Rabu, 21 Januari 2009

Waktu Bisa Menjadi Teman Setia Anda, Tetapi Juga Bisa Membunuh Anda, Tergantung bagaimana Anda Menyapanya

Peribahasa Arab yang berbunyi waktu adalah pedang tidak diragukan lagi kebenarannya. Ibarat sebilah mata pedang, jika pemiliknya ahli maka pedang itu akan menjadi penyelamat hidupnya. Sebaliknya, jika pemiliknya tidak menguasai ilmu pedang, maka pedang itu akan mencelakakan dirinya. Pedang di tangan seorang ahli akan menjaganya dari ancaman marabahaya. Pedang di tangan yang bukan ahlinya, sama halnya dengan ‘ula marani gepuk’. Salah-salah ia akan binasa oleh pedangnya sendiri.

Sama dengan pedang, waktu bisa menjadi teman setia Anda, tetapi juga bisa membunuh Anda. Semua itu tergantung dari cara pandang kita terhadap waktu. Begitu pentingkah waktu untuk kita, atau tidak penting? Jika kita merasa waktu begitu penting, artinya kita sudah punya gambaran bagaimana kita akan memanfaatkan waktu itu untuk meningkatkan kualitas hidup kita di masa depan. Tetapi jika tidak penting, perlu ditanyakan kembali, sudahkah itu merupakan keputusan yang final? Jangan-jangan Anda menyesal nantinya.

Kebanyakan banyak orang menyesal karena cenderung menyia-nyiakan waktu. Dulu ketika masih muda dan kuat badannya, ia tidak serius bekerja. Kerja yang penting dapat dimakan setiap hari baginya sudah cukup. Kini, setelah dirinya memasuki usia senja tubuhnya sudah ringkih, kerja berat sedikit saja asmanya kumat. Tabungan tidak punya karena selama hidupnya tidak pernah menabung, padahal anak-anaknya belum ‘mentas’ semua. Ada pula yang menyesal karena semasa mudanya dulu kerjanya cuma menghabis-habiskan kekayaan orang tuanya, kini setelah semuanya habis untuk makan saja susah.

Banyak penyesalan seperti itu yang sampai ke telinga penulis. Penulis punya seorang teman akrab yang alhamdulillah kini mulai menapaki sukses. Kesadaran itu selalu datangnya terlambat. Sohib saya ini berasal dari keluarga terpandang di desanya. Bapaknya seorang tokoh masyarakat, harta bendanya berlimpah. Semua keinginannya selalu keturutan, akibatnya ia tumbuh menjadi pemuda yang pemalas. Sekolah malas, apalagi kerja. Lulus SMA saja untung-untungan, itupun gara-gara dipaksa setengah mati oleh pacarnya. Pacarnya mengancam akan putus jika sekolahnya tidak lulus.
Ia menikah di usia muda dengan pacarnya tersebut. Tapi kebutuhan sehari-hari semuanya apa kata bapaknya. Namun suatu ketika bapaknya menderita sakit yang tak kunjung sembuh. Komplikasi akut, sudah puluhan dokter didatangi tapi penyakitnya tetap membandel. Entah sudah berapa kali opname di sejumlah rumah sakit. Pengobatan alternatif sudah dilakukan namun rupanya Tuhan berkenan memanggilnya. Bapaknya meninggal ketika dirinya benar-benar tidak siap.

Selama sakit, sebagian besar harta bendanya habis terjual untuk membiayai pengobatannya. Hanya tersisa sedikit saja warisan, itupun harus dibagi ‘metit’ dengan saudara-saudaranya yang lain. Ketika itulah ia tersadar, waktu telah ‘membunuhnya’. Untungnya istrinya tidak larut dalam penyesalan. Warisan sedikit itu digunakan untuk berdagang kecil-kecilan, sampai akhirnya bisa membuka kios di pasar. Kini walaupun tidak kaya hidupnya tidak kekurangan.

Apa pelajaran yang dapat kita petik dari ilustrasi di atas? Tidak ada alasan menganggap waktu sebagai sesuatu yang tidak penting. Waktu teramat penting bahkan bagi manusia yang tak pernah menganggapnya penting sekalipun. Jangan pernah bermain-main dengan waktu, karena waktu setajam mata pedang, salah-salah akan menjadi senjata makan tuan. Bagi orang yang tak mau memperlakukan waktu dengan semestinya, hanya akan menemui penyesalan yang panjang.

Itulah pentingnya waktu. Jika kita salah ‘menyapanya’ hidup kita akan berakhir dengan kesalahan. Tidak ada cara lain bagi kita kecuali menjadikan waktu sebagai teman yang setia, artinya kita harus pandai-pandai memperlakukan waktu sesuai dengan karakternya. Pahamilah bahwa waktu tidak pernah beranjak mundur, kita pun mestinya tidak menjadikan diri berpikir di tempat. Apalagi berjalan mundur. Masih ingatkan tentang falsafah hidup ini : Hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar