itu Rasulullah kagum dan tersenyum karena Abu Bakar mampu bersabar. Tetapi Rasulullah marah dan berdiri saat Abu Bakar membalas caci maki karena orang itu terus mencacinya. Abu Bakar bertanya kepada Raul, kenapa beliau tersenyum saat Abu Bakar dicaci maki orang, dan mengapa Rasull berdiri serta marah waktu Abu Bakar balas mencaci.
Rasulullah menjawab,”Sesungguhnya saya melihat waktu kamu diam, ada malaikat di sampingmu, tetapi setelah kamu membalas memaki, malaikat itu pergi dan setan berada pada dirimu. Sedangkan saya tidak mau duduk bersama setan.”
Itulah pesan terakhir melalui SMS Gubernur Sumatera Utara, Tengku Rizal Nurdin, salah satu korban tewas akibat kecelakaan pesawat Mandala dengan nomor penerbangan RI-091 di Medan(5/9/05) kepada salah seorang stafnya. Pesan itu kiranya sangat relevan dengan topik bahasan kita kali. Hendaknya seperti itulah sikap kita ketika menghadapi kritikan, cercaan ataupun hinaan dari orang lain.
Hidup ini bukanlah garis lurus yang bisa kita lihat dari satu titik, tetapi berliku-liku sehingga memerlukan sudut pandang yang tidak hanya satu. Dalam perjalanan kehidupan yang panjang ini kita akan mengalami hal-hal yang tidak pernah kita sangka-sangka bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun di benak kita.
Tidak selamanya hidup kita ini seperti yang kita harapkan, ada saat-saat tertentu kita dihadapkan pada persoalan yang tidak kita harapkan. Kita merasa tidak habis mengerti kenapa semua itu terjadi, padahal kita sepertinya telah sangat berhati-hati menjalani hidup ini. Kita tidak pernah berbuat jahat kepada orang lain, tetapi kenapa masih banyak orang lain berbuat jahat kepada kita?
Kalau tidak kuat menahan diri, persoalan itu bisa membuat diri kita menjadi loyo dan putus asa. Lebih parah lagi karena sudah tidak kuat menahan perasaan kita berubah menjadi fatalis. Menganggap Tuhan tidak adil, merasa Tuhan sudah memperlakukan dirinya dengan semena-mena. Akhirnya menjadi kufur.
Sebelum terlambat marilah kita berpikir bersama-sama apa yang sebenarnya terjadi. Kita mengingat kembali diri kita ini, bukankah hanya seorang makhluk Tuhan? Artinya apapun yang terjadi di semesta alam ini semuanya atas kehendak-Nya, manusia tidak memiliki kekuatan apapun untuk mencegah kehendak-Nya tersebut.
Tetapi yakinlah pula bahwa Tuhan tidak pernah menganiaya hamba-Nya dan Tuhan juga tidak pernah memberi cobaan kepada hamba-hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Tuhan selalu memberikan yang terbaik, tetapi yang terbaik hanya bisa dirasakan apabila kita bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.
Karena itu dalam menjalani hidup ini kita harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan, bahkan yang paling buruk sekalipun. Demikian pula ketika menerima caci maki, hinaan atau kritikan dari orang lain, hendaklah semua itu disikapi dengan kepala dingin dan dada yang lapang. Semua itu memang tidak pernah kita harapkan tetapi akan terjadi juga pada akhirnya.
Kita tidak perlu cemas atau panas hati karena memang semua itu sudah kehendak-Nya. Hal-hal semacam itu akan menimpa kita entah kapan kita tidak pernah tahu. Sikap kita yang paling baik adalah memberikan respons yang positif, pastilah ada kebaikan di balik hinaan dan cercaan yang menyakitkan tersebut.
Pada awalnya kita memang tidak bisa menerima, ada keinginan untuk membalas secara frontal. Tetapi dengan berprinsip hati boleh panas tetapi kepala tetap dingin, kita segera mampu mengendalikan diri. Kita dengarkan saja sampai semua kemarahannya terlampiaskan, kalau sudah lelah pasti akan berhenti juga.
Kalau kita bisa, sikapi dengan tersenyum. Segeralah berintrospeksi diri apakah kita pernah bersalah kepadanya, atau pernah membuatnya tersinggung entah kapan tanpa kita sengaja. Cobalah mengingat-ingat siapa tahu bukankah manusia itu gudangnya lupa.
Kalau kita merasa tidak bersalah mungkin saja telah terjadi kesalahpahaman dan kita harus mengetahui duduk perkaranya. Setelah semuanya reda dan kemarahannya sudah menurun, coba kita dekati. Kita ajak ngobrol baik-baik sambil memancing-mancing kenapa sampai marah-marah.
Kalau kita memang tidak bersalah, pastilah dirinya akan malu sendiri dan segera meminta maaf. Dengan pendekatan yang baik, orang yang semula memusuhi kita berbalik menjadi sahabat yang paling setia. Orang tersebut akan merasa sangat bersimpati sehingga melahirkan kekaguman kepada diri kita.
Tetapi jika hinaan dan caci maki kita tanggapi dengan caci maki yang sama, maka yang terjadi adalah perseteruan terus menerus tanpa ada akhirnya. Dan hal ini akan merugikan diri kita sendiri.


Mengubah kekesalan menjadi motivator





Banyak kisah nyata yang menceritakan bahwa situasi yang kepepet membuat manusia mampu mengeluarkan simpanan kekuatannya yang terpendam. Dalam kondisi normal rasanya seseorang itu mustahil melakukan hal tersebut, tetapi karena kepepet maka apa yang menurut logika tidak mungkin menjadi sangat mungkin.
Kisah di bawah ini mungkin bisa dijadikan bukti bahwa manusia sebenarnya memiliki kekuatan luar biasa di dalam dirinya, hanya saja energi tersebut selama ini tidak bisa keluar karena tidak tahu bagaimana mengeluarkannya. Hingga kini belum ada teori bagaimana mengeluarkan kekuatan yang luar biasa tersebut dalam kondisi normal.
Alkisah di negeri Belanda yang bersalju ada orang tua yang memiliki anak gadis yang sangat cantik. Mereka hidup berdua karena sang ibu sudah lama meninggal dengan harta kekayaan yang melimpah. Namun sang ayah merasa gelisah karena anak gadisnya belum juga menunjukkan tanda-tanda mau menikah. Padahal usianya sudah di atas tiga puluhan.
Sang ayah sudah lama sekali kepingin momong cucu, tetapi anak gadisnya kendati didesak-desak tetap saja tidak mau menikah. Sebenarnya bukan tidak mau tetapi karena tidak ada seorang pemuda pun yang berani meminangnya karena merasa tidak sepadan dengan kekayaan dan kecantikannya.
Bagaimana ini? Setelah bingung berpikir dan minta nasehat ke sana kemari akhirnya muncullah ide brilian. Kalau menunggu ada yang meminang, rasanya sampai tua pun tidak akan ada yang berani. Sebagai orang tua ia tidak ingin anak gadisnya yang cantik itu menjadi perawan tua dan hidup merana tanpa suami.
Jalan satu-satunya adalah mengadakan sayembara, seperti kisah-kisah di negeri dongeng. Di rumahnya yang luas dan mewah ia memiliki kolam renang yang cukup luas, di sanalah mereka berdua sering berenang sepuas-puasnya. Maka diundanglah sejumlah pemuda yang kira-kira kekayaan dan ketampanannya seimbang dengan anak gadisnya yang cantik.
Setelah makan minum sepuasnya pemuda tersebut diajak ke tepi kolam. Sang ayah kemudian berkata : Barangsiapa yang paling cepat berenang sampai ke ujung kolam akan diambil menjadi menantunya. Tetapi diingatkan bahwa kolam itu sudah diisi dengan beberapa ekor buaya.
Tentu saja mereka menjadi bimbang hatinya. Siapa sih yang tidak ingin menjadi suami gadis yang cantik itu namun siapa orangnya yang berani berenang dikelilingi buaya. Sampai sekian lama mereka hanya berbisik-bisik antara takut dan harap, tetapi tidak ada yang berani menjadi pemula. Mereka tidak mau menukar nyawanya dengan gadis cantik itu walaupun sebenarnya sangat menginginkannya.
Tiba-tiba ada seorang pemuda yang meloncat ke dalam kolam dan berenang secepat-cepatnya sampai ke ujung tepian. Anehnya pemuda itu berenang dengan memakai baju pesta lengkap dengan sepatunya. Mereka semua akhirnya bertepuk tangan menyatakan rasa salut dan kagumnya. Otomatis dialah satu-satunya pemuda yang berhak menyunting anak gadisnya.
Setelah berkumpul kembali pemuda tadi diberi ucapan selamat atas keberaniannya. Tetapi meskipun hatinya senang, pemuda yang telah basah kuyup itu malah bertanya,” Siapa tadi yang mendorongku masuk ke kolam?” Ternyata apa yang dilakukannya bukan atas inisiatifnya sendiri melainkan karena ada yang mendorong tubuhnya.
Siapa? Usut punya usut yang mendorong pemuda tadi masuk ke kolam tidak lain adalah sang gadis sendiri. Rupanya diam-diam sang gadis menyeleksi satu persatu pemuda yang diundangnya tersebut, setelah menemukan yang paling cocok barulah ia melakukan aksinya.
Kisah di atas memberi gambaran bahwa rasa stres, gelisah dan takut adalah sumber motivasi yang besar tanpa kita sadari. Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah di atas adalah kita harus bisa mengubah rasa takut, stres, kesal atau ketakutan itu menjadi motivasi, bukannya malah menjadi penghancur motivasi.
Manusia adalah makhluk yang berperasaan sehingga wajar apabila dalam lintasan kesehariannya mengalami rasa stres, kesal, gelisah atau takut. Semua orang pasti pernah mengalami kondisi seperti itu, tetapi kita harus bisa memanfaatkan kondisi tersebut sebaik-baiknya sehingga diri kita memiliki kekuatan untuk melawannya.
Rasa takut itu menakutkan bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian yang lain rasa takut itu membuatnya menjadi semakin berani. Manusia yang sekian lama dirundung ketakutan pada titik tertentu akan bangkit melawan ketakutannya tersebut. Mereka lupa pada ketakutannya sendiri justru karena mereka merasa sangat takut.
Oleh karena itu ketika diri kita menjadi kesal, cobalah alihkan rasa kesal itu menjadi motivasi. Jadikan kekesalan itu sebagai sumber energi baru untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Mencari
Kebahagiaan
di dalam hati


Saya tidak tahu bagaimana nasib anda kelak, tetapi ada satu hal yang saya ketahui :Mereka yang benar-benar berbahagia hanyalah mereka yang mencari dan menemukan cara membaktikan diri
Albert Schweitzer

Problem utama manusia sejak awal kelahirannya hingga menjelang kematiannya adalah kebahagiaan. Tak dapat dipungkiri bahwa bahagia adalah dambaan manusia, segala cara dilakukan untuk memperolehnya. Ada yang menggunakan cara yang wajar, tetapi tidak sedikit yang menggunakan cara-cara yang tidak wajar.
Manusia selalu mencari kata bahagia sejak awal kelahirannya bahkan sejak manusia masih dalam budaya yang serba primitif. Ribuan atau mungkin jutaan pendapat dikemukakan untuk memberi gambaran yang jelas tentang kebahagiaan tersebut.
Aristoteles misalnya berpendapat bahwa bahagia ialah apabila seseorang mencapai apa yang diinginkannya. Sedangkan Leo Tolstoy (1828-1910) pujangga Rusia yang terkenal itu mengatakan bahwa kebanyakan orang gagal mencari bahagia karena kebahagiaan itu dicarinya untuk dirinya sendiri, bukan untuk bahagia bersama orang lain.
Nabi bersabda bahwa bukannya kekayaan itu dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati. Dari sekian pendapat di atas memberi kesimpulan bahwa keinginan manusia untuk mencari bahagia sudah ribuan bahkan jutaan tahun lamanya.

Itulah sekilas gambaran manusia yang selalu disibukkan oleh upayanya mencari kata bahagia. Ada yang berhasil, setengah berhasil tetapi banyak juga yang berakhir dengan kesia-siaan. Persoalan bahagia begitu menggoda manusia sehingga manusia tidak bisa melepaskan diri sedikitpun darinya.
Sebagian orang menganggap kebahagiaan adalah barang mewah yang hanya terdapat di dalam rumah-rumah yang mewah, taman yang indah, mobil yang mutakhir, kebun buah yang lebat menghampar atau di balik keindahan emas berlian. Mereka yakin bahwa apabila mereka memiliki sebagian atau bahkan seluruh barang-barang tersebut hatinya akan bahagia.
Akhirnya manusia berlomba-lomba menumpuk harta bendanya. Membangun rumah yang mentereng bertingkat dan berpenjaga, membeli mobil-mobil buatan Eropa yang harganya selangit, membeli perusahaan sekian banyak jumlahnya dengan harapan agar kebahagiaan itu bisa menjadi miliknya.
Belum cukup juga, lantas membangun istana yang berswalayan dan berpuskesmas sehingga apabila belanja sesuatu tidak perlu antri di swalayan umum atau kalau jika merasa sakit cukup memenjet bel yang ada di atas tempat tidurnya. Semuanya tercukupi bahkan bukan sekedar cukup tetapi mewah semewahnya.
Sudahkah semua itu membuatnya bahagia? Kenyataan membuktikan bahwa kebahagiaan yang lahir dari harta benda atau materi semata adalah kebahagiaan yang semu. Bukan kebahagiaan yang sebenar-benarnya, sifatnya hanya sementara setelah merasa bosan akan kembali merasa tidak bahagia. Biarpun harta benda itu ditambah sepuluh kali lipat jumlahnya.
Padahal yang dicari adalah kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang kekal abadi dunia akherat. Kebahagiaan yang bersumber dari hatinya sendiri yang selalu bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Sudah merasa meskipun hidupnya hanya pas-pasan karena hatinya selalu mensyukuri dengan apapun yang diberikan Tuhan untuknya.
Bahagia yang sebenar-benarnya itu hanya akan kelihatan apabila kita memandangnya dengan hati yang bening dan kepala yang jernih. Di situlah letak hakekat kebahagiaan yang sesungguhnya, tetapi kebanyakan manusia tidak mampu melihatnya karena hatinya tertutupi oleh nafsu tamak dan serakah.
Sebagaimana firman Allah,: “Alaa bidzikrillaahi tathmainnul qulub – hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (QS. Ar-Ra’d :28). Bahagia itu adanya di hati dan hati yang bahagia adalah hati yang selalu diisi dengan asma Allah.
Mudah sekali sebenarnya, sayangnya manusia kadang lebih memilih jalan yang sulit meskipun yang mudah terpampang di depan matanya. Hal itu disebabkan oleh nafsu manusia yang tidak pernah puas, dan manusia cenderung untuk menuruti nafsunya tersebut.
Padahal andai manusia mampu menahan diri sedikit, maka persoalan yang sebenarnya mudah itu bisa diatasi dengan mudah pula. Memang, dalam banyak hal kesederhanaan adalah kunci keberhasilan. Tetapi manusia banyak yang menginginkan hidupnya tidak kelihatan sederhana karena nafsunya untuk tampil beda.
Akhirlah manusia bukan saja semakin jauh dari kata bahagia, tetapi juga menjauh dari Sang Pencipta.


Menjadikan
iman sebagai
nakhoda kehidupan




Sebagai orang yang religius kita harus beriman kepada Tuhan. Beriman artinya percaya bahwa hidup mati manusia tergantung kepada-Nya. Konsekuensinya segala tingkah laku kita, apapun yang kita lakukan seharusnya selalu disandarkan kepada Tuhan Sang Pencipta.
Rasa percaya itu hendaknya bukan sekedar ucapan di bibir saja, melainkan diimplementasikan ke dalam perbuatan. Artinya, rasa percaya itu hendaknya menjiwai terhadap kehidupan kita sehingga kita merasakan pula bahwa seluruh aktivitas kita harusnya hanya memiliki satu nakhoda, yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Makna Iman menurut Prof Dr Nurcholish Madjid bukan sekedar percaya. Pemberian arti demikian itu tidak salah tetapi tidak mencakup keseluruhan maknanya. Untuk memperoleh gambaran tentang maknanya yang lengkap, ada baiknya jika mengingat kembali bahwa perkataan ‘iman’ berasal dari akar kata yang sama dengan perkataan ‘aman’ dan ‘amanat’.
Karena itu iman yang membawa rasa aman dan membuat orang mempunyai amanat itu tentu lebih daripada hanya percaya dalam arti sekedar percaya adanya Tuhan. Sebab, setan dan iblis pun percaya kepada Tuhan. Karena pengertian iman sebagai ‘percaya’ tanpa konsekuensi nyata bisa tak bermakna, atau absurd, mungkin ‘mempercayai’ atau ‘menaruh kepercayaan’ kepada Tuhan akan sedikit memperjelas makna iman itu.
Dalam perkataan ‘mempercayai’ atau ‘menaruh kepercayaan’ kepada-Nya terkandung pengertian sikap atau pandangan hidup yang dengan penuh kepasrahan menyandarkan diri (tawakkal) kepada Tuhan dan kembali kepada-Nya. Sebab, memang salah satu wujud rasa iman itu ialah sikap hidup yang memandang Tuhan sebagai tempat menyandarkan diri dan menggantungkan harapan.
Dalam perumpamaan yang sederhana, beriman yang bertauhid itu sering digambarkan seperti laju sebuah kapal. Kapal mustahil akan menuju ke tujuan apabila memiliki dua nakhoda, di mana-mana yang namanya nakhoda itu hsnya satu pada setiap kapal. Setiap negara hanya memiliki satu presiden, tidak mungkin lebih dari satu.
Ini adalah perumpamaan yang disamping mudah dipahami juga mudah diterima oleh akal sehat. Karena itu pemahaman seperti di atas sifatnya universal, karena bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dari manapun asal bangsa dan sukunya. Inilah kebenaran universal yang mutlak sifatnya.
Sistem boleh canggih, tehnologi boleh yang paling mutakhir, tetapi mustahil mampu membuat pesawat yang bisa dipiloti oleh dua orang dalam waktu yang bersamaan. Kalau satunya pilot, satunya lagi co-pilot itu masih mungkin. Satu sopir, satunya lagi kernet sudah umum di mana-mana. Tetapi dua pilot atau dua sopir, artinya dua perangkat yang sama dimainkan oleh dua orang secara bersama-sama mungkinkah akan mencapai tujuan yang sama?
Teori kemanusiaan tidak memungkinkan hal itu terjadi. Sebabnya, masing-masing orang berbeda-beda. Tidak ada orang yang sama persis meskipun dilahirkan kembar dan dari rahim ibu yang sama. Perbedaan itu mempengaruhi pola pikir, harapan, tujuan dan semuanya yang berkaitan dengan harkat kemanusiaannya.
Pertanyaannya sekarang adalah kenapa masih ada orang yang memaksakan diri dan bertindak tidak logis dengan memiliki nakhoda lebih dari satu di dalam hatinya untuk mengarungi hidupnya. Jawabannya yang paling sederhana adalah karena manusia belum sepenuhnya memahami hakekat keimanan khususnya dalam implementasinya atas hidupnya.
Disamping bodoh manusia adalah makhluk yang cenderung serakah sehingga meskipun sebenarnya satu saja lebih dari cukup, masih menginginkan lebih banyak lagi. Karena logika yang dipakai adalah : “Kalau satu saja sudah begini, apalagi lebih dari satu”. Ini yang disebut penjungkirbalikan logika jika dikaitkan dengan aspek ketuhanan.
Logika tersebut mungkin berlaku secara umum, tetapi tidak berlalu untuk menunjukkan eksistensi Tuhan. Penyakit lain yang biasanya menghinggapi manusia adalah menggeneralisasi sesuatu dan mencari mudahnya saja. Kedua penyakit itu ditambah dua lainnya yang disebutkan sebelumnya melahirkan sikap dan perilaku yang menuhankan banyak hal.
Ada tuhan-tuhan kecil di dalam hatinya, saking banyaknya sehingga Tuhan Yang Maha Esa yang tiada banding kebesaran-Nya tidak kelihatan karena tertutupi oleh tuhan-tuhan kecil tadi. Manusia kehilangan daya nalarnya sehingga tidak mampu melihat lagi kebenaran yang hakiki. Akibatnya, jalan hidupnya menjadi tersesat sesesat-sesatnya.
Manusia yang seperti itu akan kesulitan menemukan akhir yang bahagia di dalam batas terakhir kehidupannya. Hidupnya seolah-olah diombang-ambingkan oleh sekian macam pemujaan yang sebenarnya sangat tidak perlukan karena seharusnya ia hanya memuja Yang Satu, Yang Esa.


Mengembangkan
toleransi terhadap sesama


Perlakukan orang lain seolah-olah mereka itu seperti apa yang seharusnya dan anda akan menolong mereka menjadi apa yang dapat mereka wujudkan
Johan von Gothe

Toleransi, maaf jangan salah dengan telor asin adalah kunci pergaulan. Mau dan mampu memahami orang lain dan sebaliknya mau dan mampu dipahami oleh orang lain adalah sarana mencapai kesuksesan membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain.
Heterogenitas adalah kenyataan kongkret yang terpampang di depan mata. Keberagaman dalam segala hal adalah kekayaan peradaban yang memberikan warna-warni tersendiri dan membebaskan kehidupan ini dari kegersangan. Dan akhirnya ketidaksamaan menumbuhkan semangat persatuan, jika sudut pandangnya adalah pembangunan jiwa nasionalis dan patriotis.
Perbedaan tidak dapat kita pungkiri adalah kenyataan sehari-hari, bahkan dalam diri kita pun ada perbedaan. Kita melihat diri sendiri sebagai wujud yang berbeda dari orang lain, baik rupa, warna, tabiat maupun tujuan serta latar belakangnya. Setiap manusia memiliki kekhasan sendiri-sendiri yang memudahkan kita untuk saling mengenal.
Kita adalah makhluk yang berbeda, tetapi adalah pula makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Kita semua adalah makhluk yang saling tergantung satu sama lain meskipun masing-masing memiliki perbedaan baik kepentingan atau yang lain. Bahkan kita kadang menjadi kesal kalau disamakan dengan orang lain.
Interaksi, komunikasi akan selalu terjadi sebagai akibat saling ketergantungan tersebut. Hampir tiap hari kita mendatangi atau didatangi orang, suatu saat kita membutuhkan dan pada saat yang lain dibutuhkan orang lain. Begitulah selalu yang terjadi sampai kita menjadi makhluk hidup. Kita hidup di dalam keadaan yang demikian itu.
Karena itu kita perlu dan penting untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. perbedaan yang ada hendaknya membuat diri kita untuk mau dan mampu memahami keberadaan orang lain yang memiliki kepentingan dan juga tujuan hidup yang berbeda. Kita harus bisa menerima perbedaan itu sebagai suatu hal yang lumrah.
Ada orang bijak yang mengatakan : “Jika saya diharapkan meringkas dalam satu kalimat satu prinsip paling penting dalam hidup yang sudah saya pelajari dalam hubungan antar pribadi, maka ringkasan itu adalah : Berusaha mengerti lebih dulu, baru dimengerti. Prinsip tersebut adalah kunci untuk komunikasi antar pribadi”.
Mungkin atau kira-kira seperti itulah yang harus kita lakukan kepada orang lain. Mengerti dulu baru dimengerti. Selalu berusaha memahami orang lain sebelum berusaha untuk dipahami oleh orang lain. Itulah yang harus kita lakukan ketika kita mengalami perbedaan pendapat atau kepentingan. Mencari tahu kenapa perbedaan itu muncul dan apa sebabnya.
Kadang kita keliru ketika memandang orang lain, sering kita memandang orang lain diri kita sendiri. Akibatnya kita menjadi egois, yang terbaik bagi kita dianggap yang terbaik bagi orang lain. Kita menjadi orang yang tidak bisa mengerti perasaan orang lain, karena perasaan kita sendiri yang kita tonjolkan.
Henry Ward Beecher mengatakan bahwa tak seorang pun dapat memahami hati manusia kecuali jika dia memiliki simpati yang dibangkitkan oleh cinta. Simpati dan cinta adalah perkembangan lebih lanjut dari apa yang dinamakan oleh toleran. Kita memang harus menuju ke sana, tetapi untuk maksud tersebut mungkin harus kita lalui dengan mengembangkan budaya toleransi.
Toleransi atau saling pengertian atau padanannya adalah tepa selira adalah menempatkan orang lain pada posisi kita sendiri. Artinya, kalau kita memiliki tujuan dan kepentingan, orang lain pun sama. Sama artinya seperti kita mengatakan sama-sama memiliki komputer dan motor, tetapi merknya berbeda.
Etika pergaulan yang baik adalah menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri kita sendiri, apalagi jika orang lain dimaksud adalah masyarakat. Kalau kita menyadari bahwa orang lain itu juga memiliki pendapat atau ide, gagasan seperti kita, maka seyogyanya kita berusaha mendengarkan dulu orang lain bicara barulah kemudian diri kita.
Minimal kalau kita belum mampu bersikap demikian, kita bisa belajar untuk memberikan apresiasi atau penghargaan kepada orang lain. Hindari perasaaan berlebihan atau merasa lebih baik atau lebih pintar, karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan sekaligus.
Kekurangan orang lain barangkali menjadi kelebihan bagi diri kita, atau sebaliknya kelebihan yang kita miliki bagi orang lain mungkin dipandang sebagai kelemahan. Kita harus pandai-pandai mengelola perasaan kita, sebab bergaul dengan orang lain kadang sering menimbulkan gesekan perasaan.



Ingatlah kembali
bahwa hidup ini
bagaikan roda berputar




“Roda jaman terus berputar, terseret tertatih-tatih. Sungguh hidup terus diburu, berpacu dengan waktu. Tak ada yang dapat menolong selain Yang Di Sana. Tak ada yang dapat membantu selain Yang Di Sana…………”

Di atas adalah penggalan syair lagu yang pernah populer belasan tahun silam dan disenandungkan oleh Ebiet G Ade. Itulah gambaran sekilas tentang dunia ini, seperti roda yang terus berputar. Berputar terus menerus seperti gasing sampai nanti akhir jaman. Entah kapan hal itu terjadi, kita tidak pernah tahu.
Perumpamaan di atas bukan saja menggambarkan bahwa kehidupan ini akan selalu berubah, tetapi mengisyafkan kita bahwa nasib manusia berada di tangan-Nya. Hitam putihnya nasib manusia tidak bisa ditentukan oleh dirinya sendiri, tetapi oleh satu kekuatan Yang Maha Dahsyat.
Perputaran nasib manusia akan selalu terjadi. Tidak ada orang yang selamanya berada di atas, pada saatnya akan berada di pinggir bahkan di titik paling bawah. Tidak ada satu pun manusia yang selamanya akan menikmati kenikmatan dunia tanpa ada hentinya, pada titik tertentu ia harus mempertanggungjawabkan akibat perbuatannya yang dilakukan sebelumnya.
Ini adalah hikmah yang luar biasa bagi manusia yang mau berpikir. Pelajaran yang teramat berharga sebagai bekal menjalani kehidupan selanjutnya, sayang sekali kalau diabaikan begitu saja. Ini juga sebuah teori kehidupan yang tak terbantahkan sedikitpun kebenarannya, kita semua harus bisa menghayati serta mengamalkan apabila menginginkan hidup kita selanjutnya selamat dan bahagia.
Gambaran di atas memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Biarpun masa depan bukanlah garis lurus yang terang benderang, namun perumpamaan tersebut bisa dijadikan ancer-ancer untuk menjalani hidup selanjutnya. Seperti rambu-rambu lalu lintas, setelah merah, kuning pasti hijau, begitu seterusnya.
Kita semua hendaknya menyadari bahwa kita akan selalu mengalami kesedihan, kekecewaan bahkan penderitaan disamping kebahagiaan. Sudah kodratnya demikian, kita tidak mungkin bisa menolaknya. Karena itu disaat sedang merasa berbunga-bunga, hendaknya tetap menahan diri karena pada waktunya akan muncul kesedihan tanpa terduga-duga.
Perputaran nasib adalah sunnatullah, hukum alam yang berlaku mutlak bagi kehidupan di muka bumi ini. Ini adalah peringatan bagi kita semua agar kita selalu berhati-hati dalam melangkah dan tetap berada dalam koridor yang selaras dengan hukum alam tersebut. hiduplah dalam kategori yang wajar-wajar saja, tidak perlu berlebihan.
Jangan merasa takabur ketika nasib baik sedang berpihak kepada kita, sebaliknya jangan juga merintih apabila nasib buruk sedang menimpa kita. Baik dan buruk akan selalu berganti, tidak ada satu teori pun yang bisa menghalanginya. Ketika sedang jaya-jayanya kita harus semakin meningkatkan rasa syukur kita agar kejayaan itu tidak segera sirna. Sebaliknya ketika kita sedang berada di bawah kita juga harus rajin berdoa agar nasib baik secepatnya kita miliki.
Hanya dua itulah sebenarnya kunci memperoleh kebahagiaan. Karena hidup kita ini memang bukan milik kita, kita hanya memiliki hak pakai saja, tetapi kita tidak punya sertifikat yang mengesahkan bahwa diri kita memiliki hak milik atas diri kita sendiri.
Dengan meyakini hukum alam tersebut tidak ada alasan bagi kita untuk bersedih dan merasa kecewa ketika sedang jatuh. Biarkan saja jatuh, karena kita tidak mungkin akan jatuh untuk selamanya, kecuali jika kita memang tidak pernah berusaha untuk tidak bangkit lagi. Tidak perlu disesali tetapi penting untuk dijadikan pelajaran agar kita tidak jatuh untuk kedua kalinya.
Itulah pula yang harus kita lakukan ketika melihat orang lain bahagia atau menderita. Tidak boleh iri hati kepada orang-orang yang sedang dilimpahi rejeki oleh Allah dan juga tidak boleh mencibir kepada orang yang sedang kesusahan. Karena dua hal tersebut pada saatnya akan berlaku juga pada diri kita sendiri.
Karena itu ketika kita sedang diberi keberkahan oleh Allah, hendaknya rahmat itu kita gunakan sebaik-baiknya demi kemaslahatan umat manusia. Sebaliknya ketika kita sedang diuji dengan kesusahan, tetaplah bersandar kepada Allah sambil mengingat bahwa masih banyak orang yang lebih susah hidupnya dibandingkan kita.
Semuanya harus kita kembalikan kepada Sang Pencipta kehidupan ini, yakni Allah. Tidak ada yang dapat menolong kita kecuali Allah pemilik alam semesta raya ini. Kita harus selalu mengingat-Nya baik di kala kita sedang sibuk bekerja, maupun ketika kita memiliki banyak waktu untuk merenung.. Hidup ini
Memang sederhana, kok

Carilah rejeki
yang halal




Untuk memberi rumusan yang paten dan kompeten dalam hidup ini dasarnya tetap saja sama, yakni kebaikan akan membawa kebaikan sedangkan keburukan akan membawa keburukan. Baik dan buruk ada balasannya sendiri-sendiri yang setimpal. Kita harus meyakini hal bukan semata-mata karena merupakan wahyu Allah, melainkan secara logika bisa dipertanggungjawabkan.
Dasar berpijak berpikir yang demikian bisa dikembangkan secara meluas, tak terkecuali ketika kita sedang mempertimbangkan halal haram suatu persoalan. Hendaknya kita mengingat kembali bahwa langkah pertama yang harus kita lakukan dalam memandang sesuatu adalah baik dan buruknya, bukan suka atau tidak suka.
Dalam konteks halal haram jelas sekali bahwa yang halal itu pasti baik dan yang haram pastilah tidak baik. Kedua hal ini semestinya mendasari kita dalam mengambil keputusan, dan tentunya sebagai orang yang beriman kita memilih segala sesuatu yang baik-baik saja.
Memang kita sadari bahwa gambaran teoritis yang sepintas kilas kelihatan mudah itu tidak selamanya mudah ketika diimplementasikan ke dalam kenyataan yang kongkret. Harus kita akui bahwa memang susah sekali membedakan dalam arti seluas-luasnya untuk membedakan antara halal dan haram.
Halal haram bedanya setipis kulit ari, bahkan pada kondisi tertentu keduanya bisa bercampur aduk sehingga sangat susah dipilah-pilah mana yang halal dan mana yang haram. Pada kondisi seperti inilah manusia yang semakin pragmatis tidak mau ambil pusing, yang penting rejeki itu ada dan bisa dimilikinya.
Kita hidup di era banyak orang yang mencibir jika membahas halal haram suatu masalah, karena menurut mereka relevansinya semakin tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pola berpikir yang bisa kita maklumi meskipun kita tidak dapat membenarkan. Memaklumi karena sepertinya itulah yang paling mudah dilakukan manusia ketika kita semua terlibat dalam persaingan yang paling keras untuk sekedar berebut sesuap nasi.
Tetapi kalau kita punya komitmen kuat untuk berbahagia, maka kita harus berpikir ulang haruskah kita ikut-ikutan dalam pola pikir yang sedang ngetren tersebut atau kita harus melawan arus? Kalau kita memahami persoalan kehidupan seperti yang digambarkan di muka, tentunya kita bisa mengerem walaupun kesempatan untuk berbuat tidak baik itu selalu menggoda kita.
Konsekuensi dari suatu perbuatan sudah kita pahami bersama, sekarang langkah kita adalah menguatkan diri. Karena kebahagiaan itu meskipun ada teorinya tetapi teori itu kadang kalah dengan kenyataan yang sedang terjadi. Godaan untuk tidak mematuhi teori yang kata sebagian orang hanya teori itu sangat kuat bahkan semakin kuat akhir-akhir ini.
Untuk menguatkan hati sebaiknya kita semakin rajin belajar dan memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Kita buka mata kita lebar-lebar dan kita pasang telinga dengan seksama untuk melihat dan mendengarkan kisah-kisah kehidupan. Benarkah yang baik itu akan berakhir dengan baik dan yang jahat akan berakhir dengan ketidakbahagiaan? Kalau kita jujur kita pasti tidak sulit menjawabnya.
Kita akui bahwa mencari yang halal itu sulit, tetapi apakah mencari yang haram itu lebih mudah? Tidak selamanya demikian, kalau ada yang berpikir demikian kiranya pernyataan itu tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat. Doyan togel yang katanya bisa menyulap kemiskinan menjadi kekayaan dalam sekejap, buktinya tidak sedramatis itu.
Bahkan sekarang ini pecandu togel harus berpikir seribu kali jika ingin melampiaskan nafsunya tersebut karena penegak hukum tidak main-main lagi untuk memberantas penyakit masyarakat tersebut. Banyak buktinya bandar togel yang semula kaya dan hidupnya mewah kembali kere sekere-kerenya karena kekayaannya seolah lenyap dalam sekejap.
Silahkan saja bila ada yang mencibir, tetapi fakta akan membuktikan bahwa hal itu memang benar. Kebenaran ini bukan saja bisa diterima oleh orang yang sehat akalnya sehingga tidak mau sedikitpun berdekatan dengan togel, tetapi juga diterima oleh mereka yang menjadi insyaf setelah sebelumnya menekuni bahkan menjadi bandar togel kelas kakap.
Resiko minimal dari kebiasaan mengkonsumsi rejeki yang haram adalah hilangnya keberkahan hidup. Hidupnya menjadi tidak barokah karena Allah tidak meridhoi rejeki tersebut. Karena Allah sudah berjanji bahwa setiap yang bernyawa sudah dicukupi rejekinya bahkan sebelum manusia lahir ke dunia ini.
Tetapi kebanyakan manusia tidak mau mengerti karena sifat manusia yang ingin mudahnya saja. Padahal jalan untuk memperoleh rejeki yang halal terbuka lebar, tetapi manusia sendiri yang ogah-ogahan.




Jangan bergantung kepada selain Allah





Seorang direktur sebuah perusahaan swasta bercerita begini : Suatu hari ia didatangi sejawatnya, sama-sama seorang direktur tetapi dari perusahaan yang berbeda. Omong punya omong, menjelang pamit sejawatnya memberi saran. “Posisi anda ini rawan sekali, anda harus sadar itu. Kalau anda tidak kuat anda bisa dilengserkan kapan saja. aku punya dukun hebat, kalau anda mau.
Dalam hati direktur tadi tersenyum geli juga sedih. Geli karena merasa saran itu kedengarannya sangat lucu dan ia tidak menyangka sama sekali. Sedih karena sudah sama-sama direktur dan pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi tapi masih sangat percaya sama dukun.
“Begini,”ia menjawab. “Kita butuh sesuatu yang mendukung pekerjaan kita, katakanlah dukun. Tetapi anda tahu dukun itu banyak klasifikasinya, ada dukun tingkat RT, kelurahan, kecamatan, kabupaten, bahkan yang di atas itu. Dukun yang anda tawarkan itu termasuk klafisikasi yang mana?’
“Pokoknya hebat. Luar biasa sekali. Saya sudah merasakan buktinya. Anda tahu, banyak lho yang sowan ke sana.” Sahutnya berapi-api.
“Iya, tapi saya harus tahu dulu klasifikasinya yang mana. Kalau kita mau ke dukun ya jangan tanggung-tanggung. Kalau saya pergi ke dukun kelas kelurahan, tetapi saingan saya minta tolong ke dukun kelas kabupaten, saya pasti kalah. Kalau mau ke dukun ya sekalian dukun yang klasifikasinya dunia akherat. Kalau ada dukun yang demikian itu saya setuju.”
Maksud anda?”
‘Anda pasti tahu maksud saya. Saya memang senang ke dukun, tetapi dukun saya sangat ampuh. Saya tidak perlu datang ke rumahnya, karena sekarang pun bisa saya panggil nama-Nya. Kapanpun saya membutuhkan kehadirannya, pada saat itu pula pasti akan datang. Anda pasti paham maksud saya?”
Sejawatnya tadi rupanya bisa menangkap maksudnya, beberapa bulan kemudian menelpon dan menyatakan dirinya sekarang sudah tobat. Ia sudah menemukan ‘dukun’ yang dimaksud dan merasakan selama ini dirinya begitu tolol kenapa mau saja dibodohi oleh dukun yang syirik itu. Kini ia merasakan hidupnya lebih tentram dan bahagia.
Hidup ini kata sebagian orang adalah beban, bahkan beban yang teramat berat. Karena sudah kadung maka manusia tidak bisa memindahkan beban tersebut dari atas kedua bahunya. Betapapun beratnya beban tersebut, harus tetap dipikulnya karena manusia sudah kadung janji dulu sanggup memikul amanah dari Allah.
Betapa beratnya beban kehidupan sehingga tidak bisa dibuat main-main. Mungkin saja hidup ini tak lebih dari arena permainan tetapi tetap harus dijalani dengan penuh keseriusan. Siapa yang main-main harus bersedia menerima akibatnya, yakni dijadikan permainan.
Untuk meringankan beban dimaksud manusia harus selalu ‘berkonsultasi’ dengan ‘Yang Memberi Beban’ tersebut, yakni Allah. Karena yang paling tahu berat dan ringannya beban atau amanah tersebut hanya Allah, maka Allah pula yang paling berhak dimintai ‘pertimbangan’. Bukan orang atau zat yang lain.
Dukun atau apapun namanya baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa adalah makhluk ciptaan Allah, sama seperti halnya manusia. Bahkan manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia derajatnya, sangat tidak logis apabila meminta pertolongan kepada makhluk lain yang derajatnya sama atau lebih rendah.
Demi harkat dan martabatnya sendiri, manusia harus menghambakan diri hanya kepada Tuhan Yang Maha esa. Meminjam istilah Cak Nur - dalam gambaran grafisnya, manusia harus melihat ke atas hanya kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, Sang Pencipta, dan kepada alam haus melihat ke bawah.
Sedangkan kepada sesamanya manusia harus melihat secara mendatar(horisontal). Hanya dengan itu manusia menemukan dirinya yang fitri dan alami sebagai makhluk yang bermartabat dan harkat yang tinggi. Dengan ungkapan lain manusia hanya akan menemukan kepribadiannya yang utuh dan integral hanya jika memusatkan orientasi transedental hidupnya hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Sebaliknya, bagi manusia, menempatkan diri secara harkat dan martabat di bawah sesamanya atau apalagi di bawah obyek dan gejala alam, akan membuatnya berkepribadian tak utuh. Karena ia akan kehilangan kebebasannya, dan hilangnya kebebasan itu mengakibatkan pula hilangnya kesempatan dan kemungkinan mengembangkan diri ke tingkat yang setinggi-tingginya.
Di sini kita bertemu dengan makna iman yang lebih lanjut, yaitu menjadikan Tuhan Yang Maha Esa satu-satunya (secara monoteistik ) arah dan tujuan kegiatan hidup kita.


Iri dan dengki
akan membuat
susah tersenyum



Kita semua pasti senang nonton televisi, apalagi sinetron atau telenovela yang opera sabun itu. Perhatikan bagaimana akting seorang aktris atau aktor yang sedang memerankan orang yang iri dan dengki. Lihatlah bibirnya, adakah senyum di sana? Tentu tidak ada. Yang ada adalah bibir yang monyong dan memble.
Iri dan dengki adalah kondisi yang berseberangan secara diametral dengan senyum. Antara iri dengan senyum tidak pernah bertemu dalam satu titik karena keduanya memiliki garis sendiri-sendiri. Kalau toh dipaksakan mungkin hanya di bibir saja, tetapi tidak pernah ada pertautan antara iri dengan senyum di dalam hati.
Ibaratnya senyum itu kutub utara, sedangkan iri dan dengki adalah kutub selatan. Keduanya tidak pernah bertemu. Begitulah gambaran sederhana tentang orang yang suka iri dan dengki kepada orang lain, hidupnya tidak pernah tersenyum. Senyumnya mahal sekali, pantaslah apabila hidupnya tidak pernah bahagia. Mana ada orang yang tidak tersenyum bisa bahagia!
Iri dan dengki adalah penyakit hati, kita semua pasti memahaminya dengan baik. Tetapi kita memang sering bertindak sembrono dan menggampangkan persoalan. Sudah tahu penyakit toh tetap saja dipelihara, bahkan ironisnya malah disiram dan diberi pupuk agar tumbuh subur. Inilah orang yang mengidap sifat iri dan dengki yang sudah kronis.
Orang-orang yang berpenyakit iri dan dengki itu mempunyai ciri khusus. Salah satunya adalah “Senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.” Orang yang memiliki perasaan iri di dalam hatinya juga biasanya enggan untuk bertemu dengan orang yang didengkinya.
Kedengkian itu biasanya timbul jika seseorang mempunyai keinginan untuk selalu menjadi orang nomor satu. Orang-orang semacam itu biasanya sangat ambisius. Hal terpenting untuk mengatasi kedengkian adalah belajar untuk mengakui bahwa ada orang lain yang lebih baik daripada dirinya sendiri.
Sebenarnya apa sih yang harus kita irikan dari orang lain? Apa bedanya kita dengan orang lain, kenapa kita merasa tidak senang melihat orang lain bahagia? Bukankah jauh lebih penting kita berusaha agar hidup kita sendiri selalu berbahagia daripada sibuk mengurusi persoalan orang lain sehingga kita menjadi tidak bahagia?
Yang realistis, dong! Kita hanya sementara hidup di dunia ini, janganlah waktu kita disia-siakan untuk mengurusi orang lain. Wong mengurusi diri kita sendiri saja kita kadang kekurangan waktu, kok. Bukankah lebih enak rasanya di hati apabila kita turut merasa senang melihat orang lain bahagia.
Tetapi coba rasakan ketika merasa iri melihat orang lain memiliki sesuatu atau menerima rejeki nomplok. Hati rasanya tidak tentram, merasa seharusnya kitalah yang lebih pantas menerima rejeki tersebut. Ada yang mengganjal di dada dan itu membuat perasaan dan pikiran sangat terganggu. Kita belum merasa puas sebelum melihat orang tersebut kehilangan kebahagiaannya.
Bukankah ini tidak masuk akal? Awalnya kita bahagia, tetapi ketika rasa iri itu muncul kita menjadi tidak bahagia. Mestinya pada saat itu kita berpikir, sayang sekali jika kebahagiaan itu harus ditukar dengan rasa iri dan dengki yang tidak pernah membuatnya bahagia. Tetapi karena sudah gelap mata, maka kita sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
Bukan akal pikiran yang bicara tetapi nafsu. Kalau nafsu yang bicara akan repot jadinya. Halal haram diterjang, baik buruk dilakukan, karena nafsu tidak mengenal baik buruk tetapi senang atau tidak senang. Hal ini tentunya akan semakin memperburuk keadaan. Kita bukan saja akan kehilangan kebahagiaan tetapi kita akan menjadi orang yang dholim.
Mari kita bebaskan hati kita dari rasa iri dan dengki atau penyakit hati lainnya. Semua itu kalau tidak segera diatasi akan menyengsarakan diri kita sendiri. Yang kita dambakan adalah kebahagiaan, tetapi kita malah melangkah di jalan yang menuju kesengsaraan. Yakinlah bahwa hal itu tidak benar, dan yang namanya sudah tidak benar maka muaranya pastilah penderitaan.
Daripada kita mengembangkan sikap iri dan dengki lebih baik kita senantiasa mencari bahagia dengan nebeng pada kebahagiaan orang lain. Kalau rejeki kita sempit tetaplah merasa bahagia ketika melihat rejeki orang lain datang berlimpah-limpah. Rejeki itu memang bukan milik kita, tetapi kita turut menikmatinya. Bukankah ini asyik namanya?
Kita tidak perlu susah-susah mencari rejeki yang banyak tetapi kita bisa merasakan kebahagiaan, walaupun kadarnya mungkin berbeda. Tetapi itu masih jauh lebih baik daripada kita justru merasa iri dan dengki. Sudah tidak mendapat rejeki, hati kita malah semakin panas dan sengsara. Kita seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga kalau begitu.

Mengelola waktu
yang sempit
menjadi sempat



Semakin kita didera oleh berbagai kebutuhan, semakin kita merasa bahwa kita benar-benar diburu-buru oleh waktu. Hampir-hampir kita tidak memiliki kesempatan sedikitpun bahkan untuk memperhatikan waktu itu sendiri. Kita merasa semuanya berjalan dengan jadwal waktu yang sudah tersusun rapi yang harus kita jalani. Kita seperti robot yang kalah oleh arus perputaran waktu.
Hidup memang semakin repot, sehingga kita pun semakin sibuk. Tidur semakin berkurang, bahkan kita semakin tidak punya waktu untuk belajar. Jangankan belajar, memperhatikan diri kita sendiri kadang-kadang kita tidak sempat lagi. Waktu benar-benar telah memperdayakan diri kita lahir batin, sehingga seolah-olah diri kita berada di ujung tanduk.
Semua itu harus kita ubah. Waktu memang sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah diri kita sendiri. Apa gunanya kita berpacu dengan waktu jika harus mengorbankan diri kita sendiri. Betapapun pentingnya waktu, tidak selayaknya diri kita menjadi hamba sahayanya. Kita harus bangkit dan mampu mengelola waktu, sehingga kita bisa menguasai bukan dikuasai.
Soal waktu sekarang ini menjadi sangat dilematis. Manusia sangat bergantung kepada waktu, seolah-waktu itu sendirilah pemberi kehidupan. Mungkin tepat apa yang dikatakan oleh Benyamin Franklin . Ia mengatakan : “Apakah anda mencintai kehidupan? Maka janganlah memboroskan waktu, sebab waktu merupakan bahan pembentuk kehidupan ini.”
Banyak hadist yang mengupas soal waktu. Mulai dari yang mengibaratkan waktu dengan pedang hingga hadist yang berbunyi : “Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia termasuk orang-orang yang merugi. (HR Dailami).
Waktu yang sudah berlalu tidak akan berputar kembali. Kehilangan waktu meskipun dalam hitungan detik nilainya bisa setara dengan milyaran dolar jika dinominalkan. Waktu saat ini lebih berharga daripada harta benda karena harta benda bisa ditukar dengan waktu. Orang bisa menerima jika kehilangan hartanya tetapi kadang menjadi frustasi karena kehilangan waktunya.
Menyikapi persoalan yang sungguh pelik tersebut kita memang dituntut untuk mampu mengelola waktu dengan baik. Manajemen waktu harus kita kuasai agar perjalanan hidup bisa maksimal sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan sampai ada waktu yang tersisa sedikitpun yang sia-sia karena kita akan menyesal nantinya.
Kesibukan yang begitu padat tanpa kita sadari telah memperbudak hidup kita. Kesibukan menghilangkan banyak kesempatan, sehingga kita seringkali merasa tidak sempat dan kita menjadi menyesal. Padahal andai kita bisa mengelola waktu dengan baik, maka kita akan bisa tetap eksis tanpa harus diperbudak oleh waktu.
Sekali lagi karena kesibukan yang nota bene disibukkan oleh urusan duniawi kita kehilangan kesempatan untuk merenungi hidup ini. Sekedar merenung saja kadang kita merasa betapa mahalnya, apalagi untuk menjalankan sholat lima waktu. Tiba-tiba kita sudah hidup di hari lain, padahal kemarin sholat kita tidak lengkap. Kita menyesal tetapi esoknya toh tetap saja terjadi.
Bahkan dalam mengelola waktu pun harus ada nuansa keimanan, sehingga prioritas yang kita berikan terhadap waktu adalah prioritas yang berdimensi dunia akherat. Kita harusnya memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap waktu yang kita gunakan untuk berdialog dengan Tuhan, tanpa harus kehilangan waktu kita untuk menjalankan kewajiban kita sebagai kepala keluarga atau ibu rumah tangga.
Ironis rasanya jika kita tidak sempat sholat, tetapi kita malah menyempatkan diri belanja ke mall atau mancing berhari-hari di laut. Mungkin bukan tidak sempat istilah yang paling pas, tetapi memang tidak mau sholat. Hanya saja kita sering melakukan eufinisme atau memperhalus istilah atas masalah yang sebenarnya sangat serius.
Waktu kita memang sangat sibuk dan padat. Di rumah, di kantor, di tengah masyarakat, di dalam organisasi kita menjadi orang yang diandalkan, tetapi haruskah semua itu mengorbankan waktu kita yang utama, yakni bekomunikasi dengan Dzat yang memberikan kehidupan ini? Rasanya tidak etis dan sangat tidak dibenarkan dipandang dari sudut manapun.
Benarlah kalau dikatakan bahwa persoalan yang sebenarnya bukanlah bagaimana kita mengelola waktu, melainkan bagaimana kita memanajemeni diri kita sendiri. Kita bisa menolak jadwal jika jadwal itu tidak sesuai dengan harkat dan martabat kita sebagai manusia yang religius. Kita harus menentukan pilihan, kehilangan keakraban kita dengan Tuhan atau kehilangan uang. Uang bisa dicari, Tuhan – bisakah kita mencari pengganti-Nya?



Kegagalan
adalah proses
pendewasaan diri



Orang bijak mengatakan lebih baik berbuat sesuatu walaupun salah daripada tidak berbuat sama sekali. Ketika kita memutuskan berbuat sesuatu kita sudah memahami akibatnya, sukses atau gagal. Tetapi apapun yang terjadi akhirnya kita sudah melakukan dua langkah berani, berani berbuat dan berani menerima resiko jika harus gagal.
Memang kegamangan akan selalu ada ketika akan memulai sesuatu, ada perasaan kuatir kita akan gagal. Kebiasaan buruk kita adalah mengedepankan rasa takut daripada berani. Merasa terlalu berat padahal belum mencoba, dan menyerah kalah sebelum bertanding. Ini tandanya bahwa mental kita lemah.
Tidak perlu takut untuk gagal, karena siapapun orangnya pasti pernah gagal. Camkan hal ini! Sekali lagi harus kita pahami bahwa setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Bahkan orang yang paling berhasil adalah orang yang paling sering mengalami kegagalan. Tidak ada orang yang langsung berhasil tanpa pernah sekalipun gagal.
Kita harus menerima kegagalan dengan hati yang lapang karena kegagalan itu adalah proses menuju sukses. Malahan kita harus merasa cemas jika kita merasa tidak pernah gagal, jangan-jangan kesuksesan itu sebenarnya adalah kegagalan yang tidak kita sadari. Sebab, kondisi tidak pernah gagal menyalahi kodrat kehidupan, karena itu tidak akan pernah terjadi.
Kita akan berhasil jika kita belajar dari kegagalan. Makin besar harapan kita, makin kuat tekad kita untuk berhasil. Kita baru bisa berhasil jika kita mau belajar dari kegagalan. Kegagalan adalah proses pendewasaan diri. Semakin sering kita mengalami kegagalan semakin dewasalah alam pikiran kita, dan kedewasaan berpikir adalah pintu pembuka menuju kesuksesan.
Yang harus kita pahami disamping menyadari bahwa kegagalan merupakan proses menuju berhasil adalah tidak ada jalan pintas untuk berhasil. Kata berhasil itu sendiri sudah menyiratkan adanya tangga demi tangga yang harus kita lalui, tidak ada proses sekali jadi bagi kesuksesan. Kedua kata kunci hendaknya kita pahami dengan baik agar kita tidak terburu nafsu untuk menikmati kesuksesan secara instant padahal sebenarnya kita belum sukses.
Ada sebagian orang yang mengambil jalan pintas untuk sukses, tidak mau melewati tangga-tangga kegagalan. Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena jalan menuju ke kesuksesan pasti akan melewati kegagalan demi kegagalan. Jika ada orang yang ingin langsung sukses berarti keinginannya itu hanya ada di alam bawah sadarnya saja.
Dengan pemahaman hukum kehidupan di atas, maka kita akan merasa kuat dan tegar untuk menerima kegagalan demi kegagalan. Kita akan terus melangkah maju tanpa menghiraukan biarpun kita sudah berkali-kali jatuh bangun. Sebab, pada akhirnya jika kita terus melangkah kita akan sampai di tujuan.
Orang hanya akan menjadi gagal selama hidupnya jika setiap kali jatuh bukannya bangkit kemudian berjalan lagi tetapi bangkit untuk balik pulang. Begitu seterusnya sehingga ia tidak bisa mengambil hikmah di balik kegagalan tersebut. Ketakutannya untuk gagal itu dibiarkan terus tumbuh, tidak dilawan dengan terus melangkah.
Memang kesuksesan itu hanya akan mendekati orang-orang yang baik lahir maupun batinnya sudah siap untuk sukses. Salah satu karakter positif orang seperti itu adalah menganggap kegagalan sebagai pelajaran yang berharga. Dari kegagalan itu ia bisa belajar sehingga mampu keluar sebagai pemenang dari persoalan yang sama.
Sukses hanya akan datang kepada orang-orang yang tidak pernah gentar melawan kegagalan. Kalau ada batu di jalan bukan lantas balik haluan, tetapi batu itu disingkirkan agar tidak merintangi jalannya. Orang yang sukses itu memiliki karakter seperti air. Air tidak pernah mundur meskipun ada karang kokoh di depannya.
Jika merasa dirinya tidak cukup kuat untuk melawan rintangan di depannya, bukannya lantas lari ketakutan. Juga tidak memaksakan diri untuk melawan kalau mengetahui bahwa akhirnya akan kalah, tetapi mencari celah-celah yang bisa dimasuki agar bisa terus mengalir sampai ke tujuan. Air memiliki kekuatan yang maha dahsyat di balik kelembutannya.
Segala sesuatu di muka bumi konon katanya mematuhi apa yang dinamakan hukum kelelahan bahan. Atau istilah populernya adalah kejenuhan. Bukan manusia saja yang merasa jenuh, kegagalan pun ada titik jenuhnya. Sebagai manusia kita harus menyabarkan diri menunggu sampai kegagalan itu sampai pada titik jenuhnya.
Tetapi titik jenuh itu tidak akan ada jika tidak kita goda berkali-kali. Seperti kita sendiri yang mencoba merayu seorang gadis. Sekali dua kali masih menter, tetapi kalau kita gigih lama kelamaan pasti akan luluh juga akhirnya.




Mengelola konflik secara efektif





Konflik ibarat garam bagi masakan. Konflik bisa terjadi di mana saja dan kapan saja dan seringkali tanpa permisi. Kita semua tidak mungkin melepaskan diri dari konflik, di mana bumi di pijak di situ konflik sudah menanti. Konflik akan mengiringi perjalanan hidup manusia, seolah-olah tidak ada kehidupan tanpa konflik.
Konflik adalah sesuatu yang sangat tidak kita harapkan, meskipun bisa diatasi namun tidak akan pulih seratus persen. Sisa-sisa konflik akan terus melekat dan menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak jika ada penyulutnya. Karena itu lebih baik menghindari konflik selagi ada kesempatan sebelum terlanjur masuk ke dalamnya.
Kita menyadari bahwa hubungan antar kelompok tidak selalu berjalan dengan baik, senantiasa dapat timbul kemungkinan konflik antar individu dan antar kelompok. Konflik timbul apabila terdapat ketidaksesuaian paham pada situasi sosial mengenai persoalan-persoalan substansi dan atau antagonisme emosional (Walton, 1969).
Kita perlu mengingat bahwa konflik dapat bersifat subtil, aktif, dan kadang-kadang teramat sulit. Tujuan yang senantiasa harus diingatkan adalah keharusan adanya penyelesaian konflik (conflict resolution)yang benar, maksudnya apabila alasan-alasan yang mendasari konflik yang bersangkutan telah berhasil ditiadakan.
Ketika konflik sudah terlanjur terjadi tidak ada cara yang lebih baik kecuali menyelesaikannya. Betapapun berat dan sukarnya konflik tersebut harus bisa dituntaskan, setidak-tidaknya diredakan intensitasnya. Tidak perlu ditunda-tunda lagi karena menunda konflik berarti memberi kesempatan untuk berkembang biak.
Berada di tengah-tengah konflik baik kita sebagai bagian darinya atau kita sebagai penengah sama-sama membutuhkan ketrampilan emosional yang memadai. Konflik adalah wilayah perasaan yang bisa berwujud ketersinggungan atau kesalahpahaman. Karena itu harus ditangani dengan mengedepankan keunggulan perasaan, dalam hal ini adalah kecerdasan emosional yang mumpuni.
Ketika konflik itu tak dapat dihindarkan lagi kita harus tetap tenang dan berkepala dingin. Ambil napas dalam-dalam sambil mempersiapkan mental sebaik-baiknya untuk menghadapi situasi yang paling buruk sekalipun. Tetaplah menggunakan akal sehat dan jangan terpancing oleh emosi lawan.
Kita harus menunjukkan bahwa kita bersedia untuk menyelesaikan masalah dengan membicarakan masalah itu secara baik-baik. Jalan musyawarah harus diutamakan, dan lebih baik mundur dulu jika lawan menolak cara tersebut. Sebab, kita sangat tidak yakin jalan di luar musyawarah akan memberikan hasil seperti yang kita harapkan.
Memang lebih baik kita mengalah, artinya memberikan kesempatan kepada lawan untuk mengemukakan uneg-unegnya. Selama itu kita harus mengatur agar hati kita tetap netral, dengarkan semuanya dengan obyektif. Setelah puas barulah kita memberikan persetujuan ataupun sanggahan yang bisa diterima oleh akal sehat.
Konflik adalah salah satu hal yang tersulit yang harus kita hadapi di dalam pergaulan baik di tengah masyarakat maupun di kantor. Kita harus selalu siap menghadapinya karena meskipun kita sudah berhati-hati konflik tersebut kadang terjadi juga. Atau kita mau tidak mau harus berperan meskipun kita tidak terlibat langsung tetapi persoalan yang melatarbelakangi konflik tersebut merupakan tanggungjawab kita.
Untuk memiliki ketrampilan mengelola konflik dengan efektif bukanlah perkara mudah. Pertama, karena diri kita sendiri kadang tidak cukup mampu untuk menahan dorongan-dorongan emosi akibat kekecewaan, ketidakpuasan dan sebagainya. Sudah bekerja baik-baik masih saja disalahkan, serta merta emosi kita muncul tanpa kontrol.
Kedua, konflik selalu berkembang setiap saat sehingga membutuhkan ketrampilan dan pendekatan yang berbeda. Artinya, tidak ada teori yang paten untuk mengatasi konflik, kecuali beberapa tipe di atas seperti tetap berkepala dingin dan bersikap obyektif.
Kita mungkin bisa dikatakan pandai mengelola konflik apabila kita sudah memiliki karakteristik sebagai berikut :
- Mampu menangani orang-orang sulit dan situasi tegang dengan diplomasi taktik.
- Mampu mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi menjadi konflik, menyelesaikan perbedaan pendapat secara terbuka, dan membantu mendinginkan situasi.
- Mampu menganjurkan debat dan diskusi secara terbuka
- Mengantar ke solusi menang-menang.
Ini adalah sebagian kecil bekal saja, tetapi cukup memadai untuk media pembelajaran dalam menangani konflik.

Manusia diciptakan tidak untuk sengsara



Suatu hari dalam perjalanan hidup ini mungkin kita merasa menjadi orang yang paling sengsara. Kita baru saja dikeluarkan dari tempat kita bekerja tanpa pesangon. Anak kita yang masih balita jatuh sakit dan harus opname sedangkan yang besar baru memulai sekolah di taman kanak-kanak. Uang tabungan kita sedikit sekali, sedangkan kita tidak bisa berharap ada orang lain yang mau membantu.
Sedih, kalut dan bingung menjadi satu. Tidak tahu apa yang harus kita lakukan, tiga persoalan datang bersamaan dan rasanya kita sangat tidak siap. Tiba-tiba kita merasa Tuhan tidak adil, Tuhan telah mentelantarkan hidup kita dengan semena-mena. Dan ketika kita melihat ke sekitar kita, semua orang nampaknya bahagia. Kita merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia.
Pada saat-saat seperti itu wajar kalau batin kita merasa sangat lemah dan tertekan. Akal pikiran kita tidak jalan dan emosi kita menuntut untuk segera bisa menyelesaikan persoalan tersebut secepatnya. Tetapi jika hal itu yang kita lakukan persoalan bukannya reda, melainkan menjadi berlarut-larut. Kita semakin terjebak ke dalam kubangan penderitaan.
Kalau kita berada dalam situasi demikian, cobalah untuk bersikap tenang. Ingatlah kembali diri kita ini siapa, bukankah kita ini manusia biasa yang lemah dan tak berdaya. Tetapi ingatlah pula semua yang terjadi di muka bumi ini sudah ada yang mengatur, kita hanya menjalani saja apa yang sudah ditakdirkan.
Hidup mati manusia berada di tangan Allah. Kalau kehidupan ini sudah ada yang menanggung, kenapa kita mesti merasa sedih dan bingung? Kenapa tidak kita kembalikan saja kepada-Nya apabila kita merasa sudah tidak kuat lagi menahan beban kehidupan ini? Tidak perlu kuatir apa yang akan terjadi karena jangankan sakit, kematian saja sudah ada yang mengatur.
Salah satu firman Allah yang bisa menjadi penguat batin kita ketika berada di dalam kesusahan adalah berikut ini :
“Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS.Al-Baqarah :286). Sebagai orang yang beriman tentunya kita meyakini firman tersebut sebagai kebenaran.
Kalau kita sedang diuji dengan penderitaan, ingatlah kembali bahwa seberat-berat ujian itu pastilah akan sanggup kita atasi. Manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, makhluk yang paling sempurna di dunia ini. Dilengkapi oleh perasaan dan akal pikiran, dua komponen yang membedakannya dengan makhluk yang lain.
Dengan akal pikirannya itu manusia bisa mempertahankan hidupnya jauh lebih baik dari makhluk yang lain. akal pikiran yang bersinergi dengan ruh keimanan akan membentuk pribadi yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu implementasi ketaqwaan itu adalah mempercayai adanya takdir Allah.
Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, keyakinan ini harus kita tumbuhkan ketika akal pikiran kita cenderung mengatakan bahwa Allah tidak adil dan tidak peduli kepada penderitaan hamba-hamba-Nya. Yang terjadi sebenarnya adalah penderitaan itu bagian dari kasih-sayang Allah, hanya kita sering tidak menyadari.
Tuhan tidak pernah menelantarkan manusia karena hal itu berarti menyalahi sifat-Nya Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Tetapi bagaimana kita memandang penderitaan yang kita alami kaitannya dengan sifat-Nya tersebut? Kalau kita tetap percaya kepada Allah, maka kita akan menemukan hikmah dibaliknya.
Sebenarnya kita tidak perlu sedih dan bingung ketika menghadapi situasi yang seperti itu. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah jangan lalu berputus asa, teruslah berusaha. Tetapi dalam berusaha itu kita harus melengkapi dengan doa pengharapan kepada-Nya. Tetaplah berbaik sangka kepada Allah dan ketika kita merasa kita sudah melakukan jalan terakhir, langkah kita selanjutnya adalah berserah diri kepada-Nya.
Tidak ada kesedihan yang tidak ada obatnya, sebagaimana penyakit pasti ada obatnya. Semestinya ketika kita sedang diuji dengan penderitaan, kita hadapi semua itu dengan tersenyum. Sebab, sebagaimana janji Allah bahwa setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan, maka penderitaan yang kita alami itu tandanya sebentar lagi kita akan memperoleh kebahagiaan.
Kesengsaraan itu hanyalah proses menuju kebahagiaan, sebagaimana kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan. Ya, kita memang harus pandai-pandai mengelola iman dan akal pikiran kita.







Memiliki
prinsip hidup yang kuat





Kita selalu punya empat juta alasan untuk membenarkan kesalahan kita, tetapi tak ada satu pun yang bisa membenarkan kita.
Rudyard Kipling

Prinsip dalam hal tertentu diidentikkan dengan keyakinan. Seseorang yang memiliki prinsip berarti memiliki keyakinan. Kuat lemahnya seseorang memegang prinsip berpengaruh pada kuat lemahnya memperoleh keyakinan atas prinsipnya tersebut. Tetapi selemah-lemahnya prinsip masih lebih baik daripada tidak punya prinsip sama sekali.
Prinsip dalam banyak hal dipandang sebagai motivasi – sesuatu yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Karena memiliki prinsip yang kuat tentang sesuatu, seseorang melakukan perbuatan yang bagi kebanyakan orang dianggap mustahil. Dan ia berhasil karena ia yakin ia akan berhasil.
Kita harus – tentu saja – memiliki prinsip hidup yang kuat karena pada hal itulah kita bisa menjalani proses menuju ke satu titik pencapaian yang kita inginkan. Prinsip juga berarti kita telah menetapkan satu tujuan, sehingga kita tidak salah arah atau menjadi layang-layang putus yang hanya mengikut ke mana angin akan membawa.
Seberapa kuat prinsip yang kita yakini akan menentukan seberapa kuat kita menembus batas-batas kegagalan sebelum meraih kesuksesan. Prinsip itu bisa juga diibaratkan sebagai sebuah koridor yang memudahkan kita untuk melangkah ke arah yang kita kehendaki. Kalau koridor itu tidak kita lalui ada dua kemungkinan, sampai ke tujuan dalam waktu lebih lama atau tersesat jalan.
Secara sederhana demikianlah gambarannya. Tetapi hidup kita ini kadang memang tidak sederhana meskipun awalnya memang sederhana. Perubahan yang selalu terjadi membuat kehidupan ini seolah-olah semakin rumit dan pelik, sehingga membutuhkan sebuah prinsip yang universal. Prinsip yang kita miliki hendaknya bersifat multidimensi sehingga memberikan keuntungan secara maksimal baik lahir batin maupun dunia akherat.
Sejarah memberikan banyak pengalaman kepada kita bahwa banyak prinsip kehidupan yang hanya berlalu secara parsial atau hanya berakibat baik pada segolongan umat manusia tetapi tidak bagi golongan umat yang lain dan sifatnya hanya sementara. Setelah itu prinsip tersebut semakin memudar sebelum ditolak mentah-mentah karena tidak sesuai dengan perkembangan jaman.
Prinsip hidup yang dianut dan diyakini itu telah menciptakan berbagai tipe pemikiran dengan tujuannya masing-masing. Setiap orang terbentuk dengan prinsip yang dianutnya yang hasilnya bisa beragam;hebat, menyedihkan bahkan mengerikan.
Di Jepang ada budaya Harakiri, tatkala seseorang merasa bersalah atau putus asa. Ia akan menusukkan pedang Katana dan merobek bagian lambungnya kemudian mati perlahan. Jembatan Golden Gate di San Fransisco adalah tempat bunuh diri paling populer di Amerika Serikat yang begitu mengagungkan paham kapitalisme, sementara Uni Soviet runtuh karena menganut paham komunisme.
Di Jerman ada prinsip ‘Ubber Alles’ atau ras yang tertinggi yang hasilnya adalah pemusnahan jutaan umat Yahudi. Di dunia bisnis ada prinsip : tidak ada persahabatan abadi yang ada hanya kepentingan pribadi. Masih banyak lagi prinsip-prinsip kehidupan yang bersifat temporer dan parsial sehingga tidak memberikan jaminan kebahagiaan kepada umat manusia.
Prinsip-prinsip yang tidak fitrah umumnya akan berakhir dengan kegagalan, baik kegagalan lahiriah maupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip yang tidak sesuai dengan suara hati atau mengabaikan hati nurani terbukti mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan.
Islam mengajarkan bahwa hidup mati seseorang berada di tangan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, inilah prinsip kehidupan yang universal dan kekal. Apapun yang kita lakukan semestinya selalu kita landasi dengan sebuah peringatan bahwa pada akhirnya manusia akan kembali kepada-Nya.
Hendaknya kita jadikan hal itu sebagai sebuah keyakinan yang mutlak sehingga tidak ada keraguan di dalamnya. Konsekuensinya, dalam melaksanakan apapun kita tidak boleh menyalahi hati nurani, sebagai tempat bersemayamnya Allah. Hati nurani harus kita jadikan panglima kehidupan.
Ketika kita berada pada taraf pemahaman yang demikian, maka kita akan menjadi orang yang toleran dan berpandangan egaliter, memandang manusia secara adil tanpa membeda-bedakan suku bangsa, ras, agama, warna kulit atau profesinya.




Sabar dan tawakkal memudahkan kita untuk tersenyum




Maka bersabarlah kamu karena janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (al-Mukmin :55)

Tidak ada obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan kesedihan, kekecewaan, kegagalan bahkan penderitaan kecuali sabar dan tawakkal. Bersabar diri karena meyakini bahwa semua kejadian baik di darat maupun di laut adalah atas kehendak-Nya. Bersabarlah karena semua itu hanya ujian keimanan kita, semua itu bukanlah bentuk kutukan kepada hamba-hamba-Nya.
Dalam terminologi agama, tawakkal adalah sikap bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Tawakkal bukanlah sikap yang pasif seperti kesimpulan sebagian orang. Tawakkal adalah sikap aktif, dan tumbuh hanya dari pribadi yang memahami hidup ini dengan tepat. Tawakkal kita perlukan karena kebenaran manusia adalah relatif sifatnya.
Kita harus bertawakkal kepada Allah karena meskipun kita telah bekerja keras, kita belum bisa menentukan hasilnya. Manusia hanya berwenang untuk berusaha tetapi tidak berwenang untuk menentukan hasilnya. Atas dasar itulah kita harus menyerahkan seluruh usaha kita dengan menyandarkan kembali semuanya kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda,” Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi rejeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rejeki kepada burung terbang dengan perut kosong dan pulang dengan perut kenyang.” Allah Maha Kaya, Dia menjamin kita rejeki seperti Dia memberi makan burung-burung. Allah yang memberi kita hidup dan Allah pula yang menjamin kita rejeki. Maka, kenapa kita menjadi orang yang ragu-ragu?
Ulama mengatakan tawakal adalah kita bekerja keras kemudian menyerahkan segalanya kepada Allah. Allah sangat demokratis, Dia memberi kita keleluasaan untuk berbuat yang kita mau, dan Dia hanya minta hak-Nya sebagai penentu kehidupan. Sebab hanya Allahlah yang dapat berbuat sekehendak-Nya.
Dengan bertawakal sebenarnya kita telah melepaskan beban yang ada di pundak kita kepada Allah. Manusia adalah makhluk yang lemah, ia punya keterbatasan. Manusia banyak keinginan namun tak semua keinginan dapat diwujudkan, hanya Allahlah yang kuasa atas segala sesuatu. Berbahagialah karena betapapun pahitnya nasib yang kita alami, kita masih punya Allah.
Maka jadilah kita manusia yang mau bertawakal. Dengan tawakal hidup akan menjadi lebih mudah karena Allah dengan kekuasaan-Nya akan menjamin segala kebutuhan kita. Dengan bertawakal hati yang sempit menjadi lapang, kecemasan menjadi harapan.
Orang yang bertawakal adalah orang yang berpikir logis. Ia menyadari keterbatasan yang dimilikinya. Ia mengakui dirinya bukan segala-galanya, potensi yang dimilikinya tidak ada artinya apa-apa tanpa ada Dzat yang ikut campur atas dirinya.
Ia merasa dirinya sendiri tidak mungkin mampu mengatasi segala persoalan yang menimpanya, karena itu ia ingin berbagi. Dan Allah adalah sebaik-baik tempat berbagi keruwetan. Allah adalah dokter, psikolog dan psikiater sekaligus. Dia Maha Tahu setiap sisik melik yang menyelinap di bilik batin kita. Tidak ada yang luput dari perhatian-Nya.
Bertawakal akan membuat diri kita jauh lebih kuat. Kenapa? Karena kita yakin ada yang menolong kita. Di saat kita menghadapi persoalan yang teramat berat yang seolah-olah tidak dapat kita atasi, cepat-cepatlah bertawakal. Dengan bertawakal kita akan jauh dari rasa putus asa, karena Allah telah memberi kita benteng pertahanan untuk bertahan dari setiap persoalan yang tidak mungkin kita atasi sendiri.
Di sini jelas kelihatan bahwa makna tawakkal adalah sikap yang aktif karena kita berusaha baru bersandar. Kita tidak menyerahkan segala urusan sebelum kita berusaha karena sikap seperti itu bukan tawakkal namanya melainkan pasrah bongkokkan. Manusia tidak diperbolehkan untuk pasrah bulat-bulat atas nasibnya sendiri karena hal itu menyalahi harkat dan martabatnya sendiri.
Biasanya orang yang gagal dalam hidupnya adalah orang yang tidak memiliki kesabaran tinggi. Maunya ingin cepat dan selesai, sehingga apa yang dilakukannya tidak pernah maksimal. Disamping itu merasa terlalu yakin bahwa hasilnya pasti sesuai dengan keinginannya. Ketidaksabaran dan keyakinan yang tidak disertai dengan tawakkal adalah sumber kegagalan utama manusia. Baiknya kita mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain.



Pandai-pandailah mengambil hikmah dari setiap peristiwa



“Dan sesungguhnya Kami telah menghukum Fir’aun dan kaumnya dengan mendatangkan musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-A’raf :130).

Tidak ada peristiwa yang berdiri sendiri, selalu terkait dengan peristiwa-peristiwa lain. Suatu peristiwa kadang merupakan sebuah sebab, di saat lain adalah akibat dari peristiwa yang lain. Tidak ada peristiwa yang kebetulan, semuanya bisa merupakan awal atau akhir dari peristiwa yang lain. Hukum sebab akibat berlaku di sini.
Setiap peristiwa baik atau buruk merupakan pelajaran yang berharga manusia. Manusia bisa belajar banyak dari sebuah peristiwa yang terjadi apabila manusia selalu menggunakan panca inderanya dengan baik. Dengan perasaan dan akal pikirannya manusia bisa memberikan kesimpulan atas peristiwa yang terjadi.
Tidak ada peristiwa yang sia-sia meskipun kelihatannya sepele dari pandangan manusia. Boleh jadi apa yang dianggap remeh bagi kebanyakan orang, menjadi pelajaran berharga bagi satu atau dua orang. Kapur di tangan seseorang mungkin hanya dipandang sebagai alat tulis, tetapi kapur di tangan seorang penulis mungkin bisa menjadi sebuah buku ilmu pengetahuan yang populer.
Yang harus kita benahi adalah cara berpikir akal pikiran dan cara merasakan perasaan kita. walaupun otak adalah perangkat berpikir manusia dan hati adalah tempatnya merasa, keduanya tetap perlu selalu dikritisi. Sebab, keduanya tidak imun dari pengaruh dari luar yang bisa berupa sikap, peristiwa atau pendapat orang lain.
Tidak selamanya cara berpikir kita benar, karena kadang perasaan membuat pikiran kita tidak jernih. Kesedihan atau tekanan batin membuat akal pikiran kita kehilangan daya kritisnya. Akhirnya kita berpikir secara emosional dan menghasilkan kesimpulan yang sangat subyektif.
Karena itu yang harus kita lakukan adalah berusaha menjernihkan akal pikiran dan membeningkan hati. Apabila akal pikiran sudah jernih dan hati sudah bening maka kita akan mampu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Bisa menangkap hikmah di balik peristiwa yang sedang terjadi sehingga mampu memberikan kata akhir yang positif dan obyektif.
Semestinya apa yang kita lihat, apa yang kita baca, apa yang kita dengar selalu kita sikapi dengan bijaksana. Tetaplah bersikap tenang karena dengan ketenangan batin itulah kita bisa berpikir secara jernih dan dewasa. Dan juga jangan membiasakan diri menganggap remeh sesuatu karena boleh jadi yang kelihatannya remeh itu ternyata mengandung hikmah yang luar biasa.
Hanya orang-orang yang membiasakan diri mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang bisa membangun kedewasaan diri dalam memandang kehidupan ini. Membaca setiap apa yang terjadi sebagai bekal pengalaman hidup kita sendiri di masa depan. Jangan biarkan apapun yang tercecer menjadi tercecer begitu saja tanpa kita bisa menangkap ada apa di baliknya.
Kegagalan, kesedihan, musibah semuanya mengandung hikmah sendiri-sendiri. Ketika kita sedang mengalami kegagalan kita harus bisa mengambil pelajaran kenapa kita bisa gagal. Pelajaran itu harus kita gunakan untuk membenahi diri sehingga kita tidak mengalami gagal untuk kedua kalinya. Ketika kita sedang bersedih ingatlah bahwa kesedihan itu membuat kita merenung. Dan di balik musibah itu pastilah banyak hal yang bisa kita teladani.
Kita bisa membekali diri apabila kita selalu belajar dari setiap peristiwa yang terjadi. Semakin pandai kita membelajari diri semakin dewasalah kita memandang kehidupan ini, dan pada akhirnya kita akan menemukan ketentraman dan kebahagiaan. Sebab, pada akhirnya kita akan menemukan kesimpulan pasti bahwa semua itu memang terjadi atas kehendak-Nya.
Orang-orang yang selalu gagal hidupnya adalah mereka yang tidak mau belajar dari apa yang terjadi. Perasaan dan akal pikirannya tidak peka, sehingga peristiwa yang terjadi di depan matanya dibiarkan berlalu begitu saja tanpa bisa mengambil hikmahnya. Akibatnya, cara pandangnya terhadap kehidupan ini tidak jauh berubah meskipun usianya sudah mendekati senja.
Ada orang yang selalu mengeluh padahal sudah tahu bahwa keluh kesah tidak pernah menyelesaikan masalah. Tetapi toh perbuatan seperti itu terus dilakukan, sehingga sepanjang hidupnya hanya digunakan untuk mengeluh. Hidupnya disibukkan oleh keluhannya sendiri sehingga nampak selalu menderita.
Ada satu hal lagi yang harus kita benahi bahwa mengambil hikmah dari setiap peristiwa itu bisa dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya oleh orang-orang tertentu seperti anggapannya selama ini.


Bangunlah semangat
dalam
menjalani kehidupan



Saya mempelajari ini setidaknya melalui pengalaman : Jika kita melangkah maju dengan penuh percaya diri ke arah yang kita impikan, dan berusaha keras menjalani hidup yang kita bayangkan, maka kita akan menemukan keberhasilan yang tak kita perkirakan sebelumnya.
Henry David Thoreau

Setiap orang memiliki cita-cita, tetapi tidak semua orang memiliki kemauan untuk mewujudkan cita-citanya. Antara cita-cita dan kemauan tidak selalu berada dalam satu garis lurus, seringkali keduanya berseberangan bahkan bertolak belakang. Banyak orang yang memiliki impian, tetapi mereka tidak berusaha untuk mewujudkan impiannya tersebut ke dalam kenyataan.
Kita seringkali tertipu, dininabobokan oleh impian-impian, bahwa semua impian itu dapat segera terwujud secepat kita bermimpi. Boleh saja kita bermimpi tetapi semua mimpi itu pasti ada akhirnya. Ketika kita bangun esok hari, apa yang kita impikan semalam hanya indah di dalam mimpi. Kita kemudian dihadapkan pada kenyataan yang biasanya tak seindah mimpi semalam.
Kita memimpikan yang indah-indah, tetapi kita lupa bahwa kenyataan berbeda dengan mimpi. Kita bisa mengatur mimpi tetapi kita tidak kuasa menerima kenyataan. Kenyataan lebih banyak pahitnya, apalagi bagi orang yang hanya senang bermimpi. Hanya satu cara mengubah mimpi menjadi kenyataan yakni – kerja keras. Kerja keras artinya berusaha tidak kenal lelah, tak kenal putus asa, pantang mundur dan tidak takut gagal.
Hidup adalah perjuangan yang terus menerus. Ketika kita memutuskan untuk berhenti, di saat itulah kita akan menemui kematian. Baik kematian semangat maupun kematian yang sesungguhnya. Sebab, ketika manusia tak lagi punya semangat, ketika itulah ia merasakan dunia tak lagi bersamanya. Hidup yang sesungguhnya merupakan gugusan-gugusan semangat yang memancar lewat perilaku dan tindakan-tindakan nyata.
Putus asa adalah setengah dari kegagalan. Orang yang mudah putus asa sama saja dengan sengaja membiarkan kegagalan sebagai pilihan hidupnya. Ia tidak melihat bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Di balik kegagalan ada kesuksesan. Jalan tidak selamanya menanjak terus ke atas, ada saatnya menurun ke bawah.
Putus asa mencerminkan mental yang lemah. Orang-orang yang lemah mentalnya berarti tidak memiliki kesempatan untuk meraih kesuksesan. Sebab, untuk mencapai kesuksesan itu dibutuhkan mental yang kuat dan semangat yang membaja. Karena hanya dengan itulah manusia bisa bangkit kembali dari setiap kegagalannya.
Satu hal yang harus kita yakini seperti dikatakan oleh David Thoreau di atas bahwa kalau kita terus melangkah pada saatnya kita akan sampai. Memang dalam perjalanan itu kita akan mengalami rintangan demi rintangan. Berkali-kali berhenti karena merasa lelah dan berkali-kali merasa kehausan sehingga perjalanan tidak semulus yang kita bayangkan.
Bayangkan diri kita sebagai seorang pendaki gunung. Seorang pendaki gunung adalah orang yang memiliki fisik dan mental yang kuat. Seorang pendaki gunung sudah menyadari bahwa untuk mencapai puncak gunung bukanlah hal yang mudah, bahkan mungkin nyawa menjadi taruhannya.
Rute yang akan ditempuh sangat sukar, letih dan stres pasti akan dialami, namun di situlah letak tantangannya. Rute yang harus dilalui kadang tidak bisa dilalui dengan berjalan tetapi merangkak sedikit demi sedikit di atas pasir yang rawan longsor. Semak belukar dan binatang buas bisa menjadi ancaman sewaktu-waktu.
Tetapi mereka terus berjalan meskipun tubuh sudah payah dan perbekalan tinggal sedikit, karena mereka yakin bahwa kalau terus berjalan puncak itu akan dicapai juga akhirnya. Dan ketika mereka mencapai puncak, rasa letih, takut dan sebagainya itu tiba-tiba lenyap begitu saja. Rasa bahagia memancar dari raut mukanya yang berseri-seri.
Perumpamaan itu relevan sekali dengan perjuangan manusia yang selalu mendambakan hidupnya sukses dan penuh kebahagiaan. Setiap hari kita akan mengalami hal-hal yang tidak selalu menyenangkan, namun hidup terus berputar sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah sebelum sampai tujuan.
Kalau kita putus asa atau menyerah berarti kita tidak selaras lagi dengan waktu yang terus berganti. Akibatnya kita akan menjadi tergencet sehingga kita akan menjadi manusia yang kalah melawan perputaran jaman. Ketika kita putus asa atau berbalik haluan maka kita akan terhempas oleh angin perubahan.
Ini adalah sesuatu yang logis dan sebuah keniscayaan bagi kita yang selalu memiliki obsesi untuk menjadi manusia yang lebih baik di masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar